
Kayra ingin meninggalkan kamar saat ponsel suaminya berbunyi, sementara Erlangga saat ini sedang berada di dalam kamar mandi.
Kayra mengambil ponsel itu untuk melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Namun, tak ada nama yang muncul di layar ponsel suaminya itu, hanya deretan nomer yang terlihat, dan Kayra tidak mengenal siapa pemilik nomer itu.
Kayra mengambil ponsel milik Erlangga lalu berjalan mendekat ke arah kamar mandi untuk memberitahu suaminya.
" Mas, ada telepon ...!" Sambil mengetuk pintu kamar mandi, Kayra memanggil nama suaminya.
" Mas ..." Kayra kembali memanggil Erlangga. " Teleponnya bunyi ini ..." sambungnya.
" Angkat saja, Sayang ..." Suara Erlangga terdengar menyuruh Kayra menjawab panggilan masuk di ponsel Erlangga.
Kayra menuruti apa yang diperintahkan oleh suaminya, hingga akhirnya dia mengangkat panggilan masuk itu.
" Halo, Erlangga sayang ... kamu kenapa sekarang jarang menemuiku? Aku rindu ... apa istri modelmu sudah memenuhi semua kebutuhanmu jadi kamu melupakan aku sekarang ini?"
Kayra tersentak kaget mendengar suara seorang wanita berkata dengan sangat manja berkata mesra terhadap suaminya. Dia bahkan menjauhkan ponsel dari telinganya lalu menatap kembali layar ponsel suaminya.
" Halo, kenapa diam, Sayang? Aku ingin bertemu, besok malam datang ke apartemenku, ya!? Aku benar-benar rindu sentuhanmu, Erlangga. Aku akan memberikan pelayanan spesial untukmu."
Kayra mendengus keras mendengar ucapan-ucapan wanita dalam ponsel itu. Dia tidak tahu siapa wanita itu dan apa hubungan Erlangga dengan wanita tersebut. Namun yang pasti, hatinya serasa terbakar mendengar wanita itu memanggil Erlangga dengan sebutan 'Sayang', belum lagi perkataan wanita itu yang mengajak Erlangga untuk berkunjung ke apartemennya karena wanita tadi mengatakan rindu akan sentuhan Erlangga.
Rindu sentuhan Erlangga? Apakah wanita itu dan Erlangga pernah melakukan hubungan in tim? Lalu siapa wanita itu? Erlangga tidak pernah bercerita apa-apa tentang wanita yang dekat dengan pria itu kepadanya. Apa sebenarnya selama ini Erlangga sudah berselingkuh dari Caroline sebelum menikahi dirinya? Bermacam pertanyaan langsung berkecamuk di benak dan hati Kayra.
" Maaf, Mbak ini siapa?" Dengan nada suara tercekat di tenggorokan, Kayra melontarkan pertanyaan tersebut kepada wanita itu.
" Kamu siapa?" Suara wanita dari ponsel Erlangga terdengar terkejut saat mendengar pertanyaan Kayra, mungkin dia tidak menduga jika Kayra lah yang akan mengangkat panggilan teleponnya.
" Saya sekretarisnya Pak Erlangga." Merasa kesal dengan wanita yang menelepon suaminya, Kayra sengaja tidak menyebutkan status dia sebagai istri Erlangga karena dia ingin tahu siapa wanita yang menelepon suaminya itu.
" Sekretaris? Memangnya Erlangga sekarang ini ada di mana? Kok kamu bisa sama Erlangga? Terus kenapa ponsel Erlangga bisa ada di tangan kamu?" Kalimat bernada menyelidik ditanyakan wanita tersebut kepada Kayra.
" Iya, Pak Erlangga sedang lembur dan saya menemani beliau karena masih banyak pekerjaan kantor yang harus dikerjakan oleh Pak Erlangga." Kayra menjawab pertanyaan wanita itu dengan nada ketus.
