
Suasana di meja makan pagi ini terlihat nampak tegang. Setelah melakukan serangan terhadap suaminya, Kayra langsung meminta maaf kepada Erlangga yang terlihat tersiksa karena tendangan maut Kayra tepat di bagian sensitifnya. Namun Erlangga sepertinya masih terlihat kesal hingga memasang wajah serius dan tegas saat mereka melakukan aktivitas sarapan pagi bersama Ibu Sari.
Tak ada pembicaraan di antara mereka bertiga. Hanya suara denting sendok garpu yang beradu dengan piring yang terdengar di ruangan makan itu.
Kayra sesekali melirik ke arah suaminya yang fokus dengan hidangan di depannya. Kadang dia juga bertatapan dengan sang Ibu yang juga merasakan hawa dingin di ruangan itu. Bukan dingin karena suhu ruangan di sana yang menggunakan AC, namun karena sikap Erlamgga.
" Saya akan pulang ke rumah dulu sebelum pergi ke kantor, Kamu nanti akan diantar oleh Koko berangkat ke kantor." Setelah menyelesaikan makannya, Erlangga langsung meninggalkan meja makan setelah mengucapkan kalimat tersebut.
" Kayra, apa Tuan Erlangga masih marah karena kamu meninggalkannya tadi?" tanya Ibu Sari. Meskipun Erlangga sudah berstatus menantunya, namun Ibu Sari masih belum menghilangkan sebutan ' Tuan' untuk Erlangga.
Kayra menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Ibu Sari.
" Bukan, Bu." sanggahnya kemudian.
" Lalu kenapa kelihatannya Tuan Erlangga masih marah seperti itu?" tanya Ibu Sari heran.
" Pak Erlangga marah karena ... hmmm, karena tadi Kayra menendang anunya Pak Erlangga, Bu." Terlihat ragu dan malu Kayra mengatakan penyebab Erlangga marah.
" Hahh?" Antara ingin tertawa namun khawatir, Ibu Sari terkesiap mendengar pengakuan jujur Kayra.
" Ya ampun, Kayra. Pasti Tuan Erlangga marah sekali waktu kamu tendang itunya." Ibu Sari bisa membayangkan rasa ngilu yang dialami oleh Erlangga.
" I-iya gitu, Bu." Kayra tersenyum kaku.
" Tapi kenapa kamu bisa menendang Tuan Erlangga? Apa Tuan Erlangga meminta berhubungan in tim?" tanya Ibu Sari penasaran.
Kayra mengangguk cepat merespon pertanyaan Ibunya.
" Bu, Kayra takut kalau sampai hamil jika Kayra harus melakukan hubungan suami istri dengan Pak Erlangga." Kayra mengungkapkan ketakutannya kepada Ibu Sari. " Apa Kayra harus pakai alat kontrasepsi agar Kayra tidak hamil ya, Bu?" Kayra berpikir ingin melindungi dirinya agar tidak sampai mempunyai anak bersama Erlangga. Karena status pernikahannya dengan Erlangga tidak menjamin dirinya bisa diterima baik sebagai istri Erlangga di lingkungan keluarga suaminya itu.
" Sssttt ... kamu jangan bicara keras-keras, Kayra!" Ibu Sari menempelkan jari telunjuknya di bibir agar Kayra tidak mengatakan hal tersebut dengan suara yang kencang karena dia takut akan ada yang mendengar ucapan Kayra tadi.
Ibu Sari kemudian menarik tangan Kayra dan menjauh dari ruangan makan. Ibu Sari lalu membawa Kayra masuk ke dalam kamarnya.
" Kayra, kamu jangan sembarangan kalau bicara! Apa kamu tidak takut anak buah Tuan Erlangga mendengar rencana kamu ini, Nak?"
" Kayra bingung," sahut Kayra.
