Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Melinda


__ADS_3

"Oppa.. Jangan cuek terus dong.." ucap Melinda ketika mendatangi Dion di toko alat lukis.


Dion pun berdecak mendengar keberisikan Melinda. Ia terus memilih kuas, kertas canvas, dan pewarna.


"Oppa, aku mau dong di lukis.." imbuhnya lagi agar Dion tidak mengabaikan nya.


Dan benar saja, Dion menghentikan gerakan lalu menatap Melinda dan memikirkan hal yang akan ia lakukan.


"Serius lo mau gue lukis?"


Melinda mengangguk cepat.


"Oke, kita ke danau aja."


"Yeeyy.. Oke." sahutnya girang.


Dion membayar semua yang di perlukan lalu mengajak Melinda ke Danau dimana tempat ia berimajinasi.


Setelah sampai di Danau langsung membawa peralatan lukis dengan Melinda mengikuti di belakang nya.


"Lo duduk di situ."


Melihat Melinda sudah duduk anteng ia pun menyiapkan alat lukis. Usai itu ia menatap lekat Melinda berpikir gaya apa yang akan di lukisnya.


Ia pun beranjak mendekati Melinda.


"Oppa mau apa?" tanya Melinda menyilang kan dada karena Dion hendak membuka kancing kemeja yang ia kenakan.


"Lo mau gue lukis kan?"


"Iya."


"Ya udah, gue bakal buka 3 kancing kemeja lo. Tenang aja, gue gak bakal selera sama punya lo. Gendut juga."


Mata Melinda melotot sempurna mendengar kata 'gendut'. Dengan cepat ia membuka 3 kancing sesuai permintaan Dion lalu dengan sengaja sisi kanan kemeja nya ia turunkan hingga bahu polosnya terekspos sempurna hanya ada tali tanktop dan bra.


"Gini kan maksud oppa?" tanya Melinda sok berani padahal degup jantung nya sedari tadi sudah bertalu-talu.


Dion sendiri sedari tadi sudah berulang kali menelan saliva nya, sangat jelas terlihat dari jakun yang naik turun.


"Ini udah bener belum?" tanya Melinda dengan gaya sensual memamerkan bahu dan lehernya yang putih mulus bak porselen.


"Diam lah.. Lo merusak konsentrasi gue." kilahnya padahal sebelum memulai melukis saja sudah tak dapat fokus pada lukisan.


Sedang Melinda sendiri sudah sangat merasa gugup dan malu. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan hal gila di depan cowok.


Gue pengen jerit ini.. Aahhh gue malu banget ini.


Satu jam berlalu lukisan itu hampir jadi dan Melinda sudah mengancingkan kemeja nya lagi. Lalu ia mendekati Dion yang tengah mengarahkan pewarna di kain canvas.


Belum juga selesai Dion terpaksa berhenti karena suara dering dari ponselnya.

__ADS_1


"Hallo.." ucapnya.


"Apa? Lo dimana sekarang?" cerca nya terkejut dengan kabar yang ia terima.


"Gue kesana sekarang. Lo tenang ya.."


Panggilan itu terputus, Dion membereskan alat lukis nya dengar buru-buru tanpa perduli kan Melinda yang tengah perhatian dirinya.


"Oppa mau kemana? kan belum selesai."


"Rania lagi sedih sekarang, dia butuh gue." sahut Dion tanpa melihat kearah Melinda.


Melinda terus perhatikan perubahan raut wajah Dion yang tadinya datar dan cuek sekarang berubah menjadi mimik wajah yang begitu khawatir.


Rania? siapa itu? pacar? gak mungkin, kak Nadira bilang Dion jomblo.. Atau cewek yang di suka?


"Oppa aku boleh ikut gak?"


Dion menoleh ke arah Melinda. "Terserah, asal lo jangan berisik."


"Iya." sahut Melinda lirih, hatinya berkecamuk menerka siapa Rania dan ada hubungan apa dengan Dion.


Dion masuk ke mobil dengan tergesa di ikuti Melinda di belakangnya.


"Oppa sabaran dikit napa.. Sabuk pengaman aku belum terpasang ini." gerutu Melinda sedang memasang seatbelt namun mobil sudah melaju.


