MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Penyamaran Rizal


__ADS_3

Hampir satu jam Rizal berbincang dengan Rivaldi, untung saja dia sudah mendapatkan informasi dari Erlangga melalui Bondan soal perusahaan Langgeng Putra Persada yang merupakan salah satu mitra bisnis Mahadika Gautama. Untungnya juga, selama ini Rivaldi tidak pernah berhubungan langsung dengan perusahaan tersebut, jadi Rivaldi tidak tahu siapa orang dari perusahaan tersebut yang biasa menangani urusan kerjasama dengan perusahaan lain.


Suatu kecerdikan dari seorang Rizal yang meminta data perusahaan yang benar-benar ada dan bekerjasama dengan Mahadika Gautama, sehingga dia lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari Rivaldi. Berbeda jika dia memakai nama perusahaan palsu yang tidak nyata, itu akan mencurigakan, kemungkinan Rivaldi akan menyelidiki keberadaan perusahaan baru yang akan diajaknya bermitra.


" Maaf, Pak Rivaldi. Saya ikut ke kamar kecil." Rizal sengaja meminta ijin untuk ke kamar kecil, karena dia ingin memberi kesempatan untuk Grace agar beraksi. Karena selama berbincang tadi, dia mendapati mata Rivaldi yang beberapa kali mencuri pandang kepada Grace.


" Oh, silahkan, Pak Firman. Nanti tanyakan saja ke sekretaris saya di mana toiletnya." Rivaldi mempersilahkan Rizal untuk ke toilet yang berada di luar ruang kerjanya.


" Saya permisi dulu, Pak Rivaldi." Rizal lalu beranjak ke luar ruangan Rivaldi, meninggalkan Grace di ruangan bersama Rivaldi.


" Apa Anda ini sekretaris Pak Firman?" Saat Rizal sudah meninggalkan ruangannya, Rivaldi mencoba bertanya kepada Grace, karena sejak tadi Grace tidak terlalu memperhatikan apa yang mereka bicarakan. Nampak sekali olehnya jika Grace terlihat acuh tak acuh dengan topik yang dia bicarakan dengan Rizal. Dia merasa aneh, semestinya orang yang diajak bertemu dengannya biasanya ikut memperhatikan apa yang sedang mereka bahas.


" Bukan!" Grace dengan cepat menepis ucapkan Rivaldi.


" Bukan?" Rivaldi mengeryitkan keningnya pertanda heran. " Anda ini bertugas di bagian apa di perusahaan Langgeng Putra Persada, Nona?" tanya Rivaldi penasaran.


" Perusahaan itu punya Papaku, aku diminta Papa untuk mengikuti si Pak Tua itu agar aku tahu dan banyak belajar, bagaimana nantinya menjalankan perusahaan, setelah Papa menyerahkan perusahaan itu kepadaku," sahut Grace menjawab pertanyaan Rivaldi.


Rivaldi mengeryitkan keningnya saat mendengar Grace menyebut Rizal dengan sebutan Pak Tua. Dan yang membuatnya sedikit terkejut lagi adalah pengakuan Grace sebagai anak dari pemilik perusahaan Langgeng Putra Persada. Dari penampilannya, sebenarnya Rivaldi memang dapat melihat jika Grace tidaklah sepeti karyawan pada umumnya. Dilihat dari sikapnya, wanita itu memang cocok jika disebut anak bos, karena orang tua Grace adalah keluarga berada.


" Oh, ternyata Nona Rena ini anak dari pemilik perusahaan Langgeng, ya? Saya mohon maaf, kalau saya tadi lancang bertanya-tanya." Rivaldi menyampaikan permohonan maafnya karena mengira jika Grace adalah sekretaris dari Rizal, padahal Grace adalah anak dari bos Rizal.


" Tidak masalah ..." Grace menyahuti dengan santai.


" Nona Rena masih terlihat sangat muda, tapi sudah diminta oleh Papa Nona untuk belajar mengurus perusahaan. Saya yakin nantinya Nona Rena akan menjadi seorang pengusaha yang hebat." Rivaldi menyampaikan pendapatnya karena sudah mau turun langsung, bahkan sampai ikut bertemu dengan relasi bisnis di usia yang masih muda.


" Sebenarnya aku tidak berminat melakukan hal ini, bekerja mengurus perusahaan bukanlah keinginanku ..." tepis Grace dianggap Rivaldi akan menjadi seorang pengusaha hebat.


" Oh ya? Mungkin karena Nona Rena masih muda jadi belum berpikir ke arah sana." Rivaldi memaklumi, karena gadis seusia Grace pastilah tidak berminat dipusingkan dengan pekerjaan yang memutar otak mengurus perusahaan dan menghandle berbagai karakter karyawan di perusahaan.


