Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Tolong jangan cinta begitu dalam.


__ADS_3

Sebagai wanita yang di cintai seseorang dengan begitu dalam adalah hal terindah yang mereka impikan.


Tetapi bagaimana jika posisi kita sebagai wanita telah mencintai pria lain? Mungkin saja dengan mudah kita akan berpaling akibat semua hal baik yang di berikan pria itu. Namun sekali lagi, bagaimana jika kita sudah terikat janji suci?


Seperti hal nya sekarang, rasa bersalah terus menyeruak di hati Nadira melihat perlakuan Wido. Dengan mudah nya pria matang itu menyediakan segala kebutuhan selama di Amerika hingga kepulangan nya ke Indonesia disediakan oleh Wido.


"Papa ada di rumah nggak bang?" tanya Nadira setelah baru saja tiba di Bandara Soekarno-Hatta.


"Ya."


"Gimana persiapan pernikahan abang?" tanya Nadira memastikan.


Wido menghela nafas dan mematikan kembali mesin mobil yang tadinya sudah siap melaju ke jalanan.


Wido menoleh menatap Nadira. Bahkan tanpa diketahui orang lain, memandang wajah Nadira saja sudah membuat darah nya berdesir dan degub jantung berlebihan membuat dadanya sesak.


"Andai aku bisa jadi suami kedua mu Nadira." ujarnya menghela nafas lagi.


Nadira melotot langsung melayangkan pukulan di lengan Wido membuat sang empu lengan tertawa nyaring.


"Abang kira rasio sek*s aku berlebihan?"


"Aku aja sering kewalahan ngadepin Qenan gimana ngadepin abang."


Tawa Wido mendadak berhenti karena ucapan Nadira. Sungguh itu sangat menyakiti hatinya. Bayangan-bayangan Nadira dan Qenan bermesraan bagaikan belati menusuk hati.


"Maaf." cicit Nadira merasa bersalah.


"Nggak perlu minta maaf. Semua udah terjadi bukan?"


Nadira menghela nafas. "Nadira mohon berbahagia lah bang."


Bahagiaku adalah kamu Na.


"Ya, besok temani dia pilih baju akad ya, ini hanya pernikahan sirri."


Saat Nadira hendak melayangkan protes, Wido lebih dahulu bicara. "Jangan protes, ini udah keputusan ku Na."


"Baiklah."


Mereka mengakhiri obrolan hingga Wido melajukan menuju kediaman papa Surya. Tidak ada obrolan karena Nadira sibuk berbalas pesan dengan Qenan.


Setelah mengantarkan Nadira dengan selamat, Wido kembali ke apartemen. Setelah memasuki apartemen, ia di suguhkan senyum manis dari Rania. Hatinya sama sekali tak terusik sama sekali.


Ada rasa kasihan terhadap Rania setelah mengetahui bahwa Rania di perkosa papa tirinya. Namun, di sudut hati sama sekali tak tersentuh sama sekali.


Ia merasa perubahan Rania tidak tulus.

__ADS_1


"Tuan, mau aku siapin air mandi?" tanya Rania menawarkan diri.


Tentu saja pertanyaan Rania membuat emosi nya tersulut. Menawarkan diri siapkan air mandi? itu berarti masuk ke kamar pribadi nya bukan?


Tatapan tajam menusuk tepat pada jantung. "Aku menikahi mu bukan berarti sesuka hati mu mencampuri urusan pribadi ku. Sudah ku katakan jangan pernah bermimpi masuk ke dalam kehidupan ku."


"Aku menikahimu karena permintaan Nadira. Camkan itu." imbuh Wido menekan nama wanita yang di cintai nya.


...****...


Sungguh perkataan Wido sangat menyakiti hatinya. Namun ia bisa apa selain pasrah? orang tua nya pun seakan diam saja ketika Wido mengatakan akan menikahinya secara sirri.


Harapan nya hanya satu jika ingin terus hidup bersama Wido. Ia harus cepat hamil karena Wido sendiri yang mengatakan nya malam itu.


"Aku akan mengakui pernikahan ini jika kamu hamil."


Jujur malam itu ia bahagia mendengar Wido mengutarakan keinginan hidup bersamanya.


