MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Firman Dan Rena


__ADS_3

Tok tok tok


" Den, Tuan Krisna sudah datang!" Suara Bi Onah berseru memberitahukan jika Krisna sudah sampai di rumah lama orang tua Erlangga tersebut. Selepas waktu Dzuhur tadi, Erlangga dan Kayra memilih berbincang ringan di kamarnya, mereka memang tidak segera makan siang, karena menunggu kedatangan Krisna yang sudah mengabari mereka terlebih dahulu, jika sedang dalam perjalanan menuju rumah itu.


" Papa sudah datang, Sayang. Ayo kita turun!" Erlangga mengajak Kayra untuk keluar dan menemui Krisna.


" Maaf, Den. Papanya Aden sudah datang." Saat pintu dibuka oleh Erlangga, Bi Onah masih berdiri di depan pintu dan kembali mengabari kedatangan Krisna di sana.


" Terima kasih, Bi Inah." Erlangga menjawabnya, lalu mengajak Kayra berjalan ke arah lift.


" Kita turun pakai tangga saja, Mas." Kayra menahan lengan Erlangga, dan meminta menggunakan tangga untuk turun ke lantai bawah, karena tangga menuju ruangan tamu berada tepat di depan kamar mereka.


" Ya sudah, ayo ...!" Tak menolak apa yang diinginkan, akhirnya Erlangga menuruti apa yang diminta oleh istrinya tersebut.


" Pa ..." Erlangga menyapa Krisna yang sedang melihat aquarium besar yang ada di ruangan tamu rumah lamanya itu.


" Erlangga, Kayra ..." Krisna menyapa anak dan menantunya yang berjalan mendekat untuk menyalami dan mencium tangannya.


" Terima kasih Papa sudah menyempatkan waktu datang menemui kami, Pa." Kayra merasa perlu menyampaikan rasa terima kasihnya karena kesediaan Papa mertuanya mengunjugi mereka.


" Iya, Kayra. Papa baru sempat mengunjungi kalian. Oh ya, di mana Ibumu?" tanya Krisna kemudian.


" Sebentar, Kayra panggilkan dulu, Pa." Kayra hendak melangkah ke kamar Ibunya, tapi tanggan Erlangga lebih dahulu menahan istrinya hingga Kayra tidak bisa bergerak menjauh.


" Biar ART saja yang memanggilkan," ucap Erlangga. " Bi Onah, tolong beritahu Ibu Sari jika Papaku sudah datang!" Erlangga meminta Bi Onah yang hendak beranjak ke arah dapur untuk memanggilkan Ibu Mertuanya.


" Baik, Den." Bi Onah menyahuti dan segera melangkah untuk memanggil Ibu Sari.


" Apa Mama tidak tanya Papa pergi hendak ke mana?" Erlangga menanyakan perihal Mamanya, karena hari ini adalah hari Minggu, dan Papanya itu jarang pergi ke luar rumah di hari libur.


" Iya, Mamamu memang menanyakan Papa akan ke mana? Papa jawab jika Papa ingin mengunjungi tempat tinggal kalian." Krisna terkekeh, menjawab dengan santai pertanyaan putranya itu.


" Tapi Papa tidak memberitahu jika kami tinggal di sini, kan?" Erlangga takut Krisna membocorkan kepada Helen tentang keberadaan Kayra di rumah itu.


" Tentu saja tidak!" jawab Krisna menepis kekhawatiran Erlangga.


" Terima kasih Papa sudah menyembunyikan hal ini dari Mama ..." Erlangga bersyukur karena Papanya bisa diajak bekerjasama menyembunyikan tempat tinggal dirinya dan juga Kayra dari Mamanya.


" Papa tadi memang mengajak Mamamu ikut menemui kalian, tapi Mamamu menolaknya." Krisna tahu jika istrinya tidak akan mau atau lebih tepatnya gengsi, menolak mengunjungi menantunya, karena itu Krisna berbasa-basi mengajak Helen untuk ikut ke tempat Erlangga tinggal bersama Kayra, walaupun Helen tidak tahu jika anaknya itu kini tinggal di rumah lama keluarga Krisna Mahadika.


