Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Makan siang bersama


__ADS_3

Di kantin kampus, Ketiga cewek itu terdiam mengaduk-aduk jus yang berada di depan mereka masing-masing.


Sepertinya hari ini adalah hari kesepian sejagat raya. Padahal tadi seharian mereka belajar tentang perkembangan sosial dan emosional AUD.


Namun agaknya pelajaran itu sama sekali tidak masuk ke dalam otak mereka karena pikiran melayang jauh ke seseorang yang ada di hati mereka.


"Bosen gue." tutur Nadira menghela nafas.


Keduanya mengangguk setuju.


"Tapi gue males pulang."


Bagaimana ia tak malas pulang? suasana hatinya masih buruk dan harus semobil dengan Wido. Entah mengapa papa Surya dan papa Reno setuju jika Wido yang akan menjadi sopir Nadira selama Qenan tidak ada.


Bukan takut berpaling, tetapi ia takut bahwa cinta Wido masih cenderung padanya.


Tidak ingin menyakiti.


Itulah maksud hatinya.


"Nina, lo masuk kerja jam berapa?" tanya Nadira.


"Gue ambil cuti dua hari, males gue ketemu Arga."


Lagi-lagi mereka diam membisu. Sepersekian detik kemudian timbul ide cemerlang dari kepala mereka.


Setelah ketiganya setuju langsung menuju tempat yang dijadikan tujuan mereka. Persis dugaan nya, Wido sudah ada disana dengan bersandarkan mobil dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancung nya.


Langkahnya terhenti melihat penampilan Wido. Bukan, bukan terkesima tetapi justru mengingatkan sesuatu.


Kayak pernah lihat.


Matanya terbelalak mengingat hal itu. Dan kini hatinya kembali di rundung sedih.


Menghela nafas berulang kali barulah ia melanjutkan langkah diikuti Nina dan Melinda.


Wido melirik arloji sekilas. "Kenapa terlambat pulang?"


"Suntuk, antar ke mall ya bang." pinta Nadira ketika sudah duduk di samping Wido.


Wido menatap tajam Nadira. "Jangan karena Qenan nggak ada, kamu jadi tukang main Dira." tegur Wido.


Nadira mencebik lalu kedua tangan bersidekap di dada. "Ayolah bang, di rumah pun aku sendirian. Ke apartemen juga yang ada kesepian."


Apa yang bisa dilakukan Wido selain menuruti Nadira? mana mungkin ia menolak permintaan wanita yang di cintai nya.


"Bang." seru Nadira.

__ADS_1


"Hem."


"Kenapa abang belum nikah juga?" tanya Nadira.


Wido melirik Nadira sekilas lalu melihat ke jalanan kembali.


"Kenapa harus menikah kalau sendiri udah hidup dengan baik."


"Haiisshh.. Seenggaknya ada yang urusin abang, gimana kalau sakit lagi?"


Wido tersenyum, ingin sekali ia mendekap wanita yang di cintai nya ini. Namun, ia tak boleh melewati batas. Bisa mengantar jemput Nadira saja sudah lebih dari cukup daripada harus mengendap-endap mengikuti Nadira hanya untuk menjaga atau sekedar ingin melihat senyuman Nadira.


"Aku gak akan sakit." sahutnya. Kalau kamu juga gak sakit. Lanjutnya dalam hati.


Jangan tanyakan kabar Rania. Karena Wido sama sekali tidak perduli dengan budaknya itu. Bahkan sudah hampir sebulan ia tak kembali ke apartemen karena dari hatinya murni tak menginginkan hadirnya.


"Loh, ini mah bukan ke mall tapi hotel." celetuk Nina melihat sekeliling dari jendela mobil.


Nadira yang mendengar itu pun membuat ia melihat keluar dan benar apa yang dikatakan Nina lalu menatap tajam ke arah Wido.


Ia tahu ini adalah salah satu hotel berbintang milik papa Surya.


Wido menghela nafas. "Memang bukan Mall. Dari pada aku harus mengikuti anak kecil berbelanja mending kalian ikut dengan ku melihat persiapan pesta sahabatku."


Akhirnya ketiga wanita muda itu hanya bisa pasrah dan ikut memasuki hotel.


...****...


