
Entah mengapa hati Erlangga merasa terbakar saat melihat Kayra membiarkan pria lain memegang rambut indah Kayra. Padahal sebelumnya Caroline yang seorang model pun rambutnya sering dipegang oleh banyak hair stylist, namun Erlangga tidak pernah semurka ini sebelumnya sampai dia menepis kasar tangan pegawai pria salon itu.
" Apa kamu sengaja membiarkan pria lain menyentuhmu, Kayra!? Saya sudah katakan saya tidak suka ada pria lain yang menyentuhmu!" Erlangga bahkan mencengkram lengan Kayra.
Wajah Kayra memucat seketika karena sikap posesif Erlangga yang kadang tidak melihat situasi. Apalagi saat itu di sebelahnya ada Gita, sesama karyawan Erlangga. Kayra melirik ke arah Gita dengan wajah panik, setelah kemarin diketahui oleh Krisna, kini karyawan Erlangga yang lain mengetahui tentang statusnya.
Sontak tatapan mata Kayra ke arah Gita membuat Erlangga menolehkan pandangan ke arah yang sama. Dia mendapati seorang wanita yang terlihat tercengang menatapnya.
" Dia ini siapa?" tanya Erlangga menanyakan Gita kepada Kayra.
" Oh, s-selamat sore, Pak Erlangga." Gita yang sejak tadi tertegun dengan kehadiran Erlangga di tempat itu lalu menyapa bosnya.
" Kamu kenal saya?" Erlangga terkejut saat Gita menyapanya. Dia lalu memperhatikan Gita. Jubah yang dipakai Gita menutupi pakaian yang dikenakan Gita hingga Erlangga tidak mengenali karyawannya itu.
" S-saya k-karyawan Bapak, Pak." Dengan kalimat terbata Gita menjawab pertanyaan Erlangga.
" Karyawan saya?" Erlangga kembali terperanjat saat mengetahui jika Gita adalah karyawannya. Tentu saja jumlah karyawannya yang ratusan orang membuatnya tidak dapat satu persatu mengenali siapa saja yang bekerja di perusahaannya.
" B-benar, Pak. Saya staf di divisi umum, Pak." sahut Gita masih dengan rasa gugup.
Erlangga lalu menoleh ke arah Kayra yang langsung memejamkan matanya. Bahkan dengusan nafas istrinya itu terdengar jelas oleh Erlangga.
" Kamu ikut saya!" Lalu Erlangga memberi perintah kepada Gita untuk ikut dengannya. " Apa kamu sudah selesai, Kayra?" tanyanya kemudian kepada Kayra.
Sebenarnya rambut Kayra masih setengah basah dan belum selesai dikeringkan. Namun karena tindakan Erlangga tadi membuatnya malas berlama-lama di salon itu.
" Saya, Pak?" Sedangkan Gita menunjuk dirinya sendiri saat Erlangga meminta dirinya mengikuti pria itu.
" Apa kamu ingin dipecat dari pekerjaanmu!?" Ancaman ditebarkan Erlangga melihat Gita yang masih terlihat bengong.
" T-tidak, Pak. Jangan ...!" Tentu saja Gita menolak ancaman Erlangga itu.
" Kalau begitu ikut dengan saya!" Perintah Erlangga lalu berjalan meninggalkan salon diikuti oleh Kayra di belakangnya. Gita memilih berjalan sedikit di belakang Kayra. Wanita itu menatap tubuh bagian belakang Kayra dan Erlangga yang berjalan di depannya. Saat ini puluhan pertanyaan sudah memenuhi benaknya saat dia mengetahui tentang fakta seputar hubungan Kayra dan Erlangga.
***
Saat ini Erlangga duduk di depan kemudinya dengan Kayra yang duduk di samping Erlangga dan Gita duduk di kursi belakang. Hati Gita dilanda kecemasan. Bahkan pikiran buruk sudah menari di benaknya. Sampai terpikirkan jika dirinya akan disingkirkan atau dibunuh karena rahasia yang dia ketahui soal hubungan Erlangga dan Kayra
" Siapa namamu?" Pertanyaan Erlangga memecah keheningan di antara mereka yang ada di dalam mobil Erlangga.
" Saya Gita, Pak. Staf divisi umum." Dengan hati berdebar Gita menjawab pertanyaan Erlangga.
" Oke, apa kamu ingin terus bekerja di kantor saya?" Walaupun itu berupa kalimat tanya namun Gita merasakan jika suara Erlangga terdengar sangat mengintimidasi.
" Tentu saja, Pak. Saya senang bekerja di perusahaan Bapak." Bukan hanya karena sedang berhadapan dengan bosnya saja Gita mengatakan hal itu, tapi memang karena dia sangat merasa enjoy bekerja di sana.
