MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Status Kayra


__ADS_3

Erlangga sibuk menenangkan Kayra yang terus menangis selepas Helen meninggalkan ruangan kerjanya. Dia mengerti saat ini Kayra sangat terpukul dengan kejadian ini. Pria itu pun menyadari semua ini terjadi atas kesalahannya yang tidak terlalu sabar dalam mengambil keputusan untuk memperistri Kayra, hingga akhirnya Kayra mendapat tekanan dari berbagai pihak. Namun, dia sama sekali tidak menyesali keputusan menikahi Kayra, karena Kayra adalah wanita yang paling tepat untuk dirinya.


" Sayang, sudah jangan bersedih, Aku akan menjagamu, tidak akan aku biarkan satu orang pun menyakitimu." Erlangga memeluk Kayra dan membelai kepala Kayra seraya mencium pucuk kepala wanita itu berkali-kali. Dia sedih melihat Kayra seperti ini apalagi saat ini wanita itu sedang mengandung anak yang sejak lama dia idamkan.


" Ini semua salahku, Mas. Aku memang wanita murahan, wanita kampung, wanita miskin ... hiks ..." Kayra bahkan mengutuk dirinya sendiri seakan menyetujui apa yang dikatakan Helen kepadanya, mengatakan wanita murahan karena dia merasa jika dirinya karena bersedia menikahi pria beristri seakan tidak ada pria single di dunia ini.


" Tidak, Sayang! Kamu bukan seperti itu! Kamu terlalu berharga untuk aku, kamu lebih berharga dari apapun juga bagiku, Kayra." Sanggah Erlangga mengeratkan pelukannya pada tubuh Kayra. Selama lima tahun bekerja bersamanya, dia tahu bagaimana sosok Kayra, dia tahu bagaimana karakter wanita yang mulanya berstatus sebagai sekretarisnya itu, karena itu dia tidak akan suka jika ada orang yang merendahkan dan menjelekkan Kayra.


" Hiks ..." Kayra terus menangis pilu, merasakan bagaimana Helen dan juga Caroline sama-sama membencinya karena sudah merebut Erlangga. Jika kemarahan Caroline kepadanya, dia masih bisa menerima karena bagaimanapun dia salah telah merebut Erlangga dari Caroline, namun penghinaan yang dia terima dari Helen, meskipun wanita paruh baya itu adalah Mama dari Erlangga, rasanya sangat menyakitkan mendengar hinaan-hinaan Helen hanya karena status sosial yang menjadi permasalahan.


Erlangga mengurai pelukannya lalu menangkup wajah cantik Kayra, menyeka linangan air mata yang mengembun dan membasahi pipi istrinya. Dia harus bisa membuat mental Kayra yang saat ini sedang down bangkit kembali karena penghinaan Helen.


" Sudah jangan menangis lagi, anak kita pasti akan bersedih jika Mamanya bersedih. Jangan terlalu didengarkan apa yang dikatakan Mamaku, aku minta maaf atas semua perkataan Mama yang menyudutkanmu, semua itu salah aku," sesal Erlangga, karena ulah dialah Kayra menjadi seperti ini.


" Tapi bagaimana jika nanti orang tahu aku ini istri Mas? Orang pasti akan menyalahkan aku tanpa mereka mau tahu apa yang terjadi sesungguhnya, Mas." Kayra memang belum siap, atau tepatnya tidak pernah siap harus menghadapi cemoohan orang yang akan membully nya jika mereka tahu dia sudah menikah dengan Erlangga dengan status Erlangga masih menjadi suami Caroline.


Erlangga menarik nafas panjang, dia berpikir sejenak sebelum akhirnya dia merogoh saku bagian dalam blazernya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Papanya.


" Mas mau telepon siapa?"


" Papa."


" Halo, Pa. Apa Papa sedang sibuk?" sapa Erlangga setelah menunggu beberapa saat panggilan teleponnya baru terangkat oleh Krisna.


" Ada apa, Lang?" suara Krisna terdengar bertanya kepada putranya itu.


" Mama baru saja datang kemari bersama Agnes, Pa. Mereka memergoki aku dan Kayra, dan aku sudah mengatakan kepada Mama tentang status Kayra yang sebenarnya, Pa." Erlangga memberitahu Papanya apa yang baru saja terjadi di kantornya.


Dengusan nafas Krisna terdengar di telinga Erlangga menanggapi apa yang baru saja diceritakan oleh putranya.


