
Di kantor Mahadika Gautama.
Dari hasil rekaman cctv di luar lobby kantor Mahadika, Erlangga yang sudah mendapati nomer plat mobil yang membawa Kayra pergi segera memberi perintah kepada Bondan untuk melacak siapa driver ojek online yang dipesan Kayra untuk membawa wanita itu keluar dari kantor Mahadika Gautama.
Tentu tidak sukar bagi Bondan mendapatkan informasi seputar driver Ojol tersebut, bahkan anak buah Bondan kini sudah berhasil membawa driver Ojol itu ke dalam kantor Mahadika saat ini, karena Erlangga mendapat kabar jika istrinya ternyata tidak ada di rumahnya.
" Maaf jika kami terpaksa membawa Bapak kemari, apa benar Bapak tadi membawa penumpang seorang wanita dari kantor ini? Namanya Kayra ..." Wira yang menanyakan kepada sang driver, sebab dia tahu saat ini bosnya sedang dalam kondisi dipengaruhi emosi karena menghilangnya Kayra.
" Iya, benar, Tuan. Tadi saya memang membawa penumpang wanita dari kantor ini." jawab driver Ojol.
" Anda membawa istri saya ke mana?" Tak sabar ingin tahu keberadaan istrinya, Erlangga to the point menanyakan keberadaan Kayra kepada driver Ojol.
" Awalanya Mbak tadi minta di antar ke daerah Lebak Bulus, Tuan. Tapi karena ban mobil saya tiba-tiba kempes akhirnya Mbak tadi turun di tengah perjalanan," jawab driver Ojol kembali.
" Turun di tengah jalan? Memangnya seperti itu kebijakan perusahaan jasa transportasi Anda? Menurunkan penumpangnya begitu saja di jalanan tanpa ada tanggung jawab memberi penggantian armada lain kepada konsumennya?" Mengetahui istrinya di turunkan tidak pada tempatnya, Erlangga terlihat geram.
" Maaf, Tuan. Bukan seperti itu!" sanggah sang Driver. " Saya sudah menawarkan Mbak tadi untuk mengganti armada, tapi tiba-tiba ada seorang pria yang kenal dengan Mbak tadi yang kebetulan lewat di depan kami dan membawa Mbak itu pergi, Tuan." Driver Ojol menjelaskan soal kedatangan pria yang membawa Kayra pergi.
" Seorang pria yang Kayra kenal? Siapa dia? Bagaimana ciri-ciri pria itu?" Wajah Erlangga menegang saat driver Ojol menyebutkan ada seorang pria yang Kayra kenal membawa Kayra pergi, dan pikirannya langsung terarah kepada Rivaldi yang sampai saat ini masih saja mengikuti Kayra.
" Orangnya ganteng, tinggi sekitar seratus delapan puluh sentimeter, warna kulitnya putih bersih dan menggunakan mobil mewah." Driver Ojol menyebutkan ciri-ciri pria yang sangat mirip dengan sosok Rivaldi.
" Si al!!" Aura wajah Erlangga seketika gelap, bahkan tangannya yang sedari tadi mengepal dia hantamkan ke atas meja, membuat Driver Ojol itu tersentak kaget bahkan langsung ketakutan dengan tindakan yang baru saja dilakukan Erlangga.
" Apa Bapak tahu nomer kendaraan atau jenis kendaraan yang dipakai pria yang membawa Kayra tadi?" Wira menanyakan soal indentitas mobil yang dipakai pria yang membawa Kayra.
" Maaf, saya tidak ingat, Tuan." Driver Ojol menjawab dengan ketakutan.
" Ini pasti ulah Rivaldi, saya yakin ini pasti ulah dia, Pak Wira!" Erlangga nampak murka karena dia menduga Rivaldi lah yang sudah menculik istrinya.
" Anda sebaiknya tenang dulu, Pak. Kita selidiki lebih lanjut soal ini." Melihat bosnya sudah meradang, Wira mencoba menenangkan Erlangga, dia pun menyuruh driver itu untuk segera meninggalkan ruangan.
