
Malam semakin larut namun istri rahasia dari Qenan Abraham belum juga terlelap. Ia terus hanyut dalam buku novel yang tengah di baca dengan iringan lagu dari Tyok Satrio- Ada Untukmu.
Hingga fokus nya teralih ketika mendengar satu notifikasi pesan WhatsApp dari Qenan. Bibirnya melengkung mendapat kiriman foto Qenan.
Tapi tunggu, ada yang berbeda dari foto Qenan sekali senyum menawan nya dan membuat Nadira penasaran langsung membalas pesan tersebut.
Nadira :
Cincin?
...****...
Di tempat lain dimana Qenan berada, di sebuah Villa tempat mereka menginap hingga besok sore akan kembali ke ibu kota Jakarta.
"Waahh.. Udah di baca sama istri lo Qen.." seru Nazeef.
"Mana, gue juga pengen tahu jawaban kakak gue." seru Dion lagi.
Ya, foto Qenan yang tengah tersenyum lebar bahkan deretan gigi nya yang rata dan putih bersih itu terlihat hingga mata Qenan menyipit karena senyum itu. Ini adalah hal langkah dari seorang Qenan Abraham.
Rara❤️:
Cincin?
Membaca pesan dari Nadira membuat Nazeef membuka kembali foto Qenan lalu di zoom foto tersebut.
"Lo cincin baru Qen?"
Qenan berdecak lalu merebut ponsel nya dari tangan Nazeef. Ia sendiri bingung harus jawab apa, pasalnya cincin itu adalah cincin pasangan yang akan ia berikan ke Nadira.
Qenan :
Iya cincin Ra.
Rara❤️ :
Aku tahu, maksud ku cincin siapa?
Qenan :
Ya cincin aku lah.
Rara❤️ :
Aku tahu, udah lah kenapa menyebalkan gini sih?
Qenan terkekeh membaca balasan dari Nadira karena ia sengaja begitu agar Nadira tak menanyakan itu cincin siapa.
Qenan :
Tidur udah malem.
...****...
Setelah mmbaca isi pesan Qenan, akhirnya ia memilih menuruti saja, tidur. Tetapi sebelum itu ia ke kamar mandi membersihkan diri lebih dulu barulah ia pergi ke alam mimpi.
Pagi harinya setelah sarapan dan pamit pergi ke kampus tak lupa ia mencium punggung tangan Sinta sebagai tanda hormat nya.
Lagi-lagi pagi nya tak memiliki semangat, jika semalam tak bersemangat hanya karena Qenan kini bertambah setelah mendengar titah dari sang papa.
__ADS_1
"Papa ada-ada aja, kenapa harus gue?" tanyanya pada diri sendiri sembari berjalan menuju fakultas nya.
"Woy.. Lesu amat di tinggal suami." seloroh Nina sedari tadi perhatikan Nadira tampak murung.
"Bukan karena itu Na." jawabnya masih berpikir bimbang
"Jadi?"
Nadira membisikkan sesuatu dan Nina pun tampak terkejut karena hal itu.
"Lo bilang sama Qenan?" tanya Nina dan mendapat gelengan dari Nadira.
"Gue takut dia gak izinin, terus juga gak mungkin gue nolak yang di suruh bokap gue tapi gue bingung."
"Tapi Dir, lo harus bilang ke Qenan."
Nadira tampak berpikir bagaimana kejadian waktu itu sempat kasar padanya ketika ia tidak bercerita bahwa papa Surya adalah papa kandung nya.
"Lo temani gue ya.. Papa juga gak mau nyuruh gue sebenernya tapi karena sahabat nya orang itu gak bisa jaga jadi minta tolong ke gue."
"Tapi gak apa-apa tu? kita ajak Melinda juga gak?" tanya Nina sedikit ragu.
"Enggak usah, lupa kalau dia gak bisa nyimpan rahasia?"
"Ah ya bener."
Pembicaraan mereka terhenti ketika dosen masuk ke dalam kelas mereka. Tidak ada yang sepesial di kampus mereka selain mata kuliah, karena apa? karena seseorang yang mereka suka bukan lah di kampus ini.
Tidak sedikit kakak tingkat mengajak berkenalan bahkan mendekati mereka bertiga namun tetap saja mereka lakukan hanya sekedar perbanyak teman di kampus mereka.
Rendi.
Hampir setiap hari mendatangi Nadira walau hanya sekedar untuk bertanya kabar dan Nadira sendiri menjawab dengan biasa saja karena ia sadar, bila menjawab dengan ketus bisa jadi itu di nilai seperti Nadira yang belum merelakan di duakan oleh Rendi dan berharap cintanya kembali.
Taksi online yang sudah di pesan Nadira sudah standby menunggu mereka berdua. Pintu kedua sisi penumpang mobil taksi terbuka dan itu adalah Nadira dan Nina.