" Apa kamu serius dengan niat kamu memakai alat kontrasepsi, Kayra? Bagaimana jika Tuan Erlangga sampai tahu? Beliau pasti akan marah besar, Nak!" Ibu Sari mencemaskan keputusan yang ingin diambil oleh Kayra.
" Tapi Kayra takut jika sampai hamil, Bu. Sedangkan pernikahanku dengan Pak Erlangga tidak diketahui banyak orang. Apa jadinya jika karyawan lain tahu jika aku nanti hamil? Sedangkan mereka tahu jika Kayra masih single. Lalu Kayra harus bilang apa kepada mereka, Bu?" Kayra memang tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menjelaskan kepada karyawan lain yang akan mempertanyakan jika dia sampai hamil.
" Jika memang itu keputusan kamu, Ibu tidak bisa berkata apa-apa, Kayra. Tapi Ibu harap kamu harus berhati-hati agar tidak sampai anak
buah Tuan Erlangga tahu soal masalah ini." Ibu Sari terpaksa mengikuti rencana Kayra karena saat ini hanya itulah cara terbaik yang bisa diambil oleh Kayra untuk menyelamatkan nama baiknya yang tercoreng karena menikah dengan suami orang.
***
Seperti yang dikatakan oleh Erlangga, Kayra diantar oleh Koko, supir pribadi yang akan mengantar jemput Kayra ke kantornya setiap hari kerja. Sementara Erlangga sudah lebih dahulu kembali ke rumahnya yang pria itu tempati dengan Caroline.
Kayra memandang cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. Perlahan dia melepas cincin itu dari jarinya, karena dia tidak ingin mengundang kecurigaan karyawan lain jika melihatnya memakai cincin yang sudah bisa dia tebak harganya sangat mahal. Kayra menaruh cincin pernikahannya di dalam dompetnya agar dia lebih mudah mencarinya.
Sekitar empat puluh lima menit waktu yang dibutuhkan Kayra untuk sampai di kantor milik Erlangga.
" Pak, tolong turunkan saya di mini market depan itu." Kayra menunjuk mini market yang berjarak sekitar seratus meter sebelum sampai di kantornya.
" Apa Nyonya akan membeli sesuatu di toko itu?" tanya Koko karena permintaan Kayra tersebut. Koko bahkan sudah memanggil Kayra dengan sebutan Nyonya, karena menghormati Kayra sebagai istri dari Erlangga.
" Hmmm, tidak, Pak. Saya hanya ingin turun di sana. Dan tolong tinggalkan saya, tidak usah mengantar saya sampai depan kantor." Kayra meminta Koko untuk tidak menurunkan dirinya di depan kantor Erlangga, karena dia tidak ingin orang melihat dirinya diantar oleh mobil mewah. Jika dia beralasan dia memakai ojek online, apa ada driver ojek online memakai mobil mewah? Lagipula dia akan setiap hari diantar oleh Koko, apa mungkin dia mengatakan alasan yang sama? Pikir Kayra.
" Tapi kenapa, Nyonya? Ini masih jauh, masih sekitar seratus meter lagi." Koko bertanya karena permintaan Kayra.
" Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya ingin jalan saja." Kayra tidak mengatakan alasan sesungguhnya dia ingin berjalan kaki sampai kantor suaminya.
" Tapi jika Tuan Erlangga tahu saya membiarkan Nyonya jalan, beliau akan marah kepada saya, Nyonya." Koko memang takut disalahkan oleh Erlangga jika dia menuruti permintaan Kayra.
" Saya hanya ingin melindungi nama baik saya, Pak. Saya belum mempunyai alasan jika orang bergunjing membicarakan saya jika diantar jemput dengan mobil mewah ini." Akhirnya alasan yang sesungguhnya terucap juga dari mulut Kayra.
__ADS_1
" Tapi bagaimana jika Tuan ...."
" Ini juga untuk menjaga nama baik Pak Erlangga, Pak. Apa jadinya jika karyawan kantor curiga saya ada hubungan khusus dengan Pak Erlangga?" Kayra menambahkan alasan yang dia anggap masuk akal dan bisa dipahami oleh Koko.
