Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Dua kan?


__ADS_3

"Badan kamu kenapa, Lin?"


"Aku habis menghilangkan jejak dulu yang pernah dia sentuh." Melinda menunduk tak berani menatap Dion.


Hati Dion mencelos mendengar ucapan Melinda. "Maaf. Aku yang egois."


Melinda menggeleng. "Aku yang kotor dan pantas oppa tinggalin."


Dion menatap Melinda dengan tajam. "Siapa yang akan meninggalkan mu, Elin? aku kemarin hanya butuh waktu sendiri dan akhirnya aku kembali lagi, kan?


"Maaf."


"Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu atau kamu akan meninggalkan ku. Maaf, karena telah menyakitimu." ucap Dion merasa bersalah kemudian mengambil salep untuk mengurangi rasa perih di kotak P3K.


Mengolesi luka lecet itu meniupnya bila Melinda meringis. "Jangan lakukan ini lagi, Mi."


Cukup lama Dion mengoles salep pada tubuh Melinda hingga tatapan mereka bertemu.


"Oppa." Panggil Melinda terdengar sangat ero tis di telinga Dion.


Bahkan ia berulang kali menelan saliva dengan kasar menahan gejolak yang tak tersalurkan seminggu ini.


Entah siapa yang memulai namun kini bibir keduanya sudah saling memagut mesra. Mendinginkan dahaga, mengeksplor sentuhan yang memabukkan.

__ADS_1


Akhirnya sepasang suami istri itu menghabiskan malam dengan berpeluh keringat dan melupakan kejadian yang lalu.


...****...


"Beb, dia gerak." pekik Nazeef saat mengelus perut Nina yang masih hamil 4 bulan tersebut.


Telinga Nazeef menempel di perut Nina seakan ingin mendengar apa yang dilakukan calon anaknya di dalam sana.


"Enggak ada suaranya, beb. Yang ada suara perut kamu yang keroncongan."


Keduanya tertawa. Saat ini, tak ada aktivitas olahraga tengah malam karena siang Nazeef sudah meminta hak nya itu.


"Mau makan?" tanya Nazeef penuh cinta.


"Idih, jangan mulai. Nanti aku makan beneran kamu nya nolak."


Lama mereka menghabiskan waktu untuk bercerita seputaran pekerjaan, kegiatan Nina, dan membahas bagaimana menghrus anak bersama.


...****...


Di rumah Qenan.


Sepasang suami istri itu sedang berada di kamar sebelah kamar mereka. Untuk pertama kalinya Qenan mengijinkan para pelayan masih berada di rumah nya saat dirinya sudah berada di rumah.

__ADS_1


Itu alasan nya karena mereka sedang mendekorasi kamar anak untuk calon buah hati mereka.


Saat ini kehamilan Nadira sudah memasuki bulan ke 9 membuat Qenan, mertua Nadira bahkan sahabat-sahabat Qenan sering mampir ke rumahnya hanya untuk melihat keadaan Nadira.


Nadira sendiri sebenarnya sudah merasakan beberapa kali kontraksi palsu namun tidak menceritakan pada Qenan karena takut suaminya itu panikan sendiri seperti beberapa waktu lalu.


Pernah sekali Nadira meringis tepat di depan Qenan membuat seisi rumah heboh apalagi ketepatan ia baru saja pulang kerja.


Dimana para pelayan sedang bersiap pulang tetapi harus mendengar amukan dari Qenan karena menurut suaminya itu para pelayan mereka tak becus menjaganya.


Dan dari hari itu juga Qenan selalu berada di rumah walau akan pergi ketika ada pertemuan penting saja.


"Capek?" tanya Qenan melihat Nadira duduk di tanjang calon anak mereka.


Nadira mengangguk membuat Qenan mendekat. Di pijat kaki Nadira dengan perlahan, sebelumnya ia sudah menyuruh dua pelayan itu keluar dari kamar.


"Qenan, beneran ya buat juga box bayi di kamar kita. Kamu ribet soalnya."


Qenan mencebik saja. Tak membantah karena yang di katakan Nadira benar adanya. Qenan dan Nadira sudah membicarakan perihal mengurus anak.


Seperti permintaan dirinya, jangan ada orang lain di rumah. Dan ia juga meyakinkan Nadira bahwa dirinya akan membantu menguru anaknya ketika sudah lahir.


"Dua kan?"

__ADS_1


"Tiga, Mom."


__ADS_2