MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Arina


__ADS_3

Keluarga Mahadika Gautama dan keluarga Nugraha Wijaya berbincang di meja masing-masing, menikmati menu makanan yang disiapkan oleh pihak panitia. Kedua keluarga besar itu seperti hal tamu-tamu undangan lainnya, melakukan perbincangan di sela-sela mereka menikmati menyantap makanan yang tersaji dan menggugah selera di hadapan mereka.


Diiringi dengan suara penyanyi dan musik yang mengiringi, membuat suasana pesta semakin terlihat meriah. Apalagi saat kedua mempelai diminta untuk bernyanyi bersama menghibur para tamu undangan.


Rivaldi sesekali waktu mengedar pandangan untuk mencari keberadaan sosok yang diharapkannya bisa dia temui di pesta ini. Hingga akhirnya pandangannya bertumpu pada sosok wanita cantik yang duduk bersebelahan dengan seorang pria. Kedua pasangan itu tak lain adalah Kayra dan Erlangga.


Kini matanya jelas menangkap sikap Erlangga yang terlihat sedang membelai kepala Kayra dengan penuh rasa sayang. Seketika hatinya merasa terbakar melihat adegan tersebut. Tanpa dia sadari jika sikapnya itu sedang diperhatikan oleh Grace. Grace bahkan mengikuti arah pandangan Rivaldi.


" Nak Rena ini masih kuliah atau sudah bekerja?" Pertanyaan Papa Rivaldi membuat kedua orang yang sedang menatap ke arah Kayra dan Erlangga langsung menoleh ke arah Nugraha yang bertanya kepada Grace.


" Sementara ini aku diperbantukan Papa untuk belajar mengurus perusahaan, Om. Walaupun hanya untuk sementara, karena aku tidak berminat mengelola usaha Papaku." Grace menjawab dengan cepat tanpa terbata. Dia memang bersandiwara. Namun, kenyataannya pun dia enggan, saat diminta oleh Mamanya meneruskan bisnis almarhum Papanya di German. Hingga, Agatha lah yang harus turun tangan pulang-pergi mengurus perusahaan mantan suaminya itu. Grace justru memilih jalan yang salah hingga terjebak dalam kehidupan bebas dan sempat melakukan kejahatan kriminal ingin mencelakai Gavin Richard, mantan suami Mamanya. Karena dia menganggap Gavin hanya memanfaatkan kekayaan Mamanya saja.


" Lho, kenapa kamu tidak berminat meneruskan usaha Papamu, Nak?" tanya Nugraha kembali.


" Aku tidak suka pekerjaan kantoran, Om. Mungkin karena sekarang ini aku masih muda, masih ingin menikmati masa mudaku bersama kawan-kawanku. Mungkin jika aku sudah menikah, biar suamiku saja yang meneruskan usaha Papa, agar aku tidak dipusingkan dengan urusan perusahaan." Jawaban yang sama diberikan oleh Grace, seperti jawaban yang dia berikan kepada Rivaldi, siang tadi.


" Kalau begitu, Nak Rena ini harus teliti mencari calon suami, kalau kamu ingin suami kamu yang mengurus bisnis milik Papamu, Nak. Jangan asal mencari pendamping! Carilah yang benar-benar mencintai kamu, tanpa memandang jika kamu adalah seorang anak pengusaha kaya raya. Jangan sampai kamu terjebak kepada pria yang hanya ingin menguasai harta dan perusahaan Papamu." Nugraha memberikan nasehatnya kepada Grace.


" Iya, Om. Aku juga berpikir seperti itu." Grace setuju dengan nasehat yang diucapkan Papa dari Rivaldi.


" Apa saat ini Nak Rena sudah punya calon pendamping?" Mama Rivaldi berharap jika Grace bisa berjodoh dengan Rivaldi.


" Belum memikirkan hal itu, Tan." sahut Grace.


" Sayang sekali, padahal anak Om juga sedang mencari calon pendamping," celetukan Nugraha, sukses membuat Rivaldi yang masih saja memperhatikan sikap Erlangga terhadap Kayra menoleh ke arahnya.


" Anak Om?" Grace berpura-pura tidak memahami apa yang dimaksud dengan ucapan Nugraha.


" Iya, anak Om." Nugraha menunjuk ke arah Rivaldi dengan gerakan matanya.


