
" Siang, Pak Aldi." Beberapa karyawan menyapa Rivaldi yang baru saja melewati mereka saat masuk ke dalam kantin di kantor Mahadika Gautama.
" Siang ..." Dengan tersenyum Rivaldi membalas sapaan beberapa karyawan wanita. Rivaldi memang sangat populer di kantor Mahadika Gautama, karena selain berwajah tampan, dia juga masih berstatus single. Tak sedikit karyawan wanita yang mencoba mencari-cari kesempatan untuk bisa mendekati Rivaldi
" Eh, benar atau tidak kalau Pak Aldi itu sedang mendekati sekretarisnya Pak bos? Kemarin aku dengar selentingan begitu dari anak divisi umum." Rani, karyawan yang pernah berbincang beberapa waktu lalu di kantin itu mulai membahas soal Rivaldi dan Kayra.
" Memang anak bagian umum menggosipkan apa?" tanya Gita, temannya menanggapi pertanyaan Rani.
" Katanya Pak Aldi main ke rumahnya Mbak Kayra. Pasti bukan karena ada urusan pekerjaan, kan? Sampai main ke rumah." Rani merasakan kejanggalan dengan kunjungan Rivaldi ke rumah Kayra.
" Mereka tahu dari mana kalau Pak Aldi main ke rumah Mbak Kayra?" tanya Gita kemudian.s
" Pak Aldi sendiri yang bilang dan anak-anak bagian umum mendengar waktu Pak Aldi bicara dengan sekretaris Pak bos kita. Dan tadi pagi waktu aku mampir ke mini market, aku lihat mobil Pak Aldi berhenti di tengah jalan, di sana juga ada Mbak Kayra sama pria lain yang aku tidak kenal, tapi pria itu bawa mobil mewah juga, loh." Rani menceritakan apa yang dia liat dan dengar.
" Memang kenapa kalau Pak Aldi ada di sana?" Gita merasa tidak ada yang aneh dengan hal yang disebutkan oleh Rani.
" Kamu tidak paham maksudnya, Git? Itu bisa saja berarti pria yang bersama Mbak Kayra sedang mendekati Mbak Kayra juga. Masalahnya Mbak Kayra langsung berlari meninggalkan Pak Aldi dan pria itu. Mencurigakan sekali, kan? Jangan-jangan mereka sedang bersaing untuk mendapatkan Mbak Kayra. " Rani mengungkapkan rasa curiganya.
" Mbak Kayra itu cantik, sekretaris bos, wajar jika banyak pria yang mendekati dia," sahut Gita memaklumi.
" Iya benar, cantik banyak pria yang mendekati dan bisa mendekati pria lain yang sudah beristri apalagi atasannya sendiri."
Suara seseorang wanita di samping Gita dan Rani yang sejak tadi mendengarkan obrolan Antara Gita dan Rani membuat kedua orang itu menoleh ke arah wanita tadi yang menyeletuk.
" Maksudnya siapa, Mbak?" tanya Gita.
" Siapa lagi kalau bukan sekretarisnya Pak Erlangga," sahut wanita itu.
" Maksudnya Mbak Kayra? Memangnya siapa pria beristri yang sedang didekati Mbak Kayra? Pak Bos?" Mendengar informasi baru dari wanita tadi Rani langsung berasumsi jika Erlangga lah pria beristri yang sedang didekati Kayra. Apalagi wanita tersebut menyebut kata atasannya sendiri.
" Hati-hati kalau bicara, Ran. Kalau ketahuan menggosipkan Pak bos bisa kena pecat kamu nanti!" Gita memperingatkan Rani agar lebih hati-hati dalam berbicara.
" Bukan Pak bos tapi assistennya Pak bos," bisik wanita yang tidak lain adalah Rita, karyawati divisi marketing yang kemarin sore menjumpai Kayra menangis di ruangan Wira.
" Pak Wira maksudnya, Mbak?" Gita dan Rani sama-sama terbelalak mendengar Rita menyebut asisten dari Erlangga walaupun tidak spesifik menyebutkan nama.
" Mbak ini tahu dari mana?" Gita dia tidak mengerti kenapa Rita berani menghembuskan gosip seperti itu.
" Kemarin sebelum pulang kantor, aku disuruh antar laporan ke ruangan Pak Wira. di sana ada sekretarisnya Pak bos sedang menangis. Lebih aneh mana sama yang Mbak ceritakan tadi coba?" Rita membandingkan ceritanya dengan cerita yang disebutkan Rani tadi.
