
Terang sinar Mentari telah sirna bahkan beberapa waktu lagi akan bersinar kembali namun pujaan hati tak kunjung memberi kabar.
Hati berkecamuk memikirkan apa yang terjadi di belahan bumi dimana Nadira berpijak. Namun, hati kian mendongkol karena tak bisa berbuat apa-apa.
"Gue mau balik ke Indo besok." tukas nya tak tahan lagi.
Nazeef dan Dion yang setia menemani Qenan tersentak. "Jangan gila boy, tahan lah. Ini udah setahun. Sayang kalau di tinggalkan."
Qenan menggusar rambut frustasi. "Tapi gue gak bisa di diemin gini."
"Mungkin mereka lagi liburan." Dion mencoba memberi ketenangan walau dalam hati sama seperti Qenan.
"Liburan apa harus matikan akses komunikasi? liburan sama siapa mereka sampek harus gak ada kabar gini."
Qenan berdiri berkacak pinggang lalu meraup wajah dengan kedua tangan.
Ingin sekali menjemput Nadira dan membawa kemanapun ia pergi. Hubungan jarak jauh itu tidaklah mudah. Selama setahun ini bukan hanya saling mengatakan rindu.
Sering sekali mereka harus berselisih paham hanya karena terlambat memberi kabar atau tak sengaja melewatkan telepon dari salah satu diantara mereka.
Sifat posesif yang melekat pada diri terus ia tekan agar Nadira merasa tak di kekang oleh nya.
"Tidur boy, besok kita libur dan waktunya untuk olah raga." tegur Nazeef merasa matanya sudah tak bisa di ajak kompromi untuk tetap terjaga.
Qenan menghela nafas. "Oke, gue balik dulu."
...****...
Di belahan bumi yang sama. Tiga wanita muda baru saja sampai di sebuah apartemen yang tak jauh dari asrama Stanford university.
Jika berjalan hanya memakan waktu 15 menit untuk sampai ke asrama tersebut.
"Astaga pinggang gue." gerutu Nadira seraya memijit pinggang nya sendiri.
"Punggung gue."
"Gue ngantuk."
Tiga wanita muda tersebut langsung merebahkan diri ke ranjang king size itu. Tidak ada yang dibutuhkan selain tidur sekarang ini.
...****...
Pagi hari, Di apartemen mewah dimana tempat berpulang tiga wanita muda selama 2 Minggu ke depan.
"Kita mau sarapan apa?" tanya Nina polos.
Serempak Nadira dan Melinda menggeleng.
"Enggak tahu, gue belum pernah kesini. Keluar negeri baru ke Malaysia. Makanan disana kan hampir sama kayak di negara kita, lah ini?"
"Gue juga belum pernah kesini kak." Melinda cemberut menahan lapar.
Nadira bangkit berjalan menuju dapur lalu membuka lemari es untuk melihat apa yang tersedia disana.
"Cuma ada roti dan selai gaes. Gak apa ya?" pekik Nadira sedikit teriak.
"Itu lebih baik Dir."
__ADS_1
Nadira membawa roti dan selai ke meja makan karena Nina dan Melinda sudah berada di dapur.
Ketiganya mengoles selai masing-masing di roti yang mereka pegang.
Sambil mengoles, Nadira mengaktifkan ponsel yang sedari kemarin belum juga aktif karena berada di pesawat dan kelelahan.
Matanya melotot melihat pesan Qenan mendominasi notifikasi di ponselnya. Ada juga pesan dari Dion dan Nazeef.
Ia berdehem ketika panggilan video call dari Qenan di ponselnya.
Mampus aku!
"Hai." ucapnya mencoba senyum manis walau hati meringis melihat wajah sangat Qenan.
"Kemana aja? ini udah seharian Ra, kenapa nomor hape kamu gak bisa di hubungi? sejauh apa tempat liburan kamu kali ini?"
Roti yang sudah lembut di dalam mulut seakan berubah menjadi keras dan sulit untuk di telan.
"Qenan, sejauh apapun kita berpijak tapi hati kita tetap di tempat yang sama. Hanya kamu tujuan ku." Nadira mencoba merayu Qenan dengan kebenaran melalui ucapan ambigu nya.
"Jangan merayuku."
