
Esok pagi-pagi sekali Dion sudah meninggalkan Melinda di apartemen sendiri. Melajukan mobil drngan kecepatan tinggi karena jalan raya masih terlihat senggang.
"Kak." panggil Dion langsung memeluk Nadira. Ya, Dion datang ke rumah Qenan untuk mendatangi Nadira.
"Astaga, kenapa?" tanya Nadira terkejut karena di peluk Dion tiba-tiba.
"Tolong aku."
Nadira mengurai pelukan karena merasakan bahu nya basah. "Kenapa sampai menangis? kamu kenapa, Dion?"
"Elin, kak."
"Duduk dulu." Nadira meminta Dion duduk di kursi meja bar mini tersebut.
"Cerita, Ion. Ada apa dengan Elin? apa dia baik-baik aja?" cecar Nadira sembari membuatkan kopi untuk Dion dan juga Qenan yang baru saja tiba di dapur.
"Buenos días querida.(Selamat pagi sayang.)" Belum sempat Dion menjawab, Qenan sudah menyapa Nadira dan melabuhkan kecupan di pucuk kepala istrinya.
"Buenos dias tambien querida. (Selamat pagi juga sayang." Nadira tersenyum lalu menyerahkan segelas kopi untuk Qenan.
"Ngapain lo ke rumah gue pagi gini? jangan bilang lo mau rebut Nadira dari gue." Qenan menatap Dion dengan tajam tetapi berbeda dengan Nadira dan Dion tercengang atas perkataan Qenan.
__ADS_1
"Qenan. Duduk, kita sarapan dulu ya." Nafira menyerahkan sepiring sandwich untuk Qenan dan juga Dion.
...****...
Dion memerhatikan setiap interaksi antara Qenan dan Nadira. Dan ia pun berandai-andai hubungan nya dengan Melinda seperti itu. Tetapi, bukan hanya sekali ia terbayang dengan masalalu Melinda bersama Rian.
Memang inilah akibat dari keputusan nya dahulu untuk bertanggung jawab atas hilang nya kesucian Melinda karena ulahnya sendiri.
"Melinda bertemu lagi dengan Rian." celetuknya setelah mereka selesai sarapan.
Dion menatap Qenan dan Nadira bergantian. Kemudian menghela nafas panjang.
"Gue udah pernah bilang, kan. Pasti ini akan terjadi." tukas Qenan dan ia membenarkan ucapan dari Qenan.
"Gue selalu bayangin gimana Rian dan Melinda tidur bareng." ucap Dion lirih namun masih terdengan di telina Qenan dan Nadira.
"Lebih baik lo pulang, ajak istri lo yang lagi hamil itu jalan-jalan. Ini udah jadi resiko saat pertama kali lo terima istri lo."
Dion tak menjawab namun mencerna setiap ucapan Qenan untuknya. Setelah pembicaraan itu dia permisi untuk berangkat bekerja dan akan membicarakan masalah tersebut kepada Melinda.
...****...
__ADS_1
Malam hari Dion baru saja sampai di Apartemen nya, ia melihat Apartemen nya sudah gelap padahal yang ia tahu ini bukanlah jam tidur Melinda.
Ada rasa khawatir menyelimuti hatinya di tambah terdengar suara tangis dari dalam kamar. Dengan langkah cepat membuka pintu dengan kasar. Ia mendapati Melinda terduduk di pojok kamar mereka dengan tangis yang memilukan.
"Lin." panggilnya membuat Melinda mendongak.
"Kenapa masih pakai bathrobe? kamu sedang hamil. Nanti masuk angin." tukas nya membantu Melinda bangkit dan mendudukkan di tepi ranjang.
Dion melangkahkan kaki ke lemari mencari pakaian ganti untuk Melinda lalu membantu memakaikan pakaian tersebut.
Dion tersentak mendapati tubuh Melinda memerah bahkan ada banyak terdapat luka lecet disana.
"Badan kamu kenapa, Lin?"
"Aku habis menghilangkan jejak dulu yang pernah dia sentuh." Melinda menunduk tak berani menatap Dion.
Hati Dion mencelos mendengar ucapan Melinda. "Maaf. Aku yang egois."
Melinda menggeleng. "Aku yang kotor dan pantas oppa tinggalin."
Dion menatap Melinda dengan tajam. "Siapa yang akan meninggalkan mu, Elin? aku kemarin hanya butuh waktu sendiri dan akhirnya aku kembali lagi, kan?
__ADS_1
"Maaf."