
Kayra mengikuti langkah Erlangga yang berjalan memasuki ruangannya dari belakang saat Erlangga sampai kembali ke kantor setelah pulang dari Kantor Pengadilan Agama.
Kayra sendiri bingung apakah dia harus menanyakan soal sidang atau memilih diam saja. Dia takut dianggap terlalu ingin tahu urusan Erlangga dan Caroline.
" Apa kamu ingin menanyakan sesuatu?" Sepertinya Erlangga menyadari jika istrinya itu seakan memikirkan sesuatu.
" Hmmm, bagaimana jalannya sidang tadi, Pak?" Akhirnya Kayra memberanikan diri bertanya.
" Tidak ada masalah, semua lancar." Erlangga menaruh tas kerja di atas mejanya. Dia lalu merentangkan tangannya di depan Kayra lalu memeluk tubuh istrinya itu.
" Saya harap proses perceraiannya tidak memakan waktu lama agar saya bisa mengajakmu pergi berbulan madu."
Kayra tercengang mendengar ucapan Erlangga yang dibarengi senyuman di bibir pria tampan itu. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya Erlangga merencanakan bulan madu sementara perceraiannya dengan Caroline saja baru menjalani sidang pertama.
" Kenapa Bapak memikirkan hal itu?" tanya Kayra heran.
" Memang saya harus memikirkan apa lagi?" tanya Erlangga dengan entengnya.
" Bapak tega sekali dengan Ibu Caroline? Bapak baru mau menceraikan Ibu, sekarang Bapak malah ingin bersenang-senang dengan wanita lain." Kayra berpendapat jika keputusan Erlangga untuk menyusun rencana bulan madu untuknya tidaklah tepat.
" Saya tidak bersenang-senang dengan wanita lain, tapi dengan istri saya sendiri." Erlangga semakin mempererat pelukannya di pinggang Kayra dan akan membebankan kecupan di bibir manis istrinya itu.
" Selamat siang, Pak Krisna. Dengan siapa Bapak datang kemari?"
Suara kencang Wira dari luar ruangan Erlangga membuat pasangan suami istri yang sedang bermesraan itu terperanjat hingga Erlangga melepaskan pelukannya dan Kayra pun menjauh dari Erlangga.
" Apa anakku ada, Wira?" Giliran suara Krisna yang kini terdengar.
" Ada, Pak. Pak Erlangga baru saja pulang dari Pengadilan Agama." Wira menjelaskan.
Sepertinya Wira sengaja mengencangkan volume suaranya karena dia tahu saat ini Erlangga sedang bersama Kayra. Dia memberi kode kepada sepasang suami istri yang berada di dalam ruangan agar tidak melakukan hal yang mencurigakan.
Kayra sendiri segera mengambil beberapa berkas yang tadi dia letakan di atas meja untuk ditanda tangani Erlangga sebelum Erlangga datang. Dia sengaja mendekap berkas itu dengan satu tangannya lalu berjalan ke luar ruangan Erlangga. Padahal berkas yang dia bawa tadi belum sempat ditandatangani oleh bos dari Mahadika Gautama itu.
Dengan menarik nafas dalam-dalam Kayra membuka pintu ruangan Erlangga untuk keluar dari tempat itu secepatnya.
" Selamat siang, Pak Krisna." Kayra berusaha setenang mungkin menyapa pria paruh baya yang merupakan Papa mertuanya itu.
" Siang, Kayra. Erlangga sedang sibuk?" Krisna membalas sapaan yang diucapkan oleh Kayra.
" Pak Erlangga baru selesai menandatangani berkas ini, Pak." Kayra menunjuk berkas yang ada ditangannya.
" Oh, ya sudah ..." Krisna lalu masuk ke dalam ruang kerja putranya itu. Untung saja Krisna tidak menanyakan apa yang dilakukan Kayra di dalam ruangan Erlangga hingga membuat Kayra bernafas lega.
" Ada apa, Pa?" tanya Erlangga heran karena kedatangan Papanya di kantornya. Erlangga lalu menyuruh Papanya itu duduk sofa.
" Papa sengaja mampir ke sini setelah makan siang di rumah. Mamamu minta supaya Papa menemuimu untuk menanyakan bagaimana sidang pertamamu tadi?" Sebenarnya bukan karena disuruh oleh istrinya saja, namun Krisna sendiripun ingin tahu bagaimana soal persidangan perceraian putranya itu.
" Kenapa Mama tidak berani menanyakan sendiri kepadaku, Pa?" Pertanyaan Erlangga bernada cemoohan.
" Kau tahu bagaimana Mamamu, kan? Sepertinya dia orang yang paling bahagia atas perpisahanmu dengan Caroline." Krisna menanggapi pertanyaan putranya itu, karena dia tahu, sejak Erlangga menjalin hubungan dengan Caroline, hubungan Ibu dan anak itu tidak pernah bisa akur.
