MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Mirip Siapa?


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi dari Rizal jika penyamaran mereka telah terendus oleh Rivaldi. Grace segera bersiap untuk meninggalkan rumah keluarga Nugraha Wijaya. Karena dapat dipastikan Rivaldi akan menemuinya untuk mengorek keterangan darinya soal rencana mereka melakukan penyamaran ini.


Tak ingin membuat Arina curiga, Grace memilih meninggalkan pakaian yang baru saja dibeli, agar mempermudah dia keluar dari rumah itu dan tidak dikira akan kabur.


" Rena, kamu ingin ke mana?" Saat Grace menuruni anak tangga, Arina sudah menyambutnya di lantai bawah.


" Hmmm, Tante. Aku mau ijin pergi sebentar ya, Tan!?" Grace beralasan akan pergi sebentar kepada Arina.


" Lho, memangnya mau pergi ke mana lagi, Rena?" Mendapat amanat dari Rivaldi yang melarang Grace untuk keluar dari rumah, Arina menanyakan alasan Grace ingin pergi lagi dari rumah itu, padahal mereka baru saja tiba setelah berbelanja keperluan Grace tadi.


" Hmmm, Papa aku baru saja telepon. Katanya Papa baru saja sampai di Bandung. Aku harus bertemu Papa sebentar, Tan. Soalnya Papa mengkhawatirkan aku." Grace memberi alasan agar Arina percaya dengannya.


" Tapi tadi Aldi baru saja telepon Tante, Aldi melarang kamu pergi dari sini." Tidak mengetahui permasalahan yang terjadi, Arina mengatakan hal sesungguhnya kepada Grace jika Rivaldi baru saja menelpon dan menahan agar Grace tidak pergi dari rumah itu.


Grace terkesiap mendengar kejujuran Arina soal Rivaldi yang telah menghubunginya.


" A-Aldi melarang aku pergi? Kenapa memangnya, Tan?" tanya Grace heran.


" Tante tidak tahu. Tapi, Aldi perpesan agar Tante tidak memberikan ijin kamu pergi dari rumah." Arina menjelaskan apa yang diminta oleh Rivaldi kepadanya.


" Kok, Aldi melarang seperti itu, Tan? Aldi itu hanya kebetulan menolong aku, dan aku bukan tawanan dia. Kenapa aku dikekang seperti ini, Tan?!" Sudah pasti Grace tahu alasan Rivaldi melarangnya pergi. Tapi, dia harus tetap bersandiwara di hadapan Arina, seolah dia kesal karena merasa aktivitasnya dibatasi oleh Rivaldi.


" Tante minta maaf kalau sikap Aldi membuat kamu tidak nyaman, Rena." Arina merasa bersalah dengan sikap Rivaldi yang terlihat memang seperti mengekang Grace, karena melarang Grace keluar dari rumah keluarga Nugraha.


" Tante, tolong kasih ijin aku keluar. Tidak akan lama kok, Tan. Lagipula aku 'kan tidak berniat kabur. Tante lihat sendiri aku hanya bawa sling bag saja, kan?" Grace berusaha membujuk dan menyakinkan Arina agar mengijinkannya pergi.


" Please, Tan." Grace sampai menggenggam tangan Arina, agar Arina terpengaruh olehnya.


" Hmmm, baiklah. Tapi, cepat kembali ya, Rena. Jangan sampai Aldi tahu Tante mengijinkanmu pergi." Masih merasa khawatir Rivaldi akan marah kalau tahu dia mengijinkan Grace pergi, Arina meminta Grace agar jangan terlalu lama meninggalkan rumahnya.


" Pasti, Tante. Aku hanya ingin bertemu Papaku sebentar, kok." sahut Grace.


" Kamu nanti diantar sama supir Tante saja, ya?" Arina menawarkan agar Grace diantar supir dari keluarganya


" Tidak usah, Tan. Aku sudah pesan taxi, kok." Grace menolak tawaran Arina. " Terima kasih ya, Tan. Aku pergi dulu." Grace memeluk Arina dan menempelkan pipinya bergantian ke pipi Arina untuk berpamitan. Sejujurnya dia sangat senang dengan perhatian yang diberikan oleh Arina terhadapnya. Grace sendiri tidak menyangka jika dibalik sosok lemah lembut itu, ada kisah menyakitkan yang harus dilalui oleh Arina.


