
Dan disinilah mereka, di taman kota yang tak jauh dari apartemen mereka yang masih berada satu gedung selain Dion dan Melinda pastinya.
"Kita gelar jadi satu aja tikarnya." Ucap Nadira menginterupsi.
"Enggak bisa!" sahut ketiga cowok itu bersamaan.
Sontak membuat ketiga cewek memandangi cowok yang dicintai.
*Haisshh.. aku minta duduk bersama itu biar Qenan gak omes.
Kalau Nazeef nyerang aku lagi gimana? gimana pun dia ahlinya.
Apa-apaan sih mereka? aku kan masih gugup dekat oppa*.
Dengan sigap para cowok mengambil alih tikar yang ada di tangan para cewek-cewek lalu mencari lapak masing-masing.
Nadira mendekati Qenan dengan menenteng dua paper bag berisi makanan.
"Ini dimsum ayam pesanan kamu Nan." ucapnya lalu duduk berhadapan dengan Qenan.
Qenan mencebik karena melihat Nadira tidak duduk di sebelahnya. "Pindah."
Tuh kan.. Apa ku bilang.
Nadira menggeleng. Namun tatapan mata Qenan membuat nyalinya ciut membuat ia bangkit berpindah duduk sebelah Qenan dengan jarak beberapa jengkal.
Qenan yang merasa gemas lantas mengangkat Nadira agar duduk di pangkuan nya.
"Qenan.. Ini di tempat umum loh.."
Qenan memeluk Nadira dari belakang dengan posisi duduk. Menghirup harum tubuh Nadira dalam-dalam karena harum tubuh Nadira lah yang akan ia rindukan. Bukan hanya itu, semua yang ada pada Nadira.
"Qenan.. geli.." rengek Nadira karena Qenan sudah mengecupi lehernya.
Akhirnya Qenan mengalah setelah mendengar suara nyanyian dari dalam perut Nadira. "Oke-oke, sorry ya.."
Nadira bernafas legah lalu turun dari pangkuan Qenan untuk menyiapkan dimsum yang ia buat khusus untuk Qenan.
Di lapak berbeda Nazeef tengah tersenyum memperhatikan Nina sedang memakan cemilan sembari berbalas chat yang ia yakini orang yang mengirim pesan itu adalah Arga.
Cemburu? tentu saja.
Tapi mau bagaimana lagi?
"Apa lo suka sama Arga?" tanya Nazeef, ada rasa nyeri di hatinya ketika bertanya seperti itu.
Nina mengalihkan pandangan menatap Nazeef. "Suka, dia baik." sahutnya lalu kembali menatap ponselnya.
Nazeef tersenyum. "Lo baik-baik ya pas gue gak ada." tuturnya lirih.
"Harus bahagia, kalau nanti pas gue balik ternyata hati lo udah untuk Arga.. Ngomong sama gue dari pada, jangan korbanin perasaan lo."
Nina mendengar itu langsung menyimpan ponsel nya kembali lalu mengangguk.
Di lapak yang tak jauh dari Qenan dan Nazeef dimana Dion berada.
Ia masih terlihat gugup dan salah tingkah, sungguh otaknya saat ini benar-benar telah terkontaminasi dengan ajaran-ajaran sesat dari Nazeef.
Nazeef sialan.
__ADS_1
"Lin."
"Ya.."
"Kenapa lo diem?"
"Karena oppa diem aja."
Setelah mendengar jawaban Melinda, Dion kembali terdiam.
"Gue titip hati gue saat pergi nanti ya.." ujar Dion serius menatap Melinda.
Tentu Melinda senang mendengar itu namun keadaan nya berbeda, sudah tak lagi sama.
"Jangan oppa, tetap bawalah rasa mu. Jika di luar sana ada yang jauh lebih baik dari ku maka pertahankan." Melinda mencoba tersenyum.
"Kenapa? bukan nya ini yang lo inginkan?"
Melinda mengangguk. "Ya memang, tapi perasaan bisa aja berubah selama dua tahun bukan? jadi jangan memaksa bila nanti oppa menemukan yang jauh lebih baik dari ku."
...****...
Dua hari telah berlalu dan hari ini adalah hari pertama Ujian Nasional.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, disaat Qenan masih tertidur ia sudah menyediakan seragam sekolah untuk nya.
Setelah itu ia berkutat di dapur memasak untuk sarapan mereka. Memikirkan waktu kebersamaan mereka hanya sebulan lagi membuat dadanya terasa sesak.
