
Langit kelam tanpa kejora. Paras rembulan pucat seketika. Hewan malam seolah bersenandung lara, berteman hawa dingin menusuk jiwa. Di peraduannya, Nadira tampak meringkuk menahan sesak di dada. Wanita itu tengah berjuang menahan gulana.
Kecewa di hati memang masih bertamu. Namun, rasa itu seolah bergelut dengan kerinduan yang kian bertalu. Ia mengira gejolak rasa ingin bertemu dengan kekasih hati dirasakan juga oleh sang suami. Ternyata ia salah dalam hal itu.
"Dia sedang apa disana? kenapa tega menunda kepulangan nya? apa nggak cukup dua tahun meninggal ku disini? bahkan mengabari ku aja enggak sampek sekarang."
Ya, dua hari lalu Qenan memberi kabar bahwa kepulangan nya di tunda sampai dua bulan ke depan karena harus mengurus berkas-berkas yang sama sekali tidak di mengerti oleh Nadira.
"Aku sendirian sekarang."
...****...
"Kak, tolong ngertiin aku. Cinta nggak bisa di paksa kan?"
Nina terus saja memberi pengertian kepada Arga selama dua tahun ini untuk mengakhiri hubungan mereka. Tetapi seperti biasa, Arga selalu menolak.
"Cinta bisa hadir selama kita terus bersama."
"Kak, 2 tahun kita bersama, tapi perasaan ku masih sama. Cari lah cewek lain yang cinta sama kakak."
Hening.
Cukup lama Arga berdiam diri hingga perkataan nya membuat Nina bernafas lega.
"Oke. Terserah kamu." Arga melangkah pergi meninggalkan Nina di taman.
Awalnya ia merasa aneh melihat Arga menerima perpisahan itu begitu saja. Tetapi akhirnya ia merasa senang bisa terbebas dari Arga.
Di taman itu, matanya memandang langit tanpa bintang seakan tahu dirinya merana.
"Nazeef, lo apa kabar? pasti lo bahagia disana dan lupain gue. Ternyata waktu 2 tahun nggak menjamin seseorang untuk melupakan perasaan cintanya."
...****...
Sudah dua tahun Melinda melakoni pekerjaan nya. Banyak lika liku menjadi simpanan pria beristri. Dari merasa menjadi pusat perhatian, kecurigaan dari istri sugar Daddy nya.
Pernah beberapa kali ia melihat Luna berada di lobby gedung apartemen nya. Tentu saja ia sangat hapal bentuk tubuh Luna walau orang itu memakai masker dan kacamata. Bahkan Luna pernah mencari tahu tentang Rian dari dirinya.
"Eh, kamu yang waktu itu kan?" tanya Luna saat melihat Melinda berjalan melewatinya.
Melinda hanya mengangguk karena ada rasa kecemasan meliputi dirinya.
"Aku boleh bertanya padamu?" tanya Luna setelah mereka berada di kafe seberang apartemen. Tadi ketika di lobby, Luna mengajak Melinda sekedar ngopi untuk mengobrol.
"Tanya aja kak."
Luna menengok ke kanan dan ke kiri lalu mencondongkan tubuh ke arah Melinda. "Kamu pernah lihat suami ku masuk ke gedung apartemen kamu atau keluar dari sana sama wanita lain nggak?"
__ADS_1
Deg!
Jantung Melinda kini tengah bertalu-talu di tanya seperti itu lalu ia berdehem menetralkan kegugupan nya. "Aku enggak tahu kak."
Luna tampak lesu. "Ya udah deh, aku pergi dulu ya. Ada pemotretan dua jam lagi."
Sejak saat itu, baik ia dan Rian lebih berhati-hati jika ingin menghabiskan waktu bersama. Seperti malam ini, Melinda terus memperingati Rian harus berhati-hati.
"Dad, malam ini adalah malam terakhir kita."
Rian mengeratkan pelukan dari belakang tubuh Melinda. "Kamu tenang aja, besok sepulang dari Kantor Daddy ketempat Tante Angel untuk perpanjang kontrak."
"Tapi aku takut istri Daddy tahu."
"Menikahlah dengan ku Mel."
Melinda menggeleng. "Aku nggak mau dijadikan kedua Dad."
Rian menghela nafas. "Baiklah, besok kamu kembali ke tempat Tante Angel kapan?"