" Entahlah ..." Grace mengedikkan bahunya. " Mungkin nanti jika aku menikah, biar suamiku saja yang meneruskan usaha Papaku," sambungnya dengan enteng.


Rivaldi mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis. Dia berpikir, begitu mudahnya Grace mengatakan akan memberikan jabatan sebagai pemimpin perusahaan kepada suaminya kelak.


" Suami Nona pasti sangat beruntung mendapatkan Nona Rena," ucap Rivaldi kemudian.


" Bukan beruntung, tapi terbebani karena harus menjalankan perusahaan Papa, dan aku harus mencari pria yang benar-benar bertanggungjawab dan tidak memanfaatkan jabatan yang akan dipegangnya nanti," ujar Grace kembali.


" Apa Nona Rena sudah mempunyai calon suami?" Rivaldi terkesan ingin tahu.


" Aku baru genap dua puluh tahun, aku belum memikirkan untuk menikah," sahut Grace.


" Oh ..." Rivaldi kembali menganggukkan kepalanya.


Tak lama kemudian Rizal kembali masuk ke dalam ruang kerja Rivaldi.


" Sepertinya kami harus pamit dulu, Pak Rivaldi. Nanti kami akan laporkan hasil pertemuan ini kepada atasan saya." Rizal berniat pamit dari tempat Rivaldi.


" Baiklah, Pak Firman, semoga atasan Anda tertarik bekerja sama dengan kami. Kami jamin Abadi Jaya tidak akan mengecewakan perusahaan di tempat Anda, Pak Firman." Rivaldi berusaha meyakinkan Rizal agar perusahaan Langgeng Putra Persada mau bekerjasama dengan perusahaan Abadi Jaya miliknya.


" Baiklah, Pak Rivaldi." sahut Rizal.


" Oh ya, apa saya bisa minta nomer HP dari Pak Firman atau Nona Rena?" tanya Rivaldi melirik ke arah Grace.

__ADS_1


" Oh, tentu saja, Pak Rivaldi." Rizal lalu mengambil kartu nama dari dalam tas kerjanya lalu menyerahkan kepada Rivaldi. Rizal memang sudah memperhitungkan dengan membuat kartu nama untuk berjaga-jaga jika Rivaldi meminta kartu nama dirinya.


" Terima kasih, Pak Firman. Sebentar ..." Rivaldi pun mengambil dua kartu nama yang ada di kotak di meja kerjanya. " Ini kartu nama saya, hubungi langsung ke saya saja jika perusahaan Langgeng berminat bekerjasama dengan kamu, Pak Firman." Rivaldi pun menyerahkan kartu namanya kepada Rizal dan Grace.


" Baik, Pak Rivaldi. Kalau begitu kami permisi dulu." Rizal mengulurkan tangannya berjabatan tangan dengan Rivaldi.


Rivaldi pun menerima uluran tangan Rizal bergantian dengan Grace.


" Salam untuk Papa Anda, Nona Rena. Besar harapan kami, perusahaan kita bisa berkerjasama ..." saat bersalaman dengan Grace, Rivaldi sempat mengucapkan pesan kepada Grace.


" Oke." Grace hanya menjawab singkat, benar-benar menunjukkan seorang anak bos yang tidak ingin ambil pusing dengan urusan perusahaan orang tuanya.


" Apa saja yang tadi Rivaldi tanyakan kepadamu?" tanya Rizal saat mereka sampai di mobil, dan Rizal mulai mengendarai mobilnya meninggalkan halaman parkir kantor Abadi Jaya.


" Sepertinya dia percaya jika aku ini anak seorang bos, karena kenyataannya aku memang anak dari seorang pengusaha." Grace membanggakan dirinya.


" Aku yakin jika Rivaldi akan mencari informasi tentangmu melalui aku, bukankah dia juga tadi meminta nomer HP mu?" Rizal merasa Rivaldi sudah mulai masuk ke dalam permainannya dengan mengumpan Grace.


" Mungkin ..." sahut Grace singkat. " Lalu apa yang harus aku lakukan lagi, Pak Tua?" tanya Grace kemudian.


" Nanti aku akan atur supaya ada pertemuan tak terduga antara kamu dan Rivaldi di luar kantor. Aku menunggu laporan di mana Rivaldi biasa pergi menikmati waktu senggang." Rizal memang tidak pernah setengah-setengah jika menerima tugas penting, apalagi untuk Erlangga yang merupakan bos dari Bondan, sahabat lamanya.


