
Kayra langsung menepis tangan Erlangga di kepalanya dan menjauh dari pria itu saat terdengar suara Ibu Sari yang menegur dirinya dan juga Erlangga yang saat itu berdiri dengan jarak yang sangat berdekatan satu sama lain.
" I-ibu?" Kayra seketika merasa gugup karena ketahuan ibunya sedang berdekatan dengan Erlangga.
" Selamat siang, Bu." Berbeda dengan Kayra yang menegang, Erlangga lebih santai menyapa ibu dari sekretarisnya itu.
" Siang, ada apa Tuan Erlangga berkunjung kemari?" tanya Ibu Sari kemudian. Ibu Sari bisa merasakan jika sikap Erlangga begitu aneh terhadap putrinya.
" Saya hanya ingin membantu Kayra karena akan pindah ke rumah yang baru, Bu." jawab Erlangga, yang tak menyadari jika sikapnya selama ini terhadap Kayra membuat banyak orang curiga terhadapnya.
" Membantu Kayra pindah?" Ibu Sari menoleh ke arah Kayra, dia tidak mengerti kenapa putrinya itu sampai meminta bantuan bosnya.
Kayra sendiri langsung terkesiap mendengar jawaban Erlangga yang mengatakan datang ke rumahnya karena ingin membantu dirinya, padahal dia tidak merasa membutuhkan pertolongan dari Erlangga.
" Benar, Ibu. Saya melihat tempat ini tidak cocok untuk Kayra dan Ibu tempati, karena itu saya mencarikan tempat baru yang lebih nyaman untuk kalian."
Pernyataan dari Erlangga sontak membuat Kayra membulatkan matanya. Tidak terpikirkan olehnya jika Erlangga akan mengatakan soal kepindahan ke rumah barunya karena permintaan bosnya itu. Seketika Kayra menolehkan pandangan ke Ibunya yang langsung menatap dengan tajam kepadanya. Kayra dapat melihat ada kekecewaan yang tersirat dari sorot mata Ibunya karena ketidakjujuran dirinya soal tempat tinggal baru yang akan mereka tempati.
" Jadi Tuan Erlangga yang menyuruh Kayra untuk pindah ke tempat baru?" Untuk memastikan jika anaknya memang benar-benar berbohong, Ibu Sari menanyakan kepastian itu kepada Erlangga.
" Iya, Bu. Saya yang menyuruh Kayra untuk pindah tempat tinggal." Erlangga tidak tahu jika Kayra sudah berbohong kepada Ibunya soal rumah yang dia sediakan untuk Kayra sehingga dia mengatakan yang sejujurnya soal rumah itu.
Ibu Sari mendengus kasar, dia tidak menyangka jika Kayra sudah berani membohongi dirinya.
" Kenapa Tuan repot-repot membantu kami?" tanya Ibu Sari merasa tidak enak hati karena perlakuan Erlangga kepada putrinya yang terlihat begitu spesial.
" Saya tidak merasa direpotkan, Bu. Saya senang melakukannya," sahut Erlangga.
" Maaf, Tuan. Saya ingin bicara dengan Kayra sebentar." Ibu Sari langsung menarik lengan putrinya dan membawa masuk ke dalam kamar meninggalkan Erlangga tanpa menunggu jawaban dari Erlangga.
" Kayra, kenapa kamu berbohong pada Ibu?" Ibu Sari langsung meminta penjelasan Kayra tentang kebohongan Kayra kepadanya setelah sampai di dalam kamarnya.
" Kamu tidak jujur ke Ibu kalau Tuan Erlangga lah yang menyuruh kamu pindah. Kamu mengatakan pada Ibu kalau rumah itu adalah rumah teman kamu yang pindah ke luar kota. Kenapa kamu berbohong kepada Ibu, Kayra?" selidik Ibu Sari menuntut penjelasan dari Kayra.
Kayra menundukkan kepalanya karena dia merasa bersalah telah mengecewakan Ibunya dengan berbohong. Dia tidak berani menatap Ibunya dan tidak tahu harus menjelaskan dengan alasan apa kepada Ibunya itu.
" Kayra bicara sama Ibu, sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan bosmu itu selain hubungan pekerjaan?!" tanya Ibu Sari curiga. Dia mulai merasakan ada yang aneh dengan kedekatan putrinya dan bosnya.
Mendengar pertanyaan bernada curiga dari sang Ibu, Kayra langsung menggelengkan kepalanya.
