MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Jadilah Istri Yang Baik


__ADS_3

Bulu roma Kayra seketika berdiri saat mendengar ancaman Erlangga yang mengatakan akan memper kosanya jika Kayra tetap menolak melayaninya. Saat itu juga Kayra tak kuasa menahan cairan bening di bola matanya. Kayra menangis tersedu, bukan ini yang dia inginkan. Jika dia harus menyerahkan kesuciannya terhadap suaminya, tidak dengan cara seperti ini. Dia tidak bermimpi bersuamikan seorang bos kaya raya yang tampan. Dia hanya menginginkan suami yang mengasihinya, menyayanginya dan memperlakukannya dengan penuh kelembutan.


" Saya mohon jangan lakukan ini, Pak." Masih dengan terisak Kayra memohon.


" Jika Bapak memang menginginkan saya, tolong beri saya waktu agar saya bisa menyerahkannya dengan ikhlas tanpa ada paksaan dan bukan karena terpaksa," lirih Kayra terus menangis.


" Saya belum bisa ikhlas menerima pernikahan paksa ini, saya mohon Bapak lebih bijak, tidak memaksakkan kehendak dan memberi kesempatan kepada saya untuk bisa menjadi istri yang baik dan mau melayani Bapak dengan ketulusan hati saya." Kayra memohon penuh harap agar Erlangga luluh dengan permintaannya.


Erlangga menatap kedua bola mata Kayra yang tak nampak karena dibasahi cairan air mata.. Bahkan tangisan Kayra saat ini terdengar sangat memilukan di telinganya. Apalagi wajah Kayra seolah menandakan wanita yang sudah menjadi istrinya itu merasakan kesedihan.


Erlangga lalu menjauhkan tubuhnya bahkan bangkit dan berdiri. Matanya masih menatap lekat ke arah Kayra yang masih menangis. Dengan menghembuskan nafas cukup keras akhirnya Erlangga berjalan keluar meninggalkan Kayra.


Sepeninggal Erlangga, Kayra tak juga menghentikan tangisannya. Saat ini dia bisa terbebas dari Erlangga, entah bagaimana dengan esok? Kayra merasa jika saat ini dia tidaklah beruntung sebagai seorang wanita. Harus menikah paksa dengan pria yang tak lain adalah bosnya sendiri. Dia tidak tahu apalagi yang akan terjadi padanya nanti dengan statusnya sebagai istri simpanan Erlangga.


***


Erlangga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sengaja meninggalkan Kayra daripada harus memaksakan kehendaknya yang tidak diinginkan oleh Kayra, karena sejujurnya dia tidak bisa menahan has ratnya kepada istri sirinya itu.


Dan saat ini mobil Erlangga sudah terparkir di halaman rumah Henry. Erlangga melirik mobil Wira yang terparkir di samping mobilnya menandakan jika asistennya itu sedang berada di rumah Henry.


Erlangga masuk ke dalam rumah Henry dan bergabung dengan Henry yang berbincang bersama Emma dan juga Wira setelah ART di rumah Henry memberitahukan jika Mereka berkumpul di ruang keluarga lantai atas.


" Apa kalian sedang membicarakanku?" tanya Erlangga ketika sampai di ruangan atas.


" Pak Erlangga?" Wira tampak kaget melihat kehadiran Erlangga di rumah sepupunya itu.


" Panjang umur kau, Lang. Kami sedang membicarakanmu." celetuk Henry.


Erlangga melirik ke arah Henry bergantian dengan melirik Emma dan Wira.


" Apa kalian sedang menggosipkan pernikahanku dengan Kayra?" Erlangga dapat menebak jika apa yang dibicarakan oleh teman-teman dan asistennya itu pasti berhubungan dengan pernikahan sirinya dengan Kayra.


" Memangnya kau pikir berita apa lagi yang bikin heboh jika bukan pernikahanmu dengan sekretaris kesayanganmu itu?" sindir Henry.


" Tidak akan menjadi heboh jika kalian semua tutup mulut." Erlangga mendudukkan tubuhnya di sofa berhadapan dengan Wira.


" Tindakanmu bisa menyulitkan kami, Lang!" keluh Emma. " Om Krisna mulai mencurigai hubunganmu dengan Kayra, bahkan meminta Mas Wira untuk mengawasimu." Tujuan kedatangan Wira tentu saja karena dia mendapat amanat dari Krisna untuk mengawasi hubungan anaknya dan sekretaris anaknya. Karena itu Wira merasa perlu bertukar pikiran dengan Emma dan Henry yang merupakan saksi pernikahan atasannya itu.


