Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
No problem


__ADS_3

Pagi menjelang, sepasang suami istri itu agaknya belum ada yang memulai berbicara karena sedari memasak dan Qenan duduk di kursi meja makan pandangi istrinya memasak namun tidak sepatah katapun keluar dari mulut mereka masing-masing.


Nadira yang diam saja takut jika ditanya mengapa tak suka di awasi pergerakan nya. Dan ia merutuki reaksi berlebihan yang ditumbuhkan dari dirinya sendiri.


Dan Qenan merasa bingung kesalahan apa yang membuat istrinya mendiami sedari malam.


Helaan nafas terdengar dari keduanya lalu saling melengos karena keadaan. Saling lirik dan ketika lirikan bertemu maka keduanya membuang muka masing-masing. Lalu menggerutu dalam hati karena belum juga ada yang mendahului.


Masakan telah matang dengan cekatan Nadira menyiapkan makanan ke atas piring lalu menyusun di atas meja.


Nadira yang mengakui kesalahannya menurunkan gengsi untuk menyediakan sarapan untuk Qenan.


Diletakkan segelas kopi yang biasa di minta Qenan dan sepiring nasi goreng di depan Qenan.


Ia tahu sedari tadi suaminya itu memperhatikan nya sehingga membuat degub jantung itu tak terkendali olehnya.


Selesai sarapan pun mereka masih saling mendiami namun ia tersenyum kala melihat Qenan mencuci piring. Sempat menikmati pemandangan indah itu lalu meninggalkan Qenan sendiri di dapur.


Karena yang ia tahu, Qenan akan pergi ke kafe jika hari Minggu.


Di dalam kamar Nadira menyalakan laptop hendak menonton drama kesukaan nya. Pintu terbuka menampakkan Qenan yang mempesona lalu pintu tertutup kembali.


Qenan berjalan melewati Nadira dengan sebungkus rokok dalam genggaman.


"Qenan.." panggil Nadira lirih.


Langkah kaki Qenan terhenti namun tak menoleh ke arah Nadira hanya menunggu ucapan selanjutnya saja.


"Maaf."


Siapa yang tahan saling mendiami dengan orang terkasih?


Mungkin ada, tapi tidak dengan Nadira.


Qenan menghela nafas lalu mendekati Nadira. Duduk di sisi ranjang berhadapan dengan Nadira lalu mengecup keningnya.


"Kamu kenapa?" tanya Qenan.


Nadira terkesiap mendengar pertanyaan itu, entah mengapa perasaan nya kini tengah mengkhianati sang suami walau hanya karena tak terima di awasi gerak-gerik nya.


Nadira menggeleng. "Aku hanya merasa tidak suka di awasi kayak gitu Nan, tapi aku sadar kalau aku ini orang yang sudah bersuami."


Qenan tersenyum memaklumi alasan Nadira karena ia tahu bahwa istrinya itu biasa hidup tanpa ada yang mengawasi, jauh berbeda dengan nya yang sejak lahir sudah di jaga ketat walau mereka yang menjaga memiliki jarak karena ia sendiri tak suka jika para bodyguard papa Reno mendekatinya jika ia tak dalam masalah.


"Maaf kalau caraku itu salah, tapi percayalah kalau itu salah satu bukti kalau aku takut kehilanganmu Ra."


Nadira tersenyum haru lalu ia letak laptop sedari tadi ada di pangkuan.

__ADS_1


"Maaf, aku takut kamu ninggalin aku." ucapnya seraya memeluk Qenan dan di balas pula pelukan itu dengan erat.


"Ah iya aku lupa, papa kasih kita tiket ke Bali besok dan keperluan udah di siapin papa." ucap Nadira mengurai pelukan.


"Apa ini disebut bulan madu?"


Nadira tergelak ketika Qenan bertanya dengan raut wajah yang sumringah. Sungguh ia suka pemandangan itu.


"Entahlah, tapi apa pantes kita bulan madu?"


"Tentu aja pantes sayang.. Nanti kalau kita udah tua pun aku mau kita sering-sering bulan madu."


Mata Nadira mendelik karena itu. "Issh enggak ingat umur." cibirnya.


"Biarin aja, aku juga mau punya anak banyak."