Koko berpikir sejenak sebelum akhirnya dia menyetujui apa yang diinginkan oleh Kayra.
" Tapi saya mohon, Nyonya tidak mengadukan hal ini kepada Tuan Erlangga jika saya hanya mengantar Nyonya sampai di sini." Koko takut jika Erlangga tahu soal permintaan Kayra sehingga dia meminta perlindungan Kayra jika Erlangga akan menyalahkannya.
" Tentu saja, Pak Koko. Pak Erlangga tidak akan tahu jika Pak Koko tidak mengantar saya sampai tempat apalagi beliau berangkat siang." Kayra mencoba meyakinkan Koko agar tidak merasa khawatir.
" Baiklah, Nyonya." Koko membuka kunci pintu mobil.
" Terima kasih, Pak." Sudah pasti menyambut dengan senang persetujuan Koko hingga akhirnya dia turun dari mobil yang dikendarai oleh Koko.
" Hati-hati, Nyonya." ujar Koko saat Kayra turun dari mobil dan berjalan menjauh darinya.
Kayra berjalan menuju arah kantor, namun dia merasakan jika mobil yang dikendarai oleh Koko mengikuti langkah Kayra hingga lima puluh meter Kayra berjalan.
Kayra yang merasa kesal karena diikuti oleh Koko langsung menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya berjalan menghampiri mobil yang mengantarnya tadi.
Tok tok tok
Kayra mengetuk kaca jendela pintu mobil yang dibawa Koko.
" Pak Koko kenapa mengikuti saya?" tanya Kayra kesal dengan apa yang dilakukan oleh supir pribadinya itu.
" Maaf, Nyonya. Saya tidak ingin mengambil resiko. Saya ditugaskan mengantar dan menjaga Nyonya. Jika Nyonya tidak ingin saya antar sampai tempat, biar saya mengawasi dan memastikan Nyonya sampai di kantor dengan aman." Koko akhirnya mengambil keputusan mengikuti Kayra sampai Kayra tiba di depan kantornya dengan aman.
" Pak Koko tidak perlu khawatir, saya akan aman, kok! Jadi sebaiknya Pak Koko meninggalkan tempat ini! Saya tidak suka diawasi seperti seorang penjahat seperti ini!" ketus Kayra karena dia merasa hidupnya tidak bebas karena statusnya sebagai istri dari bosnya itu.
Setelah mengatakan hal tersebut, Kayra bergegas meninggalkan Koko dengan cepat. Dia merasa kesal pada perintah yang diberikan oleh Erlangga untuk mengawasi gerak-geriknya.
" Pagi, Mbak Kayra." sapa security saat melihat Kayra masuk ke dalam bangunan perkantoran Mahadika Gautama.
" Pagi, Pak." sapa balik Kayra kepada security, karena Kayra memang dikenal sangat ramah walaupun tidak banyak bicara.
" Kayra ...."
Kayra menolehkan pandangan saat seseorang memanggilnya saat dia menunggu di depan pintu lift.
" Oh, selamat pagi, Pak Aldi," Ternyata Rivaldi lah yang menyapa Kayra. Dia pun lalu menyapa Rivaldi.
" Kamu jadi pindahan? Kemarin saya datang ke rumah kontrakan kamu tapi sudah tidak ada orang di sana." tanya Rivaldi.
" Hmmm, iya, Pak," jawab Kayra gugup. Sejujurnya dia takut jika sampai percakapannya dengan Rivaldi akan ketahuan oleh Erlangga meskipun suaminya itu belum tiba di kantor. Apalagi beberapa karyawan sudah datang dan ikut menunggu di depan pintu lift.
" Kenapa kamu seperti ketakutan seperti itu?" Melihat Kayra yang cemas, Rivaldi merasa heran.