Ia tertawa melihat Qenan memalingkan wajah karena rona merah di garis wajah terlihat jelas.
"Aku serius. Kamu lagi apa?"
"Aku lagi memikirkan mu."
Nadira berdecak. "Aku serius Qen."
Nadira menunduk melihat belahan dada terlihat menggoda lalu ia tersenyum nakal.
"Aku kangen kamu, apa kamu gak pengen tidur di dada ku lagi?"
Sumpah demi apa, ingin sekali ia kabur akibat menggoda Qenan. Karena ia tak pernah melakukan itu.
Memalukan!
"Banget."
"Udah dulu ya Qen, kamu mau pergi jalan-jalan."
Nadira memutuskan video call tanpa menghiraukan jawaban Qenan.
"Ayo, mereka ada di taman asrama mereka."
Keduanya mengangguk.
"Tapi Lin, lo udah pastiin Daddy kesepian lo itu gak bakal hubungi lo kan?" tanya Nadira yang sudah mengetahui pekerjaan Melinda.
"Udah kak." jawab Melinda lesu.
"Lo Na? udah lo jinakkan pacar gila lo itu?"
"Udah."
Bukan maksud Nadira untuk mendekatkan kembali sahabat nya dengan sahabat Qenan. Namun, ia mengajak keduanya untuk menjadi teman perjalanan dan untuk melepas rindu walau hanya memandang dari jarak jauh.
__ADS_1
Ketiganya bersiap. Beruntung ketika mereka datang ke negara maju tersebut belum musim dingin.
"Kita kayak anak ayam kehilangan induk tahu gak. Semua nya dengan meraba. Bertanya dengan bahasa Inggris seadanya."
Perkataan Nadira membuat mereka tergelak sepanjang jalan. Bagaimana tidak? Nadira yang tak pernah pergi selain bersama Qenan tentulah ia gagap untuk pergi jauh.
"Bangunan asrama mereka keren ya Dir."
Nadira dan Melinda mengangguk dan masih mendongak menatap bangunan klasik tersebut.
Lalu Nadira mengedarkan pandangan mencari sosok Qenan dan kedua sahabat yang menjelma sebagai bodyguard.
"Balik aja yok." ajak Nadira.
"Loh kenapa?" tanya Nina heran.
"Jantung gue mau lompat cuma lihat Qenan dari sini." Nadira bicara dengan mata terus menatap Qenan yang sedang duduk di rumput taman itu.
Namun kedua sahabatnya itu tak menggubris bahkan sengaja menyeret Nadira mendekat ke arah Qenan.
"Nan."
...****...
Kini harinya menjadi suram karena perlakuan Nadira berubah sedari kemarin. Tingkahnya membuat curiga.
Setelah melakukan video call pun tak membuat surut rasa kesal dan curiga kepada istrinya itu. Ada rasa ingin mengumpat dan membuat hidung pesek Nadira menjadi mancung karena tarikan dari tangan nya.
Bahkan selesai lari pagi di taman pun tetap saja pikiran nya melayang memikirkan apa yang di sembunyikan Nadira.
Tubuh Qenan menegang mendengar nama pujaan hati terdengar jelas di indera pendengaran nya.
Namun ia menggeleng merasa halusinasi sudah menguasai isi kepalanya.
"Nan."
Kali ini pendengaran nya tak lagi salah. Suara Nadira begitu jelas. Mendongak menatap kedua sahabatnya mematung dengan tatapan lurus di belakangnya.
Rasa penasaran begitu menggebu membuat ia membalikkan tubuhnya. Dan benar saja, tubuhnya juga menegang tak menyangka Nadira datang menemui nya.
Jadi?
"Sayang, kenapa gak kasih tahu mau kesini? seharusnya aku menjemputmu. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa."
...****...
Nadira melongo mendengar cecaran Qenan. Rasa gugup itu menguap entah kemana karena merasa Qenan semakin cerewet padanya.
Gue kira bakal di peluk.
"Kenapa kamu cerewet banget Nan? kalau gitu, kami balik ke Indo aja."
*Dasar gak peka, di hape aja kangen Ra. Suruh aku pakek ini aja, itu aja, pengen lihat kamu ini dan itu. Lah ini apa?
🌸*
Bersambung..
__ADS_1