Nadira tergelak mendengar impian Qenan. "Kenapa mau punya banyak anak?"


"Biar rumah kita rame Ra. Aku ingin ketika pulang kerja, kalian menyambutku dan anak kita satu persatu memberiku kecupan dan pelukan."


Nadira tersenyum haru mendengar itu, tanpa terasa air mata nya menetes menatap sang suami yang masih menceritakan impiannya di masa depan.


"Dan aku hanya ingin kamu di rumah menungguku pulang kerja."


"Jadi buat apa aku kuliah Qenan kalau bukan untuk kerja?" tanya Nadira sedikit protes.


Qenan tersenyum lalu menghapus air mata Nadira dengan ibu jarinya.


Nadira tersenyum memahami maksud dari Qenan. Bahkan dirinya tak pernah berpikir hingga kesana.


"Aku nggak mau kamu mengurus anak orang lain namun anak-anak kita diurus orang lain." Qenan merengut di akhir kata membuat Nadira mencebik bibir saja.


Cemburu nya kumat!


"Tapi aku juga mau kamu ikut andil mengurus anak Nan."


Qenan mengangguk dan tersenyum. "Tentu, kita akan mengurus bersama."


"Bener ya.."


"Iya." Ada rasa bahagia melihat Nadira tersenyum kembali.


...****...


Masih pagi namun tak menyurut semangat Dion untuk belanja keperluan dirinya untuk ikut sepasang suami istri itu berbulan madu.


Lebih tepatnya ia juga butuh liburan untuk menenangkan hati. Ia juga sudah mengajak Nazeef untuk menjadi obat nyamuk bersama.

__ADS_1


Yang pasti ia tak ingin tersiksa sendiri melihat keuwuan kakak nya dengan sahabatnya bermesraan.


"Ion, tunggu bege." seru Nazeef sembari memasukkan ponsel ke saku celana.


Jika boleh jujur, keduanya belum ada yang mandi hanya mencuci muka dan menggosok gigi saja.


Entahlah, mungkin para jomblo ini tak ingin menjadi pusat perhatian.


"Cepatlah, pastikan kebutuhan kita berdua aman karena lo pasti tahu Qenan nggak akan suka barang nya kita pakai."


"Ck.. Iya, kita butuh banyak sabun."


"Iya."


"Jangan sampek kayak kemaren, gue abis di giling Qenan."


Dion menghentikan langkah menoleh menatap Nazeef seakan bertanya kenapa?


"Kamar mandi yang di dapur itu sering di pakek Qenan, dan dia tahu kelakuan kita karena sabun cair nya sisa sedikit."


Keduanya tergelak atas kelakuan mereka sendiri sembari tangan mereka memasukkan apa saja yang menurut mereka perlu termasuk sabun cair.


"Zeef, gue maen sama lo buat otak gue sedikit tertular sama otak lo yang nggak bener."


Nazeef semakin tergelak. "Biarlah bro, biar gue ada temen nya. Lo tahu kan kalau gue nggak suka sendirian? dan itu termasuk alasan gue kenapa bisa sebejat ini."


Dion tersenyum lalu menepuk bahu sahabatnya itu. "Ada gue yang juga kesepian."


"Iya gue tahu dan karena lo kesepian makanya ajak gue liburan bareng biar gak jadi obat nyamuk kan?"


Lagi-lagi keduanya terbahak.


Cukup lama mereka berada di pusat perbelanjaan itu hingga tanpa sengaja mata keduanya melihat Melinda juga sedang berbelanja bersama kedua cewek yang penampilannya lumayan seksi di usia mereka.


Mata Dion dan Melinda terkunci. Pikiran buruk kembali merajai isi kepala Dion.


Bukan ia tak suka, tapi setidaknya beritahu dirinya. Ia memutuskan pandangan itu lalu berjalan menuju meja kasir.


"Ion, Lo nggak apa-apa?" tanya Nazeef.


"No problem."


🌸


Bersambung..


*Apa kabar para readers kesayangan? bagaimana kabarnya? semoga kita dalam lindungan Allah SWT 🙏

__ADS_1


Sehat selalu dan tetaplah bahagia.


Hai..Hai.. emak boleh merepet ala orang Medan nggak*?


__ADS_2