"Pak ke apartemen A ya.."
"Siap non."
"Lo yakin gak kasih tahu Qenan Dir?" tanya Nina yang memang ragu pergi tanpa izin dari suami Nadira.
"Aku bingung Na, kalau gue gak pergi gimana sama bokap gue?"
Nina menghela nafas panjang, sebenarnya pun ia merasakan hal yang sama tapi entahlah, perasaan nya tak enak untuk pergi bersama Nadira.
Mobil taksi mereka telah berhenti tepat di parkiran Apartemen dan mereka turun menuju lantai 18 dimana kamar orang yang akan di temui Nadira saat ini berada.
Hatinya ragu namun kaki tetap melangkah maju menuju ke nmor apartemen orang itu. Di dalam lift pun masih saling mendiami hingga pintu lift itu terbuka.
Nadira memencet bel beberapa kali hingga akhirnya di buka juga.
Tampaklah wajah orang yang di temui Nadira dengan wajah pucat pasih dengan mata menghitam seperti kurang tidur.
"Kamu datang Nadira? ayo masuk ajak temen kamu juga."
Nadira hanya mengangguk patuh masuk ke apartemen diikuti Nina di belakang nya. Pandangan keduanya terus mengamati tiap inci isi apartemen pria tersebut.
Sangat rapi.
__ADS_1
"Apartemen nya bagus." celetuk Nadira terdengar pria tersebut.
"Ya, Makasih." ucapnya pelan.
"Oh iya O-.."
"Jangan panggil aku begitu, aku belum setua itu." potong pria itu membuat Nadira mencebik bibirnya.
"Gak sadar ih.. Ya udah tunggu di kamar aja biar aku masak bubur dulu."
Pria itu masuk ke dalam kamar sedang Nadira dan Nina menuju dapur apartemen pria tersebut.
"Kebetulan isi kulkas penuh." seru Nadira ketika membuka kulkas di dapur.
Hobby nya adalah memasak tentu melihat stok makanan lengkap pasti seperti mendapat durian runtuh.
"Nina.. Ada ikan Nila ini.. Abis masak bubur kita buat Nila asam pedas manis yuk."
"Gue ngikut aja."
Nadira mengeluarkan bahan makanan sambil melihat bubur yang sedang di masak di dalam panci dan Nina membantu nya.
"Kok lo bisa jago masak sih Dir?" tanya Nina sembari mengupas bawang merah dengan air mata yang merembes.
"Gak jago, cuma bisa aja. Astaga.. Mata lo Na." Nadira tertawa melihat Nina menangis karena bawang merah.
"Eh gue anter bubur ini dulu ya.."
Nadira mengetuk pintu kamar pria itu, setelah mendengar kata 'masuk' dari dalam kamar ia pun masuk. Pintu itu ia sengaja terbuka lebar karena ia tak nyaman berdua di dalam kamar dengan pria lain selain suaminya.
"Ini buburnya eemm bang." ucapnya terbata karena ingat pinta pria tersebut jangan memanggilnya dengan sebutan sebelumnya.
"Abang? gak buruk." pria itu tersenyum menerima semangkuk bubur dari Nadira.
"Tetap disini Dir, please." pinta nya ketika Nadira hendak bangkit.
"Iya.."
Pria itu adalah Wido. Saat ini pria matang tersebut sedang sakit sedangkan Rian sahabatnya tidak bisa merawatnya karena harus mengurus pekerjaan di luar kota.
Papa Surya mengutus Nadira merawat Wido hari ini karena ia tahu jika Wido tidak suka orang asing berada di apartemen nya. Jadilah papa Surya mengusulkan Nadira untuk merawatnya dan di setujui oleh Wido.
Wido menghabiskan bubur dengan lahap karena baru pertama kali di buatkan oleh orang yang ia cinta selama ini. Hanya saja orang yang sedang duduk di dekat tempat tidurnya tak pernah tahu bahkan ia sudah kalah untuk kedua kalinya.
Suara dering ponsel Nadira terdengar dan ia melihat Nadira mengangkatnya. Ia sama sekali tidak tahu siapa yang menelepon Nadira.
"Dira.. Tolong ambilkan obat abang." pinta nya dengan suara berat.
Nadira sangat senang mendengar Qenan akan sampai malam hari dan ia akan meminta sopir dari rumah papa Reno menjemput Nadira dan mengantarkan ke sekolah Qenan.
Namun ia terkejut dengan suara Wido membuat Qenan curiga.
"*Abang? siapa itu Ra? kamu dimana? kamu sedang bersama cowok? obat? kenapa suaranya kayak gitu? apa jangan-jangan kalian?"
🌸*
**Bersambung..
Udah di like belum?
__ADS_1
jangan lupa vote, bunga mawar dan kopi nya ya***..