" Kenapa Mbak Kayra menangis?" tanya Rani penasaran.
" Mana aku tahu!" Rita mengedikkan bahunya. " Kalian kira-kira sendiri saja kenapa sekretaris bos itu menangis. Banyak kemungkinannya, sih. Mungkin saja karena hamil dan minta pertanggungjawaban dari Pak Wira," lanjut Rita berpikiran negatif dengan apa yang dia lihat kemarin.
" Astaga, jangan berprasangka buruk seperti itu, Mbak. Aku rasa Mbak Kayra tidak mungkin seburuk itu." Gita menepis tudingan Rita yang menurutnya terlalu berlebihan.
" Aku 'kan tadi bilang mungkin saja, Mbak. Bisa iya bisa juga tidak, kan?" sahut Rita menampik dituding berprasangka buruk terhadap Kayra
" Sudahlah, jangan bergosip apalagi di lingkungan kantor. Kalau sampai terdengar dan tersebar bisa bahaya, lho!" Gita tidak ingin terus membicarakan hal yang tidak penting menurutnya, apalagi sampai menggosipkan seseorang yang merupakan sosok penting di perusahaan mereka bekerja.
***
" Cepatlah berkemas, kita pulang sekarang!"
Kayra baru saja selesai melaksanakan sholat Ashar saat Erlangga tiba-tiba keluar dari ruangannya dengan menenteng tas kerja di tangannya.
Kayra melirik jam di dinding. Saat ini baru menunjukkan pukul setengah empat petang.
" Sekarang, Pak?" tanyanya kemudian.
" Iya, cepatlah!" Erlangga kemudian duduk di sofa menunggu Kayra bersiap-siap, sedangkan dia sendiri segera menghubungi Koko dengan ponselnya.
__ADS_1
" Kamu tidak usah menjemput Kayra. Kayra akan pulang dengan saya." Erlangga memberi perintah kepada Koko untuk tidak menjemput Kayra sore ini. Setelah itu Erlangga langsung mematikan sambungan ponselnya.
Kayra melirik Erlangga saat mendengar suaminya itu memerintahkan Koko untuk tidak menjemputnya. Kayra mende sah, sepertinya Erlangga benar-benar akan melaksanakan aksinya sore ini, padahal Kayra sendiri belum siap melakukan hal itu dengan Erlangga.
" Sudah selesai?" tanya Erlangga saat melihat Kayra sudah menyampirkan tas di punggungnya.
" Sudah, Pak." jawab Kayra.
Erlangga lalu bangkit dan berjalan ke arah lift dengan Kayra mengikuti di belakangnya.
Di dalam lift, Kayra memilih berdiri agak ke belakang dari posisi Erlangga berdiri, hingga dia bisa menatap punggung tegap Erlangga. Kayra sendiri tidak pernah menduga jika pria yang berstatus sebagai bosnya itu saat ini menjadi suaminya walaupun melalui pernikahan siri.
Dalam perjalanan pulang Kayra terus berpikir mencari cara yang tepat agar dirinya bisa terhindar dari rencana suaminya itu sampai memijat pelipisnya.
" Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Erlangga melirik ke arah Kayra, karena dia melihat Kayra berkali-kali memijat pelipisnya.
Kayra mendengus mendengar pertanyaan Erlangga. Pria yang berstatus suaminya itu benar-benar tidak peka dengan perasaannya yang tidak nyaman berstatus sebagai istri simpanan pria itu.
" Saya hanya tak habis pikir, kenapa Bapak membawa saya ke posisi sulit seperti ini? Bapak sudah mempunyai Ibu Caroline yang sempurna, untuk apa Bapak menikahi saya?" Kayra tidak mempercayai alasan yang pernah diberikan kepadanya.
" Bukankah sudah saya katakan kepadamu jika kamu memiliki apa yang tidak saya dapatkan dari Caroline?" Erlangga masih tetap dengan alasan yang sama
" Apa yang tidak dimiliki Ibu Caroline yang ada pada diri saya, Pak? Dan apa yang sudah saya lakukan terhadap Bapak sehingga Bapak berpikiran seperti itu?" Sesungguhnya Kayra merasa aneh, karena Erlangga membandingkan dirinya dengan istri sah suaminya itu. Dia pun merasa tidak ada hal aneh yang dia lakukan kepada Erlangga selain bekerja sebaik mungkin untuk Mahadika Gautama.