Erlangga langsung menatap dengan sorot tajam ke arah Wira saat mendengar penjelasan Henry tentang tugas yang diberikan Papanya kepada Wira.


" Saya tidak memberitahukan soal pernikahan Anda, Pak Erlangga!" Mendapat tatapan tajam dari bosnya, Wira langsung memberikan klarifikasi jika dia masih menyimpan rahasia soal pernikahan siri Erlangga.


" Pak Krisna menaruh curiga dengan kedekatan Anda dan Kayra, Pak. Beliau berkata pernah memergoki kalian berdua dalam satu kamar. Pak Krisna takut jika hal ini sampai beredar keluar. Karena itu beliau meminta saya mengawasi tingkah Anda dan Kayra." Wira menjelaskan apa yang ditugaskan Krisna kepadanya.


" Apa jadinya kalau Om Krisna tahu ternyata kami semua ini menyembunyikan status pernikahan kalian?" Emma menghempas nafas dengan kasar.


" Jangan sampai Papaku tahu! Belum saatnya Papa tahu soal pernikahanku dengan Kayra." Erlangga berharap teman-temannya dan juga Wira tetap menjaga rahasia.


" Apa sebenarnya rencanamu, Lang? Apa kau akan terus mempertahankan Kayra? Lalu bagaimana dengan Caroline?" Dari kalimat 'belum saatnya Papa tahu' yang diucapkan oleh Erlangga, Henry menangkap maksud dari perkataan Erlangga jika sahabatnya itu akan mengenalkan status Kayra kepada orang tua Erlangga. Henry pikir Erlangga menikahi Kayra hanya sebagai pengganti di saat Caroline tidak ada di dekat Erlangga.


Erlangga terdiam sambil berpikir keras, dia memang masih belum tahu bagaimana kelanjutan pernikahan dirinya bersama Kayra dan juga Caroline. Namun dia tidak berniat untuk melepas Kayra.


" Aku tidak mungkin melepaskan Kayra. Jika waktunya sudah tepat, aku akan membicarakan hal ini pelan-pelan pada Papa dan juga Caroline," ucap Erlangga kemudian.


" Apa ada kemungkinan kamu melepaskan Caroline, Lang?" Emma melihat kondisi rumah tangga Erlangga dan juga sikap Caroline yang masih berambisi dengan karirnya, dia melihat jika kemungkinan Erlangga mempertahankan rumah tangganya dengan Caroline cukup berat.


" Aku mencintai Caroline, Emma." ucap Erlangga.


" Tapi jika kamu harus memilih salah satu di antara mereka bagaimana?" tanya Emma menuntut ketegasan Erlangga.


" Caroline pasti tidak akan mau berpisah dengan Erlangga, Sayang. Apalagi harus bersaing dengan Kayra." Henry menyampaikan pendapatnya. Dia bisa membayangkan bagaimana marahnya Caroline jika tahu suaminya telah menikahi wanita lain.

__ADS_1


" Saya berharap Anda tidak menyakiti Kayra, Pak Erlangga. Kayra wanita baik, kasihan jika dia harus menjadi korban dalam masalah rumah Anda, Pak." Wira yang sejak tadi diam menyampaikan harapannya, karena sejujurnya dia tidak rela jika Kayra disakiti Erlangga. Dia lebih setuju Kayra menjadi adik iparnya daripada harus menjadi wanita simpanan Erlangga.


Erlangga menatap tajam Wira, dia sadar asistennya itu tidak menyukai dirinya menikahi Kayra karena Wira sebelumnya berniat menjodohkan Kayra dengan adiknya.


" Anda tidak perlu khawatir, Pak Wira. Saya tahu apa yang harus saya lakukan kepada Kayra." tegas Erlangga menanggapi sindiran dari asistennya tadi.


" Saya harap Anda bisa memegang janji Anda, Pak. Sayang sekali jika Kayra diperlakukan tidak baik, apalagi jika Ibu Helen dan Ibu Caroline tahu." Wira masih belum yakin jika Erlangga bisa melindungi Kayra nantinya.


" Karena itu saya akan tugaskan Anda agar keluarga saya tidak tahu soal Kayra, Pak Wira!" Erlangga meminta bantuan Erlangga agar kehidupannya bersama Kayra tidak sampai terekspos keluar.


