
" Apa kamu sudah memeriksakan kandunganmu bulan ini, Kayra?" tanya Arina dengan tangan mengusap perut buncit Kayra, saat mereka duduk santai sambil mengobrol di ruangan tamu.
" Sudah, Bu. Dua hari yang lalu Mama Helen menemani aku periksa kandungan," jawab Kayra.
" Beruntung sekali Ibu Helen bisa menemani Kayra ke dokter kandungan. Ya Allah, hamba pun ingin melakukan hal itu untuk putri hamba sendiri." batin Arina.
" Apa Ibu Helen selalu menemani kamu periksa kandungan, Kayra?" tanya Arina kembali.
" Jika Mas Erlangga tidak sempat mengantar, Mama yang menemani aku, Bu. Tapi, kadang Mama sering ikut juga meskipun Mas Erlangga bisa mengantar aku ke dokter kandungan." Kayra berbicara dengan wajah berbinar. Sepertinya dia tidak bisa menutupi rasa bahagia karena mempunyai suami dan Mama mertua yang kini begitu menyayangi dan memperhatikannya.
Arina tersenyum melihat wajah bahagia Kayra. Karena kebahagian bagi Kayra sudah pasti kebahagiaan baginya juga.
" Kamu bahagia sekali sepertinya, Kayra. Elang pasti begitu menyayangimu ..." ucapnya kemudian.
" Iya, Bu. Aku rasanya seperti bermimpi jika mengingat, aku ini bukan siapa-siapa, tapi saat ini aku menjadi istri seorang bos besar perusahaan ternama. Hidupku ini seperti Cinderella ya, Bu? Sama-sama dipinang oleh sang pangeran tampan." Kayra terkikik seraya menutup mulutnya. " Bedanya Cinderella hidup tersiksa dengan keluarga tirinya, sedangkan aku bahagia penuh limpahan kasih sayang dari orang tuaku sendiri," tutur Kayra kembali.
Senyuman di bibir Arina seketika menyurut mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Kayra. Sebagai seorang Ibu, dia merasa tidak berguna bagi putrinya itu.
" Nyonya, makan siang sudah siap. Apa Nyonya ingin makan sekarang?" Atik yang sudah selesai menyajikan menu makan siang mendekat ke arah Kayra, hingga menyelamatkan Arina dari ekspresi wajah sedih yang langsung ditunjukkannya tadi.
" Oh, iya, Mbak. Kami mau makan sekarang saja." ucap Kayra mencoba bangkit dari sofa, walau mulai agak kepayahan dengan kehamilannya.
Arina dengan cepat membantu Kayra yang terlihat kerepotan untuk berdiri. Karena tiga kali mengalami menjadi Ibu hamil, membuatnya bisa merasakan kondisi Kayra.
" Terima kasih, Bu." ucap Kayra atas bantuan Arina.
" Sama-sama, Kayra." sahut Arina tersenyum bahagia karena sikap santun yang selalu ditunjukkan oleh putri kandungnya itu.
" Bu, Ibu ke ruang makan dulu. Saya mau memanggil Ibu saya." Kayra berpamitan ingin menjemput Ibu Sari yang sedang berada di kamar untuk diajaknya bergabung di meja makan.
" Biar saya saja yang memberitahu Ibu Sari, Nyonya." Atik menawarkan diri untuk memanggil Ibu Sari.
__ADS_1
" Tidak usah, Mbak Atik. Biar saya saja. Mbak Atik tolong antar Ibu Arina ke ruangan makan." Kayra meminta Atik untuk mengantar Arina ke ruang makan.
" Baik, Nyonya." Atik menyahuti. " Mari, Bu ..." Atik mengajak Arina ke ruang makan, sementara Kayra sendiri menuju arah lift untuk menjemput Ibu Sari untuk bergabung menikmati makan siang mereka.
Tok tok tok
Kayra mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar Ibu Sari.
" Bu ..." Kayra menghentikan ucapannya saat melihat Ibu Sari sedang duduk bersimpuh dengan menengadahkan tangan dan kepalanya, berdoa setelah melaksanakan sholat Dzuhur.
Kayra menunggu Ibunya itu menyelesaikan beribadahnya terlebih dahulu sambil duduk di tepi tempat tidur.
" Ada apa, Kayra?" Setelah menyelesaikan berdoa, Ibu Sari yang menyadari kehadiran Kayra langsung menoleh ke arah Kayra yang menunggunya menyelesaikan ibadahnya.