***


Erlangga memperhatikan undangan yang tergeletak di meja kerjanya. Dia lalu mengambil kartu undangan berwarna mocca itu dan membaca isi dari undangan tersebut. Sebuah undangan pernikahan dengan nama mempelai yang tidak dia kenali, membuat keningnya berkerut, mencoba mengetahui siapa yang mengundangnya itu. Namun, nama orang tua yang tertera di bawah nama mempelai wanita membuat dirinya mengetahui siapa yang mempunyai hajat tersebut.


Erlangga lalu mengambil ponselnya setelah dia mengetahui siapa yang mengirimkan undangan kepadanya, dia pun segera menghubungi Krisna karena dia ingin menanyakan, apakah Papanya juga diundang oleh ketua dari Ikatan Pengusaha-Pengusaha Wilayah Jawa-Bali itu.


" Assalamualaikum, Pa. Apa Papa menerima undangan dari Pak Ronald, Ketua ikatan Pengusaha Jawa-Bali?" tanya Erlangga saat panggilan teleponnya itu tersambung dengan Papanya.


" Mengadakan resepsi pernikahan putrinya akhir Minggu ini, Pa. Kalau Papa diundang, kita berangkat bersama saja, Pa." Erlangga mengajak Papanya untuk bersama datang ke acara pesta pernikahan anak perempuan Pak Ronald.


" Baiklah, tapi apa kamu akan mengajak Kayra, Nak? Kalau kita berangkat bersama, Kayra akan bertemu dengan Mamamu, apa itu tidak jadi masalah, Nak?" tanya Krisna kemudian. Karena sebelumnya Erlangga tidak ingin Kayra. bersinggungan secara langsung dengan Helen dalam waktu-waktu dekat ini mengingat kehamilan Kayra.


" Tidak apa-apa, Pa. Aku rasa Mama tidak akan berbuat keributan di depan umum, tidak mungkin juga Mama akan mempermalukan menantunya di depan umum, karena hal itu hanya akan membuat nama Mama jelek sendiri 'kan, Pa?" Erlangga yakin Mamanya tidak akan berbuat macam-macam di depan umum.


" Ya sudah, Papa setuju saja, Nak. Memang sudah seharusnya Mama bisa menerima Kayra dalam keluarga kita." Krisna pun sependapat dengan putranya.


Saat melakukan panggilan telepon dengan Papanya, Erlangga mendengar nada panggilan telepon masuk lainnya di ponselnya tersebut. Erlangga melihat jika nomer Bondan lah yang sedang mengantri panggilan di ponselnya saat ini.


" Ya sudah, Pa. Aku tutup dulu teleponnya, ada telepon lain masuk. Assalamualaikum ..." Erlangga mengakhiri percakapan telepon dengan Papanya.


" Waalaikumsalam, Nak." Sebelum panggilannya tertutup, Krisna sempat menjawab salam putranya.


Setelah percakapan telepon dengan Papanya berakhir, Erlangga kini menghubungi Bondan karena panggilan Bondan tadi terputus.


" Bagaimana, Pak Bondan? Apa Pak Rizal sudah bertemu dengan Rivaldi?" Karena Erlangga tahu jika hari ini Rizal bertemu dengan Rivaldi, dia menanyakan kabar seputar pertemuan Rizal dan Rivaldi.


" Selamat siang, Tuan. Iya, benar. Rizal sudah bertemu dengan Rivaldi. Dan Rivaldi sepertinya sangat percaya jika Rizal adalah utusan dari PT. Langgeng Putra Persada, Tuan. Bahkan Rivaldi juga percaya jika Grace adalah anak dari Pak Satria. Dan sepertinya Rivaldi pun tertarik dengan Grace." Bondan melaporkan apa yang dikerjakan oleh Rizal tadi di perusahaan milik Rivaldi.


" Baiklah, jalankan saja sesuai rencana Pak Rizal. Tapi tetap harus waspada, karena Rivaldi itu orang licik, jangan sampai Pak Rizal terutama Grace berada dalam bahaya." Erlangga tetap memperhatikan keselamatan Rizal dan anak buahnya.


" Baik, Tuan. Saya yakin jika Rizal sudah mempertimbangkan sebaik mungkin dalam melakukan tindakan yang akan dia kerjakan." Bondan berusaha meyakinkan Erlangga agar tidak perlu merasa khawatir dengan aksi Rizal.

__ADS_1


" Syukurlah jika memang begitu." Mendapatkan orang yang diajak kerjasamanya begitu berpengalaman, Erlangga tentu cukup puas dengan penyamaran Rizal yang sangat rapih.