__ADS_1
" Mama menginginkan aku menikah dengan Agnes, tentu saja Mama akan senang melihat perceraianku dengan Caroline," sahut Erlangga mengetahui maksud dari sikap Mamanya selama ini.
" Dan apakah kamu akan memenuhi keinginan Mamamu itu, Lang?" Krisna terkekeh menanyakan pertanyaan yang sebenarnya dia tahu jawabannya. Erlangga selama ini selalu mengacuhkan Agnes, sudah pasti Erlangga tidak akan setuju jika harus dijodohkan dengan wanita itu oleh Helen.
" Daripada aku menikah dengan Agnes, aku lebih memilih tidak bercerai dengan Caroline, Pa." Erlangga mengumpakan jika dia disuruh memilih menikah dengan Agnes atau bertahan bersama Caroline.
" Erlangga, jujurlah pada Papa. Apa benar tidak ada seseorang yang membelokkan haluan cintamu? Papa tahu jika kamu sangat mencintai Catoline. Papa masih ingat bagaimana kamu bersikukuh ingin menikahi Caroline sampai kamu sering berselisih paham dengan Mamamu. Tapi sekarang kamu justru bersikukuh untuk berpisah dengan Caroline." Mengetahui bagaimana perjalanan cinta anaknya bersama Caroline membuat dirinya bertanya-tanya, apa yang membuat Erlangga memutuskan untuk berpisah selain karena kesibukan Catoline yang hampir tidak bisa seratus persen melayani Erlangga.
Erlangga menarik nafas dalam-dalam, beberapa menit dia hanya diam tak menjawab pertanyaan Papanya.
" Memangnya apa yang Papa harapkan atas pernikahan anak Papa ini?" Sebuah pertanyaan akhirnya keluar dari mulut Erlangga kepada Papanya.
" Sebagai orang tua tentu saja Papa ingin kamu bahagia dengan rumah tangga kamu, rukun bersama istrimu dan juga kalian dikaruniai anak-anak yang lucu." Krisna mengungkapkan apa yang dia harapkan dari pernikahan putranya.
" Dan hal itu yang tidak bisa aku dapati bersama Caroline, Pa. Kebahagiaan itu semakin lama semakin pudar. Setiap bertemu selalu saja pertengkaran yang ada di antara kami. Dan masalah anak, hingga aku mengatakan akan berpisah pun Caroline masih belum bersedia untuk hamil. Lalu untuk apa lagi rumah tangga kami dipertahankan?" Erlangga seolah meminta persetujuan dari Papanya soal keputusan yang dia ambil untuk berpisah.
" Sebenarnya semua bisa diatasi jika kalian menyingkirkan ego kalian masing-masing. Sebenarnya Papa merasa kasihan melihat Caroline sampai ingin bunuh diri seperti itu karena perceraian ini." Krisna memberikan pendapatnya.
" Sekarang ini masalah bukan hanya karena ego, Pa." Erlangga masih tidak bisa terima akan apa yang terjadi dia antara Caroline dan juga Wisnu. Namun dia tidak ingin menceritakan hal itu kepada Papanya.
" Lalu apa hanya karena hal itu kamu ingin berpisah?" tanya Krisna menyelidik karena dia merasa yakin ada hal yang ditutupi oleh Erlangga.
" Apa benar tidak ada seseorang yang lain di hati kamu saat ini, Erlangga?" tanya Krisna memperjelas pertanyaannya.
Erlangga mende sah, dia kembali tidak langsung menjawab pertanyaan Papanya, matanya justru melirik ke arah jendela di mana terlihat Kayra sedang melakukan aktivitas di meja kerjanya.
Tentu saja gerak-gerik Erlangga itu tertangkap mata Krisna hingga dia menoleh ke arah Erlangga memandang.
" Apa benar kecurigaan Papa selama ini, Lang?"
" Papa tetap merasa ada yang tidak beres dengan hubungan kalian berdua." Sejak Erlangga membawa Kayra ke rumahnya beberapa waktu lalu, Krisna memang merasakan ada yang aneh dengan hubungan antara bos dan sekretaris itu.
" Kenapa Papa selalu mencurigai kami?" Erlangga masih mencoba mengelak dari tuduhan yang dilontarkan Krisna. " Papa mau ke mana?" tanyanya kemudian saat melihat Papanya itu bangkit dan berjalan ke arah intercom wireless.
" Kayra, kamu masuk ke ruangan Erlangga segera!" perintah Krisna kepada Kayra melalui intercom wireless.
Sontak Erlangga membulatkan matanya mendengar perintah Papanya kepada istrinya itu.
" Untuk apa Papa memanggil Kayra?" Erlangga bangkit, dia khawatir jika Krisna akan menginterogasi Kayra.
