
Sesuai permintaan papa Surya kemarin yang dikatakan Dion, kini Nadira sudah berada di lobby perusahaan papa Surya.
Sebenarnya bisa saja ia langsung ke ruangan papa Surya namun entah mengapa hati nya belum ingin bertemu Wido.
Bukan karena benci, namun takut perasaan Wido terhadapnya semakin dalam.
"Nona Nadira, tuan meminta anda menunggu di ruangan beliau." ucap salah satu resepsionis setelah menerima sambungan telepon.
Ia menghela nafas. "Baiklah, makasih ya kak."
Nadira melangkah masuk ke dalam lift menuju lantai tertinggi gedung Perusahaan tersebut. Setelah lift terbuka ia pun kembali melangkah menuju ruangan Presidir dimana itulah ruangan papa Surya.
Namun langkahnya melambat melihat orang yang ingin di hindari justru memiliki tujuan yang sama yaitu masuk ke dalam ruangan papa Surya.
Nadira memilih mendahului langkahnya dan memilih duduk di sofa setelah memasuki ruangan tersebut.
"Ini jus jeruk dan brownies kesukaan kamu." ujar Wido menyerahkan satu cup jus jeruk dan sekotak brownies toping keju kesukaan.
"Kenapa repot-repot?" tanyanya lirih.
"Gak repot sama sekali. Kalau gitu aku keluar lanjut meeting."
"Makasih bang."
Sepeninggalan Wido, ia memilih menikmati brownies yang sudah tersaji di depan matanya. Sayang jika terlewatkan.
"Rasanya udah lama banget aku nggak makan ini. Terakhir kali saat sehari sebelum berangkat ke Jakarta deh kayaknya sama adik panti."
Ditengah aktivitas kunyahan nya, ponselnya bergetar dilihat pesan WhatsApp dari suaminya.
Qenan🦁 :
Pokoknya aku paling tampan! awas aja kalau kamu berani pandangin dia.
Untuk sesaat Nadira mencerna kalimat yang tertulis di pesan WhatsApp tersebut lalu sedetik kemudian terperangah mengerti maksud nya.
"Kalau Qenan tahu aku makan dan minum dikasih dia gimana reaksinya ya?"
Qenan🦁 :
Tuh kan gak di bales. 😔
Satu pesan WhatsApp masuk kembali dari Qenan membuat Nadira senyum-senyum membaca nya.
Nadira :
Kamu paling tampan😘
Setelah membalas pesan untuk Qenan, ponsel nya ia taruh kembali di atas meja lalu melanjutkan menikmati brownies tersebut.
__ADS_1
"Siang anak papa." sapa papa Surya yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Nadira tersenyum lalu bangkit menghampiri papa Surya dan memeluknya.
"Gimana kabar papa?"
"Papa harus sehat bukan?"
Nadira mengangguk dan mengurai pelukan itu. "Papa udah makan siang?"
Papa Surya meletakkan berkas yang dibawa ke atas meja lalu duduk di kursi kebesaran nya begitu juga Nadira duduk di kursi berhadapan dengan papa Surya.
"Udah tadi bareng Wido. Kamu sendiri udah makan?"
"Udah, di tambah itu brownies dari bang Wido."
"Abang?"
Nadira mengangguk. "Dia nggak mau dipanggil om."
Papa Surya menghela nafas. Sebenarnya ia tahu bagaimana perasaan Wido ke putrinya. Ia sudah mengenal lama bagaimana Wido.
Apalagi dirinya sendiri pernah melihat wallpaper ponsel milik Wido adalah foto candid Nadira, putrinya.
"Nak, luangkan waktu untuk bertemu Wido dan ucapin terimakasih padanya. Bukan maksud papa menjerumuskan mu bertemu pria lain, tapi nggak tahu diri namanya jika kita tak mengucapkan terima kasih kepada orang yang selama ini membantu dan menjaga kita apalagi dalam waktu yang lama."
"Iya pa."
"Ini dua lembar tiket ke Bali. Kalian bisa liburan di villa kita, Qenan juga pernah kesana." Papa Surya menyerahkan dua lembar tiket pesawat kepada Nadira.
Nadira menerimanya. "Makasih Pa, Nadira pulang ya pa."
Papa Surya mengangguk. "Biar di antar sopir ya."
