
Tanpa terasa sudah lebih sebulan berlalu setelah pernikahan Dion dan Melinda. Minggu lalu adalah acara resepsi pernikahannya. Seperti hal nya orang-orang yang diberi rejeki lebih. Banyak para tamu yang terdiri teman sosialita, teman bisnis, atau teman ajang memamerkan menantu disana.
Papa Surya sendiri tidak mempermasalahkan jika ia mendapat menantu tidak sebanding dengan dirinya. Yang terpenting Dion bahagia dan tidak ada yang mengetahui bahwa Melinda adalah mantan wanita simpanan pria beristri.
Rian sendiri sudah merelakan Melinda dan sekarang ia tengah berbahagia karena Luna sedang hamil.
Jangan di tanya bagaimana Nazeef setelah malam pertama Dion. Ia merajuk selama satu Minggu tidak ingin kuliah dan kerja.
Bahkan Nina pun tak diizinkan bertemu dengan Nazeef. Qenan dan Dion sendiri mengerti, itulah mengapa Nazeef menjadi playboy dan casanova di usia muda.
Nazeef kesepian dan ia butuh seseorang yang menjadi tempatnya untuk berpulang. Ia merindukan kasih sayang orang tua kandungnya.
Sekarang Dion juga menjalani hukuman dari papa Surya yaitu harus mau menggantikan posisi papa Surya di Perusahaan. Karena sejatinya Dion tidak menginginkan posisi itu. Ia lebih suka dengan lukis-melukis.
Tetapi, demi bisa menikahi Melinda maka harus melaksanakan nya. Walau sekarang ia masih tahap belajar di dampingi Wido. cara
...****...
Di kantin kampus.
Siang itu Nadira, Nina, dan Melinda berada di kantin menikmati makan siang sembari menunggu para pasangan pulang kuliah.
"Hi, how are you?" ucap seorang wanita menghampiri mereka.
Nadira dan lain nya mengerutkan dahi setelah itu Nadira berujar. "Baik."
"Sorry, I'm not used to speaking Indonesian. Can you speak in English? (Maaf, aku tidak terbiasa berbahasa indonesia. Bisakah kau bicara menggunakan bahasa inggris?)"
Ketiga wanita muda itu melongo menatap wanita di depan nya. Bahkan mereka sangat memerhatikan bentuk wajah dan penampilan wanita itu.
"Lain ku lihat kakak ini. Sok Bule, suamiku Bule aja ngomongnya bahasa kita." gumam Nadira sembari menggaruk kepala tak gatal.
"How? can't you speak english? (Bagaimana? apa kamu tidak bisa bahasa Inggris?)" Senyum remeh terbit dari bibir wanita yang duduk di depan Nadira.
"Buh.. Ngajak maen dia kak, hajar kak." celetuk Melinda sedari tadi diam memperhatikan.
Nadira manggut-manggut. "*Actually I don't want to do this. But okay, let's talk. (Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini. Tapi ya sudah, mari kita bicara.)"
"What are we talking about? (Kita mau bicarakan apa*?" tanya Nadira namun ia menggeleng.
"Aku lebih suka bahasa Korea deh." Sambung nya lagi.
Belum sempat Nadira berucap, wanita di depan nya tersenyum senang melihat ke arah. belakangnya. Spontan memutar badan melihat 3 orang di belakangnya. Pertanyaan muncul begitu saja apalagi mendengar wanita itu menyapa suaminya.
"Hi Qenan, I miss you."
Nadira terdiam bahkan ketika Qenan mengecup kening, masih tidak ingin bersuara. Selama ini Qenan selalu menceritakan apa saja padanya, tetapi mengapa wanita itu mengenal suaminya?
Apa ada yang ku lewatkan selama ini?
__ADS_1
...****...
Nina terbelalak melihat wanita itu dengan tidak tahu malunya mengecup pipi kanan dan kiri Nazeef di depan nya.
Matanya memicing curiga pada Nazeef. Siapa lagi wanita itu, apa salah satu wanita yang pernah tidur dengan pacarnya? tetapi mengapa baru kali ini di lihatnya?
Cemburu? itu pasti.