" Oh, tolong dong, kasih teleponnya ke Erlangga, aku ingin bicara sama dia." Wanita itu bersikeras ingin berbicara dengan Erlangga walaupun Kayra sudah mengatakan jika saat ini Erlangga sedang sibuk.
" Pak Erlangga sedang di toilet, Mbak. Mbak ini dengan siapa? Nanti saya sampaikan ke Pak Erlangga kalau Mbak tadi telepon." Masih dengan nada kurang bersahabat Kayra meladeni wanita yang dia duga selingkuhan Erlangga sebelum menikahinya.
" Oh, ya sudah, nanti saya telepon saja kalau begitu." Wanita itu langsung memutuskan sambungan telepon secara tiba-tiba.
Kayra menarik nafas yang terasa sesak dihirupnya. Tiba-tiba saja hatinya merasakan sakit saat mengetahui ternyata suaminya pernah bercinta bersama wanita lain sebelum menikah dengannya. Dia merasa dibodohi oleh Erlangga. Sosok bosnya yang selalu terlihat setia kepada Caroline ternyata pernah berselingkuh dengan wanita yang tidak dia tahu siapa orangnya.
Kayra tidak tahu, ada berapa wanita lagi yang pernah berkencan dengan suaminya dulu, atau mungkin saja sampai saat ini masih berhubungan tanpa sepengetahuannya.
Hawa panas seketika menyerang mata Kayra hingga cairan bening mulai mengembun di bola mata wanita cantik itu. Kayra buru-buru menyeka air matanya dan menaruh ponselnya kembali di atas nakas saat terdengar pintu kamar mandi terbuka.
" Siapa yang tadi menelepon?" tanya Erlangga begitu keluar dari kamar mandi.
" Salah sambung ..." sahut Kayra seraya beranjak ke arah pintu untuk keluar dari kamar.
" Kamu mau ke mana?" tanya Erlangga melihat Kayra berlalu dari hadapannya.
" Menyiapkan makan malam ..." Kayra yang masih kesal karena wanita yang menelepon tadi langsung keluar, tanpa memperdulikan suaminya yang terus bicara kepadanya.
***
Selama menikmati makan malam, Kayra hanya diam saja, bahkan dia sama sekali tidak mengarahkan pandangan kepada suaminya dan hanya fokus dengan makanan di depannya walau tidak dia nikmati karena rasa kesal dan kecewa yang menggunung di hatinya.
" Nak, kapan rencana kita akan pindah ke tempat yang baru? Agar Ibu bisa siap-siap membereskan pakaian dan barang-barang Ibu." tanya Ibu Sari kepada Erlangga saat berada di meja makan.
" Kemungkinan Minggu depan, Bu. Karena ada yang mesti diperbaiki terlebih dahulu," sahut Erlangga. " Ibu tidak udah repot mengepak barang-barang, biar Siti atau Diah dan Atik saja yang membereskannya." Erlangga tidak memperbolehkan Ibu mertuanya itu repot mengepak barang-barang yang akan mereka bawa dari rumah tempat tinggal mereka sekarang.
" Jika kita pindah, apa mereka akan ikut juga, Nak?" Ibu Sari sudah merasa akrab dengan pada ART di rumah sekarang, karena itu Ibu Sari akan merasa kehilangan jika sampai mereka tidak ikut pindah ke tempat yang baru
" Mereka akan ikut bersama kita, Bu." jawab Erlangga.
__ADS_1
" Syukurlah kalau mereka ikut, Ibu sudah merasa cocok dan dekat dengan mereka bertiga." Ibu Sari merasa lega karena dia tetap berkumpul bersama ART nya itu.
" Iya, Bu. Mereka sudah saya percaya untuk mengurus Ibu dan juga Kayra, karena itu saya ingin membawa mereka pindah ke tempat baru juga." Erlangga menatap istrinya yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya tak ikut bicara sama sekali.
