Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Qenan uring-uringan


__ADS_3

Kini Nadira sudah berada di kamar miliknya di rumah papa Surya. Sesuatu yang tak pernah ia harapkan sama sekali.


Kamar pink muda dengan wallpaper mosaik, dengan perabotan senada. Juga di kombinasikan dengan warna putih dan ditambah dekorasi cantik lainnya seperti boneka.


"Kamar lo bagus Dir." puji Nina.


"Gak sebagus kamar gue sama Qenan di apartemen."


Nina mencebik bibir. "Iya dah yang udah bersuami, kamar tanpa ventilasi pun terasa bagus kalau bareng orang yang kita cinta."


Keduanya tertawa membenarkan ucapan Nina.


"Laah.. Sekarang gimana hubungan lo sama Nazeef?" tanya Nadira.


"Gak usah sebut namanya bisa? eneg gue dengernya." sahut Nina malas.


"Lo mah gitu.. Main rahasiaan sama gue.." Nadira pura-pura merajuk.


"Dulu kami sempet deket dan hampir jadian."


Nadira terperanjat langsung membenarkan posisi duduk menghadap Nina. Saat ini keduanya duduk di tengah ranjang king size Nadira.


"Serius? terus-terus gimana?" tanya Nadira penasaran.


"Hari itu, saat gue pulang kerja udah janjian sama Nazeef untuk pulang bareng, dia nunggu di parkiran. Padahal waktu itu gue mau terima cinta nya." Raut wajah Nina berubah sendu.


"Terus apa yang terjadi Na?"


"Gue lihat sama mata kepala gue sendiri dia sedang ciuman sama Risa pacar Nazeef yang tahu kalau dia itu playboy." Tanpa terasa air mata Nina sudah mengalir dan Nadira langsung mendekap sahabatnya itu.


"Sorry gue udah maksa lo untuk cerita."


"Gak pa-pa, seenggaknya perasaan gue legah sekarang."


Nadira mengurai dekapan nya lalu menghapus air mata Nina.


"Jangan nangis, mending kita bersih-bersih dulu abis itu mandi."


Nina mengangguk setuju dan membiarkan Nadira membersihkan diri lebih dulu.


...***...


Di kamar sebelah, tepatnya di kamar Dion.


Dion sedang asyik dengan alat lukis nya dan Nazeef sibuk dengan ponsel sedangkan Qenan sedari tadi berjalan mondar-mandir uring-uringan memikirkan istrinya yang berada di kamar sebelah. Mereka sudah berganti pakaian dengan pakaian rumahan milik Dion.


"Gue mau ke kamar Nadira." ucapnya membuat Dion dan Nazeef berdecak.


"Ck.. Seorang Qenan yang datar dan bisa menutupi apa yang dirasakan kini udah berubah. Dan itu karena kakak gue." ledek Dion langsung tertawa bersama Nazeef.


Qenan melotot dan membenarkan dalam hati. Saat itu juga wajah Qenan berubah menjadi datar seperti semula.


Ia berdehem. "Gue mau ke kamar Nadira."


"Mau ngapain lo?" tanya Dion.


"Mau tidur lah, ngantuk gue."

__ADS_1


Dion merasa gemas langsung melempar kuas yang ada di dekatnya. Sahabatnya satu ini sangat terlihat gemas jika sedang uring-uringan ternyata.


Puukk


"Sialan lo." sungut Qenan membuat Dion dan Nazeef tertawa lagi.


"Udah lo tidur disini, ada Nina di kamar Nadira Qen dan lo belum ada istirahat dari Depok sampai sekarang." ujar Nazeef.


Qenan mengambil kuas lalu meletakkannya di dekat Dion sambil bergumam lesu.


"Apa bisa gue tidur gak peluk Nadira?"


Dion yang mendengar itu hanya geleng-geleng kepala merasa orang yang bersamanya di kamar ini bukan Qenan yang ia kenal.


Akhirnya Qenan memilih merebahkan tubuh di tempat tidur, menarik selimut menutupi tubuhnya hingga perut. Mencoba memejamkan mata karena memang ia begitu lelah.


Menjadi lebih dewasa dari mereka yang seumuran dengan nya sungguh sangat berat untuknya. Dimana teman-teman nya masih asyik hangout bersama teman atau pacar menghabiskan uang bulanan dari orang tua sedang dia harus menjaga hati dan sikap pada lawan jenis karena sudah beristri, ia juga harus bekerja keras untuk memberi nafkah untuk istri.


Melihat Qenan sudah terlelap ada rasa legah di hati kedua sahabatnya. Mereka tahu jika Qenan merasa bersalah pada Nadira yang gagal perjuangkan hubungan mereka tadi, tapi mereka membenarkan apa yang di katakan papa Surya dan mereka menyayangkan Qenan telah melakukan itu pada hubungan yang belum kuat.


Satu jam kemudian Qenan terbangun membuat dua sahabatnya terkejut bukan main.


"Sialan.. Lo kayak pocong tiba-tiba bangkit." gerutu Nazeef sembari mengelus dada.


Qenan bangkit lalu merapikan tempat tidur tanpa menanggapi gerutunya Nazeef. Setelahnya ia melangkah ingin keluar kamar namun baru beberapa langkah ia harus berhenti karena ucapan Dion.


"Mau kemana lo Qen?"


Qenan menoleh melihat Dion dengan tangan yang sudah terkena cat pewarna.