" Lalu apa yang terjadi?" Akhirnya terdengar pertanyaan dari mulut Krisna dengan nada berat.


" Mama mengamuk, Pa. Mama bahkan hampir menampar Kayra dan mencaci Kayra." Erlangga menatap Kayra yang berwajah sendu di hadapannya.


" Papa sudah menduga akan hal itu." Menyadari bagaimana karakter sang istri, Krisna sudah bisa memastikan jika istrinya akan syok mengetahui status pernikahan Erlangga dengan Kayra


" Mama sudah tahu Kayra saat ini sedang mengandung anakku, Pa." Erlangga kembali menceritakan apa yang disampaikan kepada Mamanya tadi.


" Lalu? Apa Mamamu pingsan?" Krisna masih sempat berkelakar dengan mengatakan istrinya pingsan mengetahui kehamilan Kayra.


" Tidak mengubah keadaan, Mama tetap tidak bisa menerima kehadiran Kayra sebagai istriku, Pa." sesal Erlangga bernada kecewa.


" Papa bisa membayangkan bagaimana reaksi Mama kamu itu, Lang."


" Aku takut Mama akan melakukan sesuatu yang akan membuat Kayra dan calon anakku celaka, Pa." Menyampaikan kecemasannya akan tindakan yang akan dilakukan Mamanya, Erlangga meminta pendapat Papanya soal keputusan apa yang harus dia ambil. " Aku ingin memberitahukan karyawan tentang status Kayra saat ini sebelum Mama menyebarkan hal tidak benar tentang Kayra, bagaimana menurut Papa?"


" Memang sebaiknya kamu menjelaskan tentang status Kayra kepada karyawanmu, Lang. Tapi kamu harus menjelaskannya dengan cara yang benar, usahakan agar mereka tidak berpandangan negatif kepada Kayra, kasihan dia harus menjadi korbanmu." Tetap menganggap jika semua ini adalah kesalahan putranya, Krisna menasehati agar Erlangga bersikap hati-hati dalam menyampaikan rahasianya yang selama ini disembunyikan dari karyawan di kantor Erlangga.

__ADS_1


" Baik, Pa. Nanti aku akan merapatkan hal ini."


" Setelah kamu menjelaskan kepada karyawan di kantor, sebaiknya kamu tidak menyuruh Kayra bekerja, Lang. Ini untuk menjaga agar Kayra akan tertekan jika selalu mendengar omongan orang yang akan menggunjingkannya. Sebaiknya dia istirahat di rumah saja dan lebih fokus mengurus soal kehamilannya." Kembali Krisna memberikan sarannya kepada Erlangga.


" Aku pun sebenarnya sudah meminta Kayra untuk tidak bekerja, Pa. Tapi menantu Papa ini selalu membandel ingin ikut bekerja." Erlangga menoleh Kayra seraya mengusap kepala istrinya yang masih saja menangis.


" Apa Kayra ada bersamamu? Papa ingin bicara dengan Kayra." Krisna berniat menasehati Kayra.


" Sebentar, Pa." Erlangga menyodorkan ponsel kepada Kayra. " Papa ingin bicara denganmu."


Kayra menyeka air matanya lalu menerima ponsel suaminya.


" Assalamualaikum, Pa." Dengan suara menahan tangis, Kayra menyapa Papa mertuanya.


" Waalaikumsalam, Kayra. Nak, Papa minta maaf atas perlakuan Mama mertuamu itu, ya!? Kamu jangan bersedih, Papa akan berusaha berbicara dengan Mamanya Erlangga, kamu harus tetap bersabar ya, Nak. Papa yakin suatu saat Mama mertua kamu itu akan bisa menerima kamu sebagai menantunya." Krisna berusaha menyemangati Menantunya agar tetap bisa bertahan dan memaklumi Helen..


" Terima kasih, Pa." Dengan tersedu, Kayra menjawab apa yang diucapkan Krisna kepadanya. Kayra masih bersyukur, Papa mertuanya bisa berpihak kepadanya, jadi dia merasa sedikit terlindungi selain Erlangga yang selalu berjanji menjaganya.