" Pa ...!" Rivaldi menegur Papanya karena menganggap orang tuanya itu hendak menjodoh-jodohkan dirinya dengan Grace.


" Uhuk ... uhuukk ..." Tiba-tiba saja Mama Rivaldi terbatuk-batuk.


" Kenapa, Ma?" Nugraha mengusap punggung sang istri, sementara tangan satunya menyodorkan gelas berisi air putih kepada istrinya.


" Mama mau ke toilet dulu sebentar." Mama Rivaldi meminta ijin ke toilet, karena dia merasa tidak nyaman terbatuk-batuk di acara pesta seperti ini.


" Mau aku antar, Tante?" Grace menawarkan diri mengantar Mama Rivaldi ke toilet.


" Tidak usah, Nak. Tidak usah repot-repot. Uhuukk ... uhuukk ..." Mama Rivaldi bangkit dan menolak tawaran dari Grace. Dia pun begegas mencari arah toilet.


" Aku temani Tante ya, Om!?" Grace langsung bangkit menyusul ke arah Mama Rivaldi pergi.


" Kamu lihat, Aldi? Rena begitu cekatan, langsung menemani Mamamu ke toilet tanpa diminta." Nugraha dengan cepat mengomentari sikap peduli Grace terhadap Mama Rivaldi.


" Seharusnya kamu lebih peka melihat itu. Papa lihat dia bukan tipe wanita yang berambisi dengan kemewahan harta orang tuanya. Jika kamu mau memilih dia sebagai istri kamu, Papa sangat mendukung." Sikap Grace yang menurut Nugraha apa adanya, membuat Papa Rivaldi langsung terpikat, hingga mengharapkan jika Grace akan berjodoh dengan putranya itu.


" Pa, sudahlah! Jangan bicara soal itu lagi. Tidak enak jika Rena akan salah paham nantinya." Rivaldi memang tidak ingin Grace berpikiran jika dia sengaja mengenalkannya ke orang tua Rivaldi karena dia memang ingin mendekati wanita itu.


" Lalu apa sebenarnya tujuan kamu mengenalkan Rena kepada kami? Apa hanya sebagai teman menemani pesta saja? Kamu bilang kalau Rena itu anak seorang pengusaha. Kamu jangan mempermainkan anak orang, Aldi. Papa tidak mau nantinya Rena merasa kamu mempermainkan dia, memberikan harapan palsu kepada dia." Nugraha tidak ingin Rivaldi hanya bermain-main saja dengan Grace, sedangkan anaknya itu sudah berani membawa Grace di acara besar seperti pesta pernikahan anak dari Pak Ronald yang merupakan ketua Ikatan Pengusaha itu.

__ADS_1


" Aku rasa Rena tidak akan berpikir seperti itu, Pa. Papa tenang saja. Lagipula, Rena tidak datang kemari bersama Papanya, karena dia tidak ingin banyak orang tahu tentang dia," sahut Rivaldi mencoba meyakinkan Papanya jika Grace bukan wanita yang mudah terbawa perasaan.


Sementara di meja tempat keluarga Mahadika Gutama berkumpul, Kayra yang tidak tahan untuk buang air kecil segera berpamitan ingin ke toilet.


" Mas, aku mau pipis." Kayra berbisik kepada suaminya.


" Kamu mau ke toilet? Ayo, aku antar." Erlangga langsung bangkit dan membantu Kayra bangkit dari kursinya.


" Ada apa, Lang? Kalian mau ke mana?" tanya Krisna yang tidak mendengar percakapan Erlangga, karena ruangan yang terlalu ramai.


" Aku mau mengantar Kayra ke toilet, Pa." Erlangga memberikan alasan, sehingga membuat Krisna dapat memahami.


Erlangga lalu mengantar Kayra mencarikan kamar kecil yang ada di convention hall tersebut.


Di ruang toilet yang berada di sisi sebelah kiri convention hall tersebut, Mama Rivaldi tiba lebih dahulu. Ketika Mama Rivaldi masuk ke dalam toilet, dia mendengar dua orang wanita yang sedang berbincang sambil menata kembali riasan wajah mereka.


" Eh, Sis. Tadi lihat tidak, wanita yang dibawa oleh bos Mahadika Gautama? Suamiku bilang, katanya wanita itu istri mudanya bos Mahadika itu." Salah satu wanita yang sedang berbincang itu memulai bergosip soal Kayra dan Erlangga.