Ini salahnya karena meminta Qenan untuk membiarkan ia tinggal di Indonesia sementara Qenan berada di Amerika.
Nadira tersentak kala merasakan dua tangan kekar melingkar di perut nya.
"Kamu ngagetin aja." cebik Nadira namun tetap membiarkan Qenan bergelayut manja padanya.
"Gimana keadaan mu Ra? apa masih ada yang sakit berlebihan?" tanya Qenan sembari mengeratkan pelukan dan kepalanya sudah berada di ceruk leher Nadira.
Nadira mengelus sayang kepala Qenan karena ia tahu bahwa suaminya itu sangat menyukai diperlakukan hal ini.
"Kamu tenang ya.. Aku udah gak pa-pa kok. Lepasin dulu Nan, aku mau siapin nasi sama telur nya."
"Baiklah Nyonya Qenan Abraham, aku melepaskan mu kali ini." ucap Qenan pasrah membuat Nadira tertawa.
Nadira memindahkan nasi goreng itu ke piring dengan telur mata sapi untuk Qenan dan telur dadar untuknya.
"Minum nya mau apa?" tanya Nadira lembut.
"Jus wortel kayak biasa aja ya.." pinta Qenan.
Nadira mengangguk lalu memasukkan wortel yang sudah ia bersihkan lebih dahulu. Lalu ia mengambil gelas dan ingin membuat susu cokelat untuknya. Namun gerakan nya terhenti saat menyadari bahwa yang ia masukkan ke gelas adalah susu ibu hamil.
Ia menghela nafas panjang membiarkan gelas berisi bubuk susu ibu hamil tergeletak di meja yang ada di dapur dan memilih menyediakan jus untuk Qenan.
"Ini jus nya Nan.." ucap Nadira sendu sembari meletakkan segelas jus wortel di depan Qenan.
Qenan memperhatikan sejak tadi apa yang dilakukan Nadira ikut merasa sedih, bagaimana tak siapnya mereka saat Nadira hamil namun ketika melihat langsung bagaimana bentuk embrio calon anak mereka membuat ia bahagia bahkan hingga kini foto hasil USG itu masih tersimpan di dompetnya.
Ini salahku!
"Are you okay baby?" tanyanya pada Nadira yang sudah berubah murung.
__ADS_1
Nadira mengangguk lemah. "Aku baik-baik aja Nan."
Qenan bangkit lalu bersimpuh menggenggam kedua tangan Nadira, ia mendongak menatap Nadira yang menunduk menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"I'm really sorry dear. It's all my fault, I shouldn't have stressed you out and left you that night. (Aku benar-benar minta maaf sayang. Ini semua salahku, seharusnya aku tidak membuatmu stres dan meninggalkanmu malam itu.)"
"Jangan gitu Nan, aku hanya merasa lemah karena gak bisa pertahanin anak kita. Udah jangan dipikirin lagi, sekarang kamu sarapan dan semangat ujian nya."
Qenan mengangguk lalu kembali duduk menyelesaikan sarapan nya. Setelah sarapan ia pamit pergi ke sekolah.
Sebelum keluar apartemen Nadira menghadiahi banyak kecupan di wajah Qenan karena ia tahu sampai sekarang Qenan masih merasa bersalah atas keguguran yang menimpa nya.
"Jangan pikirin itu lagi ya.. Sekarang kamu pergi ke sekolah."
"Iya Ra. Kamu juga hati-hati berangkat kuliah nya. Nanti aku yang jemput."
Nadira mengangguk dengan senyuman manis nya.
Qenan keluar apartemen namun sewaktu akan memasuki lift ia berbalik kembali ke apartemen.
"Loh kok balik lagi?" tanya Nadira yang baru meletakkan piring kotor bekas sarapan mereka.
"Ada yang ketinggalan." sahut Qenan mendekati Nadira.
"Apa nan? pensil, penghapus, penggaris udah aku masukin ke tas kamu semua kok. Apa dompet kamu? atau hape?"
Qenan yang sudah berdiri di hadapan Nadira pun terkekeh.
"Udah semua yang kamu sebutin Ra.."
"Terus?"
"Kamu."
"Aku?" Nadira mendadak bingung, ada apa dengan dirinya?
"Iya, Aku lupa belum cium kamu."
🌸
Bersambung...
Udah hari Senin aja, jangan lupa vote nya juga ya..
Terimakasih atas dukungan kalian semua..
*
**
__ADS_1
*