Mendengar kisah Arina, sebenarnya Grace merasa terenyuh dengan kisah masa lalu Arina. Tanpa sadar bahkan Grace pun ikut menitikkan air mata saat mendengar cerita Grace tentang perjalanan hidup di masa lalu ibu sambung Rivaldi itu.


Setelah berpamitan, Grace pun meninggalkan Arina. Mungkin jika dia tidak sedang menyamar, rasanya ingin dia bisa terus komunikasi dengan Arina. Karena sejujurnya, dia tidak bisa seakrab ini dengan Mamanya sendiri.


" Ya Allah, jika hamba tidak dapat dipertemukan dengan putri hamba kembali, hamba memohon agar Rena bisa menjadi menantu hamba suatu saat nanti." Dengan menatap tubuh Grace yang semakin menjauh darinya, Arina menyelipkan doa agar Rivaldi bisa berjodoh dengan Grace.


***


Arina terlihat gelisah berjalan hilir mudik menanti kedatangan Grace. Beberapa kali dia menoleh ke arah jam di dinding ruang tamu rumahnya.


Saat ini, waktu sudah hampir menjelang Maghrib. Namun, Grace tidak juga kembali, bahkan ponselnya pun tidak dapat dihubungi. Apalagi saat terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Arina menoleh ke arah pintu rumah, terlihat Rivaldi berjalan memasuki rumah.


" Aldi?" Arina merasa bersalah kepada putra sambungnya itu karena tidak mendengarkan apa yang dipesankan oleh Rivaldi dan membiarkan Grace pergi.


" Di mana Rena, Ma?" Rivaldi langsung menanyakan keberadaan Grace kepada Arina.


" Rena ...."


Tak menunggu jawaban Arina, Rivaldi segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar tamu yang ditempati Grace.


Braakkk


Rivaldi membuka kasar pintu kamar Grace seraya berteriak memanggil nama Grace.


" Rena! Di mana kau!?" teriak Rivaldi penuh dengan kegeraman.


" Rena!!" Rivaldi mencari dari balkon sampai bedroom. Tapi, sosok Grace tidak juga ditemuinya.

__ADS_1


" Aldi, kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?" Arina yang menyusul Rivaldi ke kamar Grace menanyakan kenapa anak sambungnya itu berteriak seperti orang yang sedang emosi.


" Ma, di mana Rena?" tanya Rivaldi mencengkram kedua lengan Mamanya.


" Rena ..." Arina menjeda ucapannya. Dia melihat wajah Rivaldi saat ini penuh dengan kemarahan, membuatnya ketakutan sendiri.


" Rena mana, Ma!?" Tak mendapatkan jawaban dari Arina, Rivaldi semakin kencang mencengkram bahkan menguncang tubuh Arina.


" R-Rena, Rena tadi ijin pergi untuk bertemu Papanya, Aldi. Rena bilang Papanya baru tiba di Bandung dan ingin bertemu dengan Rena." Arina menjelaskan alasan yang diberikan oleh Grace saat meminta ijin kepadanya keluar rumah.


" Dan Mama memberi ijin? Bukankah aku sudah katakan jangan biarkan Rena pergi dari sini, Ma!?" Dengan nada bicara sedikit menyentak, Rivaldi merasa kecewa terhadap Mamanya itu.


" Maafkan Mama, Aldi." Mendapatkan perlakuan kasar Rivaldi, Arina seketika terisak.


" Ma, maafkan Aldi." Tersadar dan melihat Arina menangis karena sikapnya, Rivaldi langsung memeluk wanita yang sejak kecil memberikan kasih sayang seorang ibu kepadanya.


" Sebenarnya ada apa, Aldi? Kenapa kamu semarah ini?" Arina mempertanyakan alasan Rivaldi terlihat emosi seperti tadi.


Rivaldi mengurai pelukannya dari tubuh Arina. Lalu dengusan nafas kasar Rivaldi langsung terdengar, menandakan jika pria itu sedang mengalami kekecewaan.


" Rena itu penipu, Ma." ucap Rivaldi menjawab pertanyaan Mamanya.


" Astaghfirullahal adzim ...! Rena penipu? Dia menipu apa, Aldi?" Terperanjat mendengar jawaban Rivaldi, Arina seakan tidak percaya jika Grace adalah seorang penipu.


