
"Apa sih, Na?" tanya Nazeef dengan kesal karena baru saja tiba di apartemen hampir tengah malam langsung di sambut omelan dari istrinya.
"Apa kamu bilang? apa kamu gak punya jam untuk lihat jam berapa sekarang?" cecar Nina kesal.
Nazeef menghempaskan tubuhnya ke sofa memijit pangkal hidung yang terasa pusing. Setiap pria berprofesi sebagai suami pasti ingin merasa nyaman ketika pulang dari bekerja.
"Aku capek, Na. Aku mohon jangan kayak gini terus." pinta Nazeef mengiba karena bukan hanya kali ini saja Nina tidak bisa mengerti keadaan nya.
Masalah pabrik masih belum juga selesai karena suplier pengganti waktu lalu juga kabur tanpa alasan.
"Kamu selalu mementingkan pekerjaan."
"Karena itu kewajibanku."
"Qenan bos nya buktinya bisa punya banyak waktu."
Nazeef menatap Nina dengan tajam. "Jangan coba-coba membandingkan suami mu dengan pria lain, Nina." Nazeef menekan setiap kata dari ucapan nya.
"Kenapa? sadar kalau Qenan lebih baik dari ķamu?"
Nazeef semakin tajam menatap Nina dan istrinya itu tak ada rasa takut padanya.
"Ya, Qenan memang lebih baik dari gue, dia bisa handle setiap bisnis nya. Dia bisa punya waktu dengan istrinya walau pekerjaan sangat menumpuk. Lo mau tahu kenapa dia bisa ada waktu buat Nadira?" Nazeef benar-benar tak bisa menahan emosi nya kali ini.
Nina hanya diam membalas tatapan tajam Nazeef dengan tatapan menantang.
"Itu karena Nadira yang mengerti keadaan Qenan, dia yang selalu setia berada disamping Qenan. Dia yang selalu berinisiatif mendatangi Qenan di tengah kehamilan nya yang semakin membesar. Dia juga yang memberi semangat, melayani, dan menerima setiap kesibukan Qenan. Dan itu artinya apa?"
"Nadira istri yang mengerti suaminya, sedangkan lo? lo terus nuntut gue harus ini dan itu, lo terus minta di ngertiin atas kehamilan lo. Bahkan mungkin lo lupa kapan terakhir kasih gue kehangatan padahal itu yang gue butuhkan. Perlu lo ketahui, Dalam keadaan hamilpun Nadira dengan senang hati layani Qenan. Sedangkan lo? terus beralasan lagi hamil kalau gue ajak lo menyatu." Ucap Nazeef sarkastik langsung bangkit menyambar kunci mobil meninggalkan Nina berdiri mematung.
Nazeef melajukan mobil membelah jalanan yang mulai lancar tanpa kemacetan. Tanpa tujuan namun mengarah ke suatu tempat.
"Sial! kenapa gue ke tempak luknut ini?" Nazeef memutar mobil berbalik arah. Untuh saat ini ia tak ingin melihat Nina.
Bukan ia tak cinta lagi, namun butuh ketenangan dan membuat Nina sadar jika bukan wanita hamil saja yang ini di mengerti, tetapi dirinya juga.
"Qenan ada di dalam pak?" tanya Nazeef pada pihak keamanan.
"Tuan ada di dalam baru pulang sama nyonya."
Nazeef mengangguk. Lihatlah, bagaimana ia tak iri pada pasangan itu? tentu Nazeef tahu jika Qenan baru saja pulang dari kantor sama seperti dirinya. Tetapi yang membuatnya iri adalah Nadira selalu berada di dekat Qenan walau kehadiran istri dari sahabatnya itu sering membuat ulah. Tetapi ia menginginkan Nina juga berada di dekatnya bukan selalu mara-marah ketika pulang kerja dan sering menolak ketika ia menginginkan kehangatan dari sang istri.
__ADS_1
Nazeef turun dari mobil langsung memutari rumah itu dan masuk melewati pintu belakang. Jangan tanya bagaimana bisa, ia sengaja meminta kunci duplikat pintu belakang pada Qenan agar mudah masuk ketika sewaktu-waktu ingin menginap seperti saat ini.
Masuk ke dapur mencari sesuatu yang di inginkan. Ia mende sah karena tak menemukannya.
"Kayaknya Qenan beneran berhenti dari alkohol."