" Saya rasa kita tidak usah membahas hal itu lagi," Merasa tidak nyaman didesak untuk menjelaskan tujuannya menikahi Kayra, Erlangga meminta agar Kayra tidak membahas permasalahan alasan dia menikahinya.
Kayra kembali mendengus, dia lupa jika Erlangga tetap berstatus bosnya. Yang selalu merasa benar dan tidak ingin ditentang perintahnya.
" Kita mau ke mana, Pak?" tanya Kayra saat Erlangga semakin lama semakin menjalankan mobilnya menjauh dari arah tempat tinggalnya.
" Kita makan dulu," ujar Erlangga, tak lama mobilnya memasuki sebuah halaman rumah makan khas Sunda.
" Kita makan di sini saja." Erlangga mematikan mesin mobilnya dan membuka seat belt lalu membuka pintu mobil.
Saat langkah Erlangga sejajar dengan Kayra, pria itu langsung melingkarkan tangan kirinya di pinggang Kayra membuat wanita itu terkesiap. Sudah pasti Kayra merasa kaget bahkan langsung mengedar pandangan karena takut ada yang mengenali Erlangga dan melihat sikap Erlangga yang merangkul pinggangnya.
" Pak, tolong lepaskan! Jangan mengundang perhatian publik." Kayra semakin gelisah karena sebagian pengunjung restoran itu menatap mereka saat memasuki pintu masuk restoran.
" Apa kamu tidak melihat sebagian pria di sini memperhatikanmu. Saya tidak ingin mereka mengira jika kamu masih single." Erlangga mengucapkan alasannya melakukan hal yang menurut Kayra bisa beresiko mengundang gosip tentang scandal antara Erlangga dengan Kayra.
Kayra membelalakkan matanya mendengar alasan Erlangga yang menurutnya konyol. Bagaimana mungkin pria itu lebih memikirkan takut ada pria lain yang mendekati dirinya daripada menjaga rahasia kedekatan hubungan mereka.
" Duduklah di sini!" Erlangga meminta Kayra duduk di sebelahnya saat Kayra ingin duduk berhadapan terhalang meja dengan Erlangga.
" Kamu tidak perlu khawatir,di sini tidak akan ada yang mengenal saya." Melihat Kayra yang ragu, Erlangga mencoba meyakinkan istri mudanya itu. Dan Kayra pun kembali harus mengikuti keinginan Erlangga.
" Kamu ingin pesan apa?" tanya Erlangga ketika pelayan restoran menyodorkan buku menu kepada Erlangga dan Kayra.
" Saya belum lapar, Pak." Kayra menolak karena dia memang belum merasakan lapar.
" Kita sudah sampai di sini, kamu harus makan! Erlangga tak mengindahkan penolakan Kayra
" Kamu pilihlah menu yang akan kita makan!" Erlangga menyodorkan daftar menu kepada Kayra yang sudah memegang buku daftar menu.
" Memang Bapak ingin makan apa?" tanya Kayra bingung kerena dia takut menu yang dipesannya tidak sesuai dengan yang Erlangga inginkan.
" Terserah kamu saja," sahut Erlangga mulai membuka ponselnya.
" Saya takut makanan yang saya pesan tidak sesuai dengan keinginan Bapak." Kayra beralasan.
" Ya sudah, pesankan saja menu terenak di restoran ini." Erlangga kemudian berkata kepada pelayan restoran.
__ADS_1
" Baik, Pak. Minumnya, Pak?" tanya Pelayan kembali.
" Air mineral saja dua." Karena Erlangga tahu minuman apa yang selalu dipesan Kayra jika mereka lunch bersama relasi bisnis perusahaannya, pria itupun memesan air mineral untuk mereka.
" Baik, Pak. Akan kami siapkan makanannya," sahut pelayan restoran itu kemudian meninggalkan Erlangga dan Kayra berdua.
" Apa kamu marah karena kemarin Caroline datang ke kantor?" Erlangga masih mempertanyakan soal sikap Kayra dengan kedatangan Caroline kemarin.
" Tidak ada alasan untuk saya marah dengan kedatangan ibu Caroline, Pak." Dan Kayra pun masih menepis anggapan Erlangga yang menganggapnya murah dan cemburu dengan kehadiran dari istri sah sang bos.
" Yang justru membuat saya heran adalah kenapa Bapak menikahi saya? Untuk apa Bapak menikahi saya padahal Bapak sudah mempunyai istri yang sempurna." Kembali Kayra mengungkit soal alasan Erlangga menikahinya.