" Dia itu bukan anak dari Pak Satria, pemilik perusahaan Langgeng Putra Persada. Dia dan temannya yang mengaku bernama Firman, awalnya datang ke kantorku dan mengaku sebagai utusan perusahan Langgeng, ingin mengadakan kerja sama dengan perusahaanku. Bahkan, Rena sendiri mengaku sebagai anak dari pemilik perusahaan tersebut." Rivaldi menceritakan sejelas mungkin apa yang terjadi pada dirinya.


" Lalu bagaimana? Apa perusahaanmu mengalami kerugian, Aldi?" tanya Arina khawatir.


" Untung saja tidak, Ma. Karena kami memang belum mencapai kesepakatan. Mereka meminta jangka waktu pembayaran yang cukup lama. Untung saja semua terbongkar lebih awal, jadi perusahaanku tidak dirugikan." Rivaldi terduduk di tepi tempat tidur dengan memijat pelipisnya.


Arina menatap Rivaldi yang begitu kecewa. Dia tidak menyangka jika wanita yang dibawa Rivaldi dan dikenalkan kepadanya adalah seseorang wanita penipu. Padahal dia sendiri sudah merasa cocok dengan Grace, bahkan berharap Grace dapat. menjadi menantunya.


***


" Apa ini, Sayang?" Erlangga membaca tuliskan pada label di botol tersebut.


" Itu vitamin, Mas. Mama suruh aku minum vitamin itu agar janin di perutku ini tumbuh sehat," cerita Kayra.


" Mama kasih kamu vitamin ini?" Agak terkejut Erlangga mengetahui Mamanya memberikan vitamin untuk istrinya.


" Iya, aku senang sekali Mama begitu perhatian dengan bayi di perutku ini, Mas." ucap Kayra seraya mengusap perutnya dengan wajah berbinar.


Erlangga melihat wajah istrinya yang terlihat sangat bahagia. Tidak dapat dia bayangkan jika istrinya itu tahu jika dugaannya tentang Kayra adalah anak kandung Arina benar. Pasti Kayra akan sangat terpukul.


" Kenapa Mas menatap aku seperti itu?" tanya Kayra heran karena Erlangga menatapnya dengan begitu lekat.


" Tidak apa-apa, Sayang." Erlangga mengusap kepala Kayra. " Kamu tahu, Sayang? Kamu semakin terlihat cantik saat hamil, Kayra." ucap Erlangga kemudian.


" Itu karena aku begitu bahagia, Mas." Kayra merebahkan kepalanya di bahu Erlangga dengan manja.


" Apa yang membuat kamu bahagia?" tanya Erlangga dengan jari tangan memainkan rambut Kayra.


" Aku bahagia karena saat ini aku dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangiku," ungkap Kayra mengatakan apa yang membuat dirinya bahagia.


Erlangga menghela nafas mendengar apa yang diucapkan Kayra. Dia pasti akan berupaya membuat istrinya itu selalu merasa nyaman dan bahagia seperti saat ini. Walaupun ke depannya ada hal serius yang harus diketahui istrinya itu. Dan dia berharap Kayra akan sanggup menerima kenyataan yang mungkin akan pahit diterima sang istri.


" Aku sangat menyayangimu, Kayra." Erlangga mengecup pucuk kepala Kayra.


" Aku tahu, Mas. Karena sudah menyukai sejak pertama bertemu denganku, kan?" Kayra mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan sang suami.


" Iya, kau benar." Tangan Erlangga kini mengusap wajah Kayra yang memang sudah membuatnya terkagum sejak awal bertemu. Dan kini dia menemukan jawaban, kenapa perasaannya terhadap Kayra begitu kuat? Karena ternyata Kayra adik sepupunya. Dan dia sudah menyayangi Kayra saat istrinya itu masih dalam perut Arina. Walaupun belum mendapatkan kebenaran soal istrinya itu adalah adik sepupunya, tetapi Erlangga begitu yakin dengan dugaannya itu.


" Sayang, aku ingin kamu yakin jika aku, Papa dan mungkin Mama juga pasti akan semakin menyayangimu," ujar Erlangga memandang penuh rasa cinta terhadap istrinya. Dia harus meyakinkan istrinya, siapapun Kayra, dari manapun asal usul Kayra, tidak akan melunturkan rasa cintanya terhadap wanita itu.

__ADS_1


" Karena aku hamil anak Mas, kan?" tebak Kayra.


" Bukan karena itu saja, Kayra. Aku semakin sayang terhadapmu, karena kamu adalah adik sepupuku yang selama ini aku cari." batin Erlangga seraya mengecup bibir manis istri tercintanya itu.


