
Satu bulan kemudian
" Bagaimana, Dok? Apa istri saya sudah akan melahirkan?" satu minggu jelang HPL, Erlangga membawa Kayra ke rumah sakit untuk diperiksa oleh dokter kandungan, karena sejak pagi tadi istrinya itu mengeluh sakit perut, ditambah sudah keluar flek di celananya selepas Sholah Shubuh.
Takut jika istrinya itu akan segera melahirkan saat itu juga, Erlangga sampai senewen dan membawa istrinya itu segera ke rumah sakit. Meskipun Ibu Sari sudah mengatakan hal itu adalah hal yang wajar terjadi beberapa hari sebelum persalinan, nyatanya Erlangga tetap membawa Kayra ke rumah sakit dengan segala perlengkapan ibu melahirkan dan pakaian untuk sang bayi.
Erlangga bahkan masih memakai piyama tidurnya sepanjang lutut saking grogi dan takut anaknya keburu keluar sebelum sampai di rumah sakit.
" Posisi adik bayi sudah bagus tapi belum ada tanda-tanda akan keluar dalam satu dua hari ini, Tapi, kemungkinan lebih cepat dari perkiraan satu Minggu ke depan," jelas Dokter Amanda.
" Tapi, istri saya merasakan perutnya kram seperti ingin melahirkan dan keluar flek. Itu kenapa, Dok?" Erlangga benar-benar cemas jika kehamilan istrinya itu mengalami sesuatu yang buruk.
" Yang dialami Ibu Kayra itu kontraksi palsu, Kontraksi palsu pada Ibu hamil itu suatu hal yang sering terjadi. Tapi, tidak perlu khawatir, Pak Erlangga. Meskipun membuat Ibu hamil tidak nyaman, tetapi kontraksi palsu juga bermanfaat untuk mengencangkan otot rahim, sekaligus melancarkan aliran darah ke plasenta. Mungkin kontraksi palsu memang tidak dapat membantu melebarkan leher rahim. Namun, kontraksi palsu ini bisa membantu serviks menjadi lebih lunak dan menipis sebagai cara untuk menyambut kelahiran nantinya." Dokter Amanda kembali menjelaskan.
" Interval rasa sakit di perutnya juga tidak terlalu sering 'kan, Bu Kayra?" tanya Dokter Amanda.
" Iya, Dok. Sekarang tidak terasa sakit. Tapi, selepas Shubuh tadi rasanya seperti ingin melahirkan," jawab Kayra.
" Untuk mengatasi kontraksi palsu bisa melakukan aktivitas ringan lebih banyak seperti berjalan. Memperbanyak waktu istirahat. Minum su su atau teh hangat. Berendam dengan menggunakan air hangat juga bagus agar tubuh cukup rileks." Dokter Amanda memberikan beberapa saran yang harus dilakukan oleh Kayra.
" Lalu, apa saya harus menginap di sini sekarang, Dok? Kalau memang kemungkinan saya tidak akan melahirkan dalam waktu satu atau dua hari ini, sebaiknya saya pulang saja ya, Dok?" Kayra tidak ingin terlalu lama berada di rumah sakit tentunya. Bagaimanapun juga di rumah lebih nyaman baginya.
" Tapi, Sayang ... bagaimana jika kamu merasakan seperti ini lagi?" Erlangga tidak setuju dengan keinginan istrinya. " Kalau kamu di sini, jika terasa seperti tadi lagi, bisa langsung ditangani oleh dokter," lanjutnya.
" Mas, tadi dokter 'kan sudah kasih tahu apa yang harus dilakukan jika mengalami kontraksi palsu lagi ..." Kayra menepuk lengan suaminya mencoba menenangkan suaminya yang terlihat senewen.
" Apa yang dikatakan Ibu Kayra benar, Pak Erlangga. Lebih nyaman beristirahat di rumah daripada menginap di rumah sakit beberapa hari di sini sebelum melahirkan. Pak Erlangga dan Ibu Kayra bisa melakukan hubungan suami istri untuk membantu jalan lahir si bayi ini." Seraya tersenyum Dokter Amanda menyarankan hal yang banyak dilakukan pasangan suami istri jika sang istri sedang hamil besar untuk membantu mempercepat proses persalinan.