" Sebaiknya Anda tenang, Pak Erlangga. Kita akan cari tahu di sekitar jalan mobil driver tadi berhenti, apa ada cctv yang bisa dijadikan petunjuk siapa yang membawa Kayra pergi?!" Wira kembali berusaha menenangkan bosya itu, karena dia tahu Erlangga saat ini tengah kalut dengan menghilangnya Kayra, apalagi saat diketahui pria yang membawa Kayra ciri-cirinya sangat mirip dengan orang yang menjadi musuh Erlangga dalam persaingan bisnis maupun dalam merebutkan hati Kayra.
" Tenang? Bagaimana saya bisa tenang sementara si breng sek itu menculik istri saya, Pak Wira?!" Bukannya tenang, Erlangga justru semakin geram, karena dia takut Rivaldi akan menyakiti Kayra, apalagi jika tahu saat ini Kayra sedang mengandung benihnya.
Erlangga lalu mengambil ponsel dan menghubungi Bondan untuk memberi tugas mengecek rekaman cctv yang ada di sekitar jalan di mana Kayra tadi turun.
" Pak Bondan, tolong selidiki di sekitar jalan istri saya diturunkan, apa ada kamera cctv yang rekam? Tolong segera kabari saya secepatnya!" Perintah langsung dikeluarkan Erlangga saat panggilan teleponnya tersambung.
Erlangga mengusap kasar wajahnya, hati dan pikirannya dibuat tidak tenang karena menghilangnya Kayra.
" Kenapa kamu sampai kabur dari kantor, Kayra?" gumam Erlangga, dia sungguh menyesali istrinya yang nekat meninggalkan kantor tanpa sepengetahuannya dan hal itu sukses membuat dirinya kalang kabut.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Bondan sudah menghubunginya.
" Halo, bagaimana, Pak Bondan?" tanya Erlangga dengan sangat penasaran menjawab panggilan masuk dari Bondan.
" Selamat sore, Tuan. Kami sudah berusaha mencari informasi, sayangnya di daerah sekitar Nyonya Kayra turun, tidak ada kamera cctv yang terpasang di sana, Tuan." Sayangnya bukan berita baik yang disampaikan oleh Bondan kepada Erlangga, membuat bos Mahadika Gautama itu murka.
" Si al!" umpat Erlangga. " Apa tidak ada lagi yang bisa Anda lakukan untuk mencari infomasi soal mobil yang membawa istri saya, Pak Bondan?! Istri saya dalam bahaya jika Rivaldi berhasil membawa Kayra pergi!" Kepanikan semakin kuat melanda Erlangga mendapatkan informasi dari Bondan yang melaporkan jika tidak ada rumah warga yang dipasang cctv di depan jalan yang dilalui oleh mobil yang ditumpangi Kayra tadi.
" Baik, saya akan kerahkan anak buah saya lagi untuk mencari cctv di dekat lokasi itu yang berhasil merekam mobil yang membawa Nyonya, Tuan." Menyadari bosnya sedang dalam kondisi diselimuti amarah, Bondan segera menyanggupi mencari info tentang mobil yang masih misteri yang 'menghilangkan' istri bosnya itu.
__ADS_1
" Beri kabar saya secepatnya, Pak Bondan!" perintah Erlangga kembali.
" Baik, Tuan."
Setelah Bondan menjawab perintahnya, Erlangga langsung menutup percakapannya dengan Bondan.
" Kalau sampai Kayra dan bayinya terluka, saya akan membuat perhitungan denganmu, Rivaldi!" desis Erlangga, sorot matanya tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya, giginya pun mengerat hingga menampakkan rahang pria tampan itu mengeras, sedangkan kedua tangannya mengepal penuh siap melayangkan pukulan.