" Ibu ..." Kemunculan Ibunya di ruang tamu, membuat Kayra bangkit lalu menghampiri Ibunya. " Bu, ini Pak Krisna, Papanya Mas Erlangga ..." Kayra lalu memperkenalkan Papa mertuanya kepada Ibunya, begitu juga sebaliknya, dia memperkenalkan Ibunya kepada Krisna. " Pa, ini Ibu saya," lanjutnya.


" Saya Sari, Pak. Ibu dari Kayra." Ibu Sari dan Krisna saling bersalaman.


" Saya Krisna, Bu. Maaf jika saya baru menemui Ibu sekarang, karena pekerjaan yang sangat padat." Sebelumnya Krisna menyampaikan permohonan maafnya terlebih dahulu, karena baru menyempatkan diri menemui besannya itu


" Tidak apa-apa, Pak. Saya memaklumi ..." sahut Ibu Sari, lalu duduk setelah Krisna kembali duduk.


" Saya juga ingin minta maaf jika sikap dan tingkah laku putra saya ini sangat menyusahkan Ibu dan putri Ibu, terutama saat memaksa agar Kayra mau dia nikahi." Krisna menyadari, pasti sangat sulit untuk Ibu Sari menerima paksaan dari Erlangga yang bersikukuh ingin menikahi Kayra padahal Erlangga saat itu masih berstatus suami dari Caroline.


" Ah, tidak apa-apa, Pak Krisna. Yang penting sekarang mereka berdua sangat bahagia, saya senang jika melihat putri saya ada yang menjaga dengan baik dan sangat menyayangi dia." Walaupun awalnya tidak setuju, tapi sikap yang ditunjukkan Erlangga kepada Kayra dan dirinya membuat Ibu Sari merasa tenang dan nyaman.


" Jangan lihat bagaimana dulunya, Pa. Yang penting sekarang ini kami bahagia, apalagi kami akan mempunyai anak, tentu saja Ibu tidak akan menyesali mempunyai menantu seperti saya 'kan, Bu?" Erlangga membanggakan dirinya sendiri.


" Oh ya, kalau Papanya Kayra sudah tidak ada, ya? Dulunya suami Ibu bekerja di mana?" tanya Krisna ingin mengenal lebih jauh keluarga dari besannya itu.

__ADS_1


" Iya, Pak. Suami saya sudah meninggal, suami saya dulunya bekerja sebagai supir di beberapa perusahaan, pernah juga jadi supir pribadi, Pak. Ya, kami hanya orang dari kalangan ekonomi bawah, Pak." Ibu Sari merendah, karena memang seperti itulah pekerjaan dari suaminya itu.


" Tidak masalah pekerjaan apapun, yang penting halal, Bu." Krisna tidak mempermasalahkan pekerjaan besannya itu.


" Apa Kayra mempunyai saudara, kakak atau adik, Bu Sari?" tanya Krisna kembali.


" Hmmm ..." Ibu Sari melirik ke arah Kayra sebelum menjawab pertanyaan Krisna. " Tidak, Pak. Kayra anak kami satu-satunya," lanjutnya kemudian.


Krisna menganggukkan kepalanya tanda mengerti. " Saya berterima kasih kepada Ibu, karena anak Ibu Sari sudah membuat putra saya ini menjadi pribadi yang lebih baik. Pernikahan mereka membawa aura positif terhadap Erlangga dan juga keluarga kami. Saya berharap rumah tangga mereka akan langgeng selamanya." Krisna melambungkan harapannya terhadap rumah tangga putranya bersama Kayra.


" Aamiin ..." Ucapan doa Krisna disahuti bersamaan oleh Ibu Sari, Erlangga dan juga Kayra.


" Tegur putra saya jika dia lalai atau melakukan kesalahan yang menyakiti hati Kayra atau Ibu sendiri." Krisna bahkan mempersilahkan Ibu Sari untuk menegur Erlangga jika Erlangga berbuat kesalahan.


" Tidak mungkinlah, Pa. Aku tidak akan menyakiti Kayra apalagi Ibu mertuaku!" Erlangga menampik ucapan Krisna, karena dia merasa yakin jika dia tidak mungkin melakukan tindakan yang akan menyakiti istri dan ibu mertuanya itu. " Benar 'kan, Sayang?" Erlangga merangkulkan tangannya di pundak sang istri.