" Kenapa Ibu bertanya seperti itu? Kayra tidak mempunyai hubungan khusus selain hubungan pekerjaan, Bu!" Kayra menepis anggapan Ibunya yang menuduhnya memiliki hubungan spesial dengan Erlangga.
" Tapi sikap Tuan Erlangga terhadap kamu itu beda, Kayra! Membiayai pengobatan Ibu, menyuruh orang untuk merawat Ibu, membawa kamu pergi malam-malam sampai menginap di sini, sekarang dia membelai kepala kamu. Kayra, kamu harus ingat, dia itu atasan kamu dan dia sudah menikah. Apa jadinya kalau orang tahu semua perlakuan Tuan Erlangga terhadap kamu? Masih untung waktu Tuan Erlangga menginap di sini tidak ada warga sini yang tahu, kalau sampai ada yang melihat, mau ditaruh di mana muka kita, Kayra?" Ibu Sari sangat mencemaskan jika Kayra terlibat hubungan terlarang dengan bosnya.
Kayra menarik nafasnya yang terasa sesak, dia tidak bisa membayangkan seandainya Ibunya itu tahu peristiwa yang terjadi di kantornya kemarin saat Erlangga sakit.
" Kayra, kamu ini wanita, kamu harus menjaga diri. Ibu tidak ingin orang beranggapan buruk terhadap kamu, Nak." Ibu Sari tentu tidak ingin anaknya itu mendapat masalah di kemudian hari karena kedekatan Kayra dan Erlangga.
" Tapi memang tidak ada apa-apa di antara kami, Bu." Kayra tetap menyangkal dugaan Ibunya.
__ADS_1
Ibu Sari menatap Kayra cukup lama. Dia seolah sedang mencari kejujuran dari putrinya itu. Namun Kayra langsung menunduk, dia tidak berani menatap Ibunya lagi. Bukan karena sedang berbohong tentang hubungan dia dengan bosnya, namun karena dia merasa bersalah telah berbohong soal pindah rumah.
" Ibu harus bicara dengan Tuan Erlangga!" Melihat Kayra yang tak berani menatapnya, Ibu Sari merasa jika ada yang disembunyikan oleh Kayra hingga dia memutuskan untuk bicara dengan Erlangga.
" I-ibu mau bicara apa dengan Pak Erlangga?" Kayra menahan Ibunya yang ingin keluar dan berbicara dengan Erlangga.
" Ibu harus memastikan jika Tuan Erlangga itu tidak mempunyai niat apa-apa terhadap kamu, Kayra!" Ibu Sari menegaskan tujuannya ingin bicara dengan Erlangga.
" Jangan, Bu. Kayra mohon Ibu jangan membuat malu Kayra di hadapan Pak Erlangga." Kayra menghalangi langkahnya Ibunya. Kayra sangat takut perkataan Ibunya akan menyinggung Erlangga sehingga dia meminta Ibunya itu untuk tidak menemui Erlangga.
" Ibu tidak mungkin membuat kamu malu, Kayra! Ibu justru ingin menolong kamu agar kamu tidak terjebak ke dalam hubungan yang salah!" Ibu Sari menepis anggapan Kayra yang mengatakan jika dirinya ingin membuat malu putrinya itu.
" Kamu tetap di sini, jangan ikut keluar! Biar Ibu saja yang bicara dengan Tuan Erlangga." Ibu Sari memberi perintah kepada Kayra agar anaknya itu tidak mengikutinya dan menunggu di kamar.
" Tuan, apa saya bisa bicara dengan Tuan sebentar?" tanya Ibu Sari setelah keluar dari kamar.
" Bicara apa, Bu? Kayra mana?" Erlangga menanyakan Kayra karena Kayra tidak terlihat keluar dari kamar Ibu Sari.
" Silahkan masuk dulu, Tuan." Ibu Sari mempersilahkan Erlangga yang masih berdiri di teras rumahnya. " Maaf, Sofanya sudah dibawa, sebentar saya ambilkan kursi di kamar." Ibu Sari ingin mengambil kursi di kamarnya karena dia beranggapan Erlangga tidak akan mau duduk di atas karpet di lantai.
" Tidak usah, Bu. Biar saya duduk di sini saja." Walaupun agak ragu namun Erlangga akhirnya menundukkan tubuhnya di atas karpet yang terhampar di ruangan tamu.
" Baik, Tuan. Maaf jika tidak nyaman." Ibu Sari meminta maaf karena tidak dapat menjamu Erlangga dengan baik. Dia pun duduk di hadapan pria yang merupakan bos dari anaknya itu.
" Apa yang ingin Ibu sampaikan kepada saya?" tanya Erlangga kemudian.
" Tidak apa-apa, katakan saja, Bu. Ada apa?" Erlangga merasa penasaran dengan hal yang ingin dibicarakan oleh Ibu Sari.
" Saya berterima kasih atas kebaikan Tuan Erlangga selama ini dalam membantu Kayra. Saya bersyukur Kayra mendapatkan atasan yang sangat baik hati seperti Tuan Erlangga. Tapi, maaf, Tuan. Kebaikan yang Tuan berikan kepada Kayra saya rasa sangat berlebihan. Saya tidak ingin orang-orang berpandangan negatif terhadap anak saya hanya karena Tuan Erlangga terlalu memperhatikan Kayra." Ibu Sari mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya tentang hubungan Kayra dan Erlangga.
" Tuan ini atasan Kayra dan sudah berumah tangga. Saya takut orang akan berpikiran buruk tentang anak saya jika mereka tahu apa yang Tuan Erlangga lakukan selama ini terhadap Kayra, Saya tidak ingin orang menuduh Kayra sebagai perusak rumah tangga Tuan Erlangga," lanjutnya lagi.
Erlangga menatap wanita paruh baya di hadapannya. Dia berpikiran jika Kayra telah mengadukan peristiwa yang terjadi di kantornya kemarin hingga Ibu Sari berbicara seperti itu. Seketika itu juga dia teringat akan kata-kata Henry yang menyuruhnya memperistri Kayra.
Erlangga menarik nafas perlahan. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia begitu perduli terhadap Kayra, bahkan dia begitu takut jika ada pria lain yang mendekati Kayra. Apakah ini dampak dari kurang harmonis keadaan rumah tangganya dengan Caroline? Namun yang pasti setiap bersama Kayra, dia merasa lebih nyaman, apalagi sekretarisnya itu hampir selalu ada di dekatnya kecuali malam hari.
" Maafkan jika perkataan saya ini menyinggung Tuan Erlangga." Melihat Erlangga yang terdiam dan hanya menarik nafas, Ibu Sari menduga jika pria itu tersinggung dengan kata-katanya.
" Apa Ibu ingin saya menikahi Kayra?" Erlangga salah mengartikan kata-kata Ibu Sari.
Tentu saja Ibu Sari terkejut dengan pertanyaan Erlangga, dia tidak mengira Erlangga akan melempar pertanyaan itu kepadanya.
" Tidak, Tuan! Saya tidak mungkin mempunyai pikiran seperti itu!" Dengan cepat Ibu Sari menyangkal pertanyaan Erlangga. " Kami ini hanya orang biasa, tidak mungkin kalau saya menginginkan hal itu," lanjut Ibu Sari. "
Bahkan seandainya Tuan belum menikah pun, saya tidak bermimpi sejauh itu." batin Ibu Sari.
" Bagaimana jika saya ingin memperistri Kayra, Bu?"
Pertanyaan Erlangga kali ini sontak semakin membuat Ibu Sari tercengang. Sesungguhnya maksud dia mengajak bicara Erlangga dengan harapan Erlangga akan menampik dugaanya seperti yang disangkal oleh Kayra, namun Erlangga justru mengatakan kalimat yang membuatnya hampir terkena serangan jantung.
__ADS_1
Apa yang dikatakan Erlangga ibarat mimpi buruk baginya. Ketakutannya seakan menjadi kenyataan jika apa yang dikatakan Erlangga benar-benar terjadi.
" A-apa maksud Tuan?" tanya Ibu Sari masih tidak mempercayai pendengarannya.
" Saya sangat membutuhkan Kayra, Ibu." ucap Erlangga kemudian.
" Kayra akan bekerja sebaik mungkin, Tuan. Tapi Tuan tidak perlu memperistri Kayra. Lagipula Tuan Erlangga ini sudah mempunyai istri." Tentu saja Ibu Sari tidak menyetujui rencana Erlangga kepada putrinya.
" Saya tahu, Bu. Saya memang sudah beristri. Tapi saya benar-benar membutuhkan Kayra bukan hanya untuk urusan pekerjaan saja," ungkap Erlangga.
" Maksud, Tuan?"
