
Malam semakin larut hingga waktu menunjukkan pukul 01 malam. Qenan, Nazeef, maupun Dion masih berdiam di dalam mobil menunggu keadaan sepi. Sedang Melinda sudah berada di dalam rumah tersebut.
Ya, Qenan yang meminta naik mobil untuk beralasan mencari minimarket untuk membeli rokok.
"Ayo, udah jam 1." ujar Dion.
Nazeef mengganggu lalu keluar mobil bersamaan dengan Dion. Melihat satu penumpang masih enggan turun membuat Nazeef geleng kepala.
"Ayo turun." ajak Nazeef membuka pintu mobil belakang tempat Qenan duduk. Dilihatnya pria muda itu memasang wajah masam menolak ajakan kedua sahabatnya.
Pasalnya ketika hendak berangkat tadi, Qenan membatalkan permintaan Dion untuk menunggu malam pertamanya. Bagaimana tidak? ia pria normal, pastilah begitu mudah terpengaruh dengan kegiatan yang akan dilakukan Dion.
Yang menjadi masalah adalah sangat sulit merealisasikan kepada Nadira. Tidak ada ruang untuk menyalurkan.
"Ayo, turun." Kini giliran Dion menyuruhnya turun.
"Aku nggak mau, itu memalukan." jelas Qenan.
Nazeef dan Dion saling menatap menunjuk Qenan dengan ekor mata, isyarat sebagai paksa dia dan akhirnya Nazeef juga Dion menyeret pria Bule itu untuk ikut mereka, menyeretnya keluar dari mobil.
"Aku enggak mau, aku ini Direktur Utama PT. Edzard Abraham Transindo, masa aku nungguin orang malam pertama." Maki Qenan tangannya tertarik oleh kedua sahabatnya.
"Ini demi persahabatan." Nazeef dan Dion kompak menarik paksa Qenan turun dari mobil.
"Hentikan, aku enggak mau. Ini sangat memalukan. Aku ini seorang Direktur Utama, aku akan kehilangan harga diriku." Jelas Qenan, meronta namun kedua sahabatnya tetap saja menarik agar ikut masuk ke dalam rumah.
"Tutup mulut mu pak Direktur, jangan buat keributan dan Elin nggak mau aku enak-enak."
"Soal, mimpi apa aku semalam harus jagain malam pertama orang lain." Qenan terus mengumpat walau kaki mengayun masuk ke dalam rumah tersebut.
...****...
"Kalian duduk disini." titah Dion menunjuk satu sofa panjang terletak tepat di depan sebuah kamar. "Aku masuk dulu."
Dion masuk ke dalam kamar. Tubuh nya terpaku sesaat melihat penampilan Melinda yang membuat tubuh panas dingin.
Jujur saja, sebenarnya ia gugup sedari tadi. Jika kejadian waktu itu ia lakukan karena emosi walau menikmati. Tetapi sekarang, ia dalam keadaan sadar dan bahkan bisa menikmati lebih dari waktu itu.
Satu tahun lebih tidak bertemu bahkan tanpa kabar banyak mengubah seorang Melinda menurutnya. Istrinya itu lebih dewasa dan bertambah ukuran.
Dion menggeleng ketika pikiran liarnya merajai.
__ADS_1
Ia mendekati Melinda yang tengah menerima telepon dan ia tahu siapa lawan bicara Melinda saat ini.
Di lilit perut Melinda menggunakan kedua tangannya. "Jangan buat aku menghukum mu, Lin." bisik Dion di telinga sebelahnya lalu mengecup telinga tersebut.
Benar saja, Melinda langsung mematikan sambungan telepon lalu meletakkan ponsel ke atas nakas. Kemudian ia berbalik arah dan mengalungkan kedua tangan ke leher Dion.
"Sorry, dia tanya gimana keadaan ku dan aku bilang kita sudah menikah, oppa."
Kedua pasang mata saling beradu. "Oh ya?"
Melinda mengangguk. "Ya, aku gak mau ada yang ganggu hubungan kita. Oppa hanya milikku. Aku sangat posesif urusan pasangan."
Dion tersenyum lalu melahap bibir tipis Melinda dengan balasan seimbang. Tangan itu sudah menjejaki kemana pun yang hendak di telusuri.
Dua pasang kompak membukakan penutup tubuh seperti akan berebut sembako. Tak ingin terlewatkan.