" Kalau kamu tidak ingin dipecat dari perusahaan saya, kamu harus lupakan apa yang kamu ketahui hari ini!" Erlangga menatap tajam Gita dari kaca spion. " Apa yang kamu lihat dan apa yang kamu dengar tadi, anggap kamu tidak pernah mengetahui apa-apa! Dan saya akan menaikkan posisi pekerjaan kamu di kantor saya." Erlangga bahkan menjanjikan kenaikan jabatan untuk Gita.
Apa yang dikatakan Erlangga tentu saja membuat Gita tercengang. Dijanjikan kenaikan jabatan, siapa orangnya yang tidak merasa senang? Dan Gita tidak menampik itu.
Kayra sendiri terkesiap mendengar Erlangga menjanjikan kenaikkan jabatan kepada Gita. Dia tidak menyangka Erlangga terlalu memprotek dirinya agar tidak ada orang kantor yang akan menggosipkannya.
" Bagaimana? Kamu setuju?" tanya Erlangga karena Gita hanya bengong tak menjawab pertanyaannya.
" Silahkan kamu pilih mana yang kamu suka? Dipecat dari perusahaan karena saya anggap kamu membahayakan bagi hubungan saya dengan Kayra, atau kamu tutup mulut dan mendapatkan jabatan baru beserta salary yang lebih besar dari sebelumnya." Tawaran Erlangga begitu menggiurkan bagi Gita.
" Baik, Pak. Saya setuju ...!" tegas Gita menyetujui apa yang ditawarkan oleh bosnya itu. Dia pikir tidaklah sulit hanya tutup mulut saja. Yang lebih penting adalah karir dia sebagai karyawan di perusahaan Mahadika Gautama bisa meningkat.
" Baiklah, tapi asal kamu ingat, jika sampai berita ini tersebar di kantor, walaupun bukan kamu yang menyebarkannya, kamu tetap terancam saya pecat!" Erlangga sengaja memberikan ancaman penekanan agar Gita berhati-hati dengan sikapnya.
Baik Gita maupan Kayra sama-sama terkejut dengan ancaman yang diucapkan Erlangga.
__ADS_1
" Dan jika kamu sampai saya pecat, saya pastikan kamu tidak akan bisa diterima bekerja di perusahaan mana pun juga!"
Kayra sampai menelan salivanya. Sepertinya suaminya itu tidak main-main dengan ancamannya. Siapa pun orang yang melakukan kesalahan dan dipecat oleh Erlangga dipastikan kiamat kecil akan terjadi pada orang itu.
" B-baik, Pak. Saya berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini." Mau tidak mau Gita memang harus menerima permintaan Erlangga karena dia tidak ingin mempertaruhkan pekerjaannya.
" Bagus kalau kamu mengerti. Jika kamu mengingkari apa yang kamu ucapkan ini, saya jamin kamu akan menerima akibatnya." Penekanan terus dilancarkan Erlangga agar Gita tunduk kepadanya.
" I-iya, Pak. Saya mengerti." sahut Gita ketakutan. Dia hanya bisa pasrah menjalankan apa yang diperintahkan oleh Erlangga untuk tutup mulut atas rahasia besar yang dia ketahui secara tidak sengaja.
***
" Kenapa kamu diam saja? Seharusnya saya yang berhak marah karena kamu membiarkan pria lain menyentuhmu!"
Selama perjalanan pulang hingga sampai di rumah tinggal Kayra, wanita itu terlihat hanya terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya, hingga membuat Erlangga bertanya.
" Saya sedang bicara dengan kamu, Kayra!" Erlangga kini menarik lengan Kayra yang mengacuhkan pertanyaannya.
" Kenapa Bapak hanya memikirkan diri sendiri? Jika Bapak bersikap seperti ini terus, bukan tidak mungkin semua orang di kantor Bapak akan tahu jika saya ini istri simpanan Bapak! Dan semua orang di kantor akan menuduh saya ini seorang pelakor!!" Kayra terbawa emosi karena sikap posesif Erlangga akan sangat merugikannya.
Erlangga menghela nafas panjang. Dia memang tidak melihat lingkungan sekitar saat dia marah tadi. Dia pun tidak memperdulikan orang yang memperhatikannya dengan berbisik. Erlangga benar-benar tidak mengerti kenapa dia begitu sangat melindungi istrinya itu agar tidak ada pria yang berani mendekati dan merebut istri cantiknya itu.
" Saya minta maaf." Erlangga memberi pelukan kepada Kayra lalu menciumi pucuk kepala Kayra.
" Saya harap Bapak tidak bersikap berlebihan terhadap saya di muka umum. Saya tidak ingin orang berpikiran negatif terhadap saya." Kayra terisak di dada Erlangga seakan mengeluhkan sikap Erlangga yang akan menimbulkan dampak negatif untuk nama baiknya.
