
Erlangga membuka pintu kamarnya dan berjalan ke arah sofa untuk menaruh tas kerjanya. Dia menolehkan pandangan ke arah tempat tidur, ternyata Caroline sudah ada di sana dan terlelap. Waktu saat ini sudah mendekati pukul dua belas malam. Cukup lama Erlangga tadi menghabiskan waktu sendiri di lounge setelah ditinggal pergi Henry. Dia merenungkan apa yang terjadi dengan dirinya akhir-akhir ini.
Erlangga segera melangkah ke kamar mandi setelah dia melepas dasi dan ikat pinggangnya. Dia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum beristirahat.
Setelah membersihkan tubuhnya, Erlangga segera mengistirahatkan tubuhnya dengan berbaring di tempat tidur yang sama dengan Caroline. Dia menoleh ke arah Caroline yang tertidur membelakanginya. Erlangga memang merasakan akhir-akhir ini hubungannya dan istrinya semakin menjauh. Hampir jarang momen kemesraan mereka terjadi karena kesibukan sang istri dengan dunianya.
" Oouugghh ..." Caroline terlihat menggeliat dan merubah posisi tidurnya hingga kini tepat menghadap ke Erlangga.
Namun betapa terkejutnya Erlangga saat pandangan matanya mendapatkan sosok lain dan bukan istrinya yang tertidur di sampingnya saat ini.
" Kayra?" Erlangga membelalakkan matanya melihat wajah cantik Kayra di hadapannya. Dia sampai mengerjapkan matanya berkali-kali namun tetap bayangan Kayra yang nampak di hadapannya kini sedang tertidur lelap.
Tangan Erlangga mendekat ke wajah Caroline yang disangka adalah Kayra, terasa nyata tersentuh oleh kulit tangannya, hingga akhirnya dia mendekatkan wajahnya ke arah wajah cantik itu. Erlangga bahkan menempelkan bibirnya ke bibir Kayra secara perlahan, merasakan lembutnya bibir kenyal di hadapannya yang dia nikmati beberapa saat, sampai akhirnya dia melu mat dengan penuh has rat bibir ranum itu.
" Hmmpptt ... Sayang, kau sudah pulang?"
Erlangga yang sedang terhanyut dengan halusinasinya mencumbu bibir Kayra tiba-tiba tersentak saat mendengar suara Caroline apalagi pandangan matanya kini menangkap wajah Caroline lah yang saat ini ada di bawah wajahnya.
" Caroline?" Erlangga bahkan sampai menjauhkan wajahnya dari wajah sang istri bahkan dia sampai menjatuhkan tubuhnya di samping Caroline begitu dia menyadari apa yang tadi lihat sebelumnya adalah tidak nyata.
" Iya, ini aku." Caroline yang mendapat serangan dari sang suami langsung mengambil posisi menaiki tubuh Erlangga. Dia yang juga sudah lama tidak merasakan berhubungan in tim dengan suaminya itu langsung mencium bibir Erlangga, memulai kembali pagutan bibir mereka yang tadi diawali oleh serangan penuh naf su Erlangga kepadanya, hingga akhirnya aktivitas mereka berlanjut ke aktivitas yang lebih in tim seakan menyalurkan keinginan bercinta mereka yang tertunda beberapa waktu belakangan ini.
***
" Kita akan pindah besok 'kan, Mbak Kayra?" tanya Diah saat dia melihat Kayra sibuk mengatur orang membawa barang yang akan dibawa ke tempat tinggal barunya.
" Iya, Mbak. Hari ini hanya memindahkan saja sebagian barang-barang yang berat, besok baru kita pindah ke rumah kontrakan yang baru." Kayra menjelaskan rencananya kepada Diah.
" Oh, oke, Mbak." sahut Diah.
" Mbak Kayra ada tamu yang mencari." Bang Tino, Tetangga sebelah rumah Kayra memberitahukan tentang kedatangan seseorang yang mencari Kayra.
" Tamu? Siapa, Bang?" tanya Kayra dengan kening berkerut.
" Saya tidak kenal, Mbak. Tapi orangnya ganteng, masih muda, mobilnya juga keren." Tino menyebutkan ciri-ciri orang yang mencari Kayra.
" Siapa ya?" tanya Kayra mencoba menerka-nerka. Namun hatinya berdebar-debar. Dia merasa takut jika Erlangga lah yang datang menemuinya saat ini.
__ADS_1
" Assalamualaikum ..." sapa seseorang dari luar pintu rumah Kayra.
" Waalaikumsalam ..." Kayra dan Diah menjawab bersamaan dan menolehkan pandangan ke arah pintu, dan menemukan sosok Rivaldi berdiri di depan pintu rumahnya.
" Hai, Kayra." sapa pria itu kembali.
" Pak Aldi?" Kayra terkesiap mendapati Rivaldi lah yang datang ke rumahnya.
