
Hati Caroline terasa remuk redam saat mendengar fakta yang diungkap Erlangga tentang Kayra yang ternyata sudah dinikahi oleh suaminya itu. Seluruh isi semesta alam seakan menertawakannya, bagaimana mungkin dalam kurun waktu yang berurutan dia mengalami hal-hal menyedihkan seperti ini? Digugat cerai oleh suami, diper kosa manager juga sahabatnya sendiri dan kini mengetahui kabar jika suaminya sudah berselingkuh dan menikah dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya saat pria itu masih berstatus sebagai suami sahnya.
Seakan puluhan belati tertancap di jantungnya, fakta yang dia hadapi sangat-sangat menyakitkan bagi Caroline. Mendengar kenyataan jika Kayra adalah istri suaminya juga seketika tubuh Caroline melemas, dadanya terasa sesak seperti tertimpa beban yang sangat berat, bahkan separuh nyawanya seolah terlepas dari raganya, perselingkuhan yang dilakukan oleh Erlangga benar-benar membuat hatinya terluka.
" I-ini tidak mungkin ... bagaimana mungkin kamu tega lakukan hal ini kepadaku, Erlangga?" Butiran air mata deras menetes di pipi mulus wanita itu. Caroline tidak kuasa menahan tangisnya mengetahui jika Kayra adalah madunya.
" Bagaimana aku tega melakukan hal itu? Karirmu adalah jawabannya, Caroline! Sikapmu yang selalu mengabaikan statusmu sebagai ibu rumah tangga lah yang membuatku berubah. Selama ini aku selaku katakan, sudahi ambisimu itu! Aku sanggup membahagiakanmu, aku sanggup memberikan apa yang kamu inginkan, aku bisa membelikan apapun yang kamu mau, Caroline! Bahkan segenap jiwa ragaku rela aku serahkan asalkan kamu bisa menjadi istri yang seutuhnya untukku tanpa harus dipusingkan dengan karirmu!" Lima tahun yang dilewati Erlangga untuk menunggu sikap Caroline berubah nampaknya tidak cukup untuk meyakinkan wanita itu untuk melepas cita-citanya sebagai top model dunia, hingga akhirnya dia menyerah apalagi di saat yang bersamaan dia menemukan sosok wanita yang dia inginkan dan memiliki kriteria istri yang sesungguhnya untuk Erlangga.
" Aku sudah menunggumu bertahun-tahun tapi ambisimu tidak bisa dihentikan, dan aku sudah tidak sanggup terus mengikuti kemauanmu, Caroline." Erlangga mengatakan jika dia memang sudah tidak bisa mentolelir Caroline yang lebih mementingkan karir dan sering meninggalkannya sendiri di rumah.
" Dan kamu memutuskan selingkuh dengan sekretarismu? Dia pasti sudah mengincarmu sejak lama dan memanfaatkan saat kamu sedang merasa kecewa terhadapku. Apa kamu tidak menyadari jika dia hanya mengincar hartamu, Erlangga?" Berusaha mempengaruhi Erlangga dengan terus menjelekkan Kayra, Caroline berharap Erlangga tersadar jika sekretarisnya bukanlah wanita baik.
" Kayra bukan wanita seperti itu, dia wanita baik-baik!" Kalimat sanggahan terucap dari bibir Erlangga menepis tudingan Caroline.
" Wanita baik yang merebut suami orang?? Aku tidak mengerti cara berpikirmu, Erlangga! Tidak ada wanita baik yang mau dijadikan istri simpanan, tapi dia mau, kan? Artinya dia memang mengincarnya, menjadi istri bos, itu pasti sudah dia harapkan mungkin sejak awal menjadi sekretarismu!" Tidak mudah untuk Caroline mempercayai apa yang dikatakan Erlangga yang selalu berusaha membela Kayra.
" Jangan terus menyalahkan Kayra! Dia tidak salah!"
" Dan kamu menganggap akulah yang salah!?"
" Kita berdua yang salah! Kita berdua sudah tidak sejalan. Apa yang kamu inginkan dan apa yang aku inginkan semakin lama semakin bertentangan dan itu mengikis keutuhan rumah tangga kita, semakin merenggangkan hubungan kita, Caroline. Aku minta maaf tidak bisa memenuhi janjiku untuk selalu mendukungmu. Aku rasa aku bukanlah pria yang cocok untukmu, aku tidak bisa terus memberikan support kepadamu untuk menggapai cita-citamu!" tegas Erlangga selalu berusaha melindungi Kayra dari tuduhan Caroline.
" Aku rela meninggalkan semua cita-citaku, karirku, asal kamu meninggalkan sekretarismu itu. Kalian baru menikah siri, kan? Ini belum terlambat untukmu menceraikan dia, Erlangga. Aku berjanji, aku akan menjadi istri yang baik untukmu." Caroline tak kenal menyerah masih berusaha merubah keputusan Erlangga.
__ADS_1
" Sudah terlambat, Caroline! Aku tidak mungkin meninggalkan Kayra, karena wanita seperti Kayra lah yang lebih tepat mendampingiku!" Kembali kalimat tegas diucapkan oleh Erlangga.
" Kenapa kamu lakukan hal kepada kepadaku, Erlangga? Kenapa kamu tega mengkhianatiku?" Begitu yakinnya Caroline terhadap rasa cinta Erlangga kepada dirinya membuat dia tidak menyangka jika Erlangga tega berselingkuh di belakangnya.