"Tapi jangan pernah harapkan hati ku untuk mu. Kamu udah tahu pasti dengan siapa hati ini berlabuh. Kalau kamu hamil, aku akan bertanggung jawab lahir dan batin tapi jangan minta aku untuk mencintaimu."


Ucapan Wido selanjutnya membuatnya sakit, namun ia bertekad untuk membuat Wido jatuh cinta padanya.


...****...


Keesokan harinya, Nina dan Melinda sedang menasihati Nadira yang menurut mereka terlalu ikut campur urusan Wido dan Rania.


"Awalnya gue cuma pengen bang Wido nikah, tapi gue nggak nyangka kalau calon nya itu Rania. Dan gue pikir setelah bang Wido setuju nikah, gue nggak ada urusan lagi. Lah ini tambah parah." curhat Nadira menyesali perbuatannya.


"Kalau bos Qenan tahu, lenyap lah kami Dir. Iya kan Lin."


Melinda mengangguk setuju.


"Jangan di aduin dong." Nadira mengacak rambut frustasi dengan keadaan.


"Dir, lo nggak takut Rania buat nekad lagi sama lo?" tanya Nina penuh selidik. Ia tak begitu saja percaya dengan orang yang dahulu nya berbuat nekad, berbuah drastis begitu saja kini.


Nadira mengedikkan bahu.


"Iya kak, hati-hati kalau sampek Rania cemburu. Dari cerita kalian aja, Rania nekad aneh-aneh sama kakak padahal gak ada salah apapun. Apalagi ini kakak ikut andil sama pernikahan mereka. Bisa gelap mata kak." Melinda mengeluarkan pendapat yang sedari tadi diam saja.


Nadira menghela nafas. Memang ada kepikiran arah kesana namun selalu ia tepis dan kembali berpikir positif.


Rania tak akan begitu.


"Oke gini aja, kita akan ikut kemana pun selama lo bantu persiapan Rania."


Nadira hanya mengangguk pasrah. Tak lama setelah itu Rania datang mengajaknya ke butik sesuai alamat yang Wido berikan.

__ADS_1


"Ayo Na." ajak Rania tersenyum.


Nadira mengangguk bangkit dan di ikuti Nina dan Melinda.


"Loh, mereka juga ikut?" tanya Rania pada Nadira.


"Iya."


Seperti biasa, Wido sudah menunggu di parkiran kampus. Namun setelah melihat Rania bersama Nadira membuat raut bahagia itu berubah datar.


Nadira membiarkan Rania duduk di kursi penumpang sebelah Wido dan ia sendiri bergabung dengan Nina dan Melinda di kursi penumpang belakang kemudi. Namun baru saja Ia dan Rani mendudukkan bo kong nya Wido sudah bersuara.


"Suruh siapa duduk di sebelahku?" tanya Wido tanpa melihat lawan bicaranya.


"Tapi-."


"Duduk di belakang atau gak usah ikut bersama kami."


Nadira menghela nafas melihat Wido yang ketus saat bicara pada Rania.


"Bang." panggil Nadira.


"Ya."


Nadira menepuk bahu Wido. "Jangan marah-marah. Biar aja Rania di sebelah abang. Kalau abang gak mau, mending Dira yang turun."


Dan benar saja Wido menuruti apa yang dikatakan Nadira.


...****...


Selama di butik, Nadira di buat bingung. Rania terus saja meminta pendapat hal apa yang ia sukai termasuk model kebaya yang akan di kenakan Rania nanti.


Nadira sendiri hanya bisa menjawab. "Pilihlah yang menurutmu cantik."


Setelah selesai dari butik, Nadira dan kedua sahabatnya pergi ke toko pakaian wanita. Ada sesuatu yang harus di belinya.


Ketiga wanita muda itu membeli keperluan pribadi. Seperti biasa, Nadira tak segan-segan mentraktir apa yang di beli Nina dan Melinda Bukan hanya Nadira, Melinda juga begitu.


Selesai berbelanja, Nadira dan yang lain tetap dalam satu mobil dengan Wido dan Rania.


Dari pantulan kaca spion, Nadira menatap wajah Wido yang sedari tadi tampak tak senang dengan kehadiran Rania membuatnya semakin tak karuan.


*Tolong, jangan cinta aku begitu dalam.


🌸*


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2