"Sore. Daddy jangan lama-lama datang nya."
"Iya."
Akhirnya keduanya menghabiskan malam terakhir setelah dua tahun bersama.
...****...
Jangan tanya kabar Wido setelah menikah, karena Nadira tak ingin mengganggu rumah tangga orang. Hanya saja Rania pernah mengabari bahwa sudah hamil dan ia senang mendengar kabar itu.
"Kita mau jemput Melinda juga?" tanya Nina.
Nadira mengangguk. "Ya, lo inget nggak hari ini kontrak dia habis sama sugar Daddy nya. Gue khawatir."
"Iya, gimana kalau dia dapat pria hidung belang?"
"Entahlah, dan selamat ya buat lo udah putus sama Arga."
Nina tersenyum. Tentu Nadira tahu karena ia sendiri yang memberi kabar tersebut.
"Makasih Dir."
Mobil melesat membelah jalanan kota Jakarta, Melinda juga sudah berada di dalam mobil Nadira. Seperti biasa, sama seperti penduduk kota Jakarta lain nya. Mereka tengah berada di antara kendaraan lain nya menunggu jalanan macet usai. Beruntung jam kuliah mereka di mulai dua jam lagi.
Gerutuan dan makian terdengar dari mulut pengguna jalan. Berharap kemacetan ini segera berakhir.
Sesampainya di kampus, Ketiganya masuk ke dalam kelas. Hari ini mata kuliah yang di pelajari cukup menguras pikiran. Dimana mereka harus merencanakan pembelajaran PAUD, Pengembangan Kurikulum PAUD, Perbandingan PAUD, Matematika dan Sains PAUD, Psikologi Pendidikan, Pengembangan karakter, dll.
__ADS_1
Hingga bel tanda berakhirnya pelajaran membuat rasa lega di hati mereka. Salah satu nya Nadira yang saat ini hati sedang di selimuti marah, kecewa, dan sedih menjadi satu.
"Padahal gue pilih jurusan yang paling gampang menurut gue. Nyatanya buat kepala gue puyeng juga." keluh Nadira membuat kedua sahabatnya terkekeh geli melihat Nadira yang cemberut.
Di rebahkan kepala Nadira di atas meja kantin, sedang Melinda tengah memesan makan untuk mereka. Nina memilih stalking akun sosial media Nazeef.
Saking takutnya di ketahui Nazeef, Nina memilih memakai akun palsu agar leluasa melihat apa saja yang di posting Nazeef.
"Ra, jadi kapan bos Qenan sama yang lain baik?" tanya Nina.
Nadira mencebik lalu mengacak rambut panjang nya merasa frustasi.
"Rambut lo berantakan bege." tukas Nina membantu merapikan rambut Nadira.
"Gue kesel tahu Nin, masak di tunda dua bulan? gimana gue nggak curiga coba? Di tambah dua hari ini dia gak ada kasih kabar." Bibir Nadira bergetar menahan tangis.
Nina memeluk Nadira sembari mengelus punggungnya membuat tangisan Nadira pecah. Istri mana yang tahan hubungan jarak jauh terlalu lama? bahkan hampir menyerah, kini.
Pikiran buruk terus terbayang di kepala Nadira. Bukan tak percaya, namun godaan begitu besar. Siapa yang tahu kehidupan selanjutnya?
"Udah jangan nangis lagi."
Nadira mengangguk. "Gue butuh yang pedes-pedes."
Semangkuk mie ayam telah tersaji di depan mata. Dengan semangat yang memburu, mie ayam itu di makan nya begitu lahap seperti hendak ada yang memintanya.
Bahkan suara riuh mahasiswi-mahasiswi berhamburan di kantin tak terhiaraukan.
"Eh, ada apa?" tanya Melinda penasaran.
"Itu ada mahasiswa baru, katanya mahasiswa Strata 2 fakultas bisnis datang kesini cari seseorang."
"Oh ya? apa dia ganteng?"
"Ganteng banget anjay." teriak mahasiswi itu histeris.
Mahasiswi lain nya menyerbu meja dimana Nadira berada dengan senyum penuh arti menatap Nadira.
"Apa?" tanya Nadira mulai risih dengan tatapan dan senyuman mereka.
"Ada yang cariin lo."
Nadira mengerutkan dahi. "Siapa?"
"Dia ganteng."
🌸
__ADS_1
Bersambung..