" Ah, tidak apa-apa, Pak." Kayra menepis jika dirinya merasa ketakutan. Dia saat ini merasakan beberapa karyawan sedang berbisik. Dia bisa menduga hal apa yang dibicarakan para karyawan.
" Lalu sekarang ini kamu tinggal di mana, Kayra? Apa saya boleh minta alamat kamu?" Rivaldi tidak ingin terus mempertanyakan gelagat aneh Kayra, dia justru menanyakan alamat tempat tinggal Kayra saat ini, tanpa memperdulikan tatapan mata curiga beberapa karyawan yang ada di depan lift.
Ting
Pintu lift terbuka membuat Kayra menarik nafas lega, setidaknya dia bisa terlepas dari pertanyaan Rivaldi yang menanyakan soal alamat tempat tinggalnya. Dia bingung harus menjawab apa? Dan dia pun takut jika karyawan lain akan curiga dan menggosipkan dirinya bersama Rivaldi, karena Rivaldi membicarakan soal urusan pribadi dengannya.
" Saya duluan, Pak." Kayra segera ikut bergabung dengan karyawan lain di dalam lift meninggalkan Rivaldi yang tidak kebagian tempat di lift itu.
" Cieee ... sepertinya Pak Aldi sedang pedekate dengan Mbak Kayra, nih." celetuk salah seorang karyawan wanita di dalam lift itu.
" Wah, asyik dong, Mbak. Pak Aldi ganteng, keren ... tapi hati-hati loh, Mbak Kayra. Pasti akan menjadi publik enemy cewek-cewek di sini. Karena Pak Aldi itu jomblo terkeren di kantor ini dan banyak yang mengidolakan beliau." Karyawan lainnya mengomentari.
" Yang pasti Mbak Kayra akan banyak saingannya." Karyawan lain ikut memberi komentar.
Kayra hanya tersenyum mendengar komentar-komentar beberapa orang di lift itu.
" Mbak-mbak ini ada-ada saja, mana mungkin Pak Aldi mau mendekati saya, itu hanya perasaan kalian saja," tepis Kayra menyangkal dugaan mereka yang sebenarnya memang benar seperti itu kenyataannya.
__ADS_1
" Tapi sepertinya benar deh, Mbak. Pak Aldi sampai menanyakan alamat rumah Mbak Kayra. Pasti ada sesuatu, kan?" Karyawan pertama yang mengatakan soal aksi pedekate Rivaldi kembali menyebutkan alasannya berpendapat seperti itu.
" Ya sudahlah, Mbak. Jangan dibicarakan lagi, kasihan Pak Aldi kalau dia digosipkan seperti itu dengan saya," Kayra mengibas tangannya ke udara meminta para karyawan tersebut tidak memperpanjang pembicaraan tentang Rivaldi. Dan untungnya lift berhenti di lantai yang banyak dituju oleh karyawan itu membuat Kayra merasa plong karena terbebas dari pertanyaan-pertanyaan yang membuat dirinya bingung untuk menjawab apa.
" Aku harap ini tidak akan menjadi gosip. Aku takut jika Pak Erlangga tahu jika Pak Aldi masih terus berusaha mendekatiku," gumam Kayra menyandarkan tubuhnya ke dinding lift. Kayra cemas jika bosnya yang sudah menjadi suaminya itu mengetahui jika Rivaldi tidak mengindahkan larangan Erlangga untuk tidak mendekati dirinya.
***
Saat ini sudah menunjukkan pukul sepuluh namun Erlangga masih belum sampai di kantor. Sejujurnya Kayra agak sedikit deg-degan sekantor dengan Erlangga dengan status dirinya yang saat ini sudah menjadi istri Erlangga.
" Pak Erlangga sudah datang, Kayra?" tanya Wira yang keluar dari ruang kerja executive assistant Mahadika Gautama itu.
" Pak Erlangga belum datang, Pak." sahut Kayra bangkit dari duduknya.
Wira menoleh ke arah arloji di tangan kanannya. " Pak Erlangga ada jadwal bertemu dengan relasi bisnis dari Surabaya jam setengah sebelas ini," ucapnya kemudian.