" Sejujurnya rumah tangga saya dengan istrinya saya sudah tidak harmonis. Saya membutuhkan seorang istri yang bisa menemani dan mengurus saya sebagian seorang suami. Sedangkan istri saya saat ini, dia terlalu sibuk dengan karirnya dan mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri." Entah kenapa Erlangga tiba-tiba berkata jujur tentang kondisi rumah tangganya kepada Ibu Sari. Dan hal itu tentu membuat Ibu Sari terperanjat. Dia tidak menduga jika kehidupan rumah tangga Erlangga tidak seindah yang diduganya. Namun tentu saja hal itu tidak membuat Ibu Sari senang, karena dia merasa jika Kayra lah yang akan menjadi korban akibat permasalahan rumah tangga yang dialami Erlangga.
" Maafkan jika sikap saya selama ini terlihat tidak sewajarnya terhadap Kayra. Karena itu saya akan menikahi Kayra agar tidak ada kesalahan pahaman lagi, Bu." ujar Erlangga kemudian.
" Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menerima permintaan Tuan Erlangga. Saya tidak ingin anak saya menderita." Arti kata menderita yang dimaksud Ibu Sari tentu bukan bersifat materi, tapi batin. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana cemo'ohan orang-orang, terlebih karyawan di kantor Erlangga saat tahu jika Kayra menjadi istri dari Erlangga. Kayra pasti akan disebut perebut suami orang, dan itu adalah hal paling menyakitkan baginya.
" Saya tidak mungkin membuat Kayra menderita, Bu." Erlangga merasa yakin jika setelah menjadi istrinya, dia tidak akan mungkin mengecewakan Kayra apalagi membuat Kayra menderita.
" Tuan, Tuan tidak mengerti maksud saya. Penderitaan yang saya maksud adalah anggapan orang nanti terhadap status Kayra jika Tuan menikahi Kayra. Saya tidak ingin anak saya disebut wanita penggoda yang merebut suami orang, Tuan." Ibu Sari memperjelas maksud ucapannya agar Erlangga mengerti dan mengurungkan niatnya menikahi Kayra.
" Saya pastikan tidak ada yang akan berani melakukan hal itu terhadap Kayra, Bu!" tegas Erlangga meyakinkan.
" Lalu bagaimana dengan keluarga Tuan? Orang tua Tuan dan istri Tuan Erlangga? Apa mereka bisa menerima keputusan Tuan soal menikahi Kayra?"
Pertanyaan Ibu Sari sontak membuat Erlangga terdiam, dia sendiri tidak yakin apakah keputusannya menikahi Kayra akan disetujui oleh keluarga dan istrinya. Papa dan Mamanya pasti akan menentang keras, apalagi Caroline. Pasti Caroline tidak akan rela suaminya berbagi cinta dengan wanita lain.
" Tuan, sebaiknya Tuan pikirkan baik-baik tentang keinginan Tuan tersebut. Jika Tuan Erlangga bersikeras dengan keinginan Tuan, tolong pertimbangkan perasaan Kayra. Dia pasti akan merasa bersalah karena akan menjadi orang ketiga di antara rumah tangga Tuan dan istri Tuan." Ibu Sari mencoba menasehati Erlangga agar pria itu membatalkan rencananya tadi. Sebagai orang tua, Ibu Sari sudah pasti akan berusaha melindungi anaknya dari segala macam bahaya yang akan mengancam putrinya itu.
" Sebaiknya Tuan Erlangga pulang saja dulu, mungkin Tuan perlu berpikir dengan tenang. Saat ini Tuan sedang emosi dan kecewa dengan kondisi rumah tangga Tuan, tapi percayalah ... memutuskan menikahi wanita lain bukanlah jalan keluar yang tepat untuk mengatasi kemelut dalam rumah tangga Tuan Erlangga." Ibu Sari terus menasehati Erlangga. Dia yakin keinginan Erlangga itu adalah keinginan sesaat karena rasa kecewa Erlangga terhadap sikap istrinya yang terlalu sibuk mengejar karirnya dan mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri.
Sementara dari dalam kamar Ibu Sari, Kayra yang penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Ibunya kepada Erlangga sengaja mencuri dengar dari arah pintu dengan jantung berdetak kencang. Dia takut Ibunya akan berkata-kata yang akan menyinggung Erlangga. Dan dia juga takut Erlangga akan marah kepada Ibu Sari. Namun saat dia mendengar jika Erlangga berkata ingin memperistrinya seketika jantungnya seakan berhenti berdetak, tubuhnya pun seakan melemas. Ini bukan yang dia inginkan dan dia bisa membayangkan akan sekacau apa hidupnya jika dia menjadi istri dari bosnya itu.
Bersambung ...
Happy Reading
__ADS_1