MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Demi Istri Tercinta


__ADS_3

Malam hari setelah makan malam, Kayra dan Erlangga berbincang santai dengan Arina juga Nugraha, sementara Ryan sendiri pergi hangout bersama teman-temannya. Waktu di Bandung Ryan gunakan untuk berkumpul dengan teman-teman lamanya sebelum kembali ke Australia besok lusa.


" Kalau sudah mendekati HPL kamu, kasih tahu Mama ya, Kayra. Mama nanti mau ikut menemani kamu melahirkan." Arina tidak sabar ingin menemani putrinya itu menjalani persalinan.


" Iya, Ma. Nanti Kayra kabari. Pasti aku akan merasa tenang persalinannya karena ditemani Mama, Ibu dan Mama Helen." Kayra berkata jika Mama mertuanya dan juga Ibu Sari ikut menungguinya nanti.


" Apa Elang yang akan menemani kamu di dalam nanti?" Kini Arina bertanya kepada Erlangga.


" Insya Allah, Ma." sahut Erlangga.


" Ya sudah, Mama nanti dari luar saja dengan yang lain ikut membantu doa agar persalinan kamu dilancarkan." harap Arina agar putrinya itu dimudahkan dalam persalinannya nanti.


" Aamiin, Ma." balas Kayra.


" Mama berati sudah tua ya, Pa? Sudah mau punya cucu ..." Arina terkekeh menoleh ke arah suaminya.


" Iya, sebentar lagi kita akan menjadi Kakek dan Nenek ..." Nugraha menyahuti dengan ikut tertawa kecil.


" Tapi Papa dan Mama masih terlihat muda, kok." Kayra mengomentari.


" Mama kamu yang masih terlihat muda, Kalau Papa sudah tua." Nugraha menyahuti.


" Tidak juga, Pa. Papa masih terlihat gagah." Kali ini Erlangga menimpali.


" Oh ya, kalau Mama itu lahirnya tahun berapa? Tanggal lahirnya?" Tiba-tiba Kayra teringat menanyakan tanggal lahir Arina, karena kebetulan mereka sedang membahas hal yang berkaitan dengan usia.


" Mama sudah tua, Kayra. Tahun ini genap lima puluh tahun," jawab Arina.


" Tanggal berapa, Ma?"


" Tanggal lima belas September ..." jawab Arina kembali.


" Yah, sudah terlewat ya, Ma? Kenapa Mama tidak bilang sama Kayra?" tanya Kayra.


" Bulan September lalu kamu 'kan belum tahu kalau ini adalah Mamamu, Nak." Nugraha membantu menjawab.


" Oh iya." Kayra tersipu.

__ADS_1


" Kalau Papa sendiri usia berapa sekarang?" Erlangga kini bertanya sesuai janjinya pada Kayra akan bertanya hari lahir Papa sambung Kayra itu.


" Kalau Papa sudah tua. Beda tujuh tahun dengan Mamamu ini," jawab Nugraha.


" Tanggal dan bulannya, Pa? Mulai sekarang Saya harus mencatat tanggal dan moment pengting, Pa. Agar tidak dikomplain oleh Kayra." Erlangga menyebutkan alasannya.


" Memangnya kenapa Kayra komplain?" tanya Arina heran.


" Karena aku suka lupa, Ma." Erlangga terkekeh melirik istrinya yang hanya tersipu.


Teetttt


Terdengar suara bel pintu rumah berbunyi menandakan ada seseorang yang datang ke rumah milik Nugraha itu.


" Siapa yang datang, Ma?" Nugraha bertanya kepada Arina.


" Tidak tahu, Pa. Apa mungkin Aldi ya?" Arina balik bertanya.


" Bi, tolong bukakan pintunya!" Setengah berteriak Arina memanggil ART nya untuk membukakan pintu rumah.


Sedangkan Kayra seketika menoleh ke arah suaminya. Dia mengusap lengan Erlangga, meminta Erlangga bersikap sewajarnya jika memang yang datang benar Rivaldi.


" Assalamualaikum, Pa, Ma." Beberapa saat kemudian, orang yang diduga Arina bahwa Rivaldi yang datang memang benar-benar muncul di hadapan mereka. Rivaldi langsung menyapa dan bersalaman dengan kedua orang tuanya.


Sementara Kayra langsung menggenggam tangan sang suaminya saat tahu Rivaldi yang datang.


" Aldi, akhirnya kamu datang juga, Nak." Arina nampak senang dengan kemunculan Rivaldi saat itu. " Aldi, ini ada Kayra dan suaminya. Kayra ini anak Mama yang selama ini Mama cari-cari ..." Arina lalu memperkenalkan Kayra dan Erlangga kepada Rivaldi. Meskipun dia sudah diberitahu jika kemungkinan mereka saling mengenal, namun dia bersikap seolah tidak mengetahui tentang hal tersebut.


" Kayra, Elang, ini Rivaldi anak pertama Papa." Arina pun memperkenalkan Rivaldi pada kepada anak dan menantunya.


