
" Erlangga, kamu habis dari mana?" Ketika melihat kemunculan Erlangga yang didampingi Kayra di ruangan kerja Erlangga, Helen langsung menayakan ke mana Erlangga tadi pergi meninggalkan dirinya bersama Kayra.
" Aku tadi habis menemui Agnes, Ma." pengakuan Erlangga soal ke mana dia tadi meninggalkan orang tua dan juga istrinya membuat Helen dan juga Kayra terbelalak.
" Bertemu Agnes?" Bahkan menantu dan ibu mertua itupun berucap kalimat yang sama secara berbarengan.
" Kamu menemui Agnes? Untuk apa, Lang?" Helen menampakkan rasa tidak sukanya saat putranya itu mengatakan jika Erlangga baru saja menemui Agnes.
" Aku harus memberi pelajaran kepada dia, Ma. Supaya dia tidak macam-macam terhadap keluarga kita. Jadi, Mama tidak usah merasa cemas lagi dengan ancaman Agnes itu." Menjelaskan tujuan dirinya menemui Agnes,
Helen mendengus keras mendengarkan alasan Erlangga. Bukannya merasa senang atas tindakan putranya, Helen justru nampak kecewa.
" Apa maksudnya kamu tidak senang jika Mama datang ke kantor ini dan ikut tinggal di rumah kamu, Lang? Istri kamu sendiri yang meminta Mama untuk tinggal di rumah kalian, bukan Mama yang minta, kok!" Helen melirik Kayra.
" Mama jangan salah paham seperti itu. Aku hanya ingin Mama merasa tenang dan tidak ketakutan dengan ancaman Agnes. Lagipula apa Mama yakin akan ikut tinggal di tempat kami?" Erlangga merangkulkan tangannya di pundak Helen. Hal kecil yang hampir jarang dilakukan semenjak Erlangga sering bertentangan dengan Mamanya, ketika dia menikahi Caroline. Erlangga lalu membawa Mamanya itu untuk duduk di sofa sebelum dia menjelaskan kepada Helen.
" Mama tadi sudah katakan, istri kamu yang menawarkan, bukan Mama yang meminta!" Helen kembali menegaskan jika permintaan dirinya untuk menetap sementara waktu di rumah yang ditempati anak dan menantunya itu bukan berasal dari dirinya.
" Kami sekarang ini tinggal di rumah lama kita, Ma. Di rumah Papa yang dulu. Apa Mama yakin akan ikut tinggal di sana?" Agar Mamanya tidak menjadi salah paham kembali, Erlangga menjelaskan kepada Helen, tempat tinggalnya bersama Kayra saat ini adalah rumah lama yang selama ini tidak ingin Helen kunjungi.
Dan benar saja, Helen langsung membulatkan bola matanya saat mengetahui jika rumah yang ditempati anak dan menantunya itu adalah rumah milik keluarganya saat Erlangga kecil dulu.
" Kamu tinggal di sana?" tanya Helen masih dengan keterkejutannya.
" Iya, Ma."
" Sejak kapan?"
" Belum terlalu lama, Ma."
" Kok kamu tidak bilang sama Mama? Apa Papamu tahu soal ini?"
" Mama selalu menentang kami. Jadi kami butuh tempat yang aman agar tidak ada yang mencoba mengusik kehidupan rumah tangga kami." Sejujurnya Erlangga mengatakan apa yang menjadi alasan dirinya harus pindah ke tempat itu. " Lagipula, Papa juga menyetujui jika kami pindah ke rumah itu," sambungnya kemudian.
" Kamu selalu merahasiakan segala sesuatunya terhadap Mama, tapi Papa kamu kasih tahu." Helen merasa kecewa karena dia selalu terlambat mengetahui apa yang terjadi dengan putranya. Sedang suaminya selalu tahu lebih dulu, apa yang dilakukan oleh Erlangga.
" Bukan begitu, Ma. Kalau aku banyak cerita kepada Papa, karena aku butuh bertukar pikiran dengan Papa. Sedangkan jika aku cerita kepada Mama, yang ada kita akan bertengkar." Erlangga menerangkan kepada Mamanya jika dia butuh orang yang bisa diajak bertukar pikiran, bukan untuk berdebat.
" Apa sekarang Mama yakin akan ikut tinggal bersama kami?" tanya Erlangga. Dia yakin jika Mamanya pasti akan menolak.
Helen menarik nafas perlahan sebelum dia mengambil keputusan. Akan ikut tinggal sementara waktu dengan anak dan menantunya, atau tetap bertahan di rumahnya.
" Ya sudah, Mama akan coba ikut tinggal di rumah itu." Helen menegaskan jika dia menerima tawaran dari Kayra.
Tanggapan berbeda muncul dari Erlangga dan Kayra. Jika Erlangga menanggapi kepindahan Mamanya untuk sementara waktu ke tempatnya masih dengan rasa khawatir, sedangkan Kayra justru merasa senang. Hati wanita itu memang secantik parasnya. Tidak menyimpan dendam sama sekali atas perlakuan Helen yang buruk terhadapnya dulu.
***
Rivaldi memperhatikan Grace yang sedang berbicara dengan satpam di sebuah rumah berpagar tinggi. Tak lama terlihat Grace mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang dari ponselnya itu.
Merasa penasaran karena menganggap Grace kesulitan untuk bertemu temannya, Rivaldi segera turun dari mobilnya untuk mendekat ke arah Grace.
" Ada apa, Rena?" tanya Rivaldi setelah Grace mengakhiri percakapan teleponnya.
" Teman aku sedang ke Lampung sejak dua hari lalu." Grace menghempas nafas dengan kecewa.
" Kamu tidak memberitahu temanmu terlebih dahulu saat ingin kemari?" tanya Rivaldi kemudian.
" Tidak, aku tidak sempat memberitahu dia lebih dahulu." aku Grace.
" Lalu sekarang bagaimana?" tanya Rivaldi.
Grace mengigit kuku jari lentiknya seraya berjalan hilir mudik seolah sedang berpikir keras.
" Tolong antar aku ke hotel saja, Aldi. Aku ingin menginap di hotel beberapa hari ini sambil menunggu teman aku itu pulang dari Lampung." Grace meminta Rivaldi membawanya ke hotel untuk menginap.
__ADS_1
" Kamu mau menginap di hotel?"
" Iya."
" Aku ada apartemen di sini. Kamu pakai saja apartemenku itu sambil menunggu teman kamu kembali dari Lampung." Rivaldi menawarkan apartemen miliknya untuk dipakai Grace beberapa hari sambil menunggu teman Grace kembali ke Bandung.
" Apartemen kamu? Oh, tidak usah, Aldi. Kamu sudah baik sekali, meninggalkan pekerjaan kamu di Jakarta untuk mengantar aku kemari. Aku tidak enak selalu merepotkan kamu." Grace menolak tawaran Rivaldi untuk tinggal di apartemennya.
" Tidak apa-apa, Rena. Lagipula selama aku di Jakarta, apartemen itu tidak ada yang menempati," ucap Rivaldi menjelaskan.
" Ayo, kita ke apartemenku." Rivaldi berjalan lebih dahulu ke mobilnya diikuti oleh Grace yang akhirnya menuruti langkah Rivaldi.
Selang lima belas menit dari tempat teman Grace, Rivaldi dan Grace telah sampai di apartemen milik bos perusahaan Abadi Jaya tersebut.
" Silahkan masuk ..." Setelah membukakan pintu apartemen, Rivaldi mempersilahkan Grace untuk memasuki apartemen miliknya.
Grace tak langsung melangkah masuk ke dalam. Wanita itu masih terlihat ragu untuk memasuki apartemen Rivaldi.
" Masuklah, aku tidak akan berbuat macam-macam." Melihat keraguan dalam diri Grace, Rivaldi menyakinkan jika dia tidak akan berbuat sesuatu yang menyakiti Grace, hingga akhirnya Grace pun mau mengikuti apa yang diminta oleh Rivaldi.
Grace memperhatikan apartemen berinterior maskulin yang banyak didominasi warna hitam. Tak ada foto Rivaldi atau keluarganya yang terpasang di dinding ruang tamu apartemen Rivaldi. Hanya beberapa hiasan dinding vintage yang terpasang di dinding berwarna abu-abu muda itu.
" Kamu bisa memakai kamar di lantai bawah, kamar aku di lantai atas." Rivaldi menunjuk kamar yang akan ditempati Grace.
" Apa tidak apa-apa aku tinggal di sini, Aldi? Apa kekasihmu tidak marah, kamu membawa wanita masuk dan menginap di apartemen kamu?" Grace mulai mengorek kehidupan pribadi Rivaldi.
" Aku tidak punya kekasih, kamu tenang saja," sahut Rivaldi dengan mengulum senyuman di bibir pria tampan itu.
Grace membuka handle pintu kamar yang akan dia tempati di apartemen Rivaldi. Aroma semerbak green tea langsung menguar saat pintu kamar terbuka. Keningnya seketika berkerut. Rivaldi mengatakan jika apartemennya ini tidak dihuni selama dia di Jakarta. Namun aromatherapy diffuser tetap terpasang menyala di dalam kamar itu.
" Satu Minggu sekali aku menyuruh ART di rumah orang tuaku datang kemari untuk membersikan ruangan apartemen ini.." Seakan tahu pertanyaan yang ada di benak Grace, Rivaldi menerangkan, bagaimana tempatnya tetap rapi, terjaga dan tetap harum walaupun tidak ada penghuninya.
" Oh ya, kamu tidak membawa baju, kan? Bagaimana kalau aku antar kamu ke butik lalu kita mampir ke rumah orang tuaku sebentar?" Mengetahui jika Grace datang ke Bandung tidak membawa pakaian karena terburu-buru dan tidak direncanakan, Rivaldi pun menawarkan untuk menemani Grace membeli kebutuhannya selama di Bandung, setelah itu dia berencana membawa Grace main ke rumah orang tuanya.
***
" Bersiap-siap ke mana sih, Ma?" tanya Krisna tak menanggapi serius apa yang dikatakan oleh istrinya.
" Kita 'kan mau mengungsi ke tempat Erlangga, Pa."
" Buat apa kita ke sana, Ma? Erlangga itu baru merasakan kebahagiaannya berumah tangga. Sebaiknya kita jangan mengusik ketenangan rumah tangga mereka. Biarkan mereka hidup tentram dan damai." Krisna tidak setuju istrinya menginap di tempat Erlangga.
" Papa pikir Mama ini pembuat rusuh?!" Helen memprotes suaminya yang menganggap kehadiran dirinya di rumah Erlangga hanya akan mengusik ketenangan hidup Erlangga bersama Kayra.
" Bukankah memang selama ini Mama seperti itu?" sindir Krisna, karena dia tahu selama ini istrinya itu selalu bertentangan dengan Erlangga soal pendamping hidup anaknya itu.
" Ck, sudahlah, Pa! Tidak usah berdebat! Jadi Papa mau ikut Mama ke tempatnya Erlangga atau tidak?!" Merasa akan terus disindir suaminya, Helen berhenti memilih mengakhiri perdebatannya.
" Kalau Papa menolak, memangnya Mama tega meninggalkan Papa sendirian di rumah?" tanya Krisna.
" Makanya Papa ikut saja, biar Papa tidak sendirian di rumah." Helen menyarankan agar suaminya itu mengikutinya.
" Ma, Mama ingat bagaimana dulu Mama mengkritik Caroline yang lebih mementingkan keinginannya daripada menemani Erlangga di rumah? Sekarang apa bedanya dengan Mama? Mama ingin meninggalkan Papa dan lebih mementingkan diri Mama sendiri saja?" Teringat akan sikap istrinya saat mengkritik tajam kepada mantan menantunya karena dianggap lalai mengurus suami kini Krisna menggunakan alasan itu untuk mengkritik sang istri.
" Papa jangan membandingkan Mama dengan Caroline, dong! Mama itu bukan Caroline! Caroline itu meninggalkan suaminya untuk mengejar karirnya. Kalau Mama itu untuk mencari tempat yang aman dari rencana jahat Agnes!" Tidak sudi disamakan dengan mantan menantunya, Helen pun segera memprotes Krisna.
" Di sini juga aman kok, Ma. Erlangga sendiri bilang kalau Agnes tidak akan mungkin berani mencelakakan Mama." Menjelaskan kepada istrinya, Krisna mengatakan jika ancaman Agnes tidak mungkin akan menjadi kenyataan.
" Sekarang sebaiknya Mama istirahat saja. Biarkan Erlangga tenang bersama istrinya di sana. Papa tidak yakin Mama tidak akan berbuat keributan di sana." Krisna lalu bangkit dari tempat tidur lalu melingkarkan tangannya di pundak sang istri.
" Sebaiknya kita menikmati makan malam saja, yuk!" Krisna membawa istrinya itu keluar dari kamar menuju ruang makan keluarga. Agar istrinya itu tidak terus menerus meminta pergi ke tempat tinggal Erlangga saat ini.
***
Grace memperhatikan rumah tempat tinggal Rivaldi yang terlihat sejuk dan asri karena banyak ditanami pepohonan. Namun, hal tidak mengurangi kemewahan rumah berlantai tiga itu.
__ADS_1
Untung saja Grace sendiri terlahir dari keluarga kaya raya, sehingga dia tidak canggung jika harus berhadapan dengan perkumpulan orang-orang berstatus menengah ke atas.
" Bi Sumi. Papa Mama ada di mana?" saat masuk ke dalam rumah orang tuanya, Rivaldi bertanya kepada ART di rumah orang tuanya itu.
" Bapak sama Ibu sedang makan malam, Den Aldi." sahut Bi Sumi seraya melirik ke arah Grace. Dia merasa terkejut mendapati wanita di samping Rivaldi. Karena setahunya, anak majikannya itu tidak pernah membawa teman wanita ke rumah itu.
" Oh, oke, Bi." sahut Rivaldi. " Kita langsung ke ruang makan saja, Rena." Rivaldi mengajak Grace untuk bergabung dengan kedua orang tuanya di meja makan.
" T-tapi, Aldi."
" Ayolah ...!" Rivaldi memaksa Grace untuk mengikutinya.
Garce akhirnya mengekor di belakang Rivaldi. Sementara matanya terus mengedar pandangan mencari informasi seputar Mama Rivaldi dan anak perempuannya.
Saat melewati ruang keluarga, tatapan matanya menangkap sebuah figura foto berukuran besar. Sebuah foto keluarga, dengan tiga orang yang Grace tahu. Mereka adalah Rivaldi berserta orang tua Rivaldi. Tapi, dua orang pria lainnya di foto itu tidak dia kenali.
Grace ingin bertanya kepada Rivaldi tentang foto keluarga itu. Namun, dia berusaha menahannya agar Rivaldi tidak merasa aneh dengannya jika dia banyak bertanya.
" Pa, Ma ..." Ketika sampai di ruangan makan, Rivaldi menyapa kedua orang tuanya yang sedang menyantap menu makan malam di meja makan.
" Aldi?" Nugraha dan Arina nampak kaget dengan kemunculan Rivaldi yang tiba-tiba tanpa memberitahu terlebih dahulu.
" Lho, Rena?" Arina semakin terkejut saat melihat kemunculan Grace di belakang Rivaldi.
" Selamat malam, Om, Tante." Grace bersikap manis menyapa kedua orang tua Rivaldi yang terlihat terkejut melihat kehadirannya.
" Kalian dari mana? Kemari kok tidak mengabari kami terlebih dahulu?" tanya Nugraha.
" Aku habis mengantar Rena mencari rumah temannya di Bandung, Pa. Tapi temannya itu sedang pergi ke Lampung. Jadi aku ajak Rena mampir kesini," sahut Rivaldi menjelaskan mengapa dia ada di Bandung saat ini.
" Kalian sudah makan belum? Ayo, ikut makan bersama!" Arina menawarkan Rivaldi dan Grace bergabung makan bersama. " Bi, tolong ambilkan piring dua lagi buat Aldi sama Rena." Arina menyuruh ART nya menyiapkan piring untuk Rivaldi dan Grace makan.
" Tidak udah repot-repot, Tante." Grace menolak.
" Kita belum makan, sebaiknya kita makan saja dulu." Rivaldi lalu menarik satu kursi lalu mendudukinya, membuat Grace juga melakukan hal yang sama dengannya.
" Papa senang, Aldi mengajak kamu datang kemari, Rena. Iya 'kan, Ma?" Nugraha yang sejak lama menginginkan anaknya itu segera berumah tangga tentu merasa senang karena Rivaldi mau mengajak Grace bertandang ke rumah mereka.
" Iya, semoga saja kamu bisa sering-sering datang kemari, Rena." Arina menyahuti.
" Soalnya Aldi itu tidak pernah membawa teman wanita datang kemari. Kamu ini wanita pertama yang Aldi ajak datang ke rumah ini, Rena." Nugraha melanjutkan perkataan istrinya.
" Pa ...!" Rivaldi mulai tidak nyaman saat orang tuanya mulai menyinggung masalah pendamping hidup. Walaupun tidak dikatakan langsung. Namun, dia tahu perkataan orang tuanya itu akan berujung ke sana.
Sementara Grace hanya tersenyum tipis seraya melirik ke arah Rivaldi yang terlihat salah tingkah mendengar ucapan kedua orang tuanya tadi.
*
*
*
Bersambung ...
Nih kira² sapa yg baper duluan, ya?😁
Cuma mau tanya, kalian tim mana?
#TimGraceAldi atau #TimGraceRizal nih?🤭
jawab di komen, ya! Siapa tahu Nemu ide buat bikin novel mereka😂
Kalau othor sih tetap #TimPakErKayra 😁😁
Happy Reading❤️
__ADS_1