Mama Rivaldi yang berjalan menghampiri partisi toilet sempat menoleh ke arah kedua orang yang sedang berbincang di dekat wastafel. Saat wanita itu menyebut nama Mahadika Gautama, dia bahkan sengaja memperlambat langkahnya untuk memperjelas pendengarannya.


" Yang mana? Aku tidak melihat. Bos Mahadika itu yang punya istri model bukan, ya?" tanya wanita lainnya.


" Iya, benar. Sudah punya istri cantik, seorang model terkenal, masih saja selingkuh dengan wanita yang ... biasa saja kalau aku lihat orangnya." Wanita yang pertama menghembuskan gosip menyahuti. " Kita harus hati-hati terhadap suami-suami kita, Sis. Kita cantik, rajin perawatan wajah, kulit dan tubuh, ternyata tidak menjamin suami-suami kita tetap setia kepada kita," lanjutnya.


" Mahadika Gautama? Apakah yang mereka maksud itu adalah Erlangga? Apa dia ada di sini? Ya Tuhan, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Erlangga ..." gumam Arina, Mama Rivaldi. Ingatannya seketika terbang ke puluhan tahun silam, saat dia masih menjadi pengasuh anak dari keluarga Krisna Mahadika Gautama.


Flashback on


Sus Rina hanya tersenyum getir mendengar ucapan Erlangga. Jika saja dia mengalami kehamilan yang normal selayaknya wanita yang mempunyai suami, mungkin dia akan merasa bahagia. Namun, karena kehamilannya saat ini karena hasil perbuatan adik sepupu dari istri majikannya, yang tidak mau bertanggung jawab, rasanya pedih yang ada di hati Sus Rina saat ini.


Beruntung Krisna sebagai majikan tempatnya bekerja, mau berbesar hati dan berniat mengangkat anak yang dikandungnya jika bayinya terlahir nanti. Sus Rina tidak dapat menolak keputusan Krisna tersebut, karena dia sendiri bingung harus mengurus dan menghidupi anaknya, sementara dia sendiri tidak punya sanak saudara. Dia yang dibesarkan di panti, tidak tahu asal usul keluarganya sendiri, hingga dia tidak tahu harus meminta bantuan siapa jika dia menolak tawaran Krisna.


" Papa Elang bilang begitu?" Sus Rina mengusap kepala Erlangga kecil.


" Iya, Cus. Kata Papa, nanti kalau adik bayi Cus lahir, Elang harus sayang sama adik bayinya Cus. harus sama sayangnya seperti ke adik bayi dari Mama." Kembali Erlangga kecil berujar dengan pintarnya.


Flashback off


" Kamu pasti sudah menjadi pria yang sukses sekarang ini, Elang." gumam Arina seraya menghela nafas panjang. Dia menoleh ke arah dua orang yang bergunjing tadi. Namun, tak dia temui lagi mereka di sana. Sehingga membuat Arina langsung masuk ke dalam salah satu partisi toilet.


Ketika Arina masuk ke dalam salah satu partisi toilet. Kayra pun masuk ke dalam ruangan toilet meninggalkan Erlangga yang menunggu di luar. Di tempat yang sama dengan Grace menunggu Arina.


Erlangga dan Grace saling pandang saat mereka sama-sama menunggu di depan toilet. Grace menganggukkan kepala, yang dibalas oleh Erlangga, seakan Erlangga memahami maksud dari anggukkan kepala Grace.


Ddrrtt ddrrtt


Erlangga langsung mengambil ponsel di saku dalam blazernya. Dia mendapatkan satu pesan masuk dari Bondan. Erlangga lalu membaca pesan yang dikirimkan oleh Bondan.


" Selamat malam, Tuan. Pak Satria baru saja tiba di tempat resepsi. Anda harus berhati-hati, jangan sampai Rivaldi melihat keberadaan Pak Satria." Pesan itulah yang dikirimkan Bondan kepada Erlangga.


" Oke, terima kasih, Pak Bondan." Dengan cepat Erlangga membalas pesan masuk dari Bondan. Setelah itu dia kembali menoleh dan berjalan mendekat ke arah Grace.

__ADS_1


" Pak Satria sudah tiba, nanti saat saya berbicara dengan beliau, kamu mendekatlah agar mereka percaya jika kau adalah anak dari Pak Satria," ujar Erlangga kepada Grace. Erlangga tahu, pasti Grace sudah ditunjukkan foto Satria oleh Rizal, hingga Grace pasti bisa mengenali Satria.