Rivaldi menoleh ke arah Kayra dan Erlangga yang duduk di seberang orang tuanya. Wajah kurang bersahabat masih ditunjukkan Rivaldi kepada Erlangga. Rasa kesal yang tersisa bukan karena Erlangga adalah keponakan dari orang yang telah menghamili Arina, tapi karena Erlangga adalah orang yang menggagalkan dirinya memiliki Kayra.


" Kayra, apa kabar?" Rivaldi lalu duduk di kursi sebelah Arina lalu menyapa Kayra, hanya Kayra yang disapa oleh pria itu.


" Baik, Pak Aldi." sahut Kayra melirik ke arah suaminya karena dia tidak enak hati, Rivaldi hanya menyapanya saja seolah tidak menganggap keberadaan Erlangga di ruangan itu.


" Lho, kok panggil Pak Aldi? Aldi ini kakak kamu, Kayra." Arina menegur Kayra yang memanggil Rivaldi dengan sebutan 'Pak'.

__ADS_1


" Oh, iya, Ma. Maaf ..." sahut Kayra yang saat ini berada dalam keadaan kikuk berada di antara suami dan kakak sambungnya yang tak lain pria yang pernah mengejarnya dan bersitegang dengan Erlangga.


Situasi saat itu terlihat agak kaku dan menegang, beberapa detik hanya hening, semua orang yang berada di ruangan itu seakan sedang berpikir, apa yang mesti dibicarakan.


Sementara Rivaldi masih terus menatap Kayra dan perut wanita itu yang sudah mulai membesar.


Melihat Rivaldi terus memperhatikan istrinya begitu lekat, membuat Erlangga menjadi tidak nyaman. Giginya sampai mengerat dan membentuk rahangnya yang terlihat mengeras.


" Hmmm, saya tidak menyangka jika Kak Aldi ternyata kakak sambung saya. Seandainya saya tahu dari awal, mungkin saya bisa lebih cepat bertemu dengan Mama." Kayra memulai pembicaraan. Dia memang tak menyangka jika Rivaldi adalah anak tiri Mama kandungnya.


" Saya juga tidak tahu kalau kamu adalah anak perempuan yang sejak lama Mama cari. Seandainya aku tahu sejak awal, sudah aku bawa pulang kamu ke sini." Kalimat yang diucapkan Rivaldi sontak membuat Erlangga mengepalkan tangannya.


Erlangga merasa jika Rivaldi sengaja menyindirnya. Tentu saja maksud dari ucapan Rivaldi adalah pria itu akan membawa dan tidak akan membiarkan dirinya menikahi Kayra.


" Aku rasa Mama lebih berhak atas kamu daripada keluarga Papa biologismu itu, Kayra!" Benar apa yang dikatakan oleh Rivaldi. Karena posisi Kayra adalah anak di luar nikah, tentu pihak Ibunya lah yang lebih berhak. Dan hal itu sengaja dijadikan senjata untuk menyerang Erlangga, karena selama ini Erlangga merasa paling berwenang atas Kayra, hanya saat itu Kayra adalah sekretaris Erlangga.


" Ehemmm, sebaiknya kita jangan bicarakan hal itu. Saat ini yang lebih berhak atas Kayra adalah Erlangga, karena dia adalah suami Kayra." Merasa situasi akan berubah kurang kondusif, Nugraha mencoba menegahi karena dia melihat putra sulungnya itu akan banyak bicara yang bisa membuat situasi semakin memanas.


" Papa harap, apapun konflik yang pernah terjadi di antara kalian, tolong kalian harus berbesar hati dan saling ikhlas memaafkan." Nugraha tak ingin konflik yang terjadi antara putranya dan Erlangga terus berlarut-larut, karena itu tidak akan baik mengingat saat ini Erlangga adalah menantunya juga.


" Papa kamu benar, Aldi. Sekarang ini Kayra adalah adikmu, dan Elang adalah suami Kayra. Mama tidak ingin kalian berdua saling bermusuhan, Aldi, Elang." Arina pun ikut bicara. " Aldi, Mama tidak pernah sedikit pun menanamkan kebencian kepada keluarga Elang. Kamu jangan membenci Elang, karena Elang tidak bersalah apa-apa," lanjutnya kemudian.


Perkataan Nugraha dan Arina tentu membuat Erlangga merasa di atas angin. Semua orang seolah mendukungnya dan menyalahkan Rivaldi.


" Saya minta maaf jika selama ini sikap saya membuat kamu tidak nyaman." Erlangga akhirnya mengeluarkan suaranya.


" Dan benar apa yang dikatakan oleh Papa Nugraha dan Mama Arina, tidak ada yang perlu diributkan lagi diantara kita. Saya sudah memaafkan semua kesalahanmu, saya harap kamu juga bisa memaafkan saya." lanjut Erlangga. Pria berprofesi sebagai CEO itu akhirnya memilih mendengarkan nasehat yang diberikan kedua mertuanya untuk berdamai demi sang istri tercintanya, Kayra Ainun Zahra.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2