
Setelah kepergian suaminya, ia justru terjaga dan tak bisa tertidur lagi. Rasa kantuk yang menyergap nya hilang begitu saja.
Ia pun beranjak menuju apartemen nya dimana Nina tempati masih dengan penampilan pakaian tidur dan boneka boba di pelukan nya.
Setelah sekian lama memencet bel tak juga ada yang membuka akhirnya memilih menuju ke apartemen Nazeef dimana Qenan berada.
Bel terus ia pencet sampai Dion membukakan. Ia pun celingukan mencari sosok suaminya namun sepertinya Dion sengaja menghalangi.
"Loh, sendirian?" tanya Dion kepadanya.
Nadira mengangguk masih setia berdiri di depan pintu dengan memeluk boneka boba yang dibelikan Qenan tadi sore saat jalan-jalan di mall.
"Nina sama kak Arga pergi. Dion, gue mau masuk. Qenan, adakan?" tanyanya menatap curiga Dion karena tak langsung menjawab bahkan Dion terkesan gugup.
Ia dapat melihat Dion menelan saliva dengan kasar.
"Qenan itu-." belum selesai berbicara ia sudah melesat masuk ke dalam apartemen Nazeef.
"Qeennaaann..." pekiknya melihat Nazeef yang sudah mabuk berat dan Qenan masih sadar bukan, tapi setengah sadar.
"Dir, jangan ngamuk sekarang percuma karena mereka berdua nggak bakalan dengerin." Dion mengingatkan membuat ia menghela nafas memilih duduk tepat di depan Qenan yang tengah menatapnya.
"Sayang.. Kamu disini?" tanya Qenan mencoba bangkit dengan tubuh yang tak seimbang.
"Astaga.." pekiknya ketika Qenan menjatuhkan bobot tubuhnya di lantai tepat di samping kaki nya.
Jika begini bagaimana bisa marah? dalam keadaan setengah sadar pun perlakuan manis yang ditunjukkan Qenan terhadapnya.
Mau tahu apa yang dilakukan Qenan? ia merebahkan kepala nya di atas paha Nadira sembari bersenandung.
"Listen to me now, babe. (Dengarkan aku, sayang)"
"I want you to the bone. (Aku menginginkanmu)"
"I want you to the bone. (Aku menginginkanmu)"
"I want you to the bone. (Aku menginginkanmu)"
Ia sangat tahu lagu itu sering di putar Qenan ketika mereka sedang berdua di dalam kamar tanpa aktivitas apapun selain rebahan dan saling berpelukan.
Tapi kali ini ia tak akan luluh hanya dengan satu lagu.
"Dion, tolong bantu gue pindahin mereka ke kamar ya."
"Jadi lo mau tidur sendirian?" tanya Dion sembari memapah Nazeef ke dalam kamar lalu keluar lagi membantu Nadira memapah Qenan juga.
__ADS_1
"Iya, gimana lagi? punya suami tapi tukang mabuk. Kok bisa sih?"
"Mereka bukan pecandu kok, hanya caranya yang salah melampiaskan suntuk, amarah, dan kesedihan itu.
Setelah Qenan sudah tertidur di sebelah Nazeef langsung mereka selimuti dan meninggalkan mereka di kamar.
"Gimana nanti kalau disana Ion? gimana kalau ada yang jebak mereka?"
Dion menatap Nadira dan ia memaklumi kekhawatiran Nadira.
"Gue yang bakalan jagain Qenan. Dan lo perlu tahu, Qenan dan Nazeef itu sebenarnya orang nya sangat teliti. Selama gue mengenal mereka, Qenan dan Nazeef nggak akan mabuk kalau di luar apartemen. Mereka kalau di club' juga hanya formalitas doang pas ada rekan bisnis nya yang undang. Lo nggak perlu khawatir ya."
Ada rasa lega mendengar penjelasan Dion. "Makasih Ion.. Gue balik dulu ya, tolong jaga mereka buat gue."
"Hati-hati, kalau ada apa-apa hubungi gue."
Nadira meninggalkan apartemen Nazeef dan kembali ke apartemen Qenan. Dirinya cukup letih hari ini dan kantuk kembali menyerang.
...****...
Matahari sudah tersenyum bahkan tertawa hingga sangat menyengat bila terkena sinar nya langsung.