"Nggak pa, Dira udah pesan taksi kok."
Papa Surya berdecak. "Kenapa kamu lebih suka naik taksi, ojek, atau angkutan umum? padahal mobil papa ada yang nganggur."
Nadira tersenyum lalu bangkit menghampiri papa Surya dan memeluknya dari belakang dengan kedua tangan mengalung di lehernya.
Di kecup pipi sang papa. "Pantas aja mama jatuh cinta sama papa. Muka papa gemesin tahu."
Keduanya terkekeh membenarkan karena menurut papa Surya, dahulu mama Melati pernah mengungkapkan hal itu.
"Papa sangat menyesal."
Nadira mengusap lengan papa Surya. "Jangan bahas masa lalu pa, setiap orang punya kesalahan bukan?"
"Tapi papa yang salah disini."
Nadira berdiri tegak berpindah berdiri berhadapan dengan papa Surya. Bersandar pada meja menggenggam tangan sang papa.
"Sebenarnya mama juga ada salah, andai waktu itu mama mempertahankan papa dan andai papa memperjuangkan mama pasti tak akan begini jadinya."
__ADS_1
"Tapi, kembali lagi kalau semua ini udah takdir untuk kita."
Dengan rasa haru, papa Surya bangkit lalu mendekap Nadira dengan erat. Rasa sesal itu kian menggerogoti tubuh hingga sulit sembuh.
"Dira nggak apa-apa pa, sekarang giliran papa belajar untuk berdamai dengan masa lalu. Pelan-pelan aja, jangan terburu-buru."
"Kenapa kamu persis dengan Melati ku?"
Nadira mengurai pelukan mendongak menatap papa Surya dengan senyuman. "Karena Dira anak papa dan mama. Udah jangan cengeng gitu ah, malu sama umur."
"Dan malu kalau ketahuan Dion yang sering papa marahin."
Papa Surya terkekeh. Benar yang dikatakan Nadira bahwa ia sering memarahi Dion.
"Adik mu itu sering buat papa marah."
Nadira berdecak. "Papa salah, malah dia jauh lebih baik dari kedua sahabatnya itu. Dia paling bisa ngendalikan emosi Pa dan pelampiasan amarah nya itu dia salurkan menjadi sebuah lukisan. Papa aja nggak mau belajar dekat dengan Dion."
"Marah sama mama nya boleh tapi jangan sama anaknya."
Papa Surya kalah telak oleh putrinya sendiri. Benar yang dikatakan Nadira bahwa selama ini ia marah kepada mantan istrinya itu dan Dion lah tempat pelampiasan amarahnya.
Akhirnya Nadira pamit pulang setelah taksi online yang dipesan telah tiba.
...****...
Gedung konveksi kaos berlogo A.
Qenan dan Nazeef sedari pagi sudah berada disini. Tidak ada masalah penting, hanya kunjungan biasa dan melihat kinerja para pekerja.
"Lo yakin nerima mereka yang nggak punya riwayat pendidikan?" tanya Nazeef pasalnya mereka membutuhkan beberapa pekerja lagi.
Qenan mengangguk. "Kita butuh skill bukan selembar kertas sebagai pengakuan tamatan dari sekolah mana."
"Yang kita butuhkan untuk menjahit kaos bukan jadi guru sejarah."
Nazeef berdecak mendengar guru sejarah pasalnya ia adalah murid yang sering di hukum oleh guru pelajaran tersebut.
"Terus kata lo tadi nggak butuh selembar kertas sebagai pengakuan tamat dari sekolah mana kan? kenapa lo pilih ke Amerika? kenapa nggak di Indo aja?"
Qenan menghela nafas. "Di Luar Negeri pelajaran nya satu langkah lebih maju. Tapi bukan berarti gue jelekin pendidikan disini."
"Terus, kenapa lo pilih di asrama? kita bisa tinggal di apartemen bareng sama Dion."
"Biar kita hemat. Udah lah lo banyak tanya. Ayo cabut."
Nazeef hanya diam mengikuti Qenan.
Dalam hatinya ia memuji sahabat baiknya ini. Walau sudah kaya dari lahir namun lebih suka dengan usaha nya sendiri ketimbang harta orang tua.
🌸
Bersambung..
__ADS_1