" Papa juga berharap sebaiknya kamu bisa istirahat di rumah saja, tidak usah bekerja di kantor, kamu sedang hamil muda, sebaiknya kamu lebih fokus dengan kehamilanmu. Papa tidak ingin cucu Papa kenapa-napa karena pikiranmu terbebani dengan semua permasalahan yang ada di kantor." Krisna menasehati Kayra agar menantunya itu mau beristirahat di rumah dan tidak ingin Kayra tertekan dengan semua gosip yang mungkin akan muncul di kalangan karyawan, karena dia merasa tidak bisa mengendalikan mulut semua orang. Krisna bukanlah Erlangga yang senang mengintimidasi karyawannya dengan ancaman-ancaman agar mereka patuh kepadanya. Dia lebih mengutamakan sikap yang membuat setiap karyawannya segan dan hormat kepadanya.


" Iya, Pa." Kayra mencoba menahan tangisnya, di tengah kesedihannya, dia merasa terharu karena sikap dan perhatian Krisna yang begitu besar terhadapnya.


" Ya sudah, Papa tutup dulu teleponnya, Papa akan mencoba bicara dengan Mama mertuamu." Krisna berniat mengakhiri percakapan via telepon dengan Kayra.


" Iya, Pa. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


" Papa tadi bicara apa?" tanya Erlangga menerima ponsel yang disodorkan oleh Kayra. Namun, Kayra hanya diam tak menjawab pertanyaan sang suami, dia malah kembali terisak menyandarkan kepalanya ke bahu Erlangga.


" Sudah jangan menangis terus, aku 'kan sudah bilang, aku tidak ingin bayi jadi cengeng sepertimu ..." Erlangga justru meledek Kayra, membuat Kayra mencebik dan mencubit lengan Erlangga.


" Kenapa semua orang menyalahkanku? Ini bukan semuanya kesalahanku, tapi kesalahan Mas yang memaksa menikahiku ..." Kayra merasa semua perlakuan Helen kepadanya tidaklah adil karena hanya dirinya yang selalu disalahkan, padahal pernikahan ini adalah ide Erlangga. Kayra pun kembali menangis kencang mengingat akan hal itu.


" Sudah, Sayang ... sudah." Erlangga merengkuh istrinya dan mengusapkan tangannya ke pundak sang istri berusaha meredakan tangisan Kayra karena perkataan-perkataan Helen yang menyakitkan.


***


Di mobil yang dikendarai Agnes yang keluar dari kantor Mahadika, Helen tidak habis-habisnya mengumpat Kayra. Dia benar-benar merasa marah dengan sikap dan keputusan Erlangga yang memperistri Kayra tanpa sepengetahuan dan persetujuannya juga suaminya.


" Tan, kok Tante sama Om bisa kecolongan gitu, sih? Erlangga menikahi sekretarisnya yang miskin itu Tanya dan Om sampai tidak tahu!? Tidak selevel Erlangga sama wanita itu, Tan. Memalukan sekali! Masa aku harus kalah bersaing sama wanita kampung sih, Tan!?" Agnes memafaatkan momen untuk memprovokasi dan semakin menyulut emosi Helen.


" Kamu tenang saja, Agnes. Tante tidak akan membiarkan wanita itu bisa bertahan lama menjadi istri Erlangga. Tante akan mengadukan kelakuan Erlangga kepada Papanya, Tante yakin Papanya pasti akan marah dan tidak akan setuju Erlangga menikahi sekretarisnya itu." Helen sangat yakin jika suaminya akan mendukungnya untuk memisahkan Kayra dengan Erlangga.


" Aku harap begitu, Tan. Aku tidak mau terus disuruh sabar menunggu Erlangga. Kalau Tante tidak juga bisa memastikan aku akan menikah dengan Erlangga, sebaiknya Tante batalkan saja niat Tante menjodohkan kami, agar aku bisa mencari pria lain yang menginginkanku!" Agnes menggertak Helen, dia sengaja memberikan tekanan kepada Helen agar Helen cepat bertindak dan jangan sampai kalah dengan keputusan Erlangga, karena dia yakin, Helen pasti akan berusaha mempertahankan dirinya.


" Iya, Nes. Tante akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu bisa menjadi istri Erlangga. Lagipula Tante tidak sudi mempunyai menantu seperti dia." Helen sepertinya memang tidak bisa menilai Kayra secara objektif. Kebenciannya kepada Kayra melebihi kebenciannya kepada Caroline. Apalagi status sosial Kayra memang berbanding jauh dengan status sosial keluarganya.

