
"Lo beneran bisa LDR'an sama kakak ipar?" tanya Nazeef saat jam istirahat pertama di SMA KUSUMA BANGSA.
Qenan mende sah lemah. "Ya."
"Yakin bisa?"
"Hem."
Sekolah hari ini Qenan benar-benar tak bersemangat, padahal ini adalah hari bebas yang mana dua hari lagi akan diadakan Ujian Nasional.
Padahal inilah yang di tunggu. Dan ia melupakan kepergian nya untuk melanjutkan pendidikan di Luar Negeri ketika bersama dengan Nadira.
Ini salahnya yang tak membicarakan hal ini kepada Nadira sejak awal. Mengapa ia selalu melupakan hal ini?
"Ck..Ck..Ck... Seorang Qenan Abraham melamun dari tadi." ledek Dion yang baru saja bergabung dengan Qenan dan Nazeef.
"Diem lo." jawab Qenan sewot dan hal itu justru membuat Dion terbahak.
"Boy." panggil Nazeef.
"Hem."
"Lo yakin bisa jauh dari kakak ipar? Lo yakin bisa gak enak-enak sama kakak ipar?" cecar Nazeef langsung mendapati pukulan di kepalanya.
Cetak
"Sakit boy." ringis Nazeef.
"Pelankan suara lo."
Dion yang melihat itu hanya bisa berdecak saja. Sering ia bertanya-tanya mengapa dua orang di depan nya sering sekali membuat ia rindu. Padahal jika di nilai sifat keduanya sangat membuat hati dongkol karena Qenan yang datar dan dingin sangat berbanding terbalik dengan Nazeef.
"Iya-iya, sekarang jawab pertanyaan gue." bisik Nazeef membuat Dion geleng-geleng kepala.
"Lo pasti tahu gimana rasanya tersiksa karena menahan sesuatu di bawah sana." jawab Qenan santai sembari memainkan ponsel.
"Itu sangat sulit. Terlalu sulit untuk gue bahkan gue udah libur lama banget demi cinta gue ke Nina." celetuk Nazeef tanpa beban.
"Lamar Nina terus nikahi biar bisa enak-enak tiap hari."
"Jangan dulu boy, biar dia nikmati masa pacaran nya dulu.. Terus pas kita balik ke Indo baru deh gue nikahi.. Nah malam nya baru gue serang deh tuh pujaan hati gue. Pasti gue gak bakalan nahan-nahan lagi." Nazeef senyum-senyum membayangkan rencananya dua tahun mendatang.
"Gue juga gak bisa nahan kalau deket Rara, tapi gue harus bisa nahan 760 hari.. Itu nyiksa banget."
Lagi-lagi Dion berdecak kesal. Kedua orang di depan nya berbicara ambigu namun pikiran nya sudah terkontaminasi dengan arah pembicaraan mereka.
__ADS_1
Tidak sadarkah mereka bahwa ia adalah cowok polos?
Ciuman aja gak pernah!
"Lo yakin bisa nahan nya Qen? Lo pasti tahu kan, gimana tersiksa nya burung perkutut kita kalau pagi-pagi suka nya di dalam sarang?"
Dion mendengar kata kiasan dari Nazeef rasanya ingin mengumpat apa saja agar terdiam.
"Bisa."
"Yakin?"
Qenan berdecak. "Yakin."
"Lo tahu kan kehidupan di Amerika itu sangat bebas?"
Qenan mengangguk. "Lo ragu sama gue? Lo juga biarin Nina pacaran sama kasir kafe karena lo mau berubah jadi lebih baik kan?"
Nazeef mengangguk cepat.
"Jadi tugas kita disana cuma belajar, belajar, dan belajar. Jauhin tempat laknat itu."
"Dan satu lagi, punya gue bukan burung perkutut yang kecil imut-imut gitu." imbuhnya lagi.
"Jadi apa?" tanya Nazeef dan Dion bersamaan.
...****...
"Dira.. Lo yang sabar ya.. Sorry gue gak tahu kalau lo abis kehilangan janin lo."
Nadira tersenyum lalu mengangguk. "Iya, kejadian nya begitu cepat Nin. Oh iya gimana hubungan lo sama kak Arga?"
Mereka berdua saat ini berada di apartemen Qenan, hari ini Nadira belum diperbolehkan masuk kuliah oleh suaminya.
