MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Aku Tahu Kau Sedang Berbohong


__ADS_3

Kayra terlihat gugup di hadapan Wira yang menanyakan aktivitas dia semalam. Dia menduga jika Wira tahu soal kepergian dirinya bersama Erlangga semalam dan dia bingung harus menjawab apa.


" Kamu pasti bertanya-tanya dari mana saya tahu apa yang kalian lakukan?" Wira tersenyum, dia mengerti jika saat ini Kayra sedang syok dan mengalami kebingungan karena dirinya mengetahui jika semalam bos dan sekretaris bosnya itu pergi bersama.


Kayra tidak menjawab, dia hanya menelan salivanya. Sepertinya lidahnya terasa kelu untuk digerakkan.


" Istri Henry itu adalah adik sepupu saya, dan saya mendapatkan informasi dari dia jika semalam kamu dan Pak Erlangga datang ke rumahnya." Wira akhirnya menjelaskan dari mana dia mengetahui soal Erlangga dan Kayra yang semalam pergi bersama.


Kayra menarik nafas yang terasa sesak untuk dihirupnya. Ternyata asisten dari Erlangga itu benar-benar mengetahui jika semalam dia pergi dengan Erlangga. Seketika itu juga pikiran Kayra terasa kacau. Apakah ini akan menjadi gosip di tempat kerjanya itu? Itu yang terus berkecamuk di dalam benaknya.


" Kayra, saya tidak ingin ikut campur masalah pribadi kalian. Saya hanya mengingatkan jika kalian adalah bos dan sekretaris. Posisi kalian ini sangat rawan terjadi affair. Dan kamu tahu sendiri jika Pak Erlangga sudah mempunyai istri. Jangan sampai hubungan kamu dengan Pak Erlangga akan menghancurkan karir dan reputasi kamu yang selama ini berjalan mulus tanpa cacat dan sangat baik." Wira memberikan nasehatnya kepada Kayra. Dia tidak ingin wanita yang selama bekerja di Mahadika Gautama dia kenal bekerja cukup baik dan disiplin akan tergelincir hanya karena terkena skandal dengan atasannya.


" Tidak, Pak. Saya tidak seburuk yang Bapak pikirkan!" Kali ini Kayra menyangkal dengan tegas apa yang dipikirkan oleh Wira terhadapnya.


" Saya percaya kamu, Kayra. Tapi hal itu bisa saja berubah seiring berjalannya waktu jika kamu terlalu sering dekat dengan Pak Erlangga di luar jam kantor." Bukan bermaksud menuduh, Wira hanya mengingatkan agar tidak salah melangkah.


" Rumah tangga Pak Erlangga dengan istrinya tidak sedang baik-baik saja, Kayra. Saya tidak ingin kamu hanya menjadi pelarian atau pelampiasan Pak Erlangga karena beliau merasa kecewa dengan kondisi rumah tangganya saat ini." Sebagai executive assistant yang cukup lama bekerja dengan perusahaan Mahadika Gautama, bahkan sebelum Erlangga menjabat sebagai CEO di perusahaan itu, sudah pasti Wira sangat tahu apa yang terjadi dengan keluarga Mahadika Gautama termasuk dengan rumah tangga Erlangga dan Caroline. Karena Erlangga sendiri sering bercerita kepadanya soal kekecewaan Erlangga terhadap istrinya yang lebih mementingkan karirnya ketimbang rumah tangganya.


Kayra tertegun beberapa saat. Dia sama sekali tidak tahu jika kondisi rumah tangga bosnya itu memang sedang bermasalah. Memang seharusnya dia menyadari, Erlangga sudah mempunyai istri tapi kenapa semalam bosnya itu tidak mengajak istrinya saja? Kenapa justru Erlangga memintanya menemani Erlangga bahkan sampai berkunjung ke rumah teman Erlangga? Dan ternyata istri dari teman Erlangga itu saudara dari Wira, asisten dari Erlangga, yang akhirnya membuat kedekatan dia dan bosnya terkuak di lingkungan pekerjaan. Apakah ini akan menjadi awal kehancuran karirnya? Tidak! Kayra mencoba menepis karena dia merasa, dia tidak menjalin hubungan affair dengan bosnya itu. Namun satu hal yang mengusik hatinya, apakah benar Erlangga hanya memanfaatkan dirinya sebagai pelarian dan pelampiasan kekesalan dan kekecewaan bosnya itu terhadap istrinya?