" Semoga nanti Ibu betah tinggal di tempat baru, seperti Kayra juga, putri Ibu ini begitu bersemangat sekali ingin pindah ke rumah itu." Erlangga menceritakan bagaimana antusiasnya Kayra ingin tinggal di tempat baru tersebut.
" Benar begitu, Kayra?" Ibu Sari mengerutkan keningnya karena merasa aneh Kayra semangat ingin pindah rumah, karena biasanya Kayra selalu betah di suatu tempat dan tak ingin pindah-pindah ke tempat lain.
Kayra hanya menoleh sebentar ke arah Ibunya tanpa menjawab pertanyaan Ibu Sari. Rasa hati Kayra saat ini benar-benar kacau akibat telepon masuk di ponsel Erlangga tadi.
" Anak Ibu tidak mau mengakuinya karena dia malu, benar 'kan, Sayang?" Erlangga mengusap punggung Kayra yang duduk di kursi sebelah kiri kursi yang diduduki oleh Kayra.
Kayra menyingkirkan tangan Erlangga dari punggungnya. Berusaha dia tahan, namun dia tidak sanggup terus menahan rasa kesalnya.
" Kamu kenapa, Kayra?" Tentu saja sikap Kayra sejak dia keluar dari kamar mandi yang terlihat beda membuat Erlangga mengeryitkan keningnya.
Bahkan setelah menyelesaikan makannya, Kayra langsung kembali ke dalam kamar meninggalkan Erlangga dan Ibu Sari yang melanjutkan perbincangan di ruang keluarga, apalagi tak lama setelah itu Adzan isya terdengar berkumandang, membuat Kayra segera menjalankan Sholah isya terlebih dahulu sebelum mengistirahatkan tubuhnya, hatinya dan pikirannya demi menghindari bertatapan dengan suaminya.
***
" Ya Allah, kenapa Engkau tempatkan hamba di posisi seperti ini? Hamba tidak pernah meminta kemewahan, Ya Rabb. Hamba hanya memohon kebahagiaan lahir batin dan tidak tersakiti seperti saat ini," selepas melaksanakan kewajibannya, Kayra berkeluh kesah kepada Sang Pemiliknya, Bahkan jika waktu bisa diulang kembali, rasanya dia tidak ingin dipertemukan dengan sosok Erlangga.
Kayra lalu membuka mukena dan melipatnya lalu menaruh di tempatnya semula. Kemudian dia beranjak ke atas tempat tidur, berusaha menahan agar air mata agar tidak jatuh di pipinya, namun ternyata hal tersebut susah sekali untuk dilakukan olehnya.
" Dia bilang aku wanita yang dia butuhkan, ternyata itu semua hanya kebohongan semata. Dan aku begitu bodohnya percaya terhadap bujuk rayunya itu." Kayra merasakan kesedihan di hatinya. Tangannya lalu mengusap perutnya yang masih datar. " Mama tidak tahu, apa Mama akan bisa bertahan bersama Papamu, Nak." Kayra bahkan patah semangat, kebohongan yang dilakukan Erlangga benar-benar menyakiti hatinya.
" Ya Allah, apakah ini balasan karena aku sudah merusak kebahagiaan Ibu Caroline?" Seketika Kayra teringat akan Caroline, dia bahkan menganggap jika dirinya terkena karma karena menikah dengan pria yang telah mempunyai. istri.
Ceklek
Kayra menghapus air matanya saat mendengar suara pintu kamar di buka, dia menduga suaminya itu memasuki kamar. Kayra pun segera memejamkan matanya karena dia tidak ingin Erlangga tahu jika dia masih terjaga bahkan sedang terisak.
Erlangga membuka pintu kamar, dia melihat istrinya itu sedang berbaring membelakanginya. Dia lalu mendekati istrinya itu di tempat tidur.
Kayra tidak menjawab pertanyaan Erlangga, namun dia menganggukkan kepalanya saja.
