
Erlangga baru selesai membersihkan tubuhnya saat panggilan telepon masuk berdering di ponselnya. Erlangga menatap layar benda pipih itu, dan lagi-lagi nama Mamanya lah yang muncul di sana.
" Halo ..." Erlangga menjawab panggilan masuk dari Mamanya.
" Erlangga, kamu jadi ke sini, kan? Agnes sudah datang, sebaiknya kamu segera datang kemari!" suara Helen terdengar dengan tempo cepat di telinganya.
" Sebentar lagi, Ma. Aku masih ada kerjaan di kantor." Erlangga sengaja berbohong dengan mengatakan jika saat ini masih berada di kantornya.
" Tinggalkan saja pekerjaanmu itu, Lang! Dan cepatlah datang kemari!" perintah Helen kemudian.
" Aku pasti datang ke sana, Ma. Mama tenang saja ..." sahut Erlangga enteng.
" Ya sudah, Mama tunggu, Mama tutup teleponnya sekarang." Helen mengakhiri panggilan telepon kepada putranya tersebut.
Erlangga segera mengambil pakaian dari lemari pakaian dan segera membalut tubuh atletisnya dengan kemeja santai dan celana denim kemudian turun ke bawah menemui Kayra.
Saat menuruni anak tangga, Erlangga melihat Kayra yang sedang berbincang dengan Bu Daus di ruangan tengah yang tidak tersekat dengan dinding yang memisahkan ruangan tamu dengan ringan tengah yang berukuran luas itu.
" Kita berangkat sekarang!" ucap Erlangga membuat Kayra terkejut dan langsung mengikuti langkahnya sampai ke dalam mobil yang membawa dia dan sekretarisnya itu ke rumah keluarga Mahadika Gautama.
Saat dirinya memasuki bangunan rumah orang tuanya itu, Bi Inah, ART di kediaman orang tua Erlangga memberitahukan jika dia memang sudah ditunggu sejak tadi oleh Mamanya dan juga Agnes. Erlangga berjalan ke arah ruangan keluarga setelah Bi Siti memberitahukan keberadaan orang tua Erlangga beserta tamunya.
Namun langkah Erlangga terhenti saat dia menyadari jika Kayra tidak mengikuti langkahnya. Dan benar saja saat Erlangga menolehkan kepalanya ke belakang, dia tidak mendapati sekretarisnya itu di belakangnya sehingga membuat Erlangga memutar langkahnya kembali.
Di ruang tamu, Erlangga melihat Kayra yang hendak duduk di sofa membuatnya langsung menegur Kayra.
" Kenapa kamu malah duduk dan tidak mengikutiku?"
" Oh, maaf, Pak."
Erlangga melihat Kayra langsung mengurungkan niatnya yang hendak duduk, kemudian wanita itu mengikuti langkahnya menuju ruang keluarga.
" Malam, Pa, Ma." Erlangga menyapa kedua orang tuanya.
" Malam, Nak." Krisna Mahadika Gautama yang tak lain adalah Papa dari Erlangga membalas sapaan anaknya.
" Selamat malam, Pak, Bu." Kayra ikut menyapa kedua orang tua Erlangga.
" Malam, Kayra." Krisna membalas salam yang diucapkan Kayra dengan ramah, berbeda dengan Helen yang menatap heran dengan kehadiran Kayra bersama Erlangga.
" Erlangga, kenapa kamu membawa sekretaris kamu ini kemari?" Helen menatap Kayra dengan pandangan tak suka akan kehadiran Kayra malam ini.
__ADS_1
" Memangnya kenapa, Ma? Bukankah Mama tidak membuat syarat aku harus atau tidak boleh membawa siapa pun kemari, kan? Lagipula kami ini dari kantor, banyak pekerjaan yang harus Kayra kerjakan karena dia habis cuti beberapa hari." Erlangga kembali berbohong dengan mengatakan mereka langsung datang dari kantor.
" Kalau dia banyak pekerjaan, kenapa kamu tidak suruh dia menyelesaikan pekerjaannya di kantor? Kenapa kamu membawa dia kemari?" Helen terlihat kesal.
" Aku tidak mungkin meninggalkan karyawan wanita sendirian di kantor sampai malam, Ma." tegas Erlangga.
" Erlangga, kamu tidak seharusnya menyuruh Kayra bekerja sampai malam." Krisna menegur putranya dan menganggap tindakan putranya itu salah.
Sudah pasti Kayra yang menjadi topik berdebatan Erlangga dan kedua orang tuanya merasa tidak enak hati apalagi saat ini bukan tatapan tak suka dari Helen saja yang dia dapatkan tapi juga tatapan mata sinis seorang wanita cantik yang duduk berpangku kaki di sofa.
" Tidak apa-apa kok, Pa. Kayra sendiri tidak masalah menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda selama dia tidak masuk kantor." Erlangga melirik ke arah Kayra dengan pandangan seolah menyuruh Kayra mengiyakan apa yang dikatakannya.
" Hmmm, be-benar, Pak Krisna. Saya tidak masalah harus menyelesaikan pekerjaan sampai malam karena beberapa hari kemarin saya memang berhalangan untuk masuk kerja," sahut Kayra.
" Jangan terlalu diforsir tenagamu, Kayra. Itu tidak baik untuk kesehatan kamu juga." Krisna begitu bijaksana menasehati Kayra.
" Baik, Pak. Insya Allah, saya baik-baik saja." Kayra berusaha meyakinkan Krisna jika dia akan baik-baik saja.
" Sudah-sudah, kenapa malah membicarakan sekretarismu itu? Erlangga, ini Agnes dari tadi Agnes menunggu kedatangan kamu." Helen segera mengalihkan pembicaraan.