" Baiklah, saya minta maaf ... kamu jangan menangis lagi." Erlangga mengusap kepala Kayra menenangkan istrinya agar tidak terus merajuk.
Beberapa jam kemudian, saat Erlangga terlihat sibuk dengan laptopnya di sofa kamar, Kayra mencoba menghubungi Gita dengan ponselnya. Karena tadi Erlangga sempat meminta nomer ponsel karyawannya itu yang langsung Kayra simpan di ponselnya.
" Assalamualaikum, Mbak Gita. Maaf mengganggu waktu istirahat, Mbak Gita. Ini saya Kayra. Mbak, saya minta maaf jika saya sudah membuat Mbak Gita susah karena sikap Pak Erlangga tadi. Saya mohon Mbak Gita tidak berpikiran buruk terhadap saya, Terima kasih, Mbak." Kayra tidak ingin Gita mempunyai pikiran buruk kepadanya karena itu dia berniat minta maaf kepada Gita walaupun semua ini bukanlah kesalahannya.
" Waalaikumsalam, tidak apa-apa, Bu. Saya janji tidak akan memberitahu kepada siapapun tentang status Ibu yang sebenarnya." Bahkan Gita sudah berubah panggilannya menjadi Ibu kepada Kayra.
" Mbak Gita jangan panggil saya Ibu, panggil Mbak saja seperti biasa, saya tidak ingin orang akan curiga dengan panggilan Mbak Gita itu." Kayra meminta Gita agar tidak memanggilnya dengan panggilan resmi.
" Baik, Mbak Kayra." balas Gita.
" Terima kasih ya, Mbak. Maaf mengganggu, assalamualaikum ..." Kayra segera berpamitan ingin mengakhiri percakapannya via telepon.
" Baik, Mbak. Waalaikumsalam ..." Gita pun menjawab Kayra.
Setelah selesai berkomunikasi dengan Gita, Kayra pun berjalan mendekati suaminya yang masih tampak sibuk dengan laptop di pangkuannya. Dia menoleh jam di dinding sudah lebih dari jam sembilan malam.
" Sudah malam, apa Bapak tidak ingin istirahat?" tanya Kayra kepada Erlangga lalu duduk di samping pria berperawakan tinggi itu.
Erlangga menoleh ke arah Kayra seraya tersenyum.
" Apa kamu ingin tidur ditemani saya?" Satu tangan Erlangga langsung melingkar di pundak Kayra dengan senyuman yang masih mengembang di bibir pria tampan itu.
Kayra langsung menoleh dengan kening berkerut menanggapi ucapan suaminya. Matanya kini saling bersitatap dengan mata Erlangga hingga mereka berpandangan dengan lekat hingga beberapa saat.
Erlangga bahkan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Kayra dan menempelkan bibirnya dengan bibir ranum Kayra. Dia memberikan sentuhan lembut dan merasakan manisnya daging kenyal yang selalu memabukkan dan menjadikannya candu yang mampu membuatnya seperti tersihir hingga selalu ingin merasakannya.
Kayra pun tak menolak apa yang dilakukan Erlangga hingga dia memejamkan mata seakan menikmati suaminya yang terus menyesap bibirnya, menghasilkan suara decapan atas pertemuan kedua bibir mereka. Hingga tanpa Kayra sadari dia pun mulai terhanyut bahkan membalas apa yang dilakukan Erlangga kepadanya.
Erlangga langsung menjeda pagutannya saat dia menyadari istrinya mulai merespon ciumannya, senyuman nakal kembali terlihat di sudut bibir pria itu.
" Kamu mulai pandai sekarang, bisa membalas apa yang saya lakukan." Erlangga terus menyeringai karena berhasil mengajari istrinya itu hingga Kayra mulai bisa mengikuti permainannya.
Rona merah langsung membias di pipi mulus Kayra saat mendengar ucapan Erlangga. Seketika itu juga dia dihinggapi rasa malu karena dia sudah berani membalas ciuman Erlangga. Kayra langsung bangkit ingin segera merebahkan tubuhnya karena dia benar-benar merasa malu terhadap suaminya itu.
__ADS_1
" Mau ke mana?" Erlangga terkekeh menahan langkah Kayra dengan menarik tangan istrinya itu.
" S-saya mau istirahat, Pak." Kayra memalingkan wajahnya karena sudah dipastikan wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
" Memangnya kamu bisa tidur tanpa ditemani saya?" Erlangga lalu mematikan laptopnya lalu bangkit kemudian mengangkat tubuh Kayra, membawanya ke atas tempat tidur.
" Pak, saya lelah sekali. Jangan malam ini." Menduga suaminya akan meminta jatah kebutuhan biologisnya Kayra segera menolak dengan halus agar Erlangga tidak tersinggung karena dia menolak keinginan Erlangga.