Akhirnya ia memilih membuka lemati es mencari soft drink dan makanan yang bisa ia makan.
...****...
Di apartemen Nazeef. Nina terduduk lemas setelah kepergian suaminya. Mencerna setiap kata yang terucap dari mulut sang suami.
Tanpa di minta air mata sudah membasahi pipi. Kini sadar akan kesalahan selama ini. Bukan ia tak ingin, tetapi rasanya akan sangat membosankan jika ia ikut Nazeef bekerja. Dan ia juga tak mengerti selama kehamilan menjadi tak bergai rah jika berada di dekat Nazeef.
Memang salahnya juga tak pernah bercerita tentang keluhan nya selama hamil.
"Maaf." Tangis Nina semakin pecah memikirkan Nazeef begitu kecewa padanya.
...****...
"Ra."
Nadira menoleh dengan senyuman. Melangkah perlahan dengan perut semakin membesar.
"Ohoo.. Jangan menggodaku, sayang. Aku enggak mau kamu kelelahan."
Keduanya tertawa renyah menyadari kemesuman bersama. Dikalungkan kedua tangan Nadira pada leher Qenan menambah kesek sian wanita hamil itu.
"Qenan, kenapa beberapa hari ini aku perhatikan Nazeef kayak lemas gitu?"
Qenab menatap Nadira dengan intens. Tentu ia tahu alasan nya karena Nazeef selalu menceritakan apapun kehidupannya.
"Jangan urusi orang lain, aku cemburu." sangkalnya langsung menyesap bibir sang istri.
Tautan kedua bibir itu berubah menjadi ciuman menuntut. Tapi bukan tuntutan seperti korban begal yang menjadi tersangka dan pelaku begal menjadi saksi.
Ini adalah tuntutan untuk saling melengkapi dan memuaskan. Setelah keduanya tanpa sehelai benang melekat dalam tubuh, kini keduanya siap bertempur ke medan perang.
"Nan, serius di ruang tamu?" tanya Nadira memastikan.
Qenan mengangguk. "Nggak ada orang, kan? cuma mang Dadang di depan."
__ADS_1
Dengan perlahan dan hati-hati Qenan memasukkan rudal ke rumah pengasahan. Mengisi daya dengan memaju mundurkan dengan ritme perlahan karena tidak ingin Nafira merasa tak nyaman.
Bibir terus berpagut mesra meminimalisir suara syahdu menggema di seluruh ruangan. Dengan posisi duduk, memudahkan Qenan mengeksplor apapun yang dapat di jangkaunya.
...****...
Dengan rasa kesal membuncah membuat Nazeef banyak makan di dapur. Berniat datang ke rumah sang sahabat untuk menenangkan pikiran justru dibuat panas dingin oleh pemandangan yang tak jauh darinya beberapa saat lalu.
Beberapa saat lalu, Nazeef berniat hendak ke ruang tamu dengan setoples keripik singkong di tangan nya.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat Qenan tengah mengukung istrinya. Berbalik badang ketika melihat QenN hendak mengubah posisinya menjadi Nadira di atas memimpin permainan.
"Sialan."
"Mau balik, tapi gengsi gue."
Tetapi sepertinya istrinya sudah menyadari kesalahan sehingga berulangkali menelepon dan sekarang melakukan panggilan video.
"Hem."
"Beb, pulang ya."
Nazeef menahan senyum mendengar suara Nina yang di buat manja. Terdengar aneh, tetapi ia suka.
"Ngapain pulang?"
Nazeef menelan saliva melihat layar ponselnya karena tampak Nina membuka kimono tidurnya bersisa pelindung kedua gunung dan segitiga birunya.
"Beb." panggilnya dengan suara serak karena ia sudah dalam keadaan bergai rah.
"Pulang ya. Aku kangen."
"Tapi gak akan kecewain aku lagi kan? gak akan berhenti di tengah jalan lagi kan?" Nazwef harus memastikan agar kejafian lalu tak terulang lagi. Pernah kejafian Nina tiba-tiba menghentikan permainan di tengah jalan karena alasan tiba-tiba tidak mood.
"Serius. Aku tunggu, beb."
Setelah panggilan video selesai, Nazeef bergegas pulang ke apartemen. Karena ia benar-benar merindukan istrinya. Bahkan amarah yang tadi sudah lenyap entah kemana.
❤️
Bersambung..
__ADS_1
Kayaknya ini part-part udah mau akhir..