" Maafkan aku, Caroline. Aku sungguh tidak pernah berniat mengkhianatimu, tapi bagaimanapun juga aku seorang pria, seorang suami yang butuh dilayani dan dia bisa melayaniku dengan baik, bukan hanya sebatas melayani aktivitas dalam bercinta, tapi dia melayaniku layaknya seorang istri kepada suaminya, seorang istri yang patuh pada suaminya." Erlangga menggambarkan bagaimana sikap lembut Kayra yang sanggup membuat hatinya mengagumi wanita itu.
Rasa cemburu semakin meletup di hati Caroline mendengar Erlangga terus memuji Kayra. Erlangga lebih dulu mengenal dirinya, namun selama ini tidak pernah ada pujian dari Erlangga kepadanya selain memuji kecantikannya saja.
" Kayra sangat terpukul dengan tindakan kamu tadi yang menampar dan mencacinya di depan umum. Kayra tidak pernah mencoba menggodaku, Kayra juga sebenarnya tidak mau aku nikahi bahkan dia sampai berusaha kabur saat tahu aku ingin menikahinya. Aku yang memaksanya agar dia mau aku peristri, jadi aku harap kamu jangan menyalahkan Kayra dalam hal ini, karena ini bukan sepenuhnya kesalahan Kayra, bahkan sebenarnya Kayra adalah korban dari kegagalan rumah tangga kita." Erlangga menunjukkan jika dia benar-benar pasang badan dalam membela Kayra.
" Mungkin jodoh kita memang hanya sampai di sini, Caroline. Aku rasa ini adalah yang terbaik untuk kita berdua." Erlangga lalu bangkit dari duduknya. " Tidak ada yang perlu ditangisi lagi, kisah kita telah usai. Saat ini aku ingin menjalani kehidupan rumah tanggaku dengan Kayra, kamu tetaplah pada tujuan awalmu menggapai cita-cita sebagai model top dunia. Mamamu pernah bilang jika Wisnu pernah berkata dia menginginkamu, mungkin dialah pria yang sepantasnya mendampingimu, karena dia bisa mengerti semua yang kamu inginkan. Cobalah membuka hati untuk dia, mungkin dia pria yang sanggup membuatmu bahagia ..." Setelah mengakhiri kalimatnya Erlangga pun melangkah meninggalkan Caroline yang masih menangis.
Erlangga memperlambat langkahnya saat dia melihat sosok Wisnu yang berjalan cepat ke arahnya. Wisnu bahkan menatap Caroline yang tersedu lalu mengalihkan pandangannya ke arah Erlangga yang menatapnya dengan sorot mata tajam.
***
Kelopak mata Kayra seakan seolah sulit untuk dibuka. Sepertinya tangisannya sejak tadi membuat matanya terasa berat hingga susah untuk dilebarkan. Kayra memang merasa tertekan dan tersudutkan karena Caroline akhirnya memergokinya bersama Erlangga. Tamparan dan hinaan serta sumpah serapah yang diucapkan Caroline memang tidak bisa diabaikan begitu saja olehnya.
Bagaimanapun dia juga seorang wanita, dia mengerti jika saat ini hati Caroline sangat hancur. Kayra tidak menduga akan berjumpa dengan Caroline saat dia dan Erlangga sedang berada di Italia, suatu moment yang menghancurkan semangatnya melewati hari-hari ke depan karena dia terlalu memikirkan gosip yang akan beredar nanti di kantornya, bahkan mungkin akan menjadi gosip yang tersebar di seluruh negeri karena pasangan Caroline dan Erlangga adalah orang-orang terkenal di tanah air.
Kayra bangkit dari tidurnya, dia mencoba mencari keberadaan Erlangga yang tidak dia temui di dekatnya saat ini. Kakinya kini menginjak lantai untuk mencari di mana suaminya saat ini.
" Pak? Pak Erlangga?" Masih memanggil dengan sebutan yang formal, Kayra mencari Erlangga di kamar hotel dia menginap, namun pria itu tidak juga ditemui meskipun setiap sudut kamar hotel sudah dihampirinya.
__ADS_1
Mata indah wanita cantik itu kini menjumpai secarik kertas yang tergeletak di dekat meja rias kamar hotel, kakinya kini terayun mendekat untuk meraih kertas yang dia duga pesan yang ditinggalkan Erlangga.
..." Saya akan bertemu Caroline, jangan ke mana-mana, tetaplah di kamar sampai saya pulang"...
" Pak Erlangga akan menemui Ibu Caroline? Untuk apa? Apa Pak Erlangga akan memarahi Ibu karena tadi telah bersikap kasar kepadaku? Ya Allah, kasihan sekali Ibu Caroline kalau sampai Pak Erlangga mengamuk dan memarahi Ibu Caroline." Kayra terkesiap, dia teringat bagaimana marahnya Erlangga saat Caroline menyerangnya.
Kayra kemudian berjalan ke arah pintu untuk ke luar dari kamarnya, walaupun dia sendiri tidak tahu di mana suaminya itu menemui Caroline saat ini.
Kayra kini berada di lobby hotel setelah keluar dari lift, namun tiba-tiba dia merasakan kepalanya berat, pandangannya pun seakan memudar, berkali-kali matanya terpejam dan terbuka, namun hal itu tidak membuatnya membaik, bahkan saat itu dia merasakan seolah semua berputar-putar di sekelilingnya hingga membuat langkahnya gontai dan sedetik kemudian tubuhnya luruh ke lantai lobby hotel.
" Signorina, cosa stai facendo? Sei malata, signorina?" ( Nona, Anda kenapa? Apa Anda sakit, Nona )
Bahkan suara yang sempat dia dengar sebelum matanya terpejam tadi tidak sanggup menahannya untuk tidak pingsan saat itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1