Qenan mengerjapkan mata berulangkali menetralkan penglihatan lalu duduk bersandar di kepala ranjang. Memijit kepala yang teramat pusing dirasanya.
"Jam 1 siang." jawab Dion yang masih setia menjaga kedua sahabatnya.
"Apa?" pekik nya lalu menatap Dion.
"Lo nginep disini tadi malam."
Seketika wajah nya berubah panik. "Mam pus gue, istri gue.. Kenapa lo nggak ingetin gue si Ion.." gerutunya turun dari tempat tidur lalu melesat ke kamar mandi lebih dahulu. Setelah itu ia pun berlalu secepat mungkin menuju apartemennya.
Sesampainya di Apartemen, ia langsung masuk ke kamar mencari sang istri yang diyakini sudah tak ada di dalam sana lalu ia kedapur dan melihat segelas jus jeruk dan memo menempel disana.
For My Husband :
Jus nya di minum, jangan lupa makan sereal nya di dalam kulkas. Jangan di jemput karena aku nggak pulang malam ini.
Mulut Qenan menganga membaca memo tersebut. Bagaimana bisa Nadira tidak pulang?
"Jangan hukum aku begini dong." Merogoh ponsel dalam saku lalu mendial nomor sang istri namun tidak aktif.
Tidak menyerah sampai disitu, ia pun membuka sosial media sang istri dan menghubungi nya ternyata sang istri sedang tidak mengaktifkan sosial media nya.
"Kemana gue cari? kampus? pasti udah pulang."
__ADS_1
Namun lagi-lagi ia tak kehabisan akal, di telepon kafe Hebat dimana Nina bekerja tetapi hasil nya lagi-lagi mengecewakan.
Nadira tidak ada datang kesana.
Mendadak ia geram pada dirinya sendiri karena ikut mabuk bersama Nazeef. Pasalnya tadi malam berniat hanya beberapa tenggakan saja namun sepertinya pengaruh perpisahan yang akan datang membuat ia juga mengikuti Nazeef hingga mabuk.
"Tunggu dulu, Rara tahu aku mabuk dari mana?" Ia mengacak rambut karena frustasi.
Lalu ingatan dimana ia dalam keadaan mabuk melihat Nadira duduk lalu ia menghampiri dan duduk bersimpuh di depan Nadira.
"Gue bersenandung terus Nadira nggak marah tapi kenapa sekarang pergi ninggalin aku Ra?"
"Aarrgghh.."
Akhirnya ia memutuskan membersihkan diri lebih dahulu kemudian setelahnya ia pergi ke Kafe Hebat.
Sepanjang perjalanan, ia terus mengumpat pengendara siapa saja yang menghalangi laju mobilnya.
Sampai di Kafe Hebat, ia langsung masuk ke ruangan nya. Memeriksa setiap laporan secara rinci lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan para pegawainya.
Ia teringat sesuatu lalu memeriksa keberadaan Nadira melalui aplikasi GPS yang ia pasang di ponsel baru Nadira.
"Oh shi*t.. Kenapa kamu sengaja gak bawa hape Ra?" tanyanya masih menatap layar ponsel dengan kepala bersandar di setir mobil.
Berbagai tempat yang sering di datangi Nadira sudah ia datangi, kedua sahabat Nadira juga tak luput dari pencarian nya karena hari sudah gelap dan kini ia memilih kembali ke apartemen dan berharap Nadira sudah kembali.
Namun harapan itu pupus ketika memasuki Apartemen tak ada tanda Nadira sudah pulang disana.
Biasanya ketika dilanda kekalutan seperti ini hanya rokok dan alkohol yang di cari namun sekarang sadar kesalahan nya, sekuat tenaga ia tak beranjak ke dapur untuk mengambil dua benda itu.
"*Mi amor. (Sayangku)"
"Perdóname. (Maafkan aku*)"
🌸
Bersambung..
*Kalau ada yang bilang Qenan kan bos kenapa ikutan jadi kayak Nazeef.
-Ini ya, mereka berdua besar bersama bagai kakak beradik yang di paksa mandiri. Jadi kalau ada salah satu yg galau pasti yg satu nya akan ikut merasakan.
Dan satu hal jangan lupakan ada saat dimana mereka juga ingin kayak layaknya cowok seumuran mereka.
Terimakasih 😊*
__ADS_1