Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Melinda hamil


__ADS_3

Keadaan Dion semakin hari semakin parah membuat papa Surya mendatangi anak bungsunya itu. Sudah seminggu ini Dion lebih banyak tiduran di atas ranjang.


"Pa, bisa jauhan dikit nggak? dan tolong jangan dekati istri Dion." sungut Dion terkulai lemas di tempat tidur sedang di periksa dokter keluarga.


Papa Surya dan Melinda saling pandang lalu menjauh. Sebenarnya tidak dekat hanya Dion saja yang sensitif, kini.


"Kamu jangan sembarangan kalau ngomong, Ion."


Tidak ada yang berdebat lagi karena Dokter sudah selesai memeriksa Dion.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?"


"Begini, Tuan mudah hanya maag. Tapi sebaiknya istri tuan muda diperiksa oleh dokter obygn."


Hening. Tidak ada yang berbicara karena merasa ada yang aneh. Bahkan papa Surya yang terkenal lebih kejam dari sahabat nya menjadi linglung, kini.


"Kenapa saya harus diperiksa, Dok?" Melinda memecahkan keheningan.


"Dugaan saya, nona hamil. Tapi untuk lebih pastinya segera periksa ya."


Deg


Dion dan Melinda saling memandang. Mereka ingat betul sebelum berangkat ke Surabaya, Melinda datang bulan.


Melinda mengerutkan dahi, apa yang terjadi saat masa datang bulan itu. Memang berdarah, tetapi tidak sederas bagaimana seperti setiap bulan nya.


Dion langsung bangkit menghampiri Melinda mengajaknya keluar menuju Rumah Sakit meninggalkan papa Surya dan Dokter keluarga Surya Wijaya.


Tanpa berbicara Dion dan Melinda sudah melesat membelah jalan kota Jakarta. Walau padat namun tidak macet.


Tangan saling menggenggam berharap apa yang mereka pikirkan tidak terjadi.


"Aku takut, oppa." ucap Melinda lirih ketika duduk menunggu antrian.


"Tidak apa, semoga dia baik-baik aja ya."


Kedua tangan saling menggenggam menyatakan saling menguatkan. Antara suka dan duka dirasakan keduanya.


Hingga satu jam menunggu giliran, nama Melinda sudah terpanggil. Keduanya pun bangkit masuk ke ruang praktek Dokter Gadhing.


"Selamat pagi menjelang siang." sapa Dokter Gadhing ramah.


"Pagi dok."


Banyak pertanyaan yang di ajukan Dokter Gadhing, setelah Melinda menjawab hanya kepala manggut-manggut yang terlihat.

__ADS_1


"Kita lihat dulu ya, benar hamil atau tidak jadi saya bisa jelaskan yang terjadi sama kamu itu darah ha id atau bukan."


Melinda pun naik ke atas brankar di bantu Dion. Dokter Gadhing mengoles gel di perut Melinda membuat Dion menatap tak rela tapi ia tak bisa menghalangi.


"Selamat, Tuan. Istri anda hamil sudah lima Minggu."


Tidak ada jawaban dari Dion dan Melinda. Mereka diam membisu melihat ke layar monitor komputer yang menampakkan isi di dalam rahim Melinda.


Tanpa terasa keduanya meneteskan air mata. "Apa dia sehat?"


"Sehat. Minggu kelima kehamilan menandai dimulainya periode embrionik. Inilah saatnya sistem dan struktur tubuh bayi mulai terbentuk, seperti jantung, otak dan sumsum tulang belakang. Selain itu, jantung bayi mulai berdetak dengan lanjut yang lebih stabil meski mungkin tidak terdeteksi oleh ultrasound."


"Di usia kehamilan 5 minggu, janin juga belum terlihat berbentuk seperti bayi. Embrio memang tumbuh dengan cepat, tetapi ukurannya masih sangat kecil. Diperkirakan ukuran bayi dalam tahap ini sekitar 2 milimeter."


"Terus gimana yang datang bulan Minggu lalu, Dok?"


"Salah satu penyebab umum perdarahan saat hamil muda adalah perdarahan implantasi, yaitu perdarahan yang terjadi karena proses pelekatan sel telur yang telah dibuahi pada dinding rahim. Hal ini tampak sebagai bercak datahh atau perdarahan ringan selama beberapa hari, tapi tidak selama dan sebanyak menstruasi."


