
Kayra seakan membeku karena lengan kokoh Erlangga memeluk erat tubuhnya, belum lagi wajah dan bibir Erlangga menyentuh ceruk leher mulusnya. Seakan kesulitan bernafas dia menghadapi situasi yang menegangkan saat ini. Dan Kayra berharap tidak akan ada orang yang masuk ke dalam ruangan itu karena pintu ruang istirahat Erlangga terbuka. Kayra sendiri tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh bosnya saat ini. Kenapa tiba-tiba meminta dirinya untuk menemani Erlangga? Seakan dia adalah kekasih atau pasangan dari Erlangga sehingga meminta untuk ditemani olehnya.
“ Astaghfirullahal adzim, kenapa aku berpikir sejauh itu?” Kayra langsung menampik pikiran yang melintas di benaknya tadi. Tapi saat ini sejujurnya dia merasakan takut dan kebingungan. Dia juga merasa khawatir jika Erlangga akan khilaf dan melakukan kesalahan yang akan merugikan dirinya.
Sementara itu di lobby pintu masuk kantor Mahadika Gautama, seorang pria paruh baya berjalan memasuki bangunan perusahaan yang dulu pernah dia pimpin. Sosok pria itu tak lain adalah Krisna Mahadika Gautama, ayah dari Erlangga.
“ Selamat siang, Tuan Krisna.” Security yang menyadari kehadiran Krisna lansung memberi salam dan membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai bentuk hormat terhadap pemilik perusahaan tempat merela bekerja. Hal itupun diikuti oleh karyawan lainnya yang juga memberi sapaan kepada Krisna.
Krisna membalas para karyawan anaknya itu dengan sangat ramah, karena sepuluh tahun silam beberapa karyawan di perusahaan itu sudah bekerja di perusahaan miliknya saat dia memimpin di sana.
" Pak Krisna? Selamat siang, Pak." Wira yang keluar dari pintu lift terkesiap saat mendapati sosok pria yang pernah menjadi pimpinannya itu berdiri di depan pintu lift.
" Wira, Erlangga ada?" tanya Krisna.
" Pak Erlangga ada di ruangannya, Pak Krisna. Mari saya antar ..." Wira mengurungkan niatnya dan memilih mengantar Krisna ke ruangan Erlangga terlebih dahulu.
" Terima kasih, Wira." Krisna masuk lebih dahulu ke dalam lift khusus petinggi perusahaan untuk mencapai lantai di mana ruang kerja Erlangga berada.
" Pak Krisna dari mana? Apa Bapak sengaja datang kemari?" tanya Wira karena sudah cukup lama mantan pimpinan Mahadika Gautama itu tidak mengunjungi kantornya dulu.
" Saya kebetulan lewat dekat sini, Wira. Ada calon rekanan dari Korea yang berminat kerja sama dengan perusahaan kita. Saya ingin mendiskusikan hal ini dengan Erlangga." Wira menjelaskan apa yang baru saja dia kerjakan sebelum berkunjung ke perusahaan yang dipimpin olehputranya itu.
" Suatu kesempatan besar kita bekerja sama dengan perusahaan dari negara-negara besar, Pak Krisna." Wira yang sudah lama ikut bekerja selama dua puluh tahun bersama Krisna sejak dirinya lulus SMA tentu sangat tahu bagaimana perusahaan milik Krisna sangat berkembang pesat dan menjadi salah satu perusahan kuat di negeri ini.
__ADS_1
" Iya, Wira. Selama masih ada kesempatan memperkokoh perusahaan kita dalam bisnis ini, kenapa tidak kita coba?" ucap Krisna.
Ting
Lift yang membawa Krisna dan Wira sudah sampai di lantai sembilan, dan pintu lift pun terbuka.
" Silahkan, Pak Krisna ..." Wira mempersilahkan Krisna untuk ke luar lebih dahulu dengan dia menahan agar pintu lift tidak buru-buru tertutup kembali.
" Terima kasih, Wira." Krisna kemudian ke luar dari lift. " Jika kamu masih punya kesibukan, tidak usah temani saya, Wira." Karena Krisna tahu jika Wira tadi terlihat sedang punya kesibukan hingga membuat Wira turun ke bawah, Krisna meminta agar Wira tidak perlu menemaninya sampai masuk sampai ke ruangan Erlangga.