Sudah cukup banyak mantan nazeef menemui nya hanya untuk meminta ia meninggalkan Nazeef agar mereka bisa kembali bersama.
...****...
Melinda menatap Dion dengan tajam ketika wanita itu merangkul tangan Dion tanpa ada penolakan.
Yang ia tahu, Dion pernah ada rasa kepada Rania. Dan siapa wanita ini?
...****...
Tangan yang sudah terkepal dan tidak bisa terkendali membuat Nadira menggebrak meja kantin membuat orang yang masih ada di sana terjingkat kaget.
"Jadi ngomong pakek bahasa Inggris gak ini?" tanya Nadira dingin.
"Enggak, sebenarnya aku nungguin Qenan."
Nadira tersenyum miring. Tepat dugaan nya. Ia pun mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Nina dan Melinda mengikuti apa yang di perbuat Nadira karena merasakan hal yang sama.
Nadira menggeleng. "Enggak."
Ponselnya melayang dan Nadira merasa dejavu dengan itu.
"Qenan, itu ponsel belum lama ganti loh." protes Nadira tetapi tidak di gubris Qenan karena sudah menarik tangannya menuju parkiran.
Tidak ada yang berbicara di dalam mobil hingga Qenan berujar. "Itu Bella, aku pernah cerita waktu kamu ke Amerika kan?"
Nadira mengangguk saja lalu memejamkan mata dan merubah posisi menghadap jendela. Akhir-akhir ini kesehatan nya menurun. Mudah kelelahan dan sangat sensitif terhadap hal apapun terutama jika menyangkut Qenan.
"Are you, okey?"
Nadira mencebik bibir masih membelakangi nya. Biarlah ia mengunci mulut sebentar saja dari pada harus meladeni Qenan yang tidak peka sama sekali.
...****...
"Oh, berarti oppa selama ini diam saja digituin sama Bella?"
Dion hanya diam menikmati ocehan Melinda tiada henti sepanjang jalan. Wajah Melinda terlihat sangat menggemaskan baginya. Bahkan ia tak mendengarkan ocehan Melinda.
"Udah marah nya?"
Melinda membola membuat Dion tertawa.
__ADS_1
"Dasar ya oppa, dari tadi aku ngomel sepanjang jalan kenangan dan oppa hanya tanya gitu? gak pengen jelasin atau minta maaf gitu?"
Lagi-lagi Dion tertawa karena menurutnya Bella bukan apa-apa. Manusia tidak penting.
"Oke, nanti malam tidur di luar." ancam Melinda sukses membuat Dion berhenti tertawa.
"Aku gak setuju."
"HARUS."
"Elin, aku nggak setuju ya."
Akhirnya di mobil itu Dion terus merengek hingga di apartemen pun rengekan itu terus berlanjut.
...****...
"Beb, sumpah aku gak pernah ngapa-ngapain sama Bella. Dia itu suka sama Qenan, tapi kamu tahukan kalau Qenan itu raja tega."
Nazeef terus menjelaskan karena ia takut Nina salah paham dan meninggalkan diri bahkan berbuat nekad seperti dahulu jadian dengan Arga.
"Harus diam aja pipinya di cium?"
Nazeef menjadi gugup. "Aku tadi kaget aja, sumpah."
"Ck.. Kalian para cowok sama aja. Udah sana pulang, ngapain berdiri di depan pintu apartemen aku."
Perdebatan terjadi sepanjang lorong apartemen dan kini berada di depan pintu apartemen Nina.
"Beb, jangan gini lah. Aku beneran gak ada hubungan sama cewek manapun. Hanya kamu."
"Ya udah sana gih. Aku mau tidur."
"Ikut."
"Awh, sakit Nin." imbuh Nazeef lagi karena mendapat cubitan dari Nina.
"Malam ini kamu nggak boleh nginep. Sana mending minta cium sama Bella."
"Yakin boleh?"
"Coba aja kalau berani, maka burung Pipit besok tinggal ekornya."
Spontan Nazeef menutupi burung Pipit yang masih aman terbungkus di dalam sana dengan kedua tangan.
Nina menahan tawa sembari masuk ke dalam apartemen dan menutupnya. Barulah ia tertawa lepas di dalam.
🌸
Bersambung
__ADS_1