Agnes langsung bangkit dan berjalan ke arah Erlangga, lalu menyapa sambil memeluk Erlangga dengan mesra, " Hai, Lang. Apa kabar? Lama kita tidak berjumpa, ya?"
Sikap Agnes yang terlihat seperti seorang wanita kepada kekasihnya membuat kening Kayra berkerut, namun dia tak berprasangka buruk. Dia berpikiran mungkin Agnes adalah anggota keluarga besar Mahadika Gautama.
" Agnes ini akan tinggal di Jakarta, Lang. Jadi kalian bisa lebih sering bertemu." Helen menyampaikan kabar yang menurutnya adalah kabar bahagia.
" Mama mengundangku untuk makan malam. Apa bisa kita mulai sekarang? Karena aku dan Kayra masih harus menyelesaikan pekerjaan kembali." Erlangga yang tidak ingin berlama-lama di rumah orang tuanya beralasan jika masih banyak pekerjaan yang menumpuk yang harus dia dan Kayra kerjakan.
" Ya sudah, ayo kita makan." Helen menggandeng lengan Agnes diikuti oleh Krisna di belakangnya.
" Ikutlah denganku! Kita akan makan malam," bisik Erlangga saat melewati Kayra.
" T-tapi ..." Belum sempat Kayra menyelesaikan ucapannya, Erlangga sudah berjalan menjauh darinya hingga membuat Kayra terpaksa mengikuti permintaan bosnya itu.
***
" Kamu duduk di sebelahku!" bisik Erlangga saat Kayra ingin mencari kursi yang agak jauh dari anggota keluarga Mahadika Gautama. Karena bagaimanapun juga dia merasa tidak enak berada di tengah-tengah keluarga konglomerat itu.
" Agnes, kau duduk di sebelah Erlangga. Kayra kamu duduk di sini!" Helen yang melihat Kayra menarik kursi di samping Erlangga segera meminta Kayra bertukar tempat.
" Hmmm, baik, Bu." Kayra mengurungkan niatnya yang ingin mendudukkan tubuhnya di kursi saat mendengar Helen melarangnya duduk di samping Erlangga.
__ADS_1
" Tetap di sini!" Namun suara Erlangga menentang keinginan Helen, membuat Kayra bingung.
" Erlangga, kenapa kamu menyuruh sekretarismu itu duduk di sana?" protes Helen karena Erlangga menentang keinginannya.
" Karena dia sekretarisku, dia pantas di sini!" ujar Erlangga tak memperdulikan jika apa yang dia putuskan mengecewakan Helen dan juga Agnes.
" Agnes lebih pantas duduk di dekatmu, Erlangga!" Helen masih berusaha mendekatkan Agnes dengan putranya.
" Yang lebih pantas duduk di sampingku adalah Caroline, Ma!" tegas Erlangga.
" Lalu di mana dia? Dia lebih mementingkan kesenangannya, kan? Daripada menemani kamu, suaminya sendiri!" Helen langsung menyerang Erlangga. Kata-kata putranya itu dia jadikan senjata untuk menjatuhkan Caroline.
" Sudah, hentikan! Kenapa kalian malah berdebat? Malu sama Agnes dan Kayra!" Krisna yang mendengar pertengkaran anak dan istrinya segera melerai perdebatan Ibu dan anak itu.
" Kayra, kamu tetaplah duduk di samping Erlangga, dan Agnes duduklah di sebelah istri, Om." Krisna sudah memutuskan dan tidak ada satu orang pun yang bisa menentang permintaan orang yang paling berpengaruh kuat ke perusahan Mahadika Gautama tersebut.
Kayra hanya menatap piring di hadapannya, sebenarnya dia sendiri sudah merasa kenyang karena tadi di rumah Erlangga dia sudah mengisi perutnya ketika ditawari oleh Bu Daus untuk makan
" Kenapa kamu hanya melamun, Kayra? Makanlah ...!" Krisna yang melihat Kayra hanya terdiam tak mengambil nasi dan lauknya langsung menegur Kayra.
" Sebenarnya saya sudah kenyang, Pak." Kayra jujur mengatakan jika perutnya sudah tidak sanggup menerima makanan berat lagi.
" Kau lihat sendiri 'kan, Erlangga? Kenapa kamu membawa dia bergabung makan malam dengan kita?" Helen kembali menyalahkan Erlangga karena mengajak Kayra. " Sebaiknya kamu menyuruh sekretarismu itu mengerjakan tugasnya saja agar cepat selesai," lanjut Helen.
" Makanlah!" Erlangga menatap Kayra dengan sorot mata seolah memaksa Kayra untuk tetap menyantap makanan yang tersedia di meja makan.
" Baik, Pak." Kayra terpaksa menuruti apa yang diperintahkan oleh majikannya itu. Dia tidak ingin Erlangga menyalahkannya sehingga dia hanya mengikuti. Kayra hanya mengambil sedikit nasi agar perutnya tidak merasa kekenyangan.
" Kamu apa kabar, Lang?" Agnes mencoba mencari topik pembicaraan lain selain membahas tentang Kayra.
" Seperti yang kamu lihat sendiri," sahut Erlangga tanpa mengarahkan pandangannya ke arah wanita cantik itu.
" Agnes ini berencana bekerja di Jakarta. Mama ingin dia ikut bekerja di kantormu, Lang." Helen menyampaikan apa yang direncanakannya kepada Erlangga.
Erlangga seketika menghentikan kunyahannya saat mendengar rencana Mamanya yang ingin memasukan Agnes ke dalam perusahaan yang dia kelola.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️