Apa yang dikatakan Dokter Amanda membuat wajah Kayra merona, dia bahkan tersipu malu mendengar sang dokter membahas soal hubungan suami istri. Berbeda dengan Erlangga yang menyeringai diingatkan soal aktivitas itu.
" Tapi, apa itu benar aman dilakukan, Dok?" Dia justru terus membahasnya.
" Aman, tapi sebaiknya pasangan bisa mengendalikan has rat sek sualnya. Untuk suami agar tidak melakukan penetrasi terlalu cepat atau terlalu dalam. Biasanya, ibu yang sedang hamil tua tidak merasa nyaman dengan penetrasi yang terlalu dalam." Kembali Dokter Amanda menerangkan.
" Dan untuk gaya bercinta, gunakan yang aman untuk Ibu hamil ya!" sambungnya kemudian kembali dengan tersenyum.
" Gaya apa yang aman untuk istri saya, Dok?" Tanpa ada rasa malu dan canggung, Erlangga bertanya kepada Dokter Amanda.
" Mas ...!" Karya langsung mencubit paha Erlangga karena suami itu masih saja membahas soal hubungan in tim dengan Dokter Amanda.
" Untuk itu, Pak Erlangga bisa cari informasi soal itu di internet. Banyak rekomendasi gaya yang bisa dipakai. Tapi, mesti diingat juga, dilakukan saat Ibu Kayra dalam keadaan nyaman, tidak sedang mengalami keluhan." Melihat Kayra memprotes, Dokter Amanda menyuruh Erlangga mencari informasi via internet.
" Kalau begitu, kami permisi pulang dulu, Dok." Kayra langsung berpamitan kepada Dokter Amanda. Dia tidak ingin suaminya terus menerus bertanya soal aktivitas suami istri.
" Baik, Bu Kayra. Semoga sehat-sehat selalu Ibu Kayra dan calon baby nya ini ya!?" Dokter Amanda mengusap perut Kayra yang sudah semakin membesar.
" Aamiin, Dok." sahut Kayra dan Erlangga berbarengan.
***
" Sayang, ini su sunya." Jelang tidur, Erlangga menyodorkan segelas su su hamil kepada Kayra yang duduk di tempat tidur menonton acara televisi.
" Terima kasih, Mas." Kayra menerima gelas su su itu lalu meneguknya sampai tak tersisa, kemudian menyerahkan gelas itu kembali kepada suaminya.
* Sayang, apa kamu tidak merasakan sakit seperti kemarin pagi lagi?" tanya Erlangga setelah menaruh gelas di atas nakas lalu duduk di samping istrinya.
" Alhamdulillah sudah tidak, Mas." jawab Kayra tanpa merasa curiga dengan pertanyaan suaminya.
" Kalau kamu tidak merasa sakit, bagaimana kalau kita melakukannya? Sebagai Papa yang baik, aku ingin menuntun anak kita ke jalan yang benar," seloroh Erlangga seraya memainkan alisnya turun naik.
Kayra menoleh ke arah Erlangga mendengar suaminya itu mengatakan hal tersebut. Dan dia mendapati tatapan me sum sang suami terhadapnya.
" Maksud, Mas?" Kali ini Kayra paham apa yang diinginkan oleh sang suami. Namun, dia berpura-pura tidak mengerti.
" Maksudku, kita lakukan hubungan suami istri sekarang!" Erlangga langsung menjatuhkan tubuh Kayra dan menciumi leher Kayra membuat Kayra tertawa geli.
" Ya ampun, Mas. Jangan kasar, deh!" protes dilakukan Kayra sambil tertawa.
" Kamu ingin pakai gaya apa, Sayang? Side by side? Edge of the bed? Women On Top? Spooning? Reverse Cowgirl? Atau On The Chair?" Erlangga menyebutkan beberapa gaya yang sering dia mereka lakukan saat bercinta.
Kayra mengerutkan keningnya mendengar istilah-istilah yang disebutkan oleh sang suami. Dari deretan istilah itu hanya Women On Top yang dia ketahui, walaupun yang lainnya sering mereka lakukan. Namun, dia tidak mengenal istilah-istilahnya.
" Hmmm, yang nyaman saja deh, Mas. Yang tidak membuat aku lelah ..." Kayra menyerahkan pilihan kepada sang suami.
" Pakai yang spooning saja ya?" Erlangga minta persetujuan sang istri.
" Spooning itu yang gimana, Mas?" tanya Kayra kemudian.
