
"Nan, bangun mandi gih." ujar Nadira melihat Qenan masih telungkup bermalas-malasan dengan bagian atas tubuh yang polos.
Kepala Qenan terangkat melihat Nadira. Ia melongo melihat penampilan Nadira sangat sek*si memakai kimono tidurnya.
"Sayang, kita baru berhenti kenapa kamu sudah memancing ku lagi?"
Nadira menelan salivanya. Bukan maksud Nadira untuk itu, namun ia sudah terbiasa tidur mengenakan kimono.
"Ma-mana ada Nan." Nadira tersipu ketika Qenan duduk lalu menariknya agar duduk di pangkuan Qenan.
Sumpah demi apa? kini tubuh Nadira lemah tak berdaya, jantung berdetak kencang mengakibatkan gugup yang begitu kentara.
"Qenan, ini udah malam. Apa kamu gak pulang ke asrama?" tanya Nadira membuat wajah Qenan berubah datar.
"Kamu enggak seneng aku nginap disini? kamu ngusir aku? lupa kalau aku ini suamimu?"
Nadira melongo menatap wajah Qenan tanpa ekspresi. Baru disadari kalau Qenan berubah menjadi cerewet sekarang.
"Bukan begitu."
Hati Nadira terus menghangat karena Qenan memeluknya kini. Tapi tunggu.
"Qenan geli." rengek Nadira dengan apa yang di lakukan Qenan.
"Nan, jangan lagi buat tanda merah itu. Yang tadi aja masih banyak." keluh Nadira membuat Qenan terkekeh namun tetap melanjutkan aksinya.
Saking geram nya, Nadira memukul pundak Qenan. "Qenan geli. Cukup!"
"Qenan, aku capek ih. Rudal sekarang makin kuat apalagi si rudal tumbuh menjadi lebih tinggi dan agak gemukan."
Tubuh Qenan condong kebelakang menatap Nadira setelah mengucapkan itu. Lalu mengubah posisi duduk Nadira menjadi menghadap ke arahnya.
Tanpa rasa malu di turunkan boxernya perlahan lalu tampaklah rudal yang sudah on berdiri tegak.
"Qenaaan." pekik Nadira. Matanya membola sempurna atas perlakuan Qenan.
Qenan tergelak melihat reaksi Nadira seperti hendak di perawani oleh nya.
"Sayang, tolong ya." mohon Qenan dengan suara berat nan sek*si.
Nadira menelan saliva ketika tatapan Qenan berubah sayu. "Kan bisa senam 5 jari."
"Rumah rudal masih ada kenapa harus senam 5 jari?" Qenan mengarahkan tangan Nadira untuk memegang rudal sebagai pemandu senam.
"Tuh kan rudal makin tinggi dan gemukan. Kamu kasih vitamin apa?"
Di tengah lenguhan Qenan tergelak setelah itu mendongak merasakan nikmat.
"Curcuma plus Ra."
__ADS_1
"Serius?"
Qenan tergelak sejurus kemudian mengerang lalu menurunkan Nadira dari pangkuan. Dengan cekatan ia lepas segitiga biru pembungkus milik Nadira.
Dengan posisi duduk rumah Nadira sudah menerima kedatangan rudal. Membantu Nadira naik turun di pangkuan nya hingga peluh keringat membasahi sampai puncak kenikmatan.
...****...
"Qenan.. Udah ya." Rengek Nadira setelah melayani naf sudah Qenan yang tak ada habisnya.
Qenan mengangguk seraya mengeratkan pelukannya. Saat ini mereka baru saja selesai bermain saling memuaskan.
Tidur di lengan kokoh Qenan adalah tempat ternyaman. Apalagi postur tubuh Qenan yang berubah semakin bidang membuatnya terpesona.
"Qenan."
"Hem."
"Apa keturunan orang Amerika seganas itu kalau persoalan ranjang?" tanya Nadira polos membuat Qenan terkekeh.
"Mana aku tahu Ra."
"Aku penasaran gimana ganasnya orang lokal." celetuk Nadira membuat mata Qenan terbuka lalu menunduk menatap Nadira penuh selidik.
"Jangan bilang kamu pengen ngerasain rudal lokal." Rahang Qenan mengeras membayangkan Nadira bersama pria lain.
Nadira tersenyum sembari membelai rahang Qenan lalu melabuhkan kecupan di bibir Qenan.