" Ya sudah, kamu istirahat saja kalau begitu. Erlangga pun membaringkan tubuhnya di samping Kayra. " Kemarilah ..." Erlangga menyuruh Kayra menaruh kepala di bahunya.
Kayra mengikuti apa yang diminta Erlangga, wanita itu meletakkan kepala di bahu Erlangga hingga aroma maskulin menguar dari tubuh atletis sang suami. Dia lalu memejamkan matanya hingga tak membutuhkan waktu lama wanita itu sudah terlelap dan terbang ke alam mimpinya.
***
Tok tok tok
Kayra berjalan ke arah pintu ruangan Erlangga untuk membukakan pintu yang diketuk dari arah luar.
" Permisi, Mbak." Terlihat Gita yang berdiri di depan pintu saat pintu itu dibuka Kayra.
" Silahkan masuk, Mbak Gita." Kayra mempersilahkan Gita untuk masuk ke dalam ruangan Erlangga.
" Terima kasih, Mbak." Walaupun melangkah masuk, namun Gita memilih menunggu Kayra untuk berjalan di belakang Kayra.
Gita mengedar pandangan saat memasuki ruangan CEO tempatnya bekerja. Ini pertama kalinya dia masuk ke ruangan itu. Benar-benar mewah dan sangat nyaman menurutnya.
" Silahkan duduk, Mbak Gita." Kayra mempersilahkan Gita duduk di sofa. Dia kemudian menoleh ke arah Erlangga yang sudah bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju sofa.
" Saya sudah siapkan jabatan apa yang akan saya berikan ke kamu. Gaji yang kamu terima untuk tugas kamu ini dua kali lipat dari gaji yang kamu terima di staf divisi umum sebelumnya." Erlangga lalu menjelaskan kepada Gita saat dia sudah mendudukkan tubuhnya di atas sofa.
Tawaran gaji sebanyak dua kali lipat tentu saja menggiurkan bagi Kayra. " Apa yang harus saya kerjakan, Pak?" tanya Gita penasaran. Dia berharap posisi yang akan diberikan kepadanya tidak akan sulit untuk dia pelajari.
" Mulai hari ini, saya akan menjadikan kamu sebagai Asisten pribadi dari Kayra. Tempat kamu akan bersebelahan dengan Kayra. Kamu harus menghandle apa yang Kayra butuhkan, termasuk kamu harus melindungi Kayra jika ada orang atau karyawan lain yang mengusik Kayra."
Kayra dan Gita sama-sama terperanjat mendengar tugas yang akan diberikan Erlangga kepada Gita.
" Asisten pribadi saya, Pak? Tapi untuk apa, Pak? Saya tidak membutuhkan asisten pribadi." Kayra sontak menolak apa yang diputuskan oleh Erlangga.
" Jika perceraian saya dengan Caroline sudah tuntas, kamulah yang akan menjadi istri saya satu-satunya, Kayra. Dan kamu akan butuh seorang asisten pribadi yang bisa menghandle semua keperluanmu!"
Kayra menarik nafas seraya memejamkan matanya. Rasanya malu sekali saat Erlangga mengatakan jika pria itu bercerai dengan Caroline dan dia akan menggantikan posisi Caroline di hadapan Gita. Bukankah hal itu memperlihatkan jika dirinya seperti perebut suami orang? Itu yang selalu membuatnya cemas.
Sedangkan Gita sendiri masih bingung dengan tugas yang diberikan kepadanya. Menjadi asisten istri bos? Sudah pasti tidak akan mudah untuknya apalagi status Kayra saat ini belum diketahui oleh para karyawan.
" Bagaimana? Apa kamu setuju? Jika kamu setuju, nanti saya akan atur orang untuk menyiapkan meja kerjamu di dekat Kayra.
" Lalu bagaimana jika orang mempertanyakan pekerjaan Mbak Gita, Pak? Tidak mungkin 'kan jika Mbak Gita mengatakan akan menjadi asisten pribadi saya?" Kayra tidak mengerti mengapa Erlangga mengambil keputusan yang menurutnya aneh. Sudah bisa dia duga keberadaan Gita seruangan dengannya akan menimbulkan gunjingan para karyawan kantor Erlangga.
Erlangga mengusap rahangnya dengan berpikir mencari alasan apa yang tidak akan diprotes oleh istrinya itu. " Hmmm, begini saja ... Saya akan bilang ke Pak Hendro jika mulai besok kamu akan dipromosikan sebagai sekretaris kedua saya,"
" Sekretaris kedua?" Kayra dan Gita sama-sama tercengang mendengar rencana yang akan dijalankan Erlangga untuk menyamarkan aksinya. Kini kedua wanita itu pun saling berpandangan dengan kebingungan di benak masing-masing.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️
__ADS_1