" Saya sudah katakan jangan membahas itu lagi!" Erlangga menolak menjawab pertanyaan Kayra yang menuntut penjelasan soal alasannya menikahi Kayra.
" Kalau begitu Bapak juga jangan tanyakan lagi soal sikap saya dengan kedatangan Ibu Caroline." Seakan tidak ingin mengalah, Kayra juga memprotes suaminya yang selalu menyinggung tentang kehadiran Caroline.
Erlangga memperhatikan wajah Kayra yang menampakkan wajah sedikit memberengut. Sebuah senyuman terkulum di bibir pria tampan itu.
" Kamu terlihat cantik jika marah seperti ini." Tangan Erlangga menyibak helaian rambut Kayra menempel di pipi Kayra.
Seketika Kayra menjauhkan wajahnya, " Pak, tolong jangan bersikap seperti ini di depan umum!" protes Kayra mencoba memperingatkan Erlangga yang kadang bersikap semaunya sendiri dan tidak melihat situasi dan kondisi.
" Baiklah, nanti saya akan lakukannya di dalam kamar saja." Senyum tipis kembali melengkung di sudut bibir Erlangga, sepertinya pria itu senang sekali menggoda Kayra yang dianggapnya masih terlalu polos dan selaku salah tingkah jika dia melakukan kemesraan dengan wanita itu.
Setelah beberapa menit menunggu, makanan yang dipesan Erlangga sudah tersedia di meja makan.
" Kamu tahu apa tugas istri kepada suami, kan?" tanya Erlangga menyodorkan piring kepada Kayra karena pria itu ingin dilayani layaknya seorang suami oleh Kayra.
Tentu Kayra tahu maksud dari Erlangga menyodorkan piring kepadanya. Kayra pun menerima piring yang disodorkan Erlangga kepadanya. Kayra mengisi nasi dan lauk untuk Erlangga dan menaruh di depan Erlangga.
" Ini yang saya sukai dari kamu, kamu sangat telaten melayani saya apalagi saat saya sakit kemarin. Inilah yang tidak pernah saya temukan pada Caroline. Walaupun harus saya akui untuk urusan bercinta dia memang hebat. Namun dia lebih sibuk mengejar karirnya daripada harus di rumah mengurus suaminya." Erlangga mengatakan alasannya menikahi Kayra. Setidaknya untuk saat ini, itulah alasan dirinya menikahi Kayra.
Deg
Ucapan jujur dari Erlangga terasa langsung menghujam ke jantung Kayra hingga menimbulkan rasa sesak di dadanya. Jika ditelisik secara perlahan maksud Erlangga membutukannya hingga menikahinya adalah karena Erlangga membutuhkan seseorang yang bisa melayani dan mengurusnya. Bukan hanya pandai melayani kebutuhan biologis Erlangga semata.
Kayra menelan salivanya mengetahui alasan sesungguhnya Erlangga menikahinya. Dia yang tidak merasa lapar semakin dibuat kehilangan moodnya untuk makan. Dia lalu menoleh ke arah Erlamgga.
" Bapak butuh seseorang yang mau mengurusi Bapak? Kalau alasannya seperti itu, kenapa Bapak tidak mengambil ART atau asisten pribadi saja? Kenapa harus menikahi saya, Pak?" tanya Kayra yang menahan emosi.
" Saya tidak butuh ART atau asisten pribadi! Yang saya butuhkan hanya kamu!" tegas Erlangga.
Kayra menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya pelan-pelan.
" Jika alasan Bapak seperti itu." Dengan suara tercekat di tenggorokan Kayra memberanikan. diri untuk bersuara. " Saya akan melayani Bapak semua yang tidak bisa dilakukan Ibu Caroline terhadap Bapak. Saya akan melayani Bapak layaknya seorang istri terkecuali satu hal. ..." Kayra menjeda kalimatnya.
" Apa?" tanya Erlangga.
" Saya akan melakukan apapun yang tidak bisa Ibu Caroline berikan kepada Bapak, tapi saya menolak memberikan hal yang bisa Ibu Caroline berikan terhadap Bapak." Kayra memberanikan diri bersikap tegas.
" Maksud kamu?" Erlangga menyipitkan matanya.
" Saya tidak akan melayani kebutuhan biologis Bapak, karena Bapak sudah cukup puas mendapatkan hal tersebut dari Ibu Caroline!" tegas Kayra kemudian.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️