__ADS_1
Erlangga terkekeh, dia lalu mendorong tubuh sang istri agar berposisi membelakanginya, kemudian dia memeluk tubuh Kayra dari belakang.
" Seperti ini, Sayang." bisik Erlangga seraya menciumi ceruk sang istri melakukan pemanasan terlebih dahulu, sebelum mereka melakukan gerakan inti percintaan mereka.
" Seperti ini nyaman, kan?" tanya Erlangga setelah mereka menyelesaikan pemanasan dan Erlangga sudah mulai melakukan penyatuan dengan istrinya. Dia bergerak perlahan dan tidak terlalu dalam sesuai anjuran Dokter.
Kayra hanya mengangguk, dia hanya berkonsentrasi pada rasa nikmat yang dia dapatkan dengan penyatuan mereka.
" Mau ganti gaya lain?" tanya Erlangga kembali.
Kayra menggelengkan kepalanya. Baginya dalam kondisi hamil cukup besar seperti ini, tidak terlalu berminat berganti-ganti gaya bercinta.
" Aku mencintaimu, Kayra." bisikan Erlangga di telinga Kayra membuat Kayra menoleh ke belakang menatap wajah sang suami yang begitu tampan di matanya.
Kayra hanya tersenyum dan mengangguk seraya mengusap dan menarik wajah suaminya meminta untuk berciuman membuat percintaan mereka terasa begitu hangat.
***
" Mas, Mas, perutku kambuh lagi, deh. Ini sakit sekali ... ssshhh ..." Selepas sarapan dan saat hendak kembali ke kamar. Kayra merasakan kontraksi kembali. Namun, rasa sakit yang dirasakan kali ini berlipat-lipat dari yang dia rasakan kemarin-kemarin.
" Kamu mau melahirkan, Sayang?" Erlangga memegangi tubuh Kayra yang hampir terjatuh karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Erlangga segera mengangkat tubuh Kayra dengan kedua lengannya. Dia segera menuruni anak tangga dengan berteriak.
" Ma! Bu ...! Kayra ingin melahirkan!!"
Sejak kemarin, Helen dan Arina memang sudah menginap di rumah Erlangga ketika mendengar Kayra mengalami kontraksi palsu.
" Nyonya mau melahirkan, Tuan?" Atik yang kebetulan sedang melintas di ruang tamu menyahuti teriakan Erlangga.
" Atik, suruh Pak Koko siapkan mobil. Ambil tas pakaian Kayra di kamar!" perintah Erlangga.
" Baik, Tuan." Atik berlari memanggil Koko untuk menyiapkan mobil ke rumah sakit.
" Kayra mau melahirkan, Lang?"
" Sudah terasa kontraksi lagi, Nak?"
" Kayra sudah mau melahirkan?"
Helen, Ibu Sari dan Arina yang muncul bersamaan bertanya bergantian.
" Pakaiannya sudah diturunkan?" tanya Ibu Sari mengingatkan.
" Masih di kamar, Bu." jawab Erlangga.
" Biar Mama ambil saja." Arina bergegas ke kamar Erlangga untuk mengambil tas berisi pakaian ganti dan juga pakaian bayi.
" Pak Samsul! Atik, mana Pak Samsul? Suruh siapkan mobil juga!" Helen yang ingin ikut mengantar menyuruh Atik memanggilkan supir pribadinya.
" Naik mobil aku saja, Ma! Masih cukup, kok." Erlangga menyuruh Mamanya untuk ikut bergabung di mobilnya.
" Tidak usah kalau begitu, Tik." ujar Helen kepada Atik.
Tak lama mobil yang dikendarai Koko sudah berada tepat di teras rumah. Ibu Sari dengan cepat membukakan pintu mobil untuk Kayra dan Erlangga.
" Mama duduk di depan saja!" Erlangga meminta Helen duduk di kursi depan.
" Nanti Ibu dan Mama Arina di belakang saja ya!?" Erlangga mengatur posisi duduk Mama dan kedua mama mertuanya.
Setelah Arina muncul membawa tas keperluan melahirkan Kayra, mobil yang dikendarai Koko pun meluncur meninggalkan rumah kediaman Erlangga menuju rumah sakit.
" Sssshhh ... sakit, Mas." Dalam pelukan suaminya Kayra mengeluhkan perutnya yang kembali merasakan dorongan kuat.
