Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Nyonya Abraham


__ADS_3

Terkapar di atas ranjang, Nadira kembali merasa lemas. Serangan mual yang begitu berutal, membuat perut seperti di aduk-aduk dan diremas. Energi dalam tubuh seolah diperas. Wanita itu tak berdaya dengan kondisi jauh dari kata waras.


"Nyonya Abraham, apa kamu baik-baik aja?" tanya bidan yang di utus papa Surya untuk memantau kesehatan Nadira.


Nadira memejam mata tergeletak lemah hanya mengangguk sembari memeluk perut ratanya.


"Nyonya, sebaiknya kita ke kota. Anda harus dirawat."


"Aku baik-baik saja, nanti juga sehat lagi." tolak Nadira karena seperti itulah yang dirasakan nya. Bila pagi hari akan mengalami morning sickness parah, maka siang hari tampak sehat namun harus berperang dengan sinar matahari, dan malam harinya ia akan kembali lemah tak berdaya.


"Apa ada yang anda inginkan, Nyonya?"


Nadira lantas mengambil posisi duduk bersandar pada headboard ranjang.


"Ambilkan ponsel ku dan tolong buatkan jus jeruk hangat kayak biasa ya, mbak."


Melihat bidan itu pergi dan tak lama kemudian kembali menyerahkan ponselnya lalu meninggalkan kamarnya.


Ia tersenyum melihat wallpaper ponsel baru nya. Wajah bule yang berstatus suami.


Suami?


Entahlah.


Di cari kontak seseorang lalu dihubungi nya. Ini sudah menjadi kegiatan rutin nya. Walau di panggilan telepon itu ia hanya dia saja mendengarkan caci maki dari orang di seberang sana.


"Nyonya Abraham, ini jus yang anda minta."


Nadira terkejut bidan bernama Tari tersebut menyebut namanya. Lalu ia lihat ponsel miliknya dan panggilan telepon masih terhubung.


Mam pus.


Dengan cepat ia putus panggilan tersebut lalu menerima segelas jus jeruk hangat.


...****...


"Playboy cap ikan teri."


"Apa sih keriting?" tanya Nazeef sedari tadi pacarnya itu terus saja mengusik dirinya yang baru memejamkan mata.


"Menurutmu, Dira dimana?" tanya Nina sudah sangat rindu pada sahabatnya itu.


"Dia ada, tapi belum mau pulang. Biarkan saja, tapi aku harap segera pulang karena Qenan semakin gila kerja saat Nadira pergi begini." keluh Nazeef merasa lelah dengan peraturan baru yang di buat Qenan.


"Bos Qenan begitu cinta Dira, Zeef. Itu makanya kayak gitu. Tapi apa bos Qenan tahu?"


Nazeef duduk tegak kembali lalu mengedikkan bahu. "Kata om Wido, Nadira ada di Bandung. Bahkan udah dua hari Qenan disana."


"Semoga segera ketemu." ucap Nina lirih.


Ia sudah menghubungi Nadira namun nomornya seperti sengaja di blokir bahkan media sosial milik Nadira sudah tidak aktif setelah kejadian malam itu.

__ADS_1


...****...


"Elin, bisa buatkan aku capuccino dingin?" pinta Dion hendak sarapan.


Melinda mengangguk. "Sebentar oppa. Tumben pagi-pagi udah minum es?"


"Entahlah, tapi aku benar-benar pusing dan pingin minum yang dingin-dingin. Banyak sekali pekerjaan belum lagi Nadira yang belum mau pulang."


Melinda menghela nafas. "Jaga kesehatan oppa, mintalah om Wido membujuk kakak lagi."


Dion mengangguk sembari menerima segelas capuccino dingin dari Melinda. Papa Surya benar-benar menghukum nya. Jika saja ia boleh memilih, tapi itu tidak mungkin. Ia sadar, sebagai pewaris harus tetap bertanggung jawab dan mempertahankan kelangsungan hidup para karyawan nya.


...****...


Qenan baru saja keluar kamar mandi melihat nomor tidak di kenal yang terus saja menghubungi nya setiap pagi dan malam hari. Decak kesal terdengar memilih membiarkan ponselnya berdering terus menerus seraya membuka lemari memilih pakaian yang akan dikenakan.


Hingga selesai memakai pakaian, ponselnya kembali berdering dengan nomor yang sama.


"Halo."


"Halo. Ck, jangan hubungi gue lagi, apa kerjaan lo cuma gangguin gue doang. " Sesaat ingin memutuskan panggilan namun urung karena mendengar suara seseorang menyebutkan sesuatu.


"Nyonya Abraham? apa itu kamu, Ra?"


"Halo, Ra. Ini kamu kan?"


Terlambat. Panggilan itu sudah berakhir namun ia takut tidak salah dengar di seberang sana menyebut 'nyonya Abraham.'


Qenan menghela nafas dengan kasar ketika melihat jarak itu cukup jauh dari tempat ia berpijak. Pertanyaan timbul begitu saja di kepalanya.


Bagaimana kehidupan Nadira jauh disana?