" Jika kamu masih tutup mulut, Papa rasa Papa perlu bicara dengan Kayra!" tegas Krisna karena merasa anaknya tidak juga terbuka kepadanya.
Tok tok tok
" Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Kayra dengan tangan meremas ujung blazer yang dikenakannya karena dia merasa cemas Krisna akan menanyakan soal hubungannya dengan Erlangga.
" Duduklah, ada hal yang ingin saya tanyakan kepada kamu." Krisna menyuruh Kayra duduk di sofa.
Kayra melirik ke arah Erlangga, wajahnya sudah menampakkan kecemasan. Hatinya pun merasa tidak karuan, dia ingat saat Krisna memergoki dirinya beberapa waktu lalu bersama Erlangga. Pria paruh itu bahkan menuduhnya berusaha menggoda Erlangga.
" Sebaiknya kamu keluar dari ruangan ini, Lang. Papa ingin bicara dengan Kayra."
__ADS_1
Kayra menelan salivanya mendengar Krisna mengatakan ingin bicara berdua saja dengannya. Bahkan Erlangga pun diusir dari ruangan itu.
" Memang apa yang ingin Papa bicarakan dengan Kayra, Pa?" Erlangga masih berusaha menghalangi Papanya yang ingin mengorek keterangan dari Kayra.
" Papa ingin mencari jawaban atas apa yang Papa tanyakan kepadamu tadi. Karena kamu tidak memberikan jawaban, sebaiknya Papa mencari jawaban dari Kayra." Tatapan tajam terarah kepada Kayra yang langsung menundukkan kepalanya karena dipandang seperti itu oleh Krisna.
" Tapi, Pa ...."
" Cepat kamu keluar dari ruangan ini, Lang!"
Erlangga enggan melakukan apa yang diperintahkan oleh Papanya itu.
" Kayra tidak tahu apa-apa, Pa." Erlangga terus berusaha melindungi Kayra agar Papanya tidak bertanya banyak hal kepada Kayra.
" Kayra, boleh saya bertanya kepada kamu?" tanya Krisna dengan bahasa yang tegas tanpa memperdulikan ucapan Erlangga.
" S-silahkan saja, Pak. A-apa yang ingin Bapak tanyakan kepada saya?" Meskipun mulutnya berkata bersedia menerima pertanyaan Krisna, namun hatinya berdebar bahkan jantungnya berdetak sangat kencang.
" Pa ...!"
" Tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur, sebenarnya ada apa di antara kamu dengan Erlangga?"
Kayra menggigit bibirnya, ini hal yang paling dia takutkan. Dan dia tidak tahu harus menjawab dengan perkataan apa. Seandainya bisa dia ingin pergi dari ruangan itu hingga dia tidak mendapatkan pertanyaan-pertanyaan penuh selidik yang mungkin akan dilontarkan Krisna selanjutnya.
" Kenapa hanya diam?" Tak mendapat jawaban dari Kayra, Krisna kembali bertanya kepada Kayra karena wanita itu hanya diam terus menundukkan kepalanya.
" Saya ..." rasanya Kayra ingin menangis seketika itu juga. Dia benar-benar seperti seorang pencuri yang ketahuan pemilik.barang yang dia curi.
" Kenapa dengan kamu?" tanya Krisna kembali.
" Pa, sudahlah ... Jangan menekan Kayra!' Erlangga meminta Papanya untuk tidak terus bertanya kepada Kayra. Erlangga merasa tidak tega melihat istrinya itu ketakutan.
" Keluarlah kamu, Erlangga!" Merasa Erlangga mengganggu penyelidikkannya, Krisna menyuruh anaknya itu keluar dari ruang kerja Erlangga.
" Aku tidak akan membiarkan Papa terus menekan Kayra, Pa!"
" Selama kamu tidak memberi jawaban atas pertanyaan Papa, maka Kayra yang wajib memberi penjelasan itu kepada Papa, sampai dia membuka mulutnya dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua!" tegas Krisna terus memberi penekanan terhadap Kayra dan juga Erlangga untuk memberi jawaban tentang hubungan yang terjadi antara mereka berdua.
" Kayra istri aku, Pak!" ungkap Erlangga akhirnya mengatakan bagaimana hubungannya dengan Kayra yang sejujurnya.
Kayra sontak menaikkan pandangannya saat Erlangga mengatakan hal yang sebenarnya mengenai status dirinya. Dia tidak menyangka jika Erlangga akan mengatakannya dengan jujur kepada Papanya saat ini.
Tak beda jauh dengan Kayra, Krisna pun sama-sama terperanjat mengetahui fakta yang sebenarnya tentang Kayra. Dia pun lantas menatap bergantian Erlangga dan juga Kayra dengan pandangan hampir tidak percaya jika kedua orang di hadapannya itu sudah menjadi pasangan suami istri.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️
.