" Kamu sudah sholat? Kenapa kamu tidak menungguku untuk sholat bersama?" tanya Erlangga kembali.
Untuk pertanyaan kali ini Kayra tidak menjawab pertanyaan suaminya tersebut.
Melihat Kayra tidak menjawab pertanyaannya, Erlangga memutuskan untuk melaksanakan sholat isya dulu sebelum ikut bergabung dengan istrinya.
Lima belas menit berselang, Erlangga sudah bergabung bersama Kayra di atas tempat tidur setelah menjalankan ibadah sholatnya.
" Sayang, kenapa kamu tidur cepat?" Erlangga memeluk tubuh Kayra dari belakang.
" Aku lelah ..." Kayra menjawab dengan suara teredam oleh bantal.
" Lelah? Memangnya di kantor tadi kamu melakukan pekerjaan apa saja?" Erlangga tahu tidak banyak pekerjaan yang dilakukan oleh istrinya di kantor tadi karena dia melarangnya.
Kayra tak menjawab, dia merasa malas untuk meladeni suaminya yang dia anggap sudah membohonginya.
" Hei, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku? Tidak sopan bicara pada suami dengan memberikan punggung," tegur Erlangga kemudian.
" Lagipula apa kamu lupa? Kamu bilang kalau malam ini kita akan bercinta, kenapa kamu malah ingin tidur? Apa kamu tidak rindu akan sentuhanku?" Erlangga memprotes Kayra, seolah tidak perduli apa yang sedang Kayra rasakan saat ini.
Kayra menarik nafas yang terasa sesak, perkataan Erlangga mengingatkan ucapan wanita tadi yang mengatakan rindu dengan sentuhan Erlangga, seketika itu juga tangis Kayra pecah.
" Hei, kenapa kamu menangis, Kayra?" Melihat Kayra tiba-tiba menangis, Erlangga lalu menarik tubuh Kayra hingga menghadap ke arahnya. " Ada apa, Kayra? Kenapa kamu menangis?" tanya Erlangga heran.
" Lepaskan, Mas! Tidak usah sentuh-sentuh aku lagi!" Kayra menyingkirkan tangan Erlangga dari tubuhnya.
" Kenapa? Ada masalah apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Erlangga heran.
" Kenapa Mas tidak jujur kepadaku? Kenapa Mas tidak bilang jika selama ini Mas sudah pernah berselingkuh dengan wanita lain sebelum menikah denganku?" Kayra bangkit dan mencecar pertanyaan kepada Erlangga.
__ADS_1
" Maksud kamu apa?"
" Mas masih menyangkal? Wanita di telepon tadi bilang kalau Mas sering bersenang-senang dengan dia! Bahkan Mas selalu bersama dia saat Mas merasa kesepian ditinggal Ibu Caroline! Kenapa Mas tidak menikahi dia saja?! Kenapa justru aku yang Mas jebak seperti ini?! Kenapa justru aku yang dituding Ibu Caroline dan Ibu Helen sebagai wanita penggoda?!" Suara tangis Kayra semakin kencang karena dia merasa tertipu oleh Erlangga.
" Wanita? Wanita siapa?" tanya Erlangga seolah tidak mengerti.
" Lihat saja HP Mas, siapa wanita yang Mas ajak selingkuh itu?!" ketus Kayra geram karena suaminya seakan tidak merasa bersalah.
Erlangga lalu bangkit dan meraih ponsel untuk melihat siapa wanita yang dimaksud istrinya itu. Erlangga lalu pun segera mengecek dan menghubungi nomer telepon terakhir yang menghubunginya tadi saat dia di kamar mandi dan Kayra yang menerima panggilan masuk telepon itu.
" Halo, Emma ... apa yang kamu katakan tadi pada istriku sampai dia menangis?" Erlangga berbicara pada ponselnya dan dengan sengaja mengaktifkan loudspeaker hingga Kayra bisa mendengar percakapannya dengan orang yang dia hubungi.