Dokter Gadhing menjelaskan keadaan ibu dan janin. Ia juga memberi wejangan pada pasangan muda itu.


...****...


Sore hari, di Kafe Hebat.


Nadira dan Melinda duduk berdua. Kini keduanya sedang ada janji temu dengan seseorang. Sembari menunggu, keduanya bertukar cerita seputaran hamil muda.


Nadira menoleh melihat seseorang telah datang. "Sendiri?"


"Iya, Nina lagi masak."


Nadira mengangguk lalu bertanya lagi. "Ada apa, Zeef?


"Gue mau minta tolong sama kalian berdua."


"Minta tolong apa?"


Akhirnya Nazeef menceritakan tentang apa yang mereka lakukan ketika malam pertama. Nadira syok lalu teringat saat siang itu ada Nazeef, Dion, dan Nina di apartemen Qenan.


Begitu juga Melinda. Bagaimana tidak? sudah Nazeef yang membuat ia dan Dion menyatu dan akhirnya menikah malah malam pertama setelah menikah juga di tunggu oleh Nazeef.


"Baiklah, kami akan buat suami kami menunggu aktivitas kalian." kata Nadira pasrah dan di setujui oleh Melinda.


"Kapan rencananya?"


"Besok malam, di apartemen gue."

__ADS_1


"Oke."


Nazeef pamit pergi dengan rasa senang di hati. Ia ingin membalas dendam pada kedua sahabatnya.


...****...


"Kak Dira, aku malu."


"Sama, ya ampun gak nyangka suami-suami kita ada kelainan. Kenapa harus di tungguin sih?" gerutu Nadira kemudian ia menyeruput es jeruk.


"Kita harus buat rencana kak, pasti suami-suami kita akan menolak. Kasihan Nazeef."


Nadira mengangguk setuju. "Nanti kita bahas, lihat mereka jalan kesini."


"Pura-pura gak terjadi apapun kak."


"Ya."


Kedua nya melihat suami mereka berjalan dengan gagah mengenakan jas hitam.


Qenan berjalan tanpa ada senyum. Hanya wajah datar yang setia melekat pada wajah. "Maaf, lama." ucapnya langsung mengecup pucuk kepala Nadira dan tak lupa tangan itu terulur mengusap perut Nadira.


"Kalian baik-baik aja kan?" bisik Qenan langsung di anggukin Nadira.


Cup


"Qenan." pekik Nadira karena Qenan berhasil mencuri kecupan pada bibirnya.


"Kelepasan, sayang."


Bibir Nadira mengerucut. Selalu saja Qenan tidak bisa menahan untuk tidak mencium nya di luaran.


"Kalian udah makan?"


"Udah."


Qenan mengajak Nadira ke kantornya begitu juga Nina di bawa Dion ke kantor papa Surya.


Kedua suami muda tersebut tidak ingin terjadi sesuatu pada istri mereka masing-masing. Lebih baik sibuk berkutat pada tumpukan berkas sembari memandangi istri itu lebih baik.


Bagaimana perasaan Anda saat mengetahui diri Anda hamil? Sulit digambarkan, antara bahagia, surprise, deg-degan, juga sedikit khawatir. Ada yang mulas membayangkan akan mengalami mual-muntah, ngidam, perut kembung, atau mood swing. Nah, bagaimana bila hal yang sudah cukup buruk (tetapi menyenangkan) ini masih ditambah dengan menghadapi suami yang mendadak juga terlihat berbeda?


Mungkin Anda tak menyadari, namun banyak pria yang ikut gelisah ketika mendapati sang istri hamil. Dalam bukunya, The Male Brain: A Breakthrough Understanding of How Men and Boys Think, Dr Louann Brizendine -seorang neuro-psychiatrist- mengatakan, banyak hal yang terjadi pada pria selama kehamilan istrinya. Selama sembilan bulan kehamilan, perubahan yang dialami pria untuk menjadi ayah "dimeriahkan" dengan berbagai situasi hormonal, emosional, dan fisik. Bukan hanya Anda yang tidak mengetahuinya, pria pun mungkin tak menyadarinya.


Sama hal nya dengan Qenan dan Dion. Tanpa mereka sadari, mereka sekarang lebih menjadi pria si pendengar budiman dan suami siaga.

__ADS_1


🌸


Bersambung..


__ADS_2