MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Kania Pratiwi


__ADS_3

Dengan air mata berurai dan rasa sakit yang dia rasakan setelah secara paksa disuruh meladeni naf su be jat Danny, Arina mengepak pakaiannya. Dia tidak sanggup terus berada di rumah itu. Hal seperti mungkin saja akan terus terjadi tanpa dia punya kekuatan untuk menolaknya. Sehingga membuatnya bertekad untuk meninggalkan rumah kediaman Krisna Mahadika Gautama.


Arina menatap Erlangga kecil yang masih tertidur pulas. Tangannya mengusap wajah bocah tampan itu seraya terisak.


" Maafkan Sus Rina, Elang. Sus Rina harus pergi meninggalkan Elang. Hiks ..." Bahkan untuk meneruskan kalimatnya saja, Arina tidak sanggup melakukannya. Dia hanya mampu menangis dan menciumi wajah Erlangga yang masih saja tertidur pulas


" Sus berdoa, semoga Elang akan menjadi anak yang hebat, menjadi anak yang pintar, yang dapat membanggakan Papa dan Mama Elang. Hiks ..." Masih dengan tangan memeluk Erlangga, Arina menangis tersedu.


" Ncus, Ncus kenapa nangis?" Tiba-tiba Erlangga terjaga dari tidurnya. Bocah itupun bertanya heran melihat pengasuhnya itu menangis.


" Ah, tidak apa-apa, Elang." Arina terkesiap melihat Erlangga yang terbangun karena mungkin mendengar tangisannya atau mungkin merasakan air mata yang menetes jatuh di wajah Erlangga. " Ncus tadi hanya menguap jadi keluar air matanya. Sekarang Elang bobo lagi, ya!?" Arina menyuruh Erlangga kembali tertidur agar anak itu tidak banyak bertanya. Dia mendekap dan mengusap punggung Erlangga kecil agar kembali tertidur pulas.


***


Setelah masuk waktu Shubuh, Arina menenui Bi Lastri agar menemani Erlangga di kamarnya hingga Erlangga bangun nanti.


" Kamu mau ke mana, Sus?" tanya Bi Lastri melihat Arina yang sudah terlihat rapih mengenakan dress di bawah lutut dan juga sweater tebal melapisi dress itu. Apalagi dengan mata sembab Arina membuatnya Bi Lastri merasa heran.


" Bi, saya mau pergi. Saya titip Erlangga ya Bi!?" ucap Arina dengan nada getir.


" Kamu mau ke mana, Sus?" Bi Lastri tidak cukup puas dengan jawaban Arina, hingga dia menanyakan kembali, ke mana pengasuh anak majikannya itu akan pergi.


" S-saya, saya tidak sanggup terus tinggal di sini, Bi." Arina menahan air matanya agar tidak menetes.


" Semalam Bi Lastri lihat ada Mas Danny datang. Apa Mas Danny melakukan sesuatu terhadap kamu, Sus?" tanya Bi Lastri penasaran. Karena dia sempat melihat kedatangan Danny di rumah majikannya itu.


" Tidak, Bi. Tolong jangan bilang ke Pak Krisna kalau Mas Danny semalam datang ke sini ya, Bi!?" Arina melarang Bi Lastri bercerita tentang kedatangan Danny ke rumah itu.


" Kenapa memangnya, Sus?" Bi Lastri terheran akan larangan Arina yang memintanya tutup mulut soal Danny.


" Bi Lastri tahu, kan? Kalau Pak Krisna melarang Mas Danny menginjakkan kaki di rumah ini lagi? Tapi justru Ibu Helen yang menyuruh Mas Danny datang ke sini untuk menjaga Erlangga selama beliau pergi. Saya tidak mau karena kehadiran Mas Danny di sini akan membuat Bapak dan Ibu betengkar." Arina menjelaskan alasannya kenapa meminta Bi Lastri tidak menceritakan kedatangan Danny kepada Krisna.


" Tapi kalau nanti Bapak sama Ibu menanyakan kamu gimana, Sus?" Bi Lastri bingung akan menjawab apa jika kedua majikannya itu menanyakan kepergian Arina.


" Bilang saja Bi Lastri tidak tahu. Bi, saya minta tolong, jangan katakan apa-apa sama Bapak dan Ibu, ya!?" Arina memohon agar Bi Lastri tutup mulut.


" Lalu kamu mau ke mana, Sus?" tanya Bi Lastri.


" Saya tidak tahu, Bi." lirih Arina


" Kamu sedang hamil besar, Sus.. Bagaimana kalau nanti kamu melahirkan?" Bi Lastri mengkhawatirkan kondisi Arina yang tengah hamil besar.