" Saya juga merasa berterimakasih kepada Pak Krisna, karena sudah menerima kami dengan baik, dan mau menerima Kayra sebagai menantu Bapak." Ibu Sari sepatutnya bersyukur, dengan kondisi dia dan Kayra sebagai orang biasa yang tidak mempunyai harta melimpah, bisa diterima dengan baik oleh Krisna.


" Kayra wanita yang baik, sudah tentu saya dapat menerima dia sebagai menantu saya," sahut Krisna.


" Pa, sebaiknya kita makan siang dulu, yuk!" Erlangga lalu mengajak Krisna menyantap makan siang bersama setelah melakukan perbincangan ringan di ruangan tamu, karena waktu saat ini sudah menunjukkan pukul satu jam siang.


***


Seorang pria muda tampan berjalan menghampiri Agnes yang sedang menunggu di depan pintu lift menuju lantai di mana fitness club nya berada. Dia pun ikut masuk bersama Agnes saat pintu lift itu terbuka.


Agnes melirik ke arah pria yang mengenakan t-shirt berwarna putih lengan pendek memperlihatkan otot liatnya dengan celana sport dan kaca mata hitam, juga menenteng travelbag gym berlogo brand Ni ke. Walaupun dia tidak bisa melihat jelas keseluruhan wajah pria itu karena posisinya saat itu berada di sampingnya, namun, bisa dia pastikan jika wajah pria itu sangat tampan, apalagi dari wangi parfum maskulin yang menguar dari tubuh pria itu membuat otaknya langsung berimajinasi ke mana-mana.


Melihat penampilan menawan pria di sampingnya, Agnes menduga jika pria itu akan melakukan kegiatan oleh raga, apalagi lantai yang ditujunya adalah lantai tempat fitness nya berada.


" Apa kamu mau ke A&A Fitness Club?" Agnes mencoba bertanya kepada pria berwajah tampan di sampingnya.


" Saya? Oh iya ..." sahut pria itu.


" Baru nge-gym di sana? Aku sepertinya baru lihat kamu, deh!" tanya Agnes penasaran dengan pria di sampingnya karena selama dia di sana, dia tidak pernah melihat pria itu


" Iya, kebetulan saya ada janji dengan teman-teman," sahut pria tadi.


" Sebelumnya suka nge-gym di mana?" Agnes berusaha mengakrabkan diri dengan pria tampan di sebelahnya yang tidak dia kenali itu.


" Saya biasa di Star Spot & Gym. Kebetulan teman mengajak kemari, jadi saya coba nge-gym di sini," jawab pria itu ramah.


" Oh ..." Agnes menganggukkan kepalanya, karena dia tahu tempat yang disebutkan oleh pria itu memang banyak dikenal didatangi kalangan orang-orang berduit.


Ting


Pintu lift terbuka membuat Agnes dan pria yang baru saja dikenalnya keluar dan berjalan ke arah fitness club milik Agnes.


" Apa kamu juga mau ke tempat fitness yang sama dengan saya?" Kali ini pria itu yang mulai bertanya.


" Tentu saja karena aku pemiliknya," sahut Agnes dengan bangga.


" Oh ya?" Pria itu memperlihatkan wajah terkejutnya saat Agnes mengatakan jika Agnes lah pemilik tempat fitness tersebut.


" Iya, nama A&A diambil dari nama saya Agnes Amelia." Agnes memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


" Oh, jadi nama kamu, Agnes?" tanya pria itu tanpa berhenti melangkah.


" Iya, benar. Kamu sendiri siapa?" tanya Agnes.


" Saya Vito." Ternyata pria yang tak lain adalah anak buah Rizal itu kemudian mengulurkan tangannya menjabat tangan Agnes.


" Semoga kamu suka di tempatku dan rutin nge-gym di sini." Tentu saja Agnes tidak ingin melepas kesempatan bisa bertemu kembali dengan Vito.


" Ya, kita lihat saja dulu, semoga tempatnya nyaman sehingga saya bisa sering ke tempat fitness kamu." Vito yang mendapat perintah dari Rizal untuk menyelidiki Agnes memang berusaha mengetahui aktivitas Agnes dengan datang langsung ke tempat usaha milik Agnes.


" Dan aku akan memberikan discount agar kamu dan teman-teman betah dan nyaman berolah raga di tempatku." Agnes pun memulai aksinya untuk menarik perhatian Vito.