__ADS_1


" Mereka harus bisa dipisahkan, Tante. Kalau tidak, nama baik keluarga Tante akan tercoreng, Masa keluarga besar Tante mempunyai menantu dari kasta rendahan begitu." Setali tiga uang dengan Helen, Agnes pun sama saja merendahkan Kayra. Dia hanya menilai seseorang dari status sosialnya saja tanpa menyadari jika perilakunya selama ini tidak menunjukkan seorang wanita berkelas.


" Tante, harus bicara dengan Papanya Erlangga dulu, kita ke kantor Om sekarang, Nes!" Helen menyuruh Agnes mengendarai mobilnya ke arah kantor Krisna karena dia ingin menceritakan semua kelakuan Erlangga kepada suaminya itu.


" Oke, Tan." Agnes pun segera mengarahkan mobilnya ke arah jalan menuju kantor Krisna, karena dia pun ingin tahu bagaimana sikap Krisna jika mengetahui Erlangga telah menikahi sekretarisnya, namun dia yakin jika Krisna akan berpihak kepadanya dalam hal ini.


***


" Apa Tuan Erlangga ada, Mbak?" tanya Pak Nico, kuasa hukum dari Erlangga yang tiba di kantor Erlangga atas permintaan CEO Mahadika Gautama tersebut.


" Maaf, dengan Bapak siapa? Apa Bapak sudah punya janji sebelumnya dengan Pak Erlangga?" tanya Gita yang sekarang berjaga di depan, karena sejak kedatangan Helen tadi Kayra terus berada di ruangan Erlangga.


" Saya Nico, saya kuasa hukum dari Pak Erlangga." Nico menjelaskan siapa dirinya kepada Gita.


" Oh, sebentar, Pak. Saya beritahu Pak Erlangga terlebih dahulu." Gita lalu berjalan menghampiri ruangan Erlangga.


Tok tok tok


" Permisi, Pak. Maaf, ada Pak Nico di luar, Pak. Katanya ingin bertemu dengan Bapak." Sesampainya di ruangan Erlangga, Gita memberitahukan Erlangga soal kedatangan pengacara dari Erlangga itu.


" Suruh beliau masuk!" CEO Mahadika Gautama itu menyuruh Gita mempersilahkan masuk kuasa hukumnya.


" Baik, Pak." Gita kembali ke luar lalu mempersilahkan Nico untuk masuk ke dalam ruangan Erlangga.


" Selamat siang, Tuan Erlangga." Pak Nico menyapa Erlangga saat masuk ke dalam ruangan kerja Erlangga.


" Siang, Pak Nico. Mari silahkan ..." Erlangga mempersilahkan Pak Nico duduk di sofa, sementara Kayra sendiri saat ini tertidur di ruang istirahat karena Erlangga menyuruh istrinya itu untuk beristirahat karena kelelahan menangis.


" Terima kasih, Tuan." Pak Nico lalu duduk di sofa ruangan kerja Erlangga.


" Bagaimana proses perceraian saya dengan Caroline, Pak Nico?" tanya Erlangga kepada Pak Nico.


" Pekan depan akan sidang putusan cerai, Pak. Kami sudah berdiskusi dengan Pak Robin, sepertinya Nyonya Caroline sudah tidak bisa menolak perceraian ini, Tuan." Nico melaporkan soal perkembangan soal gugatan cerainya.


" Syukurlah jika memang begitu. Lalu bagaimana dengan pernikahan saya dengan Kayra? Apa sudah Anda urus?" tanya Erlangga kemudian.


" Semua sudah kami proses, Tuan. Pernihakan Tuan dan Nona Kayra sudah kami ajukan ke Pengadilan Agama untuk disahkan, Tuan. Dan sudah kami daftarkan agar dicatat di KUA." Nico lalu mengeluarkan dua buku nikah berwarna merah maroon dan hijau tua bercover carton glossy.


Erlangga menerima kedua buku tersebut dan mengecek isinya. Dia melihat nama dan foto dirinya dan Kayra di kedua buku tersebut. Dia tersenyum melihat buku nikah dirinya bersama Kayra.


" Saya ingin mengumumkan pernikahan saya dengan Kayra, saya harap Anda menyaksikannya Pak Nico. Dan setelah perceraian saya dengan Caroline beres, saya akan mengadakan konfrensi pers kepada publik untuk memberitahukan status Kayra yang sebenarnya bagi saya" Erlangga mengatakan niatnya dan ingin kuasa hukumnya itu hadir di acara rapat yang akan Erlangga adakan beberapa menit lagi bersama petinggi-petinggi Mahadika Gautama.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2