Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Izin


__ADS_3

"Qenan.."


Qenan yang tengah merokok menyadari Nadira berada di balkon langsung menyudahi merokok.


"Masuk lah, asap rokok gak bagus untuk mu Ra.." Qenan menuntun Nadira masuk ke dalam kamar, ia tutup pintu balkon lalu masuk ke kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi Qenan terlihat lebih segar melangkah ke lemari pakaian dengan santai memakai pakaian di depan Nadira yang tengah menatapnya.


"Kapan kamu berangkat?" tanya Qenan mendekati Nadira.


Sungguh tatapan Qenan tak bisa membuatnya berkutik. Lagi-lagi tatapan tajam milik Qenan mampu menusuk relung hati nya. Ia tertunduk tak tahan membalas tatapan tajam Qenan.


"Dua hari lagi." cicitnya pelan, jarinya saling bertaut karena gugup.


Qenan menghela nafas kasar lalu duduk di sebelah Nadira. "Kamu tahu, padahal rencana aku mau ajak kamu ke Lombok pembukaan disana."


"Maaf."


"Tapi gak apa, pergilah. Aku gak mungkin larang kamu karena papa Surya tahu nya kita hanya pacaran."


Nadira menoleh ke arah Qenan dengan wajah berkaca-kaca. "Tapi kita bakal jauh." Suara Nadira mulai serak menahan isakan.


Qenan yang peka akan hal itu langsung merengkuh tubuh sang istri. Punggung itu bergetar selaras dengan usapan disana.


"Udah jangan nangis, kita bisa video call kan? kamu bisa nelpon aku kapan pun, dan aku antar kamu kesana baru pergi ke Lombok."


Nadira mengangguk lemah di dada Qenan. "Tapi nanti uang kamu habis cuma untuk beli tiket."


Qenan terkekeh lalu mengurai pelukan kemudian ia menangkup wajah Nadira. "Uang bisa aku cari lagi Ra, jangan khawatir oke.. Kalaupun uang di Rekening ku habis, aku bisa mengisi nya lagi. Kamu aja yang jarang pakek kartu kredit sama ATM yang aku kasih."


Sangat mudah mengembalikan mood Nadira dari sedih kembali ceria kembali jika bersama Qenan. Entahlah, kehamilan Nadira saat ini benar-benar hanya ingin Qenan berada di dekat nya. Ia sendiri bersyukur karena itu.


Sering sekali ia membaca artikel bagaimana ibu hamil mengalami morning sickness seperti muntah, mual, mengidam dari yang ringan hingga parah. Dan ia menilai bahwa dirinya termasuk morning sickness ringan karena jarang muntah-muntah hingga sampai tak berdaya.


Ia tidak mengalami itu.


Nadira nyengir kuda. "Aku itu gak kayak kamu yang makan harus di restoran mahal. Aku malah seneng makan di pinggiran jalan. Apalagi yang jualan grobak di depan kampus aku cilok nya enak tahu. Kamu harus coba kapan-kapan ya.."


Qenan menggeleng. "Jangan makan itu lagi Ra.. Kamu hamil harus jaga pola makan kamu."


"Iya-iya."


Masih menangkup wajah sang istri, ia majukan wajahnya mengikis jarak diantara wajahnya dan wajah Nadira. Semakin dekat hingga bibir itu bertemu dan saling memberikan luma tan. Menyesap setiap jengkal bibir keduanya.


Hingga ciuman itu turun ke leher Nadira dan tangan Qenan sudah ikut turun bekerja memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang bisa di jangkaunya. Sedang tangan Nadira sudah mengalung di leher Qenan.


Siang menuju sore itu kedua pasang suami istri muda menghabiskan waktu di dalam kamar dengan berpeluh keringat.


...****...


"Ma.." rengek papa Reno di dalam kamar pada istrinya.


"Apa sih pa?" Mama Sinta jadi kesal karena sedari tadi papa Reno terus merengek.


"Mama gak denger dari kamar Qenan?"

__ADS_1


"Enggak."


"Ma.. Rudal papa juga pengen.."


"Rudal?" tanya mama Sinta bingung.


Papa Reno mengangguk. "Iya rudal ini." Papa Reno mengarahkan tangan mama Sinta ke arah miliknya.


"Papa.." refleks mama Sinta memukul aset berharga papa hingga membuat papa Reno menahan sakit yang tak bisa ia gambarkan.