" Saya memang ada kunjungan ke perusahaan milik Pak Andra, Pak. Pak Erlangga meminta saya menemui Pak Andra siang ini." Wira menjelaskan rencana tugas yang diberikan Erlangga terhadapnya.
" Kalau begitu sebaiknya kamu segera temui Pak Andra, Wira. Jangan sampai kamu terlambat datang ke sana. Pergilah ...!" Krisna menyuruh Wira untuk meninggalkannya dan menemui relasi bisnis Mahadika Gautama tersebut.
Krisna tidak mendapati Kayra di meja kerja yang letaknya tidak jauh dari ruangan kerja Erlangga. Dia menduga jika Kayra berada di ruang kerja Erlangga. Namun saat dia membuka pintu ruangan Erlangga, dia tidak mendapati putranya itu di kursi kebesaran Erlangga. Dia lalu menolehkan pandangan ke arah sofa dan menemukan kotak makan, juga wadah air dengan sapu tangan handuk terendam di dalamnya.
Krisna mengeryitkan keningnya melihat benda-benda itu meja sofa ruangan Erlangga. benda-benda yang menurutnya aneh bisa berada di meja sofa ruangan kerja Erlangga.
Krisna mengedar pandangannya hingga matanya ini terpusat pada pintu kamar istirahat yang terbuka yang terletak di depan kursi makan yang ada di ruangan Erlangga. Perlahan Krisna berjalan mendekat ke arah kamar istirahat hingga langkahnya terhenti seketika saat matanya mendapati pemandangan yang membuatnya syok sampai dia membelalakkan mata lebar-lebar.
" Ya Tuhan, Erlangga ...!! Kayra ...!! Apa yang kalian lakukan?!" Suara Krisna terdengar kencang sampai membuat Kayra yang memang tidak tertidur tersentak kaget bahkan wanita itu berusaha bangkit walau terlihat kesulitan melepaskan diri dari dekapan Erlangga.
" P-Pak Krisna??" Kayra terlihat panik dan ketakutan saat menyadari kehadiran ayah dari Erlangga di kamar istirahat Erlangga.
__ADS_1
" Pak, tolong lepaskan saya!' Kayra masih berusaha berontak agar Erlangga melepaskan pelukannya.
Erlangga pun langsung terbangun oleh suara pekikan kencang meneriakkan namanya ditambah Kayra yang berusaha lepas dari belitan tangannya. Erlangga langsung terduduk dengan memegangi kepalanya.
" Papa, Papa ada di sini?' Erlangga tersadar jika saat itu Krisna ada di dalam kamarnya. Sedangkan Kayra yang berhasil melepaskan diri dari Erlangga langsung berdiri ketakutan dan menundukkan kepalanya dengan meremas ke dua tangannya.
" Astaga Erlangga, apa yang telah kalian lakukan??" Dengan nada menyelidik dan pandangan mata penuh curiga Krisna menatap dengan sorot mata tajam ke arah Erlangga terlebih saat menatap ke arah Kayra.
" Memang kenapa, Pa?' Tanpa merasa bersalah atau mungkin dia tidak menyadari jika yang dilakukannya adalah suatu yang salah, Erlangga justru melontarkan pertanyaan itu kepada Papanya.
" Kenapa katamu? Apa kamu pikir tidur seranjang dengan sekretarismu ini adalah hal yang wajar?' geram Krisna mendengar pertanyaan Erlangga.
" Kita bicara di luar!" Krisna memutar langkahnya dan menyuruh Erlangga dan Kayra keluar untuk menjelaskan kejadian memalukan yang dia lihat tadi.
Kayra berjalan lebih dahulu dengan hati yang sangat kacau. Dia merasa hari ini adalah hari terburuk untuknya. Setelah pagi tadi Wira mengetahui kepergian dirinya semalam dengan Erlangga, kini ada hal yang lebih serius dan memalukan menurutnya kerena dia ketahuan oleh Papa dari bosnya itu sedang tidur satu ranjang dengan Erlangga dengan posisi sangat in tim. Kayra bahkan pasrah, jika ini adalah awal dari kehancuran karirnya di perusahaan Mahadika Gautama.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading