
Helen memperhatikan Ibu Sari yang terlihat termenung saat mendengar ceritanya. Sementara tangan Ibu Sari hanya mengaduk-aduk soto di hadapannya sampai kuah itu berceceran di meja dengan pandangan mata kosong. Hal itu membuat Helen akhirnya menegur Ibu Sari hingga membuat Ibu Sari terkesiap.
" Apa Ibu Sari sakit?" tanya Helen kembali ketika Ibu Sari telah tersadar dari lamunannya.
" Oh, t-tidak, Bu. Saya tidak apa-apa." Ibu Sari mencoba menguasai dirinya agar tidak gugup.
" Astaghfirullahal adzim ...!" Ibu Sari tersentak kaget saat melihat kuah soto tercecer di meja.
" Maafkan saya, Bu. Saya teledor." Sambil menarik tissue dan mengelap kuah yang tumpah di meja, Ibu Sari mengucapkan permintaan maaf kepada Helen, karena dia takut dianggap telah mempermalukan Helen.
Mengetahui sikap Ibu Sari yang terlihat gugup, semakin jelaslah jika Kayra memang bukan anak Ibu Sari.
" Tidak apa-apa, Bu Sari. Sebaiknya Ibu pesan lagi saja makanannya, ya?" Helen tidak marah, bahkan dia menyuruh Ibu Sari memesan makanan baru.
" Tidak usah, Bu Helen. Biar ini saja saya makan." Walau dengan hati yang tak tenang, Ibu Sari meneruskan menyantap makanan di hadapannya karena dia tidak ingin membuat Ibu Helen bertanya-tanya soal sikapnya saat ini.
***
Sesampainya di rumah, Ibu Sari bergegas masuk ke dalam kamarnya. Setelah mendengar kisah yang diceritakan oleh Helen, soal mantan pengasuh Erlangga dulu, seketika hati Ibu Sari dilanda kegelisahan.
Selama ini cerita tentang siapa Kayra selalu dia simpan rapih, hingga tidak ada yang tahu jika Kayra adalah anak angkatnya. Bahkan, mereka sampai meninggalkan rumah lama mereka ketika dia tahu jika ibu dari bayi Kania itu ternyata dinikahi oleh majikan dari suaminya.
Flashback on
Ariyanto menatap plang nama sebuah bangunan di depan dia menghentikan mobilnya. Tempat itu menunjukkan sebuah panti asuhan bernama PENUH KASIH.
Hari ini, Ariyanto mendapat tugas dari Nugraha mengantar Arina ditemani Rivaldi kecil dan dua orang asisten rumah tangganya pergi ke Jakarta untuk mengambil anak Arina yang dititipkan ke panti asuhan.
" Benar ini tempatnya, Bu?" tanya Ariyanto kepada Arina, wanita yang hampir dia tabrak ketika dia mengantar Nugraha ke kantor lebih dari satu tahun lalu yang akhirnya dinikahi oleh Nugraha yang saat itu berstatus duda.
" Iya, benar, Pak. Masuk saja, mobilnya parkir di dalam." Arina meminta Ariyanto untuk memarkirkan mobil di pekarangan panti asuhan.
" Baik, Bu." sahut Ariyanto mengikuti perintah yang diberikan Arina.
" Aldi mau ikut Mama atau mau di sini sama Teh Santi dan Teh Mimin?" Arina mengusap kepala Rivaldi kecil yang sejak dari Bandung berbaring dengan kepala bersandar di paha Arina.
" Aldi ikut Mama ..." Rivaldi kecil langsung bangkit dan menjawab dengan bersemamgat.
" Ya sudah, ayo turun!" Setelah membuka pintu, Arina dan Rivaldi kecil turun dari mobil. " Pak Yanto, Teh Santi, Teh Mimin, saya tinggal sebentar, ya!?" sambungnya kemudian.
" Baik, Bu." Mereka yang disebut namanya satu-satu oleh Arina menjawab serempak.
" Ayo, Aldi." Arina menggendong Rivaldi yang kini berusia empat tahun.
" Assalamualaikum ..." Sebelum masuk ke bangunan panti asuhan tersebut, kedatangan Arina sudah menjadi pusat perhatian beberapa anak-anak panti asuhan yang sedang bermain di pekarangan.
" Waalaikumsalam ..." seseorang keluar dari dalam panti dan menjawab salam yang diucapkan oleh Arina.
" Bu Retno, apa kabar?" Arina langsung menghampiri, menurunkan Rivaldi terlebih dahulu sebelum mencium tangan dan memeluk wanita yan dipanggil Ibu Retno.
" Masya Allah, kamu ... kamu ini Arina?" Bu Retno, yang merupakan Ibu panti mengenali Arina.
" Iya, Bu. Ini saya Arina Pratiwi," senyum bahagia bercampur haru mengembang di bibir Arina.
" Ayo, masuk-masuk ...! Kita bicara di ruangan Ibu saja." Bu Retno mempersilahkan Arina untuk masuk.
" Ayo, Aldi!" Arina menggenggam tangan Rivaldi dan membawanya masuk ke ruangan Bu Retno.
" Anak ganteng ini siapa namanya? Dia siapa Arina?" Bu Retno mengusap wajah Rivaldi.
" Aldi, Ibu ini tanya siapa namanya? Ayo, dijawab, Nak!" Arina meminta Rivaldi menjawab pertanyaan Bu Retno.
" Livaldi ..." ucap Rivaldi malu-malu.
" Namanya Rivaldi, Bu Ayo Rivaldi salim dulu sama Ibu ..." Arina menyuruh Rivaldi mencium punggung tangan Bu Retno.
__ADS_1
" Masya Allah, anak pintar ..." Tangan Bu Retno kini membelai kepala Rivaldi. " Dia anak siapa, Arina?" Kembali Ibu Retno mengulang pertanyaannya, melihat Rivaldi begitu dekat dengan Arina.
" Ini anak suami saya, Bu Retno." aku Arina jujur.
" Anak suami kamu? Kamu sudah menikah, Arina?" Bu Retno terkejut mendapati kabar jika Arina sudah menikah.
" Iya, Bu."
" Masya Allah ... Alhamdulillah kalau kamu sudah menikah. Ibu turut senang mendengarnya." Melihat pancaran wajah bahagia Arina, Bu Retno dapat merasakan jika Arina bahagia dengan pernikahannya itu.
" Oh ya, waktu itu keluarga Pak Krisna sempat datang kemari menanyakan kamu, Arina. Ibu sempat khawatir ketika Pak Krisna mengatakan jika menghilang dari rumah padahal kamu sedang hamil besar. Memangnya kamu ke mana saat itu, Arina? Kami semua sangat mencemaskanmu." Bu Retno menanyakan apa yang terjadi terhadap Arina setelah meninggalkan rumah keluarga Mahadika Gautama.
Arina menarik nafas yang seketika terasa sesak untuk dihirupnya saat mengingat peristiwa menyakitkan masa lalunya dulu.
" Saya pergi ke Bandung, Bu Retno." Arina lalu menceritakan kenapa dia bisa pergi dari rumah keluarga Krisna sampai akhirnya dia dinikahi oleh duda kaya asal Bandung.
" Karena itu, sekarang saya datang kemari untuk mengambil putri saya Kania yang sempat saya titipkan ke bidan yang dulu membantu persalinan saya, Bu Retno." Selanjutnya Arina menyebutkan maksudnya mengunjungi panti asuhan itu dan juga memberikan dana dari suaminya untuk panti asuhan tersebut.
" Anak kamu? Kania?" Kening Bu Retno langsung berkerut.
" Iya, Bu. Saya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak saya itu, Bu Retno." Tentu kerinduannya sebagai seorang ibu yang selama ini dia tahan semakin membuncah di hati Arina.
" Tapi, tidak pernah ada orang yang datang kemari untuk menitipkan anak kamu ke panti ini, Arina." ucap Bu Retno sejujurnya.
Arina terkesiap mendengar pengakuan Bu Retno yang mengatakan jika anaknya tidak ada di panti asuhan Penuh Kasih.
" M-maksud ibu?"
" Dalam waktu setahun setengah ini, panti ini tidak pernah menerima titipan anak dari siapa pun, Arina." Bu Retno menjelaskan.
" Ibu serius?" Arina seketika menegang saat mendapatkan informasi tersebut.
" Benar, Arina. Ibu bicara yang sejujurnya," sahut Bu Retno. Meskipun berat mengatakannya kepada Arina, karena pasti Arina akan kecewa. Tapi, dia harus mengatakan hal yang sejujurnya.
" Ya Allah, lalu di mana anak saya sekarang, Bu?" Tanpa bisa dibendung, air mata Arina mengalir deras di pipinya dan seketika itu dia terisak.
" Kamu tenang dulu, Arina. Coba kamu hubungi bidan tempat kamu melahirkan dulu. Siapa tahu Bidan itu yang mengasuh anak kamu." Bu Retno menyarankan Arina untuk mengecek di tempat Bidan yang membantu persalinan Arina.
" Kalau anak saya tidak ada di sana bagaimana, Bu? Hiks ..." Arina seketika kebingungan. Dia takut jika tidak dapat menemukan anaknya lagi.
" Semoga itu tidak terjadi, Arina." Bu Retno pun. berharap hal buruk seperti yang ada dalam pikiran Arina terjadi. " Kamu masih ingat alamat tempat bidan itu, Arina?"
" Saya masih menyimpannya, Bu." Untung saja Arina sempat meminta alamat Bidan itu kepada Ibu bidan.
***
Dari kaca spion Ariyanto memperhatikan Arina yang terisak. Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam panti tadi dan apa yang membuat Arina menangis. Tapi, jika dilihat Arina tidak membawa bayi yang ingin dibawanya pulang, sepertinya Arina menangis karena bayi yang dia cari tidak ada di sana.
" Kita ke mana sekarang, Bu?" tanya Ariyanto mencoba bertanya kepada Arina yang sedang ditenangkan oleh kedua ART yang menemani.
" Sebaiknya kita pulang saja ke Bandung, Pak Yanto." ucap Teh Santi.
Akhirnya Ariyanto membawa kembali Arina kembali ke Bandung menuruti saran Teh Santi.
" Pak, nanti tolong cari alamat ini kalau sudah sampai di Bandung, ya!?" Arina menyodorkan secarik kertas yang dia lipat dan dia simpan selama ini kepada Pak Ariyanto.
" Baik, Bu" Ariyanto menerima kertas yang disodorkan oleh Arina kepadanya. Namun, dia tidak langsung melihat alamat yang tertera di kertas itu. Dia berniat membukanya jika sudah sampai di Bandung.
" Ma, Mama kenapa nangis?" Melihat Arina tidak henti menangis, Rivaldi pun ikut menangis sambil terus memeluk Arina. Sikap lembut Arina kepada anak-anak, membuatnya mudah mencuri hati anak kecil seperti Rivaldi, hingga Rivaldi akhirnya bisa menerima dan menyayangi Arina sebagai Mama sambungnya.
Arina tidak sanggup menjawab pertanyaan Rivaldi. Dia hanya memeluk erat tubuh Rivaldi.
Setelah memasuki kota Bandung. Barulah Ariyanto membuka kertas yang diberikan Arina tadi kepadanya.
Seketika Ariyanto tercengang melihat alamat yang tertera di kertas itu. Karena alamat yang tertulis di kertas itu adalah alamat Bidan tempat istrinya bekerja sebelum mengasuh Kania.
__ADS_1
" Ibu mau mencari alamat ini?" tanya Ariyanto kemudian.
" Iya, Pak Yanto. Dulu saya melahirkan dan menitipkan bayi saya di Bu bidan itu, Apa Pak Yanto tahu alamat itu, Pak?" tanya Arina lirih.
" Hmmm, i-iya, jalan itu saya tahu, Bu." jawab Ariyanto gugup.
" Syukurlah kalau Pak Yanto tahu. Tolong antar saya ke sana ya, Pak. Saya harus bertemu dengan anak saya." Setitik asa dirasakan Arina saat mendengar Ariyanto mengetahui alamat yang dituju Arina.
***
" Assalamualaikum. Bu ... Ibu ...!" Setibanya di rumah, Ariyanto berteriak memanggil istrinya. Saat mengetahui jika istri kedua majikannya itu ternyata ibu kandung anak angkatnya. Ariyanto bergegas pulang ke rumahnya. Dia merasa harus memberitahukan istrinya, agar menyerahkan Kania yang kepada Arina.
" Waalaikumsalam, ada apa teriak-teriak, Pak? Kania baru saja tidur, nanti dia terbangun kalau dengar suara Bapak teriak." Sari menegur suaminya yang berteriak dan kemungkinan dapat mengganggu tidur Kania.
" Bu, orang tua Kania datang, Bu." Ariyanto mencengkram erat pundak istrinya.
Bola mata Sari melebar mendengar ucapan sang suami. Matanya langsung mengarah ke luar rumahnya. Namun, tak dia jumpai siapa-siapa di sana.
" Orang tua Kania? Mana, Pak?" Hati Sari seakan mencelos mengetahui jika bayi kecil yang sejak kecil diasuhnya akan diambil kembali oleh Ibunya.
" Ibu dari Kania itu ternyata istri baru Pak Nugraha, Bu. Tadi Bapak pergi ke Jakarta karena istri Pak Nugraha itu mencari anaknya di panti asuhan. Namun, anak itu tidak ada di sana. Lalu istri Pak Nugraha itu minta diantar ke alamat Bidan Eti. Bu, kita harus menyerahkan Kania kepada istri Pak Nugraha." Ariyanto meminta istrinya itu bisa menerima keputusan soal mengembalikan Kania kepada Ibunya.
" Kita akan kehilangan Kania, Pak? Ibu tidak mau kehilangan Kania, Pak." Sari keberatan dengan rencana Ariyanto yang ingin mengembalikan Kania kepada ibunya. " Apa Bapak sudah memberitahu istri Pak Nugraha jika Kania ada di tempat kita, Pak?" Nada khawatir terdengar dari ucapan Sari.
" Bapak belum bilang soal itu. Bu. Tapi, kita sudah berjanji ke bidan Eti untuk menyerahkan Kania jika suatu hari ibunya meminta Kania. Kita tidak boleh ingkar janji, Bu." Ariyanto berusaha menasehati istrinya agar menurutinya.
" Tapi, Ibu sangat menyayangi Kania, Pak. Ibu tidak mau kehilangan Kania. Tolong, jangan serahkan Kania ke mereka, Pak." Sari menangis memeluk suaminya berharap agar suaminya mengurunhkan niatnya itu.
Beberapa hari. setelah mengetahui jika Arina adalah istri dari bos suaminya dan berniat mengambil Kania, Sari tiba-tiba jatuh sakit. Sepertinya Sari memikirkan soal Kania. Dia begitu berat untuk melepas Kania kepada orang tua kandungnya.
Tak sampai hati melihat istrinya yang terus bersedih, akhirnya Ariyanto memutuskan untuk tetap menyembunyikan Kania dari Arina. Ariyanto bahkan memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai supir pribadi Nugraha. Mereka pun menjual rumah yang ditempatinya selama ini dan pindah ke tempat yang cukup jauh dari rumah mereka sebelumya. Ariyanto pun sampai mengganti nama Kania Pratiwi menjadi Kayra Ainun Zahra.
Flashback off
" Ya Allah, Pak. Suami Kayra ternyata sepupu Kayra sendiri. Dan suami Kayra sudah menemukan orang tua kandung Kayra. Kalau mereka tahu selama ini kita menyembunyikan Kayra, bagaimana ini, Pak?" Ibu Sari berjalan hilir mudik dilanda kegelisahan. Dia takut jika sampai keluarga Mahadika Gautama tahu kesalahannya, dia akan dilaporkan ke pihak berwajib karena sama saja dia menculik Kayra.
" Bu, Ibu ...!" Suara Kayra terdengar dari luar kamar Ibu Sari.
Dengan cepat, Ibu Sari membukakan pintu kamar dan menyuruh Kayra masuk.
" Ibu kenapa? Ibu sakit? Kok muka Ibu pucat seperti itu?" Kayra menyadari perubahan raut wajah ibunya yang terlihat cemas dan ketakutan.
" T-tidak apa-apa, Kayra. Ibu baik-baik saja." Ibu Sari menepis perkataan Kayra.
" Apa Ibu yakin baik-baik saja? Apa Mama Helen mengatakan sesuatu yang tidak berkenan di hati Ibu?" Kayra tetap merasa jika ibunya itu tidak baik-baik saja. Dia sampai berprasangka jika Ibunya itu bersikap seperti ini karena ada sesuatu yang dikatakan Helen yang tidak berkenan di hati Ibunya.
" Tidak kok, Nak. Mama mertuamu tidak berkata apa-apa." Ibu Sari kembali menyanggah.
" Lalu, bagaimana tadi pergi dengan Mama mertuaku, Bu? Ibu dan Mama tadi pergi ke mana saja?" Kayra sungguh penasaran ingin mendengar cerita Ibunya setelah pergi berdua bersama Helen. Dia sendiri bahkan belum pernah merasakan pergi berdua dengan Mama mertuanya itu.
" Tadi hanya belanja dan makan saja kok, Nak."
" Makan apa sama Mama, Bu?"
" Sama soto."
" Tapi Mama bersikap baik sama ibu, kan?"
" Iya, Kayra. Mama mertuamu bersikap baik dengan ibu, kok." Ibu Sari membelai wajah Kayra seraya tersenyum, walaupun di dalam hatinya dia merasa gelisah karena dirinya terancam jika semua rahasia yang dia simpan terbongkar.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️