" Kita makan siang dulu yuk, Bu." Kayra bangkit mendekati Ibunya.
" Sebentar, Nak." Ibu Sari melipat mukenah yang baru saja dipakainya untuk sholat.
" Apa kamu sudah mempunyai nama untuk anakmu ini, Kayra?" tanya Arina saat mereka sedang menyantap makanannya.
" Sudah ada beberapa nama yang disiapkan, Bu. Nanti tinggal dipilih mana yang paling cocok," sahut Kayra.
Ibu Sari memperhatikan Arina dan Kayra bergantian. Dia merasa seperti orang asing jika berada di tengah Kayra dan Ibu Arina. Dia lebih banyak mendengarkan daripada ikut bergabung, atau sekedar menimpali pembicaraan antara Kayra dan Arina.
Arina sendiri merasakan jika Ibu Sari merasa canggung jika mereka. Hingga akhirnya Arina berusaha mengajak bicara Ibu Sari selepas makan siang, saat Kayra kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat Dzuhur dilanjut dengan istirahat siang.
" Bu Sari, bisa kita bicara?" tanya Arina saat dia melihat Ibu Sari keluar dari arah dapur.
Ibu Sari menoleh ke arah lantai atas di mana kamar Kayra berada. Dia takut jika Karya akan mendengar apa yang ingin dibicarakan oleh Arina kepadanya.
" Hmmm, ada apa ya, Bu?" tanya Ibu Sari penasaran.
__ADS_1
" Kita bicara di kamar saya saja, Bu Sari." Melihat gerakan mata Ibu Sari, Arina memahami apa yang dicemaskan oleh wanita yang telah membesarkan anaknya itu. Sehingga Arina mengajak Ibu Sari untuk berbicara di kamar tamu yang dia tempati.
Ibu Sari menuruti apa yang diminta oleh Arina dan akhirnya mengekor berjalan di belakang Arina menuju kamar tamu.
" Ada apa ya, Bu?" Ibu Sari yang sudah tidak sabar ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Arina langsung bertanya, demi mengobati rasa penasarannya.
" Saya sungguh berterima kasih atas apa yang Ibu Sari lakukan kepada Kayra selama ini. Saya tahu Ibu sangat menyanyangi Kayra, begitu juga sebaliknya, Kayra sangat menyayangi Ibu." Kata-kata Arina sudah sering Ibu Sari dengar, namun hal itu belum menjelaskan apa maksud Arina mengajaknya berbicara.
" Saya senang bisa dekat dengan Kayra, meskipun Kayra tidak tahu siapa saya yang sebenarnya,Tapi, saya tidak ingin kebersamaan saya bersama Kayra membuat Ibu Sari merasa terganggu atau tidak nyaman," tutur Arina mencoba memberi pengertian kepada Ibu Sari agar tidak berpikir buruk terhadapnya, karena dia memang sering mengunjungi Kayra.
" S-saya tidak merasa seperti itu kok, Bu." sanggah Ibu Sari. Tentu Ibu Sari tidak ingin mengakui jika dia memang merasa asing jika Arina bertandang menemui Kayra.
" Syukurlah jika memang seperti itu. Saya harap Ibu bisa mengerti posisi saya ya, Bu!? Saya sudah lama menginginkan bertemu anak saya. Saya benar-benar merindukannya," ucap Arina lirih.
" Maafkan saya, Bu. Karena perbuatan saya dan suami saya, Ibu jadi harus tersiksa bertahun-tahun. Saya sudah membuat Ibu terpisah dari Kayra." Ibu Sari menyampaikan permohonan maafnya dengan penuh rasa bersalah, karena dengan sengaja memisahkan Kayra dari Arina.
" Sudahlah, Bu Kita tidak usah mengingat tentang hal itu kembali. Kita tutup lembaran itu. Kita berdua ini sama-sama Ibu bagi Kayra. Saya yang mengandung dan melahirkan Kayra. Sedang Ibu Sari yang merawat dan membesarkan Kayra,"
Braakkk
Ibu Sari dan Arina tersentak kaget saat mendengar suara pintu kamar tamu yang memang tidak tertutup rapat didorong paksa dari luar. Hingga memperlihatkan sosok Kayra yang menatap dengan pandanganpenuh dengan kebingungan dan bola mata yang dipenuhi cairan bening.
" Kayra??" Arina dan Ibu Sari terperanjat melihat Kayra yang muncul dari balik pintu, hingga mereka berdua bangkit dari duduknya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️