
Mata kuliah terakhir telah usai sedari tadi. Kedua sahabatnya sudahemuutiskamz untuk pulang terlebih dahulu.
Nadira melirik ke arah parkiran kampus. Bibirnya tertarik ke atas melihat mobil Qenan yang sudah terparkir menunggunya.
"Udah lama?" tanya Nadira setelah duduk di samping Qenan.
Qenan tak lantas menjawab karena ia sedang memasang sabuk pengaman untuk Nadira.
Ia menggeleng lalu mengecup bibir Nadira sekilas.
"Berangkat sekarang?" tanyanya dan dijawab anggukan dari Nadira.
Mobil Qenan melesat jauh meninggalkan kampus Nadira. Hari ini mereka akan menghabiskan waktu bersama sebelum beberapa jam lagi Qenan akan pergi ke negeri orang.
Tidak ada yang membuka suara selama perjalanan. Nadira bahagia untuk beberapa hari ini Qenan benar-benar menghabiskan waktu bersamanya.
Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, masih sangat takut akan kepergian Qenan nanti. Nadira takut tidak bisa melalui hari-hari tanpa pria di sebelahnya itu sekarang.
Ia sudah terbiasa melibatkan Qenan dalam segala hal dalam hidupnya.
"Qenan." panggil Nadira membuat Qenan menoleh.
"Ya." jawab Qenan singkat.
Nadira tidak lagi berkata dan ia tertunduk malu karena berulangkali terpesona oleh ketampanan wajah bule yang dimiliki Qenan.
Jika dahulu ketika masih tinggal di Bogor dan ia pergi bersama teman-teman nya ke Empang maka sangat banyak di jumpai pria bule disana. Dan ia hanya bisa meminta foto saja kepada pria bule itu.
Dan sekarang?
Suaminya seorang bule. Bahkan dicintai begitu indah oleh suaminya.
"Kenapa lihatin aku terus, hem?" tanya Qenan tanpa melihat Nadira.
Nadira menggeleng dan menerbitkan senyuman di bibirnya sehingga menular pada Qenan yang ikut tersenyum.
Mobil Qenan berhenti tepat di depan kafenya. Keduanya langsung turun dan masuk kedalam. Saat ini Kafe Hebat terlihat ramai pengunjung. Banyak muda-mudi yang menghabiskan waktu disini dan menunggu gelapnya malam.
Kedatangan mereka langsung di sambut manager yang bertanggung jawab di Kafe Hebat.
"Mau makan apa?"
"Aku?"
Qenan berdecak karena merasa gemas pada Nadira yang masih sewaktu-waktu berubah menjadi lamban.
"Iya sayang."
Lihatlah, bukan nya menjawab malah pipi istrinya itu berubah merona seperti itu. Bagaimana ia tak jatuh cinta kembali?
__ADS_1
"Bawakan pisang nugget chocolate aja." pintanya langsung menggandeng Nadira masuk ke dalam ruangan nya.
Di dalam ruangan mereka kembali terdiam sesaat setelah duduk di sofa. Qenan menjelaskan apa saja yang harus di perhatikan dalam mengurus sebuah Kafe.
Namun agaknya Nadira bukan fokus dengan apa yang di katakan Qenan melainkan ia fokus memandanginya.
Ya, ia lebih fokus memandangi wajah Qenan yang akan ia rindukan.
"Apa kamu udah ngerti?"
Nadira gelagapan dengan refleks menggeleng lalu mengangguk.
Qenan berdecak dan mengacak rambut Nadira. Ia tahu sedari tadi istrinya hanya memperhatikan dirinya saja.
"Masuk." ujarnya setelah mendengar ketukan pintu.
Nadira tersenyum ketika melihat cemilan itu tersaji di atas meja dan jus jeruk kesukaan nya juga ada disana.
"Qenan, kenapa cokelat nya banjir?" tanya Nadira karena pisang nugget itu benar-benar tertutupi cokelat.
"Aku tahu kamu suka cokelat."
Nadira hanya tersenyum senang lalu mengambil sendok untuk mengambil sepotong pisang nugget berbalut cokelat tersebut.
Nadira tidak perduli dengan yang lain jika di hadapkan dengan cokelat. Seperti saat ini ia membiarkan Qenan tengah sibuk bergelut di depan iPad yang dia pegang.
Aku tahu bahwa kita sama-sama mengalihkan kesedihan atas perpisahan sementara ini.