" Pak Wira sudah menghubungi Pak Erlangga?" tanya Kayra.
" Sudah, tapi beliau belum membaca pesan saya," sahut Wira.
" Nanti saya coba hubungi Pak Erlangga juga, Pak." Kayra langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Erlangga.
" Ya sudah, tolong tanyakan kepada beliau apa akan langsung menuju tempat pertemuan? Kalau memang Pak Erlangga ingin langsung ke sana, saya akan berangkat sekarang agar tidak telat bertemu dengan klien kita itu," ujar Wira kemudian.
" Baik, Pak." jawab Kayra.
" Kabari saya jika sudah dapat jawaban dari Pak Erlangga." Wira kemudian kembali ke dalam ruangan kerjanya.
" Baik, Pak." Kayra masih sempat menyahuti perkataan Wira sebelum dia menghubungi nomer ponsel Erlangga.
" Selamat pagi, Pak. Maaf, Pak. Saya hanya ingin mengingatkan jika Pak Erlangga dan Pak Wira ada janji bertemu dengan relasi bisnis dari Surabaya," saat panggilan teleponnya terangkat, Kayra langsung mengingatkan soal jadwal kerja Erlangga hari ini.
" Iya saya tahu," jawab Erlangga.
" Maaf, Pak. Pak Wira tanya apa Pak Erlangga akan datang ke kantor dulu atau langsung datang ke tempat pertemuan?" Kayra menyampaikan pertanyaan Wira kepada Erlangga
" Dia menyuruh kamu menanyakan hal itu? Kenapa dia tidak menanyakan sendiri kepada saya? Kamu itu bukan asisten atau sekretaris Pak Wira!" Dari nada bicaranya, Erlangga terlihat kesal karena Wira ternyata menyuruh Kayra bertanya soal pertemuan mereka dengan relasi bisnis Mahadika Gautama.
" Maaf, Pak. Pak Wira bilang beliau sudah menghubungi nomer Bapak tapi Bapak belum merespon Pak Wira, karena itu Pak Wira meminta saya untuk menghubungi Bapak." Mendapat jawaban ketus dari Erlangga, Kayra pun langsung mengambil sikap yang sama. Dia berpikir, jika Wira sudah mendapatkan jawaban dari Erlangga, mana mungkin Wira akan bertanya kepadanya.
" Ya sudah, sebentar lagi saya sampai," sahut Erlangga.
" Baik, Pak. Selamat pagi." Kayra memutuskan panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Erlangga, hal yang paling jarang dia lakukan terkecuali saat Erlangga menghubunginya ketika pria itu memaksanya untuk menikah. Selama ini justru Erlangga lah yang selalu memutuskan percakapan telepon terlebih dahulu.
Namun beberapa detik setelah Kayra mematikan teleponnya, ponselnya kini berdering dan nama Erlangga lah yang muncul di layar ponselnya itu.
" Ada apa, Pak?" Kayra berpikir ada hal lain yang lupa disampaikan Erlangga kepadanya.
" Kenapa kamu menutup teleponnya? Saya tidak suka jika ada orang yang memutuskan sambungan telepon ketika berbicara dengan saya." Nada kemarahan terdengar dari kalimat yang diucapkan Erlangga.
" Maaf, Pak." Kayra yang menyadari Erlangga tersinggung dengan sikapnya langsung meminta maaf. " Apa ada yang ingin Bapak sampaikan lagi?" tanyanya.
" Saya hanya ingin menyampaikan itu. klik ... tut ... tut ... tut." Suara sambungan telepon terputus yang kini terdengar di telinga Kayra.
Kayra mengeryitkan keningnya seraya menatap layar ponselnya. Dia mendengus mendapati sikap arogan bos yang juga suaminya itu.
" Dasar pria aneh!" umpat Kayra kemudian.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading♥️
__ADS_1