Melinda melenguh ketika merasakan pucuk gundukan di pilin. Kepala nya menengadah memberi akses perjalanan lidah yang menjulur disana.
Bukan hanya itu, Melinda juga memberikan pijatan-pijatan yang membuat Dion terlena. Erangan terdengar jelas hingga rasa sabar terkikis membuat ia menghempas tubuh Melinda di atas ranjang.
"Kita mulai?" bisik Dion dan di angguki Melinda.
...****...
"Ini rumah atau lapangan bola?" tanya Nazeef karena tidak ada perabotan rumah selain sofa yang mereka duduki.
"Lapangan basket." jawab Qenan ngasal.
Mereka terus saja berceloteh hingga kedua tubuh itu menegang saat mendengar suara erangan dan desa han begitu syahdu. Lalu keduanya saling menatap.
"Sudah tembus, bos." celetuk Nazeef langsung mendapat timpukan di kepalanya.
Qenan berulangkali menelan saliva karena merasakan hawa panas di tubuhnya.
"Sial, kenapa banyak banget nyamuk disini?" keluh Qenan menepuk wajah dan leher dari gigitan nyamuk yang hinggap ditubuhnya. Menatap Nazeef yang memegang kuat ujung jaket nya.
"Lepaskan tangan mu itu." bentak Qenan pelan pada Nazeef langsung mengibaskan jaket agar dilepas Nazeef yang tampak ketakutan.
"Boy, ternyata duduk diam di ruang kosong dengan lampu remang-remang di temani suara mereka jadi serem." ucap Nazeef bergidik ngerih memindai pandangan setiap ruangan yang tertutup dan tidak berlampu.
"Diamlah." Qenan berdiri hendak berlalu namun dihalangi Nazeef.
__ADS_1
Nazeef hendak bersuara tetapi urung lantaran keduanya mendengar suara erangan bersahutan dari dalam kamar.
Qenan dan Nazeef menatap nanar pintu kamar itu karena tahu itu adalah pelepasan pertama Dion.
"Gue balik dulu." Ucap Qenan lalu bangkit.
Keduanya meringis kembali ketika suara istri Dion kembali terdengar.
"Gue butuh istri gue sekarang, Zeef." ucap Qenan karena rudal sudah bangun sedari tadi.
"Terus gue sama siapa, boy? disini serem dan gue juga butuh temen."
Qenan menggeleng. "Gue bener-bener butuh istri gue. Lo bisa duduk sambil nunggu mana tahu ada si embak lewat, lo panggil aja dan lampiaskan ke dia."
Nazeef melebarkan mata tak percaya dengan ucapan Qenan. "Lo suruh gue enak-enak sama embak Kun? dasar lo tak berperisahabatan."
"Diam lo." Qenan benar-benar melangkah pergi kembali ke rumah orang tua Melinda dengan gerutuan sepanjang jalan.
Sesampainya di rumah orang tua Melinda, ia melihat dua bodyguard berjaga. Papa Surya, Wido dan papa Reno sudah kembali lebih dahulu.
Melihat ruang tamu kosong membuat ia bertekad masuk kamar adik Melinda perlahan karena kamar itu tidak di tutup hanya tertutupi gorden. Beruntung Nadira tidur di sisi pinggir.
Bibirnya tertarik ke atas menatap wajah polos Nadira yang tidur seperti bayi. Kecupan mendarat pada kening, kedua mata, dan bibir nya dengan sedikit luma tan.
Melihat Nadira tak bereaksi apa-apa membuat ia tak tega walau sebenarnya kepala sudah berada pusing karena rudal semakin menginginkan masuk ke dalam sarang pengasahan.
"Sial."
Qenan berdiri meninggalkan kamar tersebut menuju dapur. Ia butuh air dingin sekarang.
...****...
"Dasar Qenan sialan. Gimana bisa aku sendirian disini?" Nazeef terus mengumpat pada kedua sahabatnya yang tega meninggalkan dirinya sendiri.
"Ini lagi Dion, kenapa belum siap juga? suara laknat itu pun gak bisa pelan."
"Mau pakek sabun pun aku ragu di kamar mandi itu ada sabunnya. Mana gelap lagi. Astaga Diioonn... Cari tempat malam pertama itu yang bagus dikit ngapa, ini serem begini. Memang dasar nasib Lo Nazeef."
🌸
Bersambung
__ADS_1