"Aku menemukan mu rubah kecil. Lihat aja, aku akan menghukum mu tanpa ampun. Aku akan mengurung mu agar kamu nggak akan pergi lagi." cerocos Qenan sembari memakan sarapan yang sudah dingin. Nafsu makan nya datang setelah mengetahui keberadaan Nadira.


"Lihat aja, aku akan memarahi mu karena pergi tanpa izin ku dan nggak dengerin penjelasan ku. Apalagi kamu dalam keadaan hamil." Qenan terus saja mengomel di depan foto Nadira di ponselnya sembari melahap makanannya.


"Mau nya kamu siksa dirimu sendiri, padahal kamu tahu sendiri kalau hamil pasti lebih manja padaku. Tapi apa ini? pergi dari rumah. Awas aja kalau minta peluk-peluk aku. Nggak akan aku peluk."


Qenan terus saja mengomel tanpa sadar sudah menghabiskan 2 porsi nasi goreng. Dan ia juga tidak sadari jika dirinya kembali berubah cerewet setelah mengetahui keberadaan Nadira.


Selesai sarapan, ia mencuci piring itu di wastafel, membilas dan mengelapnya lalu meletakkan piring itu di rak.


Kemudian ia memakai jas corak kotak-kotak menutupi kemeja putih yang dipakainya. Dasi abu sebagai penyempurna tampilan.


Sebelum berangkat menemui Nadira, dilakukan mobilnya menuju babershop untuk memperbaiki penampilan nya. Rambut gondrong nya harus di pangkas dan bulu-bulu halus di rahang serta kumis tipis ini harus di cukur.


Qenan tidak ingin Nadira melihat keterpurukan nya.


Beberapa saat kemudian Qenan keluar dari babershop dengan tampilan memesona seperti saat Nadira berada di sisi nya.


__ADS_1


"Baiklah, sekarang saat nya menjemput istri dan calon anak mu, Qenan." Ia tersenyum tak sabar bertemu dengan Nadira.


Qenan masuk ke dalam mobil berkaca di spion tengah untuk melihat tampilan nya sekali lagi. Ia tahu jika Nadira melihat tampilan nya pasti akan memuji juga menghadiahi kecupan di wajahnya.


Hah, aku terlalu merindukan mu. Tapi aku harus memarahi mu lebih dulu, Ra. Jangan luluh sebelum Rara minta maaf.


Di sepanjang jalan Qenan terus saja berceloteh dengan rencana untuk memarahi Nadira dan akan luluh jika Nadira meminta maaf.


Ia tidak sadar jika sudah mengeluarkan kata lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Tidak tahu itu sebagai bentuk rasa bahagianya atau bagaimana. Yang pasti jauh dari lubuk hatinya, menemukan Nadira membuat hati nya kembali tenang.


"Astaga, kenapa jalanan disini begitu rusak?" Qenan menghentikan mobilnya lalu keluar melihat medan jalanan begitu parah jika mobil nya melanjutkan perjalanan.


Melihat pemuda mengendarai motor ke arah yang di tuju nya membuat Qenan nekad menghalangi jalan.


Pemuda itu menghentikan laju motornya, terlihat wajah kesal tetapi matanya memandangi penampilan Qenan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Yes, Sir." ucap pemuda itu membuat Qenan menaikkan satu alisnya.


"Aku bisa bahasa Indonesia."


Pemuda itu cengengesan sembari menggaruk tengkuk leher. "Ada yang bisa dibantu?"


Qenan merogoh saku celana lalu menyerahkan ponselnya bertanya apakah masih jauh di alamat tersebut.


"Nggak jauh kok, abis jalan sawah ini nanti mas nya lewati Pedesaan, abis itu sawah-sawah lagi baru dapat Desa di alamat itu."


Qenan terperangah mendengar penjelasan pemuda di depan nya yang mengatakan tidak jauh padahal harus melewati banyak lokasi menurutnya.


"Bisa antar saya?" pinta Qenan.


Pemuda itu mengangguk lalu mempersilahkan Qenan duduk di belakang nya.


Baru kali ini aku masuk pedesaan dengan setelan jas, Ra. Padahal aku sengaja setelan begini biar aku kembali membuat mu terpesona dan ikut aku pulang.


Di depan sang pemuda itu terus tersenyum. Bagaimana tidak? desa nya akan di datangi seorang bule tampan dan kaya. Ia akan menjadi viral di desa nya setelah ini.


Beberapa saat kemudian Qenan telah sampai di depan rumah yang ia tunjukkan pada pemuda tersebut setelah sepanjang jalan terus mengumpat dalam hati karena jalanan begitu rusak bahkan becek berlumpur.


"Mas, mau ke rumah kak Nadira?" tanya pemuda itu membuat mata Qenan membola.


"Dia istriku. Jangan sebut namanya lagi." sahut Qenan dingin dalam mode cemburu.


"Kak Nadira." panggil pemuda itu membuat Qenan membalikkan tubuh melihat ke arah pandang pemuda tersebut.


*Rara..


Qenan..


🌸*


Bersambung..

__ADS_1


Hai para kesayangan emak, maaf ya kalau di buat emosi karena Nadira pergi😁


__ADS_2