__ADS_1


" Saya bicara seperti ini bukan karena saya membenci atau menyudutkan kamu, Kayra. Seperti yang saya katakan tadi, kamu karyawan yang cukup teladan di sini. Saya tidak ingin apa yang kamu raih selama bekerja di sini akan jadi hancur hanya karena kedekatan kamu secara pribadi dengan Pak Erlangga. Kamu pasti paham maksud saya, kan?" Wira menekankan agar Kayra jangan terlalu jauh membangun kedekatan pribadi dengan Erlangga.


," Baik, Pak. Saya mengerti." Dengan perasaan yang sangat sesak, Kayra mencoba menanggapi ucapan Wira.


" Ya sudah, saya tinggal dulu, daripada bosmu datang dan menegur saya karena mengajakmu mengobrol." Suara kekehan mengakhiri ucapan Wira dan pria itu langsung berjalan ke arah lift kembali dan meninggalkan Kayra yang seketika hati dan pikirannya menjadi kacau.


Sekitar lima belas menit dari kepergian Wira, Erlangga tiba di kantornya. Namun karena Kayra kepikiran dengan kata-kata yang diucapkan Wira tadi, Kayra termenung hingga tidak menyadari kedatangan bosnya itu.


Erlangga menatap Kayra yang tidak menyambutnya dengan sapaan selamat pagi. Dia melihat wanita itu hanya terdiam mengarah padangan ke arah laptop namun dengan tatapan yang kosong dengan bola mata yang terlihat berembun.


Erlangga yang terheran dengan sikap tidak biasa Kayra lalu berjalan mendekat ke arah sekretarisnya itu. Namun Kayra masih saja tidak menyadari keberadaan Erlangga di hadapannya.


" Aku mempekerjakanmu di sini bukan untuk melamun!"


" B-bapak?" Kayra seketika berdiri, " S-selamat pagi, Pak." Kayra menyapa Erlangga namun dengan menundukkan wajahnya.


" Kenapa kamu melamun seperti tadi?" selidik Erlangga penasaran.


" Tidak, Pak. Maaf, tadi saya terlalu fokus dengan laptop sampai tidak menyadari kehadiran Bapak." Kayra berusaha menepis anggapan Erlangga yang mengatakan jika dirinya sedang melamun.

__ADS_1


Erlangga menatap Kayra yang tidak berani menatapnya. Dia bisa merasakan jika sekretarisnya itu sedang berbohong terhadapnya.


" Ya sudah, teruskan pekerjaanmu!" Di luar dugaan Kayra ternyata Erlangga tidak menyelidik terlalu jauh apa yang dia lakukan tadi, sehingga membuat wanita itu menarik nafas lega, apalagi setelah Erlangga berlaku dari hadapannya.


" Kamu pikir aku percaya begitu saja? Aku yakin kau sedang berbohong, Kayra." Dan tanpa disadari Kayra ternyata Erlangga memang mengetahui kebohongan yang dilakukan Kayra. Hingga saat pria itu sampai di ruangannya, dia langsung melihat layar monitor yang memantau aktivitas di dalam ruangannya dan juga di depan ruangannya. Sudah pasti dari sana dia bisa mengetahui apa yang dilakukan oleh Kayra dari monitor cctv yang terpasang di luar ruangannya itu.


Erlangga memperhatikan dari awal kedatangan Kayra. Tidak ada yang aneh dengan aktivitas sekretarisnya itu saat awal kedatangan. Kayra terlihat menaruh tas kerja dan tas bekal makannya, membuka compact powder dan merapihkan riasan wajahnya, lalu memulai aktivitas pekerjaannya seperti biasa. Merasakan tidak ada hal aneh di awal kedatangan Kayra. Erlangga mempercepat rekaman cctv hingga dia melihat kedatangan Wira di ruangan itu dan menyerahkan berkas kepada Kayra lalu berbincang cukup lama dengan Kayra. Erlangga tidak dapat mendengar apa yang dibicarakan Wira dengan Kayra saat itu. Namun dia bisa melihat ekspresi wajah Kayra yang terlihat ketakutan dan sedih bahkan sampai menundukkan kepalanya


" Apa yang dikatakan Wira sampai membuat Kayra ketakutan seperti itu?" Erlangga semakin penasaran. Dia merasa apa yang dikatakan Wira pasti sangat mempengaruhi pikiran Kayra hingga sekretarisnya itu melamun dan tidak menyadari kehadirannya tadi.


Erlangga terus memperhatikan rekeman cctv tersebut sampai akhirnya Wira meninggalkan Kayra. Dan Kayra akhirnya terduduk dengan menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya cukup lama.


" Si al, apa yang dikatakan Wira sampai Kayra terlihat sedih seperti itu?" Seketika emosi Erlangga tersulut saat mengetahui Wira lah yang menyebabkan Kayra melamun seperti tadi.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2