Dion hanya melirik sekilas lalu kembali melihat ke arah jalan. Kecepatan ia tambah karena merasa khawatir dengan Rania disana.


Ternyata melihat dia khawatir ke cewek lain itu lebih menyakitkan dari pada berjuang untuk memenangkan hati nya.


Dan benar saja, mendengar gerutuan Melinda membuat Dion mengurangi kecepatan laju mobilnya.


Sampailah mereka di tempat Rania berada, di sebuah taman kota. Dion turun dari mobil tanpa menghiraukan keberadaan Melinda dan itu membuat hati Melinda semakin sakit.


Cukup lama Melinda menunggu Dion datang kembali karena di pikirnya ia hanya menjemput cewek yang bernama Rania saja namun sudah setengah jam ia duduk di dalam mobil Dion tak kunjung datang.


Melinda menghela nafas panjang. "Saking cemas nya sampek dompet ketinggalan." cibir Melinda di depan dompet Dion.


Ia memutuskan keluar mobil mencari Dion untuk memberikan dompetnya sekaligus ingin tahu seseorang bernama Rania.


Sekian banyak pengunjung taman membuat ia cukup kesulitan menemukan Dion.


"Ah itu kayaknya oppa." ucapnya girang melihat postur tubuh cowok yang duduk membelakangi nya seperti postur tubuh Dion.


Namun langkahnya melambat ketika mendengar percakapan antara Dion dan cewek yang ia yakini itu adalah Rania.


"*Gue sakit lihat Qenan jalan sama Nadira Ion.. Kenapa lo gak ngerti juga?"


"Jangan harapkan Qenan lagi Ran.. Qenan milik Nadira."


"Lo kenapa sih? katanya lo sayang sama gue, cinta sama gue tapi kenapa tega suruh gue gak harapkan dia lagi?"

__ADS_1


"Ya memang gue sayang dan cinta sama lo, tapi bukan berarti gue harus korbankan kebahagiaan kakak gue*."


Deg


Detak jantung Melinda seakan terhenti mendengar ucapan Dion barusan. Ucapan itu sangat lugas terdengar dari telinga Melinda.


Bagaimana bisa lo jatuh cinta sama cowok yang hatinya udah ada cewek lain Elin? Kak Nadira.. Ya, gue harus tanya kak Nadira.


Kepalanya menengadah menatap langit cerah hari ini, bukan.. Bukan itu tujuan nya menatap langit, ia hanya sedang menahan air mata yang sudah berteriak untuk turun dari pelupuk mata.


Setelah dirasa cukup kuat ia melangkah dengan senyum palsu nya.


"Oppa.." panggilnya riang seperti biasa.


Ia tersenyum kecut melihat Dion yang terkejut dan segera melepas pelukan nya dari tubuh Rania.


Seperti ketahuan selingkuh.


"Oppa ini dompet nya ketinggalan." Melinda menyerahkan dompet ke Dion lalu hendak melangkah meninggalkan mereka.


"Lo mau kemana?"


"Pulang, udah sore juga. Aku duluan ya.."


"Gue anter." ucapan Dion membuat hati Melinda merasa senang setidaknya ada rasa tanggung jawab untuknya.


"Dion.. Gue masih butuh lo." kata Rania.


Dion dan Melinda saling menatap. "Maaf gue gak bisa anter lo."


Melinda tersenyum kecut kembali ternyata perjuangan cinta nya belum ada apa-apa nya di hati Dion.


"Gak apa-apa, oppa gak perlu minta maaf. Aku balik dulu."


Melinda berlari meninggalkan mereka. Sakit itulah yang dirasa saat ini.


Kenapa harus jatuh cinta sama orang yang jelas-jelas hatinya udah ada cewek lain Elin? sakit kan? Lo bego sumpah.


Melinda duduk di halte bus dengan kepala menunduk. Ia ingin menumpahkan segala kebodohan nya karena jatuh cinta kepada Dion.


"Percuma lo tiap sore dan malem temenin dia video call.. Seharusnya lo sadar, sikap cuek nya itu karena ada cewek lain di hatinya."


"Loh.. Kakak kecil ngapain?"


🌸


***Bersambung..


Hai para readers emak tersayang..


Emak mau revisi umur Melinda ya..

__ADS_1


Yang tadinya 16 tahun jadi 17 tahun***.


__ADS_2