" Tapi, bagaimana jika dia mengikuti dan ingin berjumpa dengan Pak Satria?" Grace khawatir jika Rivaldi ternyata ingin bertemu langsung dengan Satria.


" Selama Pak Satria bersama saya, saya yakin dia tidak akan berani mendekati Pak Satria." Erlangga begitu yakin dengan dugaannya. Membuat Grace akhirnya mengangguk mengerti.


Di dalam toilet sendiri, Kayra baru saja selesai buang air kecil. Namun, pandangannya kini terarah kepada seorang wanita paruh baya yang sedang berbatuk di depan watafel.


" Ibu, Ibu tidak apa-apa?" Kayra bisa saja meninggalkan ruangan toilet itu. Tapi, sepertinya ada sesuatu dorongan yang membuat Kayra mendekat ke arah wanita yang tak lain adalah Arina itu.


Mendengar seseorang mengajaknya bicara, Arina langsung menolehkan pandangan ke arah suara Kayra. Hingga kini kedua wanita itu saling pandang seakan tertegun untuk beberapa saat.


" Apa Ibu sakit?" Kayra memecah keheningan karena mereka berdua sama-sama saling terkesima.


" Ah, tidak, Nak. Tadi saya hanya tersedak saja. Rasanya gatal sekali tenggorokan ini kalau tersedak." Arina menjawab pertanyaan Kayra dengan menatap Kayra lekat.


" Sayang, Kayra ...! Apa kamu sudah selesai di dalam?" Suara Erlangga dari luar ruangan toilet membuat Kayra menoleh ke arah pintu masuk.


" Ibu, ibu yakin tidak apa-apa? Kalau Ibu tidak apa-apa, saya tinggal ya, Bu! Suami saya sudah menunggu di luar." Kayra ingin segera keluar karena Erlangga sudah mencarinya.


" I-iya, Nak. Saya tidak apa-apa." Entah mengapa, Arina merasa senang dengan perhatian kecil yang diberikan oleh Kayra terhadapnya.


" Tante, Tante masih batuk-batuk?" Grace yang semenjak tadi menunggu di luar pun masuk ke dalam toilet.


" Tidak apa-apa, Nak. Tante tidak apa-apa, kok." sahut Arina.


" Saya permisi dulu ya. Bu!?" Melihat sudah ada yang menemani Arina, Kayra pun akhirnya berpamitan kepada Arina.


" Baik, Nak. Terima kasih." sahut Arina. Pertemuan dengan Kayra terasa begitu berkesan untuk Arina. Berbincang dan mendengarkan suara lembut Kayra membuat hatinya damai,, padahal dia baru pertama bertemu dengan Kayra.


" Sayang, kenapa kamu lama sekali?" Ketika sampai di luar toilet, Erlangga sudah menyambut Kayra dengan pertanyaan.


" Maaf, Mas. Tadi ada seorang Ibu yang terbatuk. Aku takut jika dia sakit, makanya aku tadi mendekati Ibu itu." Kayra menjelaskan kepada Elangga, alasannya agak lama berada di dalam toilet.


" Ya sudah, kita kembali ke meja sekarang." Erlangga melingkarkan tangannya di pinggang Kayra, karena dia ingin segera menjauhkan Satria dari Rivaldi.


" Kenapa kalian lama sekali, sih? Papa mencarimu, ada relasi bisnis Mahadika yang ingin bertemu denganmu, Erlangga!" Suara Helen yang berjalan mendekat tiba-tiba terdengar.


" Ibu Helen?" Arina yang baru saja keluar dari pintu ruangan toilet tersentak kaget saat dia melihat kemunculan Helen, mantan majikan dia bekerja sebagai pengasuh Erlangga dulu.


*


*


*


Bersambung ....


Terima kasih banyak untuk readers Cinderella & Pangeran Erlangga. Yuk, dukung terus Novel ini, kasih like, komen, gift & vote. Biar tetap berada di level atas dan membawa Othornya naik tingkat ke level yg lebih tinggi. Hanya tinggal sekitar 90 poin lagi akan membawa Othor berganti plakat. Yuk dukung selalu Kayra & Erlangga, ya. Hatur nuhun🙏🙏🙏🥰🥰


__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2