" Kamu ingin pindah rumah?" tanya Rivaldi melihat kesibukan orang-orang yang mengangkuti perabotan rumah.
" Hmmm, iya, Pak." sahut Kayra.
" Kamu akan pindah ke mana?" tanya Rivaldi.
" Di ... di daerah dekat kantor saja, Pak." sahut Kayra. " Silahkan masuk, Pak. Tapi maaf, kursinya sudah diangkut ke mobil." Kayra ragu mempersilahkan Rivaldi untuk masuk karena di ruang tamu sudah tidak ada sofa untuk duduk.
" Tidak usah, Kayra. Sepertinya kamu sedang repot sekali. Apa ada yang bisa saya bantu?" Rivaldi bahkan langsung melipat lengan kemeja yang digunakannya bersiap untuk membantu orang-orang mengangkat perabotan.
" Biar saja, Pak. Tidak perlu repot-repot, sebentar lagi juga sudah selesai, kok." Kayra menolak bantuan dari Rivaldi.
" Kapan kamu akan pindah? Saya boleh ikut mengantar kamu pindah?" Rivaldi tidak pantang menyerah untuk mendekati Kayra.
" Saya memang sengaja kemari," sahut Rivaldi.
" Bapak tahu alamat ini dari mana?" tanya Kayra kemudian.
" Saya cari-cari info di kantor soal tempat tinggal kamu ini." Rivaldi menyebutkan dari mana dia mendapatkan alamat tempat tinggal Kayra.
" Oh ...."
" Mana lagi yang mau dibawa, Mbak Kayra?" tanya Tino, karena sudah semua barang yang diperintahkan oleh Kayra sudah terangkut.
" Sudah dulu, Bang Tino. Sementara ini saja dulu yang dibawa." Kayra merasa cukup barang-barang yang mesti dibawa.
" Ya sudah, kalau begitu saya meluncur ke sana ya, Mbak!?" Tino berpamitan.
" Iya, Bang Tino. Hati-hati, ya!?" sahut Kayra mengingatkan agar Tino tidak mengebut dalam perjalanan.
__ADS_1
" Saya perlu ikut ke sana sekarang, Mbak?" tanya Diah.
" Boleh, Mbak. Mbak Diah tolong ikut bantu di sana." Kayra mengijinkan Diah untuk ikut ke tempat tinggal barunya.
" Baik, Mbak." sahut Diah. " Saya pergi dulu ya, Mbak. Assalamualaikum ..." Diah berpamitan kepada Kayra lalu melangkah menyusul Tino yang berjalan lebih dulu.
" Oh ya, maaf ... ada apa Pak Aldi datang ke tempat saya ini?" Kayra bertanya soal maksud Rivaldi datang ke tempatnya.
" Karena saya memang ingin tahu tempat tinggal kamu agar saya bisa berkunjung ke rumah kamu, karena saya kesulitan mendekati kamu saat di kantor. Kamu tahu sendiri bagaimana Pak Erlangga melarang saya bicara dengan kamu, kan?" Merasa tidak mempunyai peluang melakukan pendekatan dengan Kayra di kantor, Rivaldi pun mengambil kesempatan mendekati Kayra dengan mencari tahu rumah Kayra.
Kayra tersenyum samar mendengar ucapan Rivaldi menyebut nama Erlangga. Dia langsung teringat masalah yang menimpanya kemarin bersama bosnya itu. Masalah yang membuat dirinya merasa kepikiran dan tidak tenang.
Sementara di itu di depan gang ...
" Bang Tino, saya ikut ke sana, ya!?" Diah yang berhasil mengejar Tino meminta agar Tino tidak meninggalkannya.
" Ayo naik saja, Mbak Diah." Saat membuka pintu mobil, Tino menyuruh Diah masuk ke dalam mobil.
" Iya, Bang." Diah membuka pintu namun tatapan matanya mengarah kepada sebuah mobil mewah yang tiba-tiba saja berhenti di depan mobil bak terbuka yang mengangkut perabotan Kayra. Dan saat seseorang dari dalam mobil itu keluar, bola matanya seketika membulat.
" Tuan Erlangga?" Diah mengurungkan niatnya naik ke mobil.
" Kalian akan pindah sekarang?" tanya Erlangga memperhatikan perabotan di atas mobil bak terbuka itu.
" Sementara ini baru perabotannya dulu yang dibawa, besok kami baru pindahnya, Tuan." Diah menjelaskan kepada Erlangga.
" Lantas mana Kayra?" tanya Erlangga kemudian.
" Mbak Kayra ada di rumah, Tuan. Sedang ada teman dari kantornya yang datang ke rumah."
Wajah Erlangga terlihat serius mendengar penuturan Diah yang menyebutkan soal teman kantor yang datang mengunjungi Kayra saat ini.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️