"Mau ke kamar Nadira bentaran."


Qenan mencebik bibir. "Sebentar doang."


Gue gak bisa tidur kalau gak peluk Nadira. jawab Qenan dalam hati.


Ia keluar kamar langsung mengetuk pelan kamar sebelahnya yaitu kamar Nadira. Cukup lama ia menunggu akhirnya terbuka juga.


Tampak Nina yang membuka pintu. "Eh bos Qenan."


Karena yang membuka pintu adalah Nina menjadikan ia memasang wajah datar seperti biasa. Bahkan ia tak menjawab sapaan Nina.


"Nadira di dalam bos, masuk aja.. Aku keluar dulu." ucap Nina kikuk melihat wajah datar Qenan bahkan setelah ia memberitahu keberadaan Nadira tak ada jawaban dari Qenan.


Setelah Nina keluar dan pintu kamar sudah tertutup, terlihat Nadira tengah menatap laptop yang menyala. Bisa ia tebak jika Nadira sedang menonton drama-drama kesukaan nya.


Qenan menghela nafas melihat Nadira kelihatan baik-baik saja padahal ia sendiri begitu khawatir Nadira menangis atau marah-marah karena ia gagal mengakui pernikahan rahasia mereka.


"Sayang.." panggil Qenan.


Nadira menegang dipanggil dengan sebutan 'sayang'. Sebenarnya begitu melihat siapa yang datang membuat jantung nya berdegup kencang, selalu begitu jika berada dekat dengan suami SMA nya ini.


Suaranya seakan tercekat saat merasakan tempat tidurnya sedikit terguncang karena Qenan duduk di belakang nya. Kini ia benar-benar mematung dan membisu apalagi saat tangan Qenan telah berada di perut dan kepalanya bersandar di punggung nya.


Kenapa dia selalu membuat aku begini?


"Maaf." ucap Qenan lirih.

__ADS_1


Nadira mengerutkan dahi, mengapa Qenan meminta maaf?


Tubuhnya meremang merasakan hembusan nafas Qenan di punggungnya. Ia merutuki dirinya tidak bisa mengontrol diri jika di dekat Qenan.


"Ka-kamu kenapa minta maaf?" tanya Nadira gugup.


"Kamu pasti marah sama aku karena gagal." sahutnya sembari menggesek-gesek kepala nya mencari tempat ternyaman di punggung Nadira.


Nadira menelan saliva dengan kasar merasakan sensasi berbeda, namun ia tak ingin lebih dulu menyerang Qenan. Ia tahu jika Qenan masih dalam mode manja dan merasa bersalah padanya.


"Tenanglah, aku gak marah.. Aku bangga padamu udah berusaha dan papa juga gak salah.. Kita jalani aja kayak biasanya."


Qenan tegak lalu membalikkan tubuh Nadira menghadap nya. "Serius? kamu gak marah? kalau mau marah-marah di depan ku sekarang juga boleh, atau pengen nangis juga boleh.. Aku siap menjadi pelampiasan rasa kecewa mu Ra.."


Nadira terkekeh geli mendengarnya dan juga geli karena sangat jarang Qenan bicara panjang lebar seperti ini.


"Kok kekeh gitu? aku serius Ra.. Tadi kamu nangis aku gak bisa peluk, sekarang kamu boleh nangis biar aku peluk."


Nadira tercengang mendengarnya, bagaimana bisa menangis jika ia sendiri tidak ingin menangis karena sudah merasa baik-baik saja.


"Ternyata bawel mu lagi kumat Qenan.." serunya lalu tertawa di depan Qenan.


Oh ya ampun suami SMA ku..


"Udah jangan cemberut gitu." ucap Nadira melihat wajah Qenan sudah di tekuk.


Nadira melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari dan ia tahu ini adalah jam tidur Qenan yang akan memeluknya hingga pagi.


"Mau tidur sekarang?" tanya Nadira dan di anggukin Qenan.


Nadira turun dari tempat tidur setelah mematikan laptopnya tadi.


"Ayo aku antar kamu tidur di kamar Dion."


"Gak disini?" tanya Qenan belum beranjak dari tempat tidur Nadira.


Nadira menggeleng. "Nina mau tidur dimana kalau kamu tidur sini."


...****...


Sedang di kamar Dion, Nina sedang duduk dekat Dion yang tengah melukis pemandangan pantai dengan matahari yang akan terbenam. Tampak juga seorang pemuda tengah duduk di tepian pantai menghadap matahari yang akan terbenam.


Sepi dan damai seperti keinginan Dion sendiri.


"Sangat bagus Dion.."


Dion hanya tersenyum sembari membereskan alat lukisnya. Selama ini ia hanya sendiri, berdekatan dengan orang baru membuat ia merasa tak nyaman selain dengan Nadira. Mungkin karena mereka satu ayah.


Nazeef melihat Nina mengacuhkan nya membuat dada nya bergemuruh. Hingga sekarang ia tidak tahu alasan mengapa Nina berubah menjadi membenci nya.


*Apa karena gue pacaran sama Risa? GK mungkin, gue inget kalau Nina lihat gue sama Risa baru dua kali dan itu sesudah Nina bersikap kayak gini ke gue.


🌸*


***Bersambung...


Udah hari Senin aja.. Ayo vote karya emak.

__ADS_1


Jangan lupa tekan favorit, like, dan komen ya..


bunga mawar atau kopi juga boleh lah***...


__ADS_2