***


Caroline berlari memasuki rumahnya, dia takut suaminya akan lebih dulu sampai di rumah walaupun dia tidak menjumpai mobil suaminya di garasi rumahnya. Namun Caroline tetap khawatir suaminya itu sudah lebih dahulu sampai di rumah sementara saat ini sudah lewat dari jam sembilan.


" Selamat malam, Nyonya." sapa Bu Daus melihat kedatangan Nyonya rumahnya itu.


" Bi, apa suamiku sudah pulang?" tanya Caroline.


" Tuan belum pulang, Nyonya." sahut Bu Daus.


" Syukurlah ..." gumam Caroline dan langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Berselang lima belas menit dari kedatangan Caroline, Erlangga pun tiba di rumahnya. Pria itu segera menuju ke kamar dan mendapati istrinya sedang berada di kamar.


" Sayang, kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang sekarang? Aku menunggu sejak tadi sampai mengantuk." Caroline melingkarkan tangannya di leher Erlangga, seolah dia sudah menunggu kedatangan Erlangga sejak tadi.


" Aku dari rumah Henry," sahut Erlangga.


" Kenapa kamu tidak memberitahuku, Sayang? Jadi aku tidak cemas menunggumu." Caroline berpura-pura merajuk.


" Kalau kamu cemas kenapa kamu tidak meneleponku?" tanya Erlangga menatap Caroline.


" Aku ingin mandi." Erlangga mengurai tangan Caroline yang melingkar di pundaknya.


" Apa kamu ingin aku temani, Sayang?" Caroline melepas dasi yang terikat di kerah kemeja suaminya lalu membuka kancing kemeja sang suami.


" Aku lelah, Caroline." Erlangga menyingkirkan tangan Caroline kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Entah kenapa tiba-tiba dia malas untuk meladeni keinginan istrinya untuk bercinta. Padahal dengan Kayra tadi dirinya terlalu bernaf su.


***


Kayra terbangun jelang Shubuh dengan tersentak. Dia lalu menoleh ke arah sisi tempat tidurnya, tak dia jumpai Erlangga di sampingnya. Semalam dia terus menangis hingga merasa kelelahan dan tertidur.


Kayra bangkit dari tempat tidur menuju arah cermin karena matanya terasa berat untuk dibuka. Kayra melihat jika matanya saat ini sembab karena semalam dia terus saja menangis.


" Ya Allah, bagaimana aku berangkat ke kantor kalau mataku seperti ini?" Kayra menggigit bibirnya. Tentu dia tidak ingin menjadi perhatian banyak orang dengan mata sembabnya.


Kayra bergegas ke luar dari kamarnya dan turun ke bawah menemui Ibunya.


Tok tok tok


Kayra mengetuk pelan pintu kamar Ibu Sari karena dia tidak ingin membuat semua yang ada di rumah itu terbangun.


" Bu, Ibu sudah bangun?" Kayra membuka kamar Ibu Sari yang tidak terkunci dan masuk ke dalamnya.


" Kayra, ada apa?" Ibu Sari yang baru saja terbangun karena mendengar bunyi Adzan Shubuh bangkit dari tidurnya.


Kayra menyalakan lampu kamar Ibu Sari sebelum mendekati Ibunya itu.


" Bu ..." Kayra duduk di tepi tempat tidur Ibu Sari.


" Kenapa, Nak?" Ibu Sari menatap wajah anaknya. " Kayra, kamu habis menangis? Apa ... apa Tuan Erlangga sudah ..." Ibu Sari tak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


" Pak Erlangga pergi semalam." Walaupun Kayra tidak yakin keberadaan suami saat ini ada di mana, namun di sangat yakin suaminya itu pergi meninggalkan rumah semalam.


" Tuan Erlangga pergi setelah merenggut kesucianmu?" Bola mata Ibu Sari terbelalak. Sebagai Ibu dari Kayra, dia merasakan sakit hati Kayra dianggap seperti barang, yang setelah dipakai bisa ditinggalkan begitu saja.


" Tidak, Bu. Kami tidak melakukan apa-apa." Kayra menjelaskan jika tidak terjadi hubungan suami istri antara dirinya dan Erlangga.


" L-lalu kenapa kamu menangis?" tanya Ibu Sari heran. " Kayra, apa Tuan Erlangga bersikap kasar terhadapmu, Nak?" Dugaan Ibu Sari mengarah jika Erlangga telah melakukan tidak kekerasan, mungkin karena Kayra selalu menolak membuat pria berprofesi sebagai CEO itu melakukan kekerasan fisik terhadap Kayra.