Namun agaknya tatapan mengintimidasi Qenan belum teralihkan. Seperti belum percaya semua yang di katakan Nadira.
"Oke baiklah, aku bakalan ceritain apa yang terjadi selama setahun ini."
"Ceritakan."
Nadira menceritakan dari Rendi yang kembali mendekatinya, kegiatan di luar kuliah, serta pernikahan Wido dengan Rania.
"Jangan lagi dekat-dekat cowok lain Ra. Kamu bareng Melinda dan Nina aja."
Nadira hanya mengangguk. Mana mungkin ia menceritakan tentang apa yang terjadi dengan kedua sahabatnya. Dan mana mungkin ia terus bersama kedua sahabatnya.
Intinya, ia kesepian. Itu makanya sering sekali ia ikut pergi bersama Wido setelah pulang kuliah walau di ajak bukan seperti pasangan. Nadira sering di ajak mengunjungi tempat dimana alat berat milik perusahaan papa Surya sedang beroperasi.
"Dan kamu, apa yang udah terjadi selama setahun disini?" tanya Nadira.
Qenan menelan saliva mengingat ada wanita yang sedang mencoba mendekatinya.
"Kami lebih banyak belajar dan kerja Ra. Kami miskin disini, gak punya mobil."
"Bagus dong. Tapi rudal gak macam-macam kan?"
__ADS_1
"Enggak lah. Tapi, ada satu cewek yang terus aja deketin aku." ucap Qenan lirih masih terdengar Nadira.
"Terus? kenapa kayak takut gitu? apa karena sering bareng jadi mulai nyaman? kamu gak nolak kehadirannya? dan aku bakal ngalamin apa yang di alami mama?" cecar Nadira melihat Qenan seperti takut jujur padanya seakan mengatakan kebenaran yang di ucapkan.
Dengan cepat Nadira mencoba mengurai pelukan Qenan. "Lepas Nan."
"Dengarkan aku dulu sayang. Gak ada wanita lain dan gak akan ada cinta yang lain, hanya kamu satu-satunya."
"Bohong." keukeh Nadira dengan suara parau hendak menangis.
"Aku jujur sayang. Hanya kamu." Qenan membelai rambut Nadira.
Inilah mengapa ia memilih diam dan tak ingin menceritakan tentang Bella pada Nadira. Nadira pasti menangis dan air mata itu terbuang sia-sia.
"Jangan duain aku Nan."
"Cuma kamu satu-satunya." Di kecuali pucuk kepala Nadira dengan sayang.
"Tapi gimana kalau kamu di jebak? kayak di novel ataupun drama-drama yang aku tonton? kamu lagi suka minum-minum, kalau di campur sama obat perangsang itu gimana?"
Qenan terkekeh mendengar pertanyaan Nadira. "Ya aku pulang terus serang kamu lah."
Nadira berdecak sebal. "Kalau gak ada aku, itu berarti rudal punya rumah baru."
Karena gemas Qenan menarik hidung pesek Nadira lalu melu mat bibir bawah Nadira yang terlihat membengkak akibat ulahnya.
"Kan udah aku bilang, kami miskin disini sayang. Uang kamu gak sanggup untuk masuk ke bar."
Nadira diam tanpa menjawab. Namun ada rasa takut hal itu terjadi pada Qenan. Di tambah sekarang postur tubuh Qenan semakin bagus. Siapa pun wanita melihat Qenan ingin berada dibawah kukungan dengan desa han nikmat.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh Ra." tegur Qenan memperhatikan Nadira diam melamun dalam pelukan nya.
Nadira menggeleng. "Aku cuma takut."
"Aku lebih takut kamu disana tanpa ada aku."
Nadira mendongak menatap Qenan penuh cinta. Sungguh, wajah bule Qenan membuatnya begitu terpesona.
Di tarik tengkuk leher Qenan hingga kedua bibir itu bertemu lagi. Dengan lembut Nadira melu mat bibir atas bergantian dengan bibir bawah Qenan.
Bibir Nadira disambut ramah oleh bibir Qenan. Bekerja saling memberi hangat menjalar dalam tubuh.
"Qenan, gimana nasib kedua sahabatku?" tanya Nadira dengan dada naik turun mengatur nafas akibat ciuman.
"Tenanglah, mereka menginap di asrama mungkin."
🌸
Bersambung..
__ADS_1
Reaksi babang Qen lihat Nadira.