***


" Ibu belum tidur?" Erlangga melihat Ibu mertuanya itu sedang duduk berbincang di dapur bersama beberapa ART di rumahnya.


" Oh, belum, Nak. Ibu sedang berdiskusi untuk masak-masak empat bulanan Kayra. Sekarang ini kehamilan Kayra sudah masuk trimester kedua. Karena itu Ibu berbincang dengan yang lain untuk menyiapkan makanan untuk acara nanti." Ibu Sari menerangkan apa yang sedang dia obrolkan dengan para ART.


" Kapan acaranya, Bu? Nanti pesan di catering saja biar tidak repot." Erlangga menyarankan agar menggunakan jasa catering yang akan menghandle urusan makanan.


" Untuk apa pesan catering, Nak? Hanya acara pengajian di rumah saja dengan orang-orang rumah yang tinggal di sini, kok. Tapi nanti tetangga sekitar sini dikirim saja berkat empat bulanannya." Ibu Sari menerangkan jika acara empat bulanan yang akan diadakan tida mengundang orang lain seperti yang diminta Kayra, jadi tidak membutuhkan bantuan catering.


" Hanya orang rumah? Memang biasanya acaranya bagaimana, Bu?" tanya Erlangga yang tidak mengerti soal acara pengajian empat bulanan.


" Biasanya kebanyakan mengundang tetangga sekitar rumah, Nak. Tapi, karena kita belum terlalu kenal dengan tetangga di sini, jadi rencananya mengadakan pengajian sendiri saja." Ibu Sari menjelaskan.


" Ya sudah, nanti saya bicarakan dengan Kayra masalah acara empat bulanannya, Bu." Erlangga menarik kursi lalu mendudukinya.


" Iya, Nak." sahut Ibu Sari.


" Hmmm, Ibu dulu kerja bidan ya, Bu?" tanya Erlangga mulai mengorek keterangan dari Ibu mertuanya.


" Iya, dulu Ibu asisten bidan, yang membantu pekerjaan bidan mengurus bayi dan juga ibu yang melahirkan," sahut Ibu Sari, tidak menyadari jika saat ini menantunya itu sedang memancing informasi darinya.


" Berapa lama kerja jadi asisten bidan, Bu?" tanya Erlangga kembali.


" Sejak Ibu belum menikah sampai Ibu punya Kayra. Karena tidak ada yang mengurus Kayra, jadi Ibu berhenti bekerja." Ibu Sari menerangkan.


" Berarti Ibu sudah lama berhenti bekerja. Setelah Kayra lahir?"


" Iya. lagipula Ibu bidan yang biasa Ibu bantu pindah ke Medan, dibawa anaknya yang menikah sama orang Medan," tutur Ibu Sari.


Erlangga memfokuskan pada kalimat 'Ibu bidan pindah ke Medan'. Bukankah itu sangat cocok dengan cerita Arina yang mengatakan jika bidan tempat Arina melahirkan pindah ke luar pulau tak berapa lama setelah membantu persalinan Arina.


" Jadi Ibu bidan tempat Ibu bekerja sebelumnya pindah ke luar pulau ya, Bu?" tanya Erlangga memastikan.


" Benar, Nak." sahut Ibu Sari.


Erlangga menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Fakta soal Kayra yang kemungkinan adik sepupunya sepertinya akan terbuka lebar dengan keterangan yang diberikan oleh Ibu Sari.


" Kayra itu lebih mirip siapa Bu? Ibu atau Ayah?" tanya Erlangga kemudian.


Ibu Sari terdiam beberapa saat mendapat pertanyaan dari menantunya.


" Hmmm, m-mirip seperti Ayahnya," sahut Ibu Sari gugup.


" Tapi sifatnya sangat mirip dengan Ibu." Erlangga menimpali.


" Oh ya?"


" Iya, Bu. Saya berterima kasih kepada Ibu, karena Ibu sudah menjaga Kayra dengan baik, sehingga saya dapat memperistri wanita berhati malaikat seperti Kayra." Tanpa bisa dipungkiri jika karakter Kayra yang lembut, santun dan penuh kasih sayang itu adalah hasil didikan dari Ibu Sari dan suaminya. Terlepas apapun alasannya Kayra tidak dititipkan ke panti asuhan seperti yang diminta Arina, Erlangga sangat bersyukur adik sepupunya itu diasuh oleh pasangan suami istri baik hati seperti Ibu Sari dan juga Pak Ariyanto.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2