Kayra membelalakkan matanya saat mendengar suaminya menyebut nama Emma.
" Hei, apa yang aku katakan?? Aku mengatakan apa yang kamu suruh, Erlangga!" Suara Emma langsung terdengar jelas di telinga Kayra membuat kening wanita cantik itu berkerut.
" Kau tahu? Istriku ini sampai menangis tersedu, pasti kau mengatakan hal yang tidak-tidak pada Kayra, kan?!" Erlangga menuding Emma yang membuat Kayra menangis.
" Si alan kau, Lang! Apa Kayra ada di situ? Kayra, apapun yang tadi kamu dengar di telepon, itu semua adalah ide dari suamimu. Dia yang minta aku untuk mengerjaimu!" Emma tidak ingin disalahkan atas apa yang terjadi pada Kayra.
Kayra memandang suaminya dengan tatapan tak percaya, bahkan suaminya saat ini justru sedang menyeringai seakan sedang merayakan kemenangan.
" Apa yang tadi Emma katakan kepadamu, Sayang?" tanya Erlangga merengkuh tubuh Kayra. " Apa kamu tidak mengenali suara Emma?"
" Bukan aku yang tadi bicara, aku suruh adikku yang berbicara. Kayra, aku minta maaf, tapi benar, semua itu karena permintaan Erlangga karena dia ingin tahu kamu apakah kamu cemburu jika ada wanita yang mengaku dekat dengan Erlangga." Emma menjelaskan hal yang sebenarnya agar Kayra tidak salah paham.
" Sudahlah, kau ini mengacau saja sama seperti suamimu." Erlangga langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Emma.
" Jadi apa yang membuat kamu menangis, Sayang?" Erlangga mengulum senyuman menatap sang istri yang kembali berlinang air mata.
" Mas mengerjaiku? Tega sekali Mas mengerjaiku!" Kayra kembali tersedu, dia tidak menyangka jika suaminya sedang mengerjainya bersama Emma.
" Sayang, aku hanya ingin tahu, apa benar yang kamu katakan kepada Gita jika kamu tidak akan cemburu jika ada wanita yang mendekatiku? Atau kamu mendustai hatimu sendiri?"
Flashback on
Erlangga menghentikan langkahnya saat dia mendengar obrolan Kayra dengan Gita di depan ruangannya.
" Apa Ibu yakin? Ibu tidak setuju Pak bos didampingi wanita lain, karena Ibu takut Pak bos akan tergoda dengan sekretaris barunya nanti?" tanya Gita karena Kayra terus meminta Gita bekerja sebaik mungkin agar terpilih menjadi sekretaris Erlangga.
" Tentu saja tidak, Mbak. Tidak mungkin saya merasa cemburu kepada Mas Erlangga," sanggah Kayra.
" Beneran Ibu tidak cemburu? Pak bos ganteng gitu lho, Bu. Tidak takut ada wanita lain yang mengambil Pak bos nantinya?" Gita justru menggoda Kayra.
" Tidak ada alasan untuk saya cemburu pada Mas Erlangga, Mbak Gita. Saya sadar diri saja ..." sahut Kayra kembali menepis dugaan Gita.
" Kok bisa tidak cemburu, apa Ibu tidak mencintai Pak bos?" tanya Gita penasaran.
" Mbak Gita sudah tahu ceritanya bagaimana saya menikah dengan bos Mahadika Gautama, kan? Jadi, saya harus menjaga hati saya, Mbak. Biar saya tidak kecewa nantinya."
Dari balik pintunya Erlangga menarik satu sudut bibirnya hingga membentuk seringai tipis.
" Apa benar kamu tidak akan cemburu kepadaku, Kayra? Apa benar kamu belum mempunyai perasaan terhadapku? Kita lihat saja nanti ...."
Flashback off
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1