" Sabar, Sayang. Kita sedang menuju rumah sakit." Erlangga memeluk erat pundak Kayra seraya menciumi kening dan pucuk kepala Kayra.
Sementara dari kursi belakang, Ibu Sari dan Arina mengusap bagian belakang pinggang Kayra. Arina yang pernah mengalami beberapa kali melahirkan pernah merasakan bagian mana yang saat ini sedang dirasakan oleh Kayra.
" Atur nafasnya, Kayra. Tarik nafas dan keluarkan perlahan. Jangan lupa beristighfar, berdoa agar persalinanmu nanti dilancarkan." Ibu Sari menyemangati Kayra.
Kayra mendengarkan dan menjalani apa yang dinasehatkan suami dan orang tua serta mertuanya, sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
Erlangga bertindak cepat meminta pelayanan untuk istrinya itu setelah turun dari mobil, hingga kini Kayra sudah berada di ruang persalinan dan ditangani oleh Dokter Amanda.
" Wah, adik bayinya sudah tidak sabar ingin bertemu Papa Mamanya ya?" Dokter Amanda bercanda untuk menyurutkan ketegangan yang dirasakan oleh Kayra dan Erlangga di ruang persalinan itu.
" Bagaimana, Dok? Kali ini istri saya benar-benar ingin melahirkan, kan?" tanya Erlangga.
" Sudah pembukaan tiga. Jika Bu Kayra kuat berjalan, tidak apa berjalan untuk mempercepat pembukaan mulut rahim dan mempercepat bayi lahir." Dokter Amanda menyarankan agar Kayra bergerak untuk membantu pembukaan jalan bayi.
__ADS_1
" Yang benar saja, Dok! Istri saya ini sedang kesakitan, masa disuruh berjalan!" Erlangga membentak Dokter Amanda.
" Mas, jangan begitu ..." Kayra mencoba menenangkan Erlangga yang memarahi Dokter Amanda.
" Jika Ibu Kayra kuat untuk berjalan, justru itu bisa mempercepat persalinan dan membuat Ibu Kayra terbebas dari rasa sakit seperti ini lebih lama." Tak terpengaruh dengan nada tinggi yang dikeluarkan oleh Erlangga, Dokter Amanda kembali menerangkan manfaat bergerak saat ingin melahirkan.
" Bantu aku berdiri, Mas." Kayra meminta Erlangga membantunya berdiri, karena dia ingin melakukan apa yang disarankan oleh Dokter Amanda.
" Tapi, Sayang ..." Erlangga keberatan dengan permintaan Kayra.
" Aku tidak apa-apa kok, Mas." ucap Kayra.
" Kalau begitu saya tinggal dulu ya, Bu Kayra." Dokter Amanda berpamitan kepada Kayra untuk meninggalkan ruang persalinan.
" Kenapa ditinggal, Dok? Kenapa Dokter tidak menemani istri saya dulu sampai melahirkan!?" protes Erlangga kembali.
" Baru beberapa jam ke depan Ibu Kayra akan melahirkan, Pak Erlangga. Jika saya di sini, mungkin akan kurang nyaman untuk Pak Erlangga dan Ibu Kayra di sini. Saya permisi dulu ..." Sembari tersenyum Dokter Amanda keluar ruang persalinan.
" Dasar aneh! Orang sedang kesakitan malah disuruh jalan. Bukannya menunggu pasien malah ditinggal!" Sepeninggal Dokter Amanda, Erlangga langsung menggerutu.
" Mas, jangan marah-marah seperti itu, dong! Tidak enak dengan Bu dokter." Kayra menegur suaminya.
" Kayra ..." Ibu Sari, Arina dan Helen masuk ke dalam ruang persalinan ketika melihat dokter yang menanggani Kayra keluar dari kamar persalinan.
" Bagaimana, Nak?" tanya Ibu Sari.
" Baru pembukaan tiga, Bu." lirih Kayra menahan seluruh tulang panggulnya seperti remuk.
" Biar Mama bantu, Lang." Arina meminta bergantian menuntun Kayra berjalan.
" Tidak usah, Ma. Biar aku saja." Erlangga menolak, karena dia ingin berperan penting dalam membantu persalinan istrinya.
" Teh manisnya diminum dulu, Kayra." Ibu Sari mengambil segelas air teh manis hangat yang telah disediakan oleh perawat. " Kamu pasti akan membutuhkan energi saat melahirkan nanti."