Sebenarnya bukan hanya Erlangga sendiri yang merasakan kecemasan, Wira pun merasakan khawatir karena posisi Kayra saat ini masih belum diketahui. Wira memang sudah menganggap Kayra seperti adiknya sendiri hingga dia begitu mengkhawatirkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada istri bosnya itu.
" Apa kita harus melibatkan pihak berwajib dalam hal ini, Pak Wira? Saya benar-benar khawatir Si breng sek itu akan menyakiti Kayra dan bayi di perut Kayra. Dia sangat menginginkan saya hancur, bukan tidak mungkin dia akan melakukan hal itu, kan?" Erlangga meminta pendapat Wira tentang langkah selanjutnya, apa mereka perlu melibatkan pihak yang berwajib atau tidak.
" Sebaiknya jangan dulu, Pak. Ini baru dugaan kita saja jika yang membawa Kayra adalah Rivaldi, tapi kita tidak mempunyai bukti yang kuat jika yang membawa Kayra adalah dia." Wira memberi pendapatnya agar Erlangga tidak bersikap gegabah dengan memberikan laporan, padahal belum tentu Rivaldi lah pria yang membawa Kayra dengan mobilnya.
" Tapi bagaimana jika itu benar Rivaldi? Saya tidak ingin kita terlalu lambat bertindak, itu akan membuat Kayra dalam bahaya." Erlangga tidak dapat membayangkan jika Kayra berada di tangan Rivaldi, apalagi jika Rivaldi sampai menyentuh istrinya itu. Mengingat hal itu kebencian Erlangga kepada musuh dalam selimutnya itu semakin lama semakin berkobar.
Beberapa menit sebelumnya di lokasi Kayra menghilang.
Saat Kayra masih berbincang dengan driver Ojol, tiba-tiba sebuah mobil mewah melintas di depannya. Kayra melihat jika mobil itu menepi dan berhenti di depan mobil yang tadi dia tumpangi. Ia lalu memperhatikan seorang pria turun dari mobil itu lalu berjalan menghampirinya.
" Kayra, sedang apa kamu di sini?" tanya pria itu menatap heran ke arah Kayra lalu pandangannya kini mengarah kepada driver Ojol. " Siapa dia, Kayra?" tanyanya kemudian.
" Pak Henry?" Kayra terkesiap saat melihat sahabat dari suaminya itu yang menghampirinya.
" Kamu sedang apa di sini? Mana Erlangga?" tanya Henry karena tidak melihat keberadaan Erlangga di samping Kayra.
" Sedang memimpin rapat di kantor, Pak." sahut Kayra.
" Hmmm, saya mau pulang ke rumah, Pak. Ini driver Ojol yang saya order untuk mengantar ke rumah tapi bannya kempes." Kayra menjelaskan kepada Henry apa yang terjadi.
" Kamu mau pulang? Ke rumah yang dipakai akad nikah kemarin?" Sebagai salah satu saksi dari pihak Erlangga yang hadir di pernikahan Erlangga dan Kayra, tentu Henry tahu di mana letak rumah yang ditempati oleh Kayra saat ini.
" Iya, Pak."
" Kalau begitu biar saya antar kamu pulang, Saya masih ingat alamat rumah yang kamu tempati itu." Merasa Kayra adalah istri sahabatnya, Henry menawarkan diri mengantar Kayra pulang ke rumah Kayra.
" Tidak usah, Pak. Saya tidak enak merepotkan Pak Henry." Tidak ingin merepotkan sahabat dari sang suami, Kayra menolak tawaran Henry tadi.
" Tidak apa-apa, ayo ikut saya!" Henry memaksa Kayra untuk ikut dengannya.
Setelah berpikir beberapa saat, Kayra akhirnya menerima tawaran dari Henry yang berniat mengantarkannya pulang, karena dia merasa Henry orang baik dan juga sahabat yang dipercaya oleh Erlangga.
" Maaf ya, Pak. Saya jadi merepotkan Bapak." Saat sudah berada di dalam mobil Henry, Kayra mengucapkan permohonan maafnya karena dia merasa telah merepotkan Henry.