" Tidak, Bu!" Dengan menggelengkan kepala Kayra menyangkal apa yang Ibunya duga. Dia tidak ingin Ibunya berburuk sangka terhadap Erlangga.


" Ibu bingung, Kayra. Kalian tidak melakukan hubungan in tim, Tuan Erlangga tidak bertindak kasar. Lalu kenapa kamu malah menangis?" Ibu Sari merasa bingung sendiri mendapatkan jawaban-jawaban dari Kayra.


" Tidak apa-apa kok, Bu. Kayra hanya sedang memikirkan sampai kapan kita akan seperti ini?" Kayra tidak tega menceritakan apa yang terjadi dengannya semalam karena dia takutnya Ibunya akan semakin sedih.


" Oh ya, Bu. Cara menghilangkan mata sembab ini bagaimana ya, Bu? Kayra tidak ingin orang-orang di kantor melihat mata Kayra begini." Tujuan Kayra sebenarnya ke kamar Ibunya memang hanya ingin menanyakan bagaimana menghilangkan sembab di matanya.


" Kamu kompres saja pakai air dingin. Nanti Ibu ambilkan di dapur." Ibu Sari ingin bangkit dari tempat tidur namun Kayra menghalanginya.


" Biar Kayra saja yang ambil, Bu." Kayra lebih dulu bangkit kemudian keluar dari kamar Ibunya untuk mengambil air dingin untuk mengompres matanya setelah dia menjalankan sholat Shubuh nanti.


***


Pagi ini Kayra berangkat ke kantor seperti biasa, dia tetap menjalankan aktivitasnya sebagai sekretaris Erlangga seperti yang dia lakukan selama ini.


Hati Kayra berdebar saat melihat kehadiran Erlangga yang melintas di hadapannya.


" Selamat pagi, Pak." Kayra berdiri dan memberi salam karena bagaimanapun juga di kantor itu statusnya masih sekretaris Erlangga.


" Pagi ..." Erlangga yang sejak keluar dari lift langsung mengarahkan pandangan ke arah Kayra menjawab salam yang diucapkan oleh Kayra.


" Masuklah ke ruanganku ...!" Perintah Erlangga kemudian.


Kayra menelan salivanya, lalu menaikkan pandangan ke arah Erlangga kerena sejak tadi dia tidak ingin bersitatap dengan sang suami. Dia lalu mengikuti langkah Erlangga dan berharap Erlangga tidak akan membahas masalah semalam.


" Ada apa, Pak?" tanya Kayra setelah sampai di ruangan Erlangga. Dia melihat Erlangga menaruh tas di meja kerjanya namun tidak langsung duduk di kursi kebesarannya.


Erlangga justru berjalan mendekat ke arah Kayra, dia menangkup wajah Kayra membuat Kayra terkesiap dan memberikan sebuah kecupan lembut di kening Kayra.


" Anggap saja itu morning kiss ..." ucap Erlangga mengulum senyuman.


Kayra tertegun dengan apa yang diucapkan dan dilakukan Erlangga kepadanya. Ini bukan kecupan pertama yang dia rasakan dari Erlangga, namun entah mengapa dia merasakan ciuman Erlangga kali terasa lembut menyentuh kulitnya.


" Oh ya, apa kamu membawa bekal makanan hari ini?" tanya Erlangga kemudian.


" Hmmm, tidak, Pak." Sejak menikah dengan Erlangga, Kayra memang tidak pernah memasak karena dia merasa canggung harus berkutat di dapur rumah baru itu.


" Mulai besok buatlah bekal untuk saya setiap hari. Nanti saya akan menyuruh orang di rumah untuk belanja bahannya dan kamu yang masak untuk saya," ujar Erlangga kemudian.


Mata Kayra terbelalak mendengar permintaan Erlangga.


" Kenapa? Bukankah kamu bilang sendiri ingin menjadi istri yang baik?" Erlangga membelai kepala Kayra perlahan. " Saya ingin makan masakanmu setiap hari. Jadilah istri yang baik untuk saya dan saya juga akan berusaha menjadi suami yang baik sampai kamu benar-benar bisa menerima saya sebagai suami kamu." Tak ada kalimat perintah bernada tegas seperti yang biasa diucapkan oleh Erlangga kepadanya. Kata-kata yang terucap dari mulut Erlangga kali ini semuanya terasa lembut terdengar di telinga Kayra.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2