Nanti malam adalah acara ulang tahun pernikahan sahabatnya, Rian. Ia sendiri yang turun tangan dalam mengatur dekorasi dan susunan acara itu karena ia tahu istri dari sahabatnya itu adalah model terkenal.


Akan banyak wartawan yang hadir di jam yang sudah ia atur diperbolehkan untuk masuk ke acara tersebut meliput acara sang model.


...****...


"Hai Rian." ucap Wido.


Tubuh Melinda menegang ketika tubuh pria yang di panggil Wido berbalik ke arah mereka. Bagaimana bisa dunia sesempit ini? ia bertemu sugar Daddy nya?


Jadi ini acara pernikahan Daddy?


Mata mereka bertemu tetapi segera Melinda putuskan karena tak ingin menimbulkan kecurigaan.


"Hai bro. Kayaknya kamu sedang bahagia hari ini." sindir Rian karena melihat Nadira bersamanya.


Wido hanya tergelak namun di mata Nadira tahu jika ada kesedihan di balik sikap ceria Wido.


"Kemana Luna?" tanya Wido.

__ADS_1


"Dia masih ada pemotretan. Oh iya, apa kalian udah makan?" tanya Rian namun matanya menatap Melinda seakan pertanyaan itu hanya tertuju pada sugar baby nya.


"Udah kan?" tanya Wido karena tadi Nadira mengatakan dari kantin kampus.


Namun agaknya ketiga wanita muda itu bingung harus menjawab apa. Bahkan serempak ketiganya menggaruk tengkuk leher masing-masing.


"Sebenarnya kami tadi enggak makan di kantin bang." jawab Nadira lirih.


Wido melotot merasa gemas melihat Nadira yang terlihat ketakutan. "Jadi kalian ngapain di kantin kampus?"


"Ya cuma duduk bertiga diem-dieman, galau bareng." bukan Nadira yang menjawab melainkan Nina yang santai sedari tadi.


Kedua pria itu hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah anak muda yang menyiksa diri sendiri hanya karena galau.


Akhirnya Wido dan Rian mengajak tiga wanita muda tersebut ke restoran hotel. Dengan sengaja Rian memesan privat room untuk mereka berlima.


Entah hanya kebetulan atau disengaja, Wido duduk di sebelah Nadira, sedang Nina diantara Nadira dan Melinda. Tentu saja Rian berada di sebelah Melinda.


Di meja bundar itu, makanan sudah tersedia.


"Wow, seafood saos Padang." seru Nadira menatap makanan kesukaan nya telah tersaji di depan mata.


"Makasih bang." ucapnya tulus karena ia tahu pasti Wido yang sengaja memesan ini untuknya.


Wido hanya tersenyum.


Sedang Melinda tersenyum kikuk menatap makanan di depan nya karena ia tahu pastilah Rian sengaja menyediakan chicken beef untuknya.


Lalu ia melirik Rian dan terlihat sugar Daddy nya tengah menatap nya dengan senyuman.


Melinda tersedak tiba-tiba ketika merasakan tangan seseorang mengelus paha nya. Tatapan tajam terlayangkan untuk Rian namun agaknya sugar Daddy nya itu tak merasa bersalah.


...****...


"Kamu bisa buka kepiting nya?" tanya Wido penuh perhatian.


"Bisa, tapi nanti aja. Aku mau udang nya dulu." Sebenarnya ia kesulitan namun tak ingin memberi celah Wido berbuat lebih.


Ingin sekali Nadira berbicara berdua pada Wido. Hatinya percaya bahwa Wido tak mungkin melewati batas terbukti dengan apa yang dilakukan Wido terhadap nya.


Bahkan, jika di pikirkan banyak sekali kesempatan untuk mendekati nya sebelum dirinya menikah dengan Qenan.


Tapi lihatlah, Wido masih menjaga nya hingga sekarang.


Dan ia yakin, pasti Wido lah pelaku nya yang membuat para preman, pemalak jalanan, atau anak-anak berandal yang menggangu nya dahulu menjadi penurut dan takut bila dirinya sudah melewati jalanan tempat mereka mangkal.


*Aku berharap akan ada kebahagiaan untukmu.

__ADS_1


🌸*


Bersambung..


__ADS_2