" Aku mau duduk dulu, Mas. Mau minum ..." Kayra meminta suaminya membawanya ke tepi tempat tidur karena dia ingin minum teh manis hangat.
Setelah meneguk teh manis hangat, Kayra kembali berjalan, jika sakitnya kembali menguat, dia berhenti dan bersandar pada tubuh Erlangga seraya memeluk kencang tubuh sang suami. Erlangga sendiri sampai tidak tega melihat istrinya tersiksa seperti saat ini.
" Istirahat dulu juga sudah terasa sakit, Kayra." Helen pun memberikan nasehat kepada Kayra.
" Iya, Ma." sahut Kayra. Walau sedang merasakan sakit, Kayra masih menjawab setiap ucapan yang ditujukan kepadanya.
" Bu, aku mau toilet." Saat merasakan sesuatu di perutnya seperti ingin buang air besar, Kayra menoleh ke arah Ibu Sari.
" Kamu mau ke toilet? Biar aku yang antar." Erlangga langsung menggendong tubuh Kayra.
" Mas, biar Ibu sama Mama saja yang antar aku." Merasa ingin buang air besar, Kayra justru ingin ditemani kedua ibunya.
" Aku ini suamimu, Sayang. Memangnya kenapa jika aku mengantarmu ke toilet? Bukankah kita sering berada di kamar mandi berduan?"
Ucapan Erlangga membuat Helen dan kedua Ibu mertuanya menahan senyuman Sementara Kayra langsung membelalak. Namun, Erlangga tidak memperdulikan, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Ibu Sari dan Arina mengikuti dari belakang.
" Mas, Mas keluar saja. Biar Ibu sama Mama saja. Aku mau BAB." Kayra mengusir Erlangga dari kamar mandi.
" Tapi, Sayang ...."
" Kamu sebaiknya menunggu di luar saja, Lang. Nanti kalau sudah selesai kamu yang bawa Kayra keluar." Arina meminta menantunya itu menuruti Kayra.
Erlangga terpaksa mengikuti permintaan istrinya. Dia memilih menunggu di luar pintu toilet. Setelah Kayra selesai di dalam toilet, Erlangga kemudian membawa istrinya itu kembali ke atas brankar.
Satu jam kemudian, Kayra sudah siap melakukan persalinan karena pembukaannya sudah lengkap, dan Dokter Amanda siap membantu persalinan wanita cantik itu.
" Wah, baby nya hebat, nih. Sudah tidak mau Mamanya sakit lama-lama." Setelah mengecek pembukaan mulut rahim Kayra sudah sempurna, Dokter Amanda mulai mengarahkan Kayra agar mengikuti apa yang diperintahkan olehnya.
" Siap ya, Bu Kayra? Ikuti apa yang saya anjurkan. Jangan mengejan sebelum saya perintahkan. Atur nafasnya perlahan-lahan. Jangan angkat panggulnya ya, Bu." ucap Dokter Amanda kembali.
Kayra hanya mengangguk, karena saat ini tulang-tulang dibagian panggulnya seperti sedang dipatahkan. Erlangga memperhatikan istrinya yang sedang kesakitan seraya memeluknya dari belakang. Dia mengusap peluh yang menetes di kening Kayra. Dia juga tidak memperdulikan tangannya yang sakit tertancap kuku sang istri. Karena dia tahu apa yang dirasakan istrinya saat ini lebih sakit berlipat-lipat dari rasa sakit yang dia rasakan. Perjuangan istrinya untuk melahirkan anak mereka benar-benar membuat hatinya tercubit.
" Aku yakin kamu akan bisa melewati ini, Sayang. Kamu wanita hebat ..." Erlangga mengecup kening dan pucuk kepala Kayra seolah menyalurkan energi agar istrinya itu lebih kuat.
" Tarik nafas ... hembuskan perlahan ... jangan mengejan dulu ... tahan ... push sekarang." Dokter Amanda akhirnya memberi perintah Kayra untuk mengejan.
Dorongan kuat yang dirasakan oleh Kayra membuat wanita itu akhirnya mengejan tepat setelah diperintah Dokter Amanda.
" Eeeegggghhhh ...!!"
" Oek ... oek ... oek ..." suara kencang bayi terdengar seketika
__ADS_1