Ia terkekeh melihat Nadira menikmati makanan nya tanpa perduli dengan sekitar.
"Udah?" tanya Qenan setelah melihat Nadira menyudahi makan nya.
"Em." Nadira mengangguk karena sedang menge mut jemari yang terkena cokelat.
Qenan yang tak sabar langsung menyerang Nadira menuju puncak nirwana.
...****...
"Nan, udah jam 3." tegur Nadira setelah mereka menyelesaikan permainan. Saat ini keduanya masih berbaring di bed single di ruangan itu dengan tubuh masih polos.
Di tegur seperti itu tidak membuat Qenan melepaskan Nadira justru ia semakin mengeratkan pelukan nya.
"Sebentar lagi Ra." Ia hirup dalam-dalam harum tubuh Nadira yang akan ia rindukan nantinya.
"Kamu sayang aku?" tanya Nadira.
"Sangat dan selamanya."
Nadira membiarkan Qenan melakukan apa yang dia inginkan. Jujur saja hatinya kembali berdenyut nyeri setiap kali mengingat kepergian Qenan yang tinggal beberapa jam lagi.
__ADS_1
"Kamu cinta aku?" tanya nya pada Qenan.
"Selamanya."
"Jangan tanyakan sesuatu yang udah pasti kamu tahu jawabannya Ra." lanjut Qenan lagi.
Nadira menghela nafas. Memejamkan mata menikmati kebersamaan mereka saat ini.
"Tepati janji kamu Nan." ucap Nadira membuat Qenan mengurai pelukan lalu meminta Nadira berbalik ke arah nya.
Mata mereka bertemu dan menatap lekat diantara keduanya. Di ambil tangan Nadira lalu di kecup nya. Bukan hanya di tangan, ia juga mencium setiap sisi wajahnya.
"Aku akan buktikan kalau kamu akan selalu ada di hati aku, dan kamulah prioritas di hidupku. Kamu adalah tempatku untuk berpulang."
Keduanya kembali berpelukan. Entah bagaimana nantinya melewati hari tanpa orang tersayang di hidupnya.
...****...
Pukul 5 sore.
Nadira mendongak ke atas melihat dimana pesawat yang di tumpangi Qenan dan kedua sahabatnya sudah terbang tinggi meninggalkan tempat sebagai pemisah di antara mereka beberapa menit lalu.
Di depan Qenan senyuman terukir indah. Meski dalam hati terasa sesak melepaskan kepergian orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Nadira tahu ini semua sudah di haruskan Tuhan dalam jalan hidupnya yang akan membawa kebahagiaan nantinya.
"Ayo sayang." Mama Sinta merangkul Nadira di sebelahnya.
"Nadira boleh nginep di apartemen Qenan malam ini gak?" tanya Nadira entah pada siapa karena disana ada Papa Surya dan mertua nya.
"Boleh, biar papa Reno sama mama Sinta yang antar kamu. Papa juga mau pulang." ucap papa Surya yang sangat mengerti keadaan anaknya.
Sepanjang perjalanan Nadira terus diam seraya menatap ke arah jalanan. Pandangan matanya kosong, tetapi pikiran nya tertuju dengan seseorang yang mengucapkan kata-kata indah beberapa waktu lalu.
Papa Reno dan mama Sinta memaklumi itu. Mereka cukup paham situasi ini.
Nadira tetap saja diam sembari memeluk boneka Boba yang dibelikan Qenan waktu lalu.
*Maafin aku nggak jadi ikut kamu kesana, karena aku takut hal itu membuat semakin sulit jauh dari mu.
Kata mereka, aku bodoh lepasin kamu gitu aja. Padahal mereka nggak tahu dengan ini aku bisa tahu sedalam apa rasa sayang kamu untuk aku.
Aku nunggu kamu pulang Qenan, suamiku. Perpisahan ini ada untuk ujian cinta dan kebahagiaan kita nantinya*.
Nadira tersenyum namun tanpa diminta air mata itu menetes juga. Di lihatnya cincin yang tersemat di jari manisnya. Cincin yang diberikan Qenan sepulang kegiatan di sekolah nya waktu itu. Di kecup cincin itu lalu ia peluk erat boneka Boba itu kembali.
*Aku tahu kamu pergi untuk kembali.
Sampai bertemu dua tahun lagi. Dan kita akan menjalani hidup yang baru penuh warna.
🌸*
__ADS_1
Bersambung...