" Tidak masalah, lagipula kamu ini istri Erlangga, mana mungkin saya tega melihat kamu terdampar di tengah jalan seperti tadi." Henry terkekeh berseloroh.
" Tapi kenapa Erlangga membiarkan kamu pulang sendirian? Di mana supir kamu itu?" Henry menanyakan keberadaan Koko, karena Kayra pulang menggunakan ojek online.
" Hmmm, saya ... saya memang tidak memberitahu Mas Erlangga soal kepulangan saya ini, Pak." ungkap Kayra mengatakan alasan kenapa pulang menggunakan ojek online.
Henry menaikkan kedua alisnya saat mendengar Kayra menyebut nama Erlangga dengan panggilan 'Mas'.
" Jadi Erlangga tidak tahu kamu pulang? Kamu kabur dari kantor? Kenapa? Yang aku dengar Dari Erlangga kalian baru pulang dari bulan madu dan kamu sedang hamil," tanyanya merasa heran kenapa Kayra sampai kabur dari kantor Erlangga.
__ADS_1
Kayra menundukkan kepalanya, ia bingung ingin bercerita hal yang sebenarnya atau tidak? Namun, mengingat Henry adalah salah satu orang yang ikut membantu pernikahan dirinya dan Erlangga bisa terjadi dan ikut merahasiakan pernikahan mereka, sepertinya tidak ada salahnya jika dia menceritakan sedikit persoalan yang membuat dirinya meninggalkan kantor Mahadika.
" Hmmm, Ibu Helen tadi datang ke kantor, dan beliau mengetahui hubungan saya dengan Mas Erlangga. Ibu Helen marah, dan Mas Erlangga memutuskan mengumumkan status saya kepada karyawan di kantor. Saya malu, Pak. Karena itu saya memilih pulang ke rumah daripada orang-orang kantor mencemooh saya, karena itu saya pulang tanpa seijin Mas Erlangga, sebab kalau Mas Erlangga tahu saya pasti dilarang meninggalkan kantor." Kepada Henry, Kayra menceritakan kejadian yang sebenarnya.
" Jadi begitu ceritanya ..." Henry menganggukkan kepada tanda mengerti, namun tidak lama dia memutar laju kendaraannya tidak mengambil jalan yang menuju rumah kediaman Kayra.
" Kenapa putar balik, Pak?" tanya Kayra terheran karena Henry membelokkan kendaraannya tepat di tikungan.
" Saya ingin tahu akan sepanik apa Erlangga, jika tahu kamu menghilang tanpa kabar?" Henry menyeringai seraya memainkan alisnya. Pria itu sudah dapat membayangkan bagaimana Erlangga akan mengamuk jika Kayra 'diculik' olehnya.
Kayra menoleh ke arah Henry dengan kening berkerut mendengar rencana yang ingin dijalankan oleh Henry.
" Kamu juga pasti penasaran dengan sikap suami kamu itu, kan? Sekali-kali kerjai suami aroganmu itu, jangan beri tahu posisimu saat ini, saya bisa bayangkan suamimu itu pasti akan kalang kabut, hahaha ..." Henry terbahak merasa senang karena berhasil mengerjai sahabatnya. Dia bisa membayangkan kepanikan Erlangga saat menyandari istrinya itu tidak terdeteksi keberadaannya.
" Nanti di rumah saya, kamu bisa mengobrol dengan Emma, bertanya-tanya soal kehamilan, kamu bisa bercerita banyak pada Emma." Henry memberikan saran kepada Kayra agar berbincang dengan Emma masalah seputar kehamilan dan lainnya.
Kayra tahu Emma, istri dari Henry sangat baik kepadanya, setidaknya saat pertama kali bertemu dengannya, Kayra sama sekali tidak mendapatkan perlakuan yang buruk dari Emma, apalagi saat pernikahan terjadi, Emma sempat menyemangatinya agar jangan bersedih.