" Prediksi melahirkan dua Minggu lagi, Bi. Bi Lastri tenang saja." Arina yang sudah bertekad meninggalkan rumah Krisna berusaha meyakinkan Bi Lastri jika dia akan baik-baik saja.


***


Arina memutuskan pergi ke Bandung untuk menemui temannya dulu di panti asuhan yang bekerja di Bandung. Selama bekerja sebagai pengasuh di umah keluarga Krisna, Arina selalu berkomunikasi dengan temannya itu.


" Ssshhh ..." Saat berada di dalam angkot yang membawa Arina ke tempat temannya, tiba-tiba saja perutnya merasakan kontraksi.


" Kenapa, Teh? Teteh mau melahirkan?" Seorang penumpang lain di dalam mobil angkutan kota itu bertanya kepada Arina yang meringis seraya mengusap-usap perutnya.


" Sssshhh ..." Bahkan untuk menjawab pertanyaan penumpang itu, Arina tidak sanggup melakukannya, karena perutnya benar-benar merasakan kontraksi hebat.


" Pak supir, Teteh ini mau melahirkan. Sebaiknya cari bidan terdekat saja." Ibu penumpang itu menyuruh Pak supir untuk membawa Arina ke bidan terdekat di daerah itu.


" Aduh, gimana ini? Tapi nanti Ibu yang bawa masuk ke bidannya, ya?" Supir angkot itu meminta ditemani penumpang itu ke bidan.


" Ya sudah, yang penting cepat cari bidan terdekat dulu, Pak supir." ucap Ibu penumpang tadi.


Selama sepuluh menit lamanya, Arina harus bersabar sampai supir angkot itu menemukan bidan terdekat. Arina hanya bisa menangis dan berucap istighfar melawan rasa sakit yang semakin lama semakin menyerangnya.

__ADS_1


" Permisi, permisi. Teteh ini mau melahirkan. Bisa minta tolong duluan ditanggani, ya!?" Ibu penumpang angkot tadi bicara kepada beberapa pasien yang sedang antre menunggu giliran mereka dipanggil.


" Ada apa, Bu?" seorang wanita keluar dari dalam ruangan periksa bidan saat terdengar suara gaduh di luar.


" Teh, punten. Ini ada pasien yang mau melahirkan. Bisa minta tolong ditanggani lebih dulu?" Ibu penumpang angkot yang menuntun Arina berkata kepada wanita yang diduga asisten di tempat bidan itu.


" Oh, mari silahkan ..." Wanita itu akhirnya mempersilahkan Arina masuk ke dalam persalinan.


" Sebentar, saya bicara dengan Bu bidannya dulu ya, Bu." Wanita tadi berpamitan untuk menemui bidan yang akan membantu Arina melahirkan.


" Baik, Teh." Ibu penumpang angkot menjawab. Namun, dia mengikuti wanita itu berjalan ke luar. " Teh, maaf. Saya hanya mengantar saja. Tadi Teteh itu sedang naik angkot dan mengalami kontraksi. Jadi saya membawa kemari. Tapi, saya harus pergi ..." Merasa tugasnya mengantar Arina sudah selesai, Ibu penumpang berpamitan kepada wanita asisten bidan itu.


" Lalu siapa yang akan menemani Teteh tadi melahirkan, Bu?" tanya asisten bidan bingung.


" Nanti Teteh tanya sendiri saja ke orang itu, ya!? Saya permisi ..." Penumpang angkot itu bergegas ke luar ruangan dari tempat bidan yang akan membantu Arina melahirkan.


Melihat Ibu itu berlari membuat asisten bidan kebingungan. Dia pun bergegas menemui Bidan untuk melaporkan apa yang baru saja terjadi.


" Ada apa, Sari?" tanya Bidan Eti heran melihat asistennya yang bernama Sari bergegas masuk ke dalam ruangan periksa.


" Ada pasien yang ingin melahirkan, Bu Bidan." ucap Sari melaporkan.


" Ya sudah, kamu bawa ke rumah persalinan. Nanti sebentar lagi saya periksa." sahut Bidan Eti.


" Tapi, Bu Bidan. Tidak ada yang menemani orang itu melahirkan. Kata orang yang membawa kemari, orang itu mengalami kontraksi di angkot, Bu Bidan."


" Ya sudah, kamu temani saja dulu. Nanti saya segera ke sana." Bidan Eti menanggapinya dengan tenang.


***


Selama hampir dua puluh dua jam Arina berjuang untuk melahirkan bayinya ditemani oleh Bidan Emi dan asistennya. Arina melahirkan seorang bayi perempuan cantik dan lucu. Bayi perempuan Arina terlahir sehat, karena keluarga Krisna memberikan gizi yang sama dengan yang diberikan kepada Helen. Sehingga tidak heran jika bayi perempuan itu terlahir dengan sempurna dan tidak kekurangan gizi.


Arina menatap bayi cantik dalam dekapannya. Dia bahagia karena bayi itu terlahir sempurna dan sehat. Namun, dia sendiri bingung dengan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Bagaimana dia bisa membesarkan bayinya, sementara dia sendiri harus bekerja agar dapat membiayai putrinya itu. Hingga sesuatu rencana terpikirkan di benaknya.


" Dedek bayi sudah selesai menyu sunya?" tanya Bidan Eti yang masuk ke dalam ruang perawatan bersama dengan Sari.


" Sudah, Bu bidan " sahut Arina mengusap air matanya.


" Dikasih nama siapa nama anaknya, Teh?" tanya Bidan Eti.


" Kania Pratiwi, Bu Bidan." sahut Arina.


" Namanya cantik seperti dedek bayi dan Mamanya," ucap Bidan Eti.


" Bu Bidan, apa saya bisa minta tolong Bu Bidan?" tanya Arina dengan ragu.


" Minta tolong apa, Teh?" tanya Bidan Eti.


" Saya mau menitipkan anak saya ini, Bu bidan. Tolong serahkan anak saya ini ke panti asuhan Penuh Kasih di Jakarta. Bilang saja ini anak Arina Pratiwi, Bu Bidan. Nanti saya akan menjemput anak saya ini kalau saya sudah bekerja dan punya penghasilan.* Arina memutuskan untuk menitipkan putrinya di panti asuhan tempatnya dulu dibesarkan. Agar dia lebih mudah menjemput putrinya nanti.


" Lho, kenapa anak ini mau dititipkan di panti asuhan, Teh?" tanya Bidan Eti menggedong bayi bernama Kania yang diserahkan Arina setelah selesai diberi ASI.


Akhirnya kepada Ibu bidan, Arina menceritakan semua masalahnya hingga dia sampai di tempat persalinan Bidan itu.


" Astaghfirullahal adzim, malang sekali nasib Teteh ini." Bidan Eti merasa prihatin atas nasib buruk yang dialami Arina.


" Sari, tolong bawa bayinya ke box bayi." Bidan Eti menyuruh Sari untuk menaruh Baby Kania di box bayi karena Baby Kania sudah tertidur pulas.


" Saya ada uang satu juta sama perhiasan ini, Bu Bidan. Saya minta tolong sama Bu Bidan, karena saya tidak tahu harus meminta tolong siapa lagi." Arina berharap Bidan Eti dapat membantunya.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Bidan Eti menerima permintaan Arina. Dia tidak bisa menyalahkan Arina yang akan menitipkan bayinya ke panti asuhan mengingat kisah hidup Arina. Saat ditanya kenapa Arina tidak kembali ke panti asuhan tempatnya dulu, Arina beralasan jika dia ikut pulang kembali ke panti asuhan, keluarga Krisna kemungkinan akan mencari dia di sana. Namun, jika hanya bayinya yang dititipkan di sana, mungkin keluarga Krisna tidak akan curiga.

__ADS_1


Keesokan harinya, Arina pergi keluar dari tempat bidan Eti. Dengan tubuh masih lemah, dia berjalan terseok mencari angkot menuju tempat temannya.


Tin tiiiinnn ....!!


Arina yang sedang menyebrang tersentak kaget saat mendengar suara klakson mobil.


" Aaakkkhhh ...!" Arina berteriak histeris dan jatuh terkulai saat mobil itu hampir menabraknya.


" Astaghfirullahal adzim ...!" Supir yang membawa mobil itu sampai beristighfar karena dia pun kaget dengan Arina yang tanpa menengok berjalan di depan mobil yang dikendarainya.


" Ada apa, To?" tanya pria yang berada di kursi belakang.


" Maaf, Tuan Nugraha. Tadi saya hampir menabrak orang, tapi orang itu sepertinya menyebrang tanpa melihat-lihat dulu." Ariyanto, supir dari Nugraha menyebutkan alasannya menghentikan mobil yang dikendarainya secara mendadak.


" Cepat keluar, To. Lihat bagaimana kondisi orang yang kamu tabrak itu!" perintah Nugraha kepada Ariyanto.


" Baik, Tuan." Ariyanto pun keluar untuk mengecek bagaimana kondisi orang yang hampir dia tabrak.


Flashback off


Krisna dan Erlangga terlihat emosi saat mengetahui apa yang telah dilakukan Danny kepada Arina malam itu. Krisna bahkan menyesalkan para ART nya yang menyembunyikan kedatangan Danny darinya.


" Orang yang menolong saya itu seorang duda beranak satu. Awalnya dia membantu saya dengan menjadi pengasuh anaknya yang berusia tiga tahun. Setahun kemudian, dia meminta saya untuk menjadi istrinya. Setelah menikah, saya menceritakan soal anak saya yang saya titipkan di Bu bidan untuk diserahkan kepada panti asuhan Penuh Kasih. Suami saya itu menyuruh saya mengambil anak saya untuk dirawat bersama. Tapi, saat saya mendatangi panti asuhan itu, ternyata anak saya tidak pernah dititipkan di sana." Arina terisak kembali menceritakan kisah masa lalunya saat menitipkan Baby Kania.


" Lalu saya pergi ke tempat bidan tempat saya melahirkan. Ternyata Bidan itu sudah pindah ke luar pulau. Bertahun-tahun saya mencari bidan itu. Lima tahun kemudian saya berhasil mendapatkan kabar ternyata bidan itu sudah meninggal. Menurut keluarga bidan itu, tidak ada anak asuh di keluarganya. Sehingga keberadaan anak saya itu tidak diketahui di mana keberadaannya sekarang." Tangis Arina kembali pecah karena dia telah kehilangan putrinya itu.


Erlangga langsung merengkuh tubuh Arina dan membiarkan pengasuhnya dulu itu menangis dalam pelukannya.


" Sus jangan khawatir, nanti aku akan bantu mencari keberadaan anak Sus itu." Mendengar cerita dari Arina, semakin kuat juga dugaan Erlangga jika itu mengarah kepada Kayra. Apalagi kemarin saat makan siang, Ibu mertuanya sempat mengatakan jika dulu pernah bekerja di bidan.


Jika semua kejanggalan yang terjadi dengan perasaan Kayra yang dekat dengan rumah lama Krisna. Merasa seakan kenal dengan Arina. Anak Arina menghilang saat dia menitipkan di bidan. Bidan itu sudah meninggal dan tidak ada anak angkat menurut anak dari bidan yang membantu persalinan Arina. Dan pengakuan Ibu Sari tentang pekerjaannya. Semuanya benar-benar menuju ke satu arah.


" Lalu sekarang kamu tinggal di mana? Siapa pria yang menikahimu, Arina? Karena saya melihat, jika dari penampilan kamu, suami kamu pasti bukan orang biasa ..." Krisna masih berpura-pura tidak mengetahui dengan siapa Arina menikah.


" Saya menikah dengan pengusaha garment, Pak Krisna. Dan dari pernikahan saya itu, saya mempunyai dua orang anak laki-laki," tutur Arina sendu.


" Alhamdulillah, Allah mengangkat derajat kamu, Arina. Kamu memiliki kehidupan yang lebih baik sekarang ini." Tentu saja Krisna ikut merasa bahagia karena Arina kini sudah menjadi istri seorang pengusaha dan tidak hidup menderita.


" Apa artinya kehidupan bahagia saya tanpa keberadaan putri saya itu, Pak Krisna. Saya masih menyesali diri saya sendiri. Kenapa saya harus meninggalkan anak saya itu?" sesal Arina.


" Itu memang jalan yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT untukmu, Arina. Jangan berhenti berdoa agar kamu bisa bertemu dengan anakmu itu nanti." Krisna berusaha membesarkan hati Arina yang terlihat rapuh ditengah kebahagiaan bersama keluarga barunya.


***


Rivaldi baru saja bertemu dengan relasi bisnisnya saat dia melihat sosok Satria keluar dari dalam mobilnya di halaman parkir sebuah hotel bintang lima. Rivaldi pun akhirnya mendekati Satria untuk menyapa pemilik perusahaan yang ingin bekerjasama dengannya dan juga orang yang dia kira adalah Papa dari Grace.


" Selamat siang, Pak Satria. Apa kabar? Senang akhirnya bisa bertemu dengan Pak Satria." Dengan percaya diri, Rivaldi menyapa Satria.


Satria yang tidak mengenali Rivaldi mengeryitkan keningnya. Karena nama Rivaldi belum setenar Erlangga, membuatnya berpikir, siapa orang yang menyapanya itu.


" Mungkin Pak Satria belum mengenal saya secara langsung. Saya Rivaldi, Pak Satria. Saya dari PT. Abadi Jaya. Suatu kehormatan bagi saya, PT. Langgeng Putra Persada mau bekerjasama dengan perusahaan kecil milik saya ini, Pak Satria." Rivaldi berusaha merendah.


" Rivaldi? PT. Abadi Jaya? Perusahaan saya bekerjasama dengan perusahaan Anda? Maaf, sepertinya ada kekeliruan di sini," sahut Satria yang masih bingung dengan perkataan Rivaldi yang mengatakan jika perusahaannya hendak menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Rivaldi.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


.


__ADS_2