"Monoton, gitu-gitu aja. Kak Arga terlalu nurut sama gue. Padahal kita sebagai cewek itu mau nya kan kita yang di didik dan di lindungi kan? gak Arga gak gitu." curhat Nina yang biasa cerita apa saja kepada Nadira.
"Maksud lo gimana? emang lo nyuruh-nyuruh kak Arga gitu?"
Ingin rasanya Nina nepuk jidat mendengar pertanyaan Nadira.
"Lo udah bersuami sultan pun masih lemot ya Dir.. Maksud gue, kak Arga terlalu menerima keputusan gue. Gak pernah ngebantah."
"Haish.. Jangan gitu dong."
"Bukan nya itu keren? lo bisa ngatur dia kan?" imbuh Nadira lagi.
__ADS_1
"Ayolah Nyonya Qenan Abraham.. Lo mau Qenan nurut sama lo terus?" tanya Nina dan mendapati gelengan dari Nadira.
"Itu yang gue maksud."
Nadira hanya cengengesan menanggapi Nina.
Setelah mengobrol mereka menonton drama China yang baru saja tayang. Bungkus-bungkus cemilan dan botol minuman sudah berserakan di lantai bahkan saat Qenan dan Nazeef masuk mereka tak menyadari karena posisi duduk mereka membelakangi pintu masuk.
"Uuhh so sweet tahu gak.. Gue juga pengen di gituin Dira.." teriak Nina histeris memeluk Nadira dan hal itu membuat Qenan tak suka sedang Nazeef berkhayal bahwa yang di peluk Nina adalah dirinya.
"Wah.. Ini mah kayak suami gue Nin, lihat itu.. Perhatian banget kan walau perhatian kecil gitu." Celetuk Nadira ketika melihat adegan dimana sang cewek mengenakan rok kecil di bonceng sang pacar dengan menunggangi sepeda. Dengan perhatian, sang pacar membeli cemilan sekantung besar dan meminta sang cewek memegang nya. Otomatis rok pendek itu tertutupi oleh sekantung besar berisi cemilan.
Nadira tersenyum membayangkan Qenan sedang memeluk nya nya sekarang. Sama setiap mereka melewati malam.
Cup
Mata Nadira membola sempurna menerima kecupan dari seseorang lalu menoleh ke arah kiri melihat orang yang telah berani mengecup pipi nya. Namun ia kembali terperanjat bahkan tubuhnya terlonjak kebelakang menerima sesuatu dari orang itu lagi.
Tengkuk leher nya ditahan orang itu karena bibirnya sudah di sesap, dilu mat, dan dinikmati sesuka hati orang itu dan ia pun membalas setelah mengetahui orang tersebut.
"Qenan.." rengek Nadira setelah ciuman panas itu berakhir.
Qenan tersenyum tipis sembari mengusap bibir ranum Nadira dengan sayang. Sepertinya sepasang suami istri itu melupakan dua pasang mata yang tengah menonton adegan sama seperti di drama China yang berputar di laptop Qenan.
Ya, Nadira selalu suka menggunakan laptop Qenan untuk menonton drama-drama yang ia sukai ketimbang menonton di laptop miliknya sendiri.
Jangan tanya mengapa, karena Nadira sendiri pun tak tahu jawaban nya.
"Udah nonton nya?" tanya Qenan penuh cinta masih dalam keadaan membungkuk dengan wajah berjarak sangat dekat bahkan deru nafas hangat nya begitu terasa di wajah Nadira.
Nadira mengangguk lalu berdiri salah tingkah. "Maaf Nan, aku beresin dulu."
"Gak usah, biar Nazeef sama calon istrinya aja. Sekarang tugas kamu layani suami dulu di kamar."
Setelah berbicara seperti itu ia merangkul leher Nadira menuntun nya masuk ke kamar mereka.
Nazeef sendiri melotot melihat adegan mesra mereka lalu mengumpat Qenan habis-habisan.
"Kenapa? pengen? buat aja sama Risa." sindir Nina.
Nazeef menatap Nina seolah sedang berpikir sesuatu. "Jangan bilang Lo sama kasir kafe itu pernah berbuat gitu."
"Pernah lah." bohong Nina karena ia selalu menolak jika Arga membahas ke arah begitu. Hanya Nazeef yang pernah menciumnya.
"Nazeef.. Mmpptt."
__ADS_1
🌸
Bersambung..