Lebih dari tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan Henry untuk sampai di rumahnya. Dan saat ini, Kayra sudah ada di ruangan tamu rumah Henry berbincang dengan Emma juga Henry.
" Jadi itu yang menyebabkan Tante Helen mengetahui pernikahan kalian? Dasar Erlangga, teledor sekali!" Setelah Kayra menceritakan bagaimana Helen bisa mengetahui soal hubungannya dengan Erlangga kepada Henry dan istrinya, Emma langsung berkomentar.
" Iya, Bu."
" Dalam urusan wanita, suamimu itu selalu ceroboh." Kali ini Henry ikut berkomentar seraya menggelengkan kepalanya.
" Dia itu kalau sedang jatuh cinta, dunia serasa milik dia sendiri, bahkan sampai tidak memperdulikan bagaimana nasib dan perasaan wanitanya." Emma menambahkan. " Kamu harus banyak-banyak sabar menghadapi Erlangga, Kayra," lanjutnya.
Kayra tidak sepenuhnya setuju dengan ucapan Emma, walaupun Erlangga memang pemaksa dan terkesan tidak memperdulikan apa yang akan dihadapi olehnya karena ulah Erlangga, namun dia merasa jika suaminya itu sangat memperhatikan dirinya dengan caranya sendiri
" Oh ya, bagaimana dengan Caroline? Sejak dia bertemu dengan kamu dan Erlangga, apa dia pernah berbuat sesuatu yang mengancam posisi kamu sebagai istri Erlangga juga?" Emma lantas menyinggung soal Caroline yang diceritakan oleh Kayra juga sudah mengetahui soal pernikahan Erlangga dengan Kayra juga.
" Tidak, Bu. Saya belum pernah bertemu dengan Ibu Caroline lagi. Mas Erlangga bilang, Ibu Caroline sudah tidak punya pilihan lain selain menerima perceraian mereka. Sejauh ini pun tidak ada gangguan dari Ibu Caroline yang saya rasakan." Sejak pertemuan di Turin beberapa waktu lalu, Kayra memang tidak pernah bertemu dengan Caroline kembali, dan dia pun tidak merasakan ancaman dari Caroline setelah istri pertama Erlangga itu tahu Erlangga sudah menikahnya.
" Sejujurnya yang aku tahu, Caroline itu wanita yang baik, dia hanya terlalu berambisi dengan karirnya, hingga melupakan tugasnya sebagai seorang istri yang mempunyai kewajiban melayani suaminya." Lama mengenal Caroline, Emma menyebutkan bagaimana sosok Caroline di matanya.
" Hei, kalau Caroline tidak mengejar karirnya dan menuruti Erlangga, belum tentu juga Erlangga akan menikahi Kayra, kan?" celetuk Henry menimpali pendapat sang istri.
" Hmmm, untuk itu aku tidak yakin juga, sih? Apa Erlangga akan menikah dengan Kayra atau tidak? Tapi mempunyai sekretaris secantik Kayra, siapa pria yang tidak tergoda? Kau bisa menilai sendirilah ..." sahut Emma.
" Iya, hanya pria bodoh yang tidak tertarik padamu, Kayra. Tapi tidak termasuk saya sebab saya bisa digantung oleh dia jika saya menganggumi wanita lain." Henry terkekeh menyindir seraya melirik ke arah Emma.
" Tentu saja akan aku gantung, memangnya kurang perhatian apa aku ke kamu, Henry?! Emma memutar bola matanya menanggapi candaan yang dilemparkan oleh Henry, membuat Henry kembali tergelak, sedangkan Kayra, dia hanya menarik senyuman samar menanggapi interaksi sepasang suami istri di hadapannya yang terlihat harmonis walau dengan saling sindir seperti tadi, dia berharap rumah tangganya dengan Erlangga pun bisa seharmonis itu.
*
*
*
Bersambung ....
Happy reading❤️
__ADS_1