***


" Mas, aku boleh tidak, nanti pulang kerja pergi ke mall sama Mbak Gita?" Tiba-tiba saja Kayra meminta suaminya agar mengijinkan dirinya pergi ke mall ditemani oleh Gita.


" Kamu ingin beli apa, Sayang?" tanya Erlangga menoleh ke arah Kayra yang duduk di sofa dengan majalah wanita di tangannya yang baru dia beli.


" Aku kepingin jalan-jalan saja seperti kebanyakan wanita saat pulang kantor, Mas. Rasanya sejak menjadi istri Mas, aku tidak bebas berpergian ke mana-mana," keluh Kayra.


" Maksudmu, kamu menderita menikah denganku?" Erlangga langsung bangkit menghampiri sang istri yang duduk di sofa.


" Bukan menderita, Mas. Tapi aku kepingin sekali-sekali pergi bebas tanpa diawasi Pak Koko, lagipula aku nanti perginya dengan Mbak Gita, kok. Pasti Mbak Gita juga akan menjaga aku dengan baik, Mas." Kayra mencoba membujuk sang suami agar mengijinkannya pergi.


" Biar aku saja yang mengantar kamu." Tentu Erlangga tidak ingin membiarkan Kayra berkeliaran bebas tanpa pengawasannya meskipun ditemani oleh Gita.


" Kalau aku pergi dengan Mas, aku tidak bisa bebas, Mas." Kayra keberatan dengan keputusan Erlangga. Menurutnya, percuma jika ditemani oleh suaminya, karena pasti Erlangga akan melarangnya melakukan ini itu.


" Jadi kamu menganggap jika aku mengekangmu, hmm?" Erlangga yang sudah duduk di samping Kayra langsung merangkulkan tangan di pundak sang istri.


" Ya memang seperti itu," Kayra menyeringai melirik ke arah suaminya. " Boleh ya, Mas?" Kembali Kayra berusaha membujuk dengan mengusap rahang tegas sang suami.


" Aku yang akan menemani kamu, aku akan. bebaskan kamu memilih apa yang kamu inginkan, tapi ... jangan sampai terlalu lelah! Kalau kamu kelelahan, aku akan menegurmu! Kamu paham?" Erlangga akhirnya melunak, walaupun dia yang akan menemani Kayra, namun dia tidak akan membatasi apa yang akan dilakukan oleh istrinya tersebut selama tidak membuat Kayra kelelahan.


" Kalau kamu tidak mau, aku akan tetap melarang kamu pergi berdua saja dengan Gita, bagaimana?" Erlangga bersikukuh tidak mengijinkan Kayra pergi berdua saja tanpa pengawasan dengan Koko.


" Ya sudah, deh." Dengan terpaksa Kayra mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya daripada dia sama sekali tidak diijinkan pergi.


" Tapi, kalau pergi dengan Mas, aku maunya kita pergi di hari libur, menikmati waktu weekend. Lagipula kita tidak pernah jalan-jalan menikmati waktu senggang di luar rumah 'kan, Mas?" Mungkin pengaruh hormon kehamilannya sehingga Kayra berkeinginan menikmati waktu santai pergi ke mall untuk bersenang-senang.


" Bukankah kamu sendiri yang tidak ingin terlihat publik jika pergi berdua denganku, Sayang?" ledek Erlangga sambil menarik ujung hidung sang istrinya yang menggemaskan itu.


" Hehehe ..." Kayra menyeringai.


" Ya sudah, Sabtu nanti aku akan menemanimu pergi bersenang-senang ke mall." Erlangga menyetujui permintaan Kayra.


" Terima kasih, Mas." Kayra memeluk tubuh Erlangga dan mengakhirinya dengan. memberikan kecupan di pipi sang suami.


" Hmmm, sudah berani cium-cium pipi sekarang?" Erlangga mengusap pipinya yang tersentuh bibir Kayra.


" Bonus untuk Mas karena mengabulkan keinginanku." Kayra tersipu malu.


" Kalau begitu, kamu mintalah apa saja, aku akan menuruti agar aku mendapatkan ciuman darimu lagi, Sayang." Erlangga berseloroh menanggapi ucapan istrinya tadi.


" Apaan sih, Mas?!" Kayra memutar bola matanya lalu bangkit. " Aku mau kembali ke mejaku, Mas. Mas juga teruskan pekerjaannya sana! Ini kantor, tempat untuk bekerja bukan tempat untuk bermesraan!" celetuk Kayra seraya meninggalkan ruang kerja suaminya, membuat Erlangga tersenyum mendengar sindiran dari istrinya tadi.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2