Sementara itu di halaman parkir sebuah perusahaan berlantai tujuh, sebuah mobil berhenti di sana. Seorang pria dewasa bertubuh tinggi tegap dan maskulin keluar menenteng tas kerja, diikuti dengan sering wanita muda dan cantik, mengenakan heels dan setelan blazer dengan rok sedikit di atas lutut hingga memperlihatkan kaki jenjang berkulit putih mulus miliknya


Mereka berdua berjalan ke arah lobby kantor perusahaan Abadi Jaya karena mereka berdua sudah menagatur janji akan bertemu dengan direktur dari perusahaan tersebut sebelumnya.


" Selamat siang, Pak. Saya dari PT. Langgeng Putra Persada, saya ada janji dengan Pak Rivaldi Nugraha siang ini." Rizal, pria yang turun dari mobil tadi langsung melapor kepada security yang berjaga di dekat pintu lobby.


" Selamat siang, Pak. Oh, sebentar, Pak. Saya informasikan terlebih dahulu ke bagian front office. Mari silahkan duduk dulu." Security mempersilahkan Rizal yang datang bersama Grace untuk duduk menunggu di sofa tamu, sementara dia sendiri langsung menemui karyawan di bagian front office.


" Terima kasih, Pak." Rizal yang diikuti oleh Grace berjalan menuju sofa yang ditunjuk oleh security tadi.


Sekitar lima menit menunggu, security yang tadi berbincang dengan karyawan di bagian front office kembali mendekati Rizal.


" Mari, Pak. Akan saya antar ke ruangan Pak Rivaldi." Security itu menawarkan diri untuk mengantar Rizal dan Grace menuju ruangan Rivaldi. Rizal dan Grace pun akhirnya bangkit dan berjalan bersama Security menuju arah lift untuk naik ke lantai di mana ruangan Rivaldi berada.


" Mbak, ini tamu yang ingin bertemu dengan Pak Rivaldi." Setelah sampai di depan ruangan direktur, Security memberitahukan sekretaris dari Rivaldi tentang kedatangan utusan dari perusahaan Langgeng Putra Persada.


" Mari, Pak." Sekretaris Rivaldi lalu berjalan ke ruangan Rivaldi, lalu mengetuk pintu ruangan kerja Rivaldi sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan itu.


" Permisi, Pak. Perwakilan dari PT. Langgeng Putra Persada sudah tiba." Saat masuk ke dalam ruangan kerja bosnya, sang sekretaris langsung memberitahu perihal kedatangan Rizal dan Grace.


" Suruh masuk saja," sahut Rivaldi dari arah meja kerjanya.


" Baik, Pak." Sekretaris Rivaldi kembali keluar untuk mempersilahkan Rizal dan Grace masuk ke dalam.


" Terima kasih, Mbak." Rizal sempat mengucapkan terima kasih sebelum masuk ke dalam ruangan Rivaldi.


" Selamat siang, Pak Rivaldi. Perkenalkan saya Firman dan ini Rena, perwakilan dari PT. Langgeng," Rizal sengaja menyamarkan namanya dan Grace.


" Selamat siang, Pak Firman. Mari silahkan ..." Rivaldi mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk di sofa.


" Bagaimana, Pak Firman. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Rivaldi menyilangkan kakinya dan menyandarkan punggung ke sandaran sofa.


" Begini, Pak. Saya mendapatkan tugas dari atasan saya untuk bertemu dengan Anda, karena kami mendengar jika produk yang Pak Rivaldi pasarkan mempunyai harga di bawah dari supplier kami sebelumnya." Rizaldi menjelaskan niatnya bertemu dengan Rivaldi.


Rivaldi mengerutkan keningnya dengan senyuman tipis di sudut bibirnya karena dia tahu siapa supplier yang dimaksud oleh Rizal.


" Iya, harga di tempat kami memang bersaing dengan perusahaan lain, Pak Firman. Saya rasa pilihan atasan Anda sangat tepat jika ingin bekerjasama dengan kami." ucap Rivaldi melirik ke arah Grace yang juga melakukan hal yang sama dengan dirinya, menyilangkan kaki hingga memperlihatkan sebagian paha mulus wanita cantik itu. Wanita itu terlihat acuh, tak seperti wanita kebanyakan yang akan tertarik jika melihatnya, terkecuali Kayra dan wanita yang dikenalkan Rizal bernama Grace itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ..


Happy Reading❤️


__ADS_2