Dan kamar utama rumah itu berubah menjadi riuh akibat mama Sinta yang panik.


"Aduh pa.. Maaf gak sengaja.."


"Sa-kit ma.."


"Mama panggil dokter ya.." Mama Sinta dengan cepat mendial nomor telepon dokter pribadi keluarga Abraham.


Di tengah kesakitan nya papa Reno mencoba menghalangi sang istri.


"Jangan ma.. Malu. Gimana bisa papa bilang punya papa sakit akibat pukulan dari Mama."


Mama Sinta menepuk dahi menyadari kebodohan nya.


"Jadi Mama harus gimana?"


"Di elus atau di cium pasti sembuh." Papa Reno memasang wajah memelas mungkin agar Mama Sinta berempati.


Mama singa mencebik bibir. "Itu modus pa.."


Mama Sinta tertawa melihat wajah kesal papa Reno. "Mama masih ada kerjaan, nanti malam mama servis deh. Udah lama mama gak servis papa karena selalu papa yang servis mama."


Senyum papa Reno terbit sangat menawan mendengar ucapan Mama Sinta, ia pun menarik sang istri untuk duduk di pangkuan nya walau miliknya masih sedikit ngilu. Ia layangkan kecupan di seluruh wajah istrinya.


"Papa tunggu loh.. Ahh kamu tambah cantik."


"Ck.. Udah tua pa.."


...****...


"Gue mau ke Malaysia beberapa hari."


"Kok tiba-tiba oppa?"


Sore itu seperti biasa Dion akan menerima panggilan video call dari Melinda namun kali ini atas permintaan Dion.


"Iya."


Tampak wajah Melinda cemberut di balik layar ponsel Dion.


"Yah gak bisa ketemu oppa dong."


"Cuma beberapa hari karena Minggu depan juga udah UN."


"Apa suami kak Nadira ngasih izin? oppa kan tahu suami kak Nadira itu serem banget."

__ADS_1


Ya, Melinda sudah mengetahui hubungan Qenan dan Nadira yang sebenarnya setelah kejadian di rumah papa Reno. Dion lah yang menceritakan nya.


"Gak tahu. Nadira belum kasih kabar."


"Ih oppa masih aja sebut kak Nadira hanya nama. Gak sopan."


Dion memutar bola mata jengah karena bukan sekali dua kali Melinda menegurnya masalah panggilan kepada Nadira.


"Hem."


"Udah dulu ya oppa. Bye."


Panggilan video itu terputus tanpa ada jawaban dari Dion dan itu membuat ia bertanya-tanya.


"Tadi kayak ada suara yang teriak sebut nama Melinda. Kayak teriakan orang marah. Ada apa?"


Dion menghela nafas. "Ah mungkin salah dengar gue."


...****...


Malam harinya Qenan dan Nadira sudah berada di Kafe Hebat dimana Nina bekerja. Dan saat ini Nadira ingin memakan cemilan di kefe Hebat.


Namun keinginan Nadira tidak ada di daftar menu kafe tersebut.


"Qenan.."


"Hem."


"Aku pengen es pisang coklat."


Qenan yang sedang mengirim tugas sekolah melalui email kepada guru matematika itu menoleh ke arah Nadira yang tengah menatapnya sedang duduk di sofa sudut ruangan.


"Es pisang coklat?" tanya Qenan mengerutkan dahi.


Nadira berdecak. "Jangan bilang kamu gak tahu." cibirnya.


Qenan mengedikkan bahu. "Memang gak tahu."


"Hhaiisshh sultan mah gitu. Ya udah aku mau ke dapur dulu."


"Iya, jangan pegang pisau atau bahan tajam lain nya."


Nadira terkekeh seraya bangkit mendekati Qenan. "Kamu ingetin kayak gitu seakan aku ini anak kecil tahu gak." Ia tergelak sudah berada di samping Qenan.


Qenan menarik Nadira hingga duduk di pangkuan nya lalu mengelus perut Nadira dengan sayang.


"Aku gak mau kalian berdua kenapa-kenapa saat tak dalam pengawasan ku Ra.."


Nadira mengangguk. "Baiklah Daddy.. Kami keluar dulu."


Qenan mengecup pipi Nadira lalu membiarkan Nadira melakukan sesuka hati di dapur kafe miliknya.


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2