
Kayra memperhatikan Erlangga yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang dililit di pinggangnya, sementara handuk kecil digunakan Erlangga untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Kayra lalu menyerahkan pakaian yang tadi dia siapkan di tepi tempat tidur kepada Erlangga, dan menerima handuk kecil yang telah dipakai Erlangga setelah merasa yakin tidak ada lagi air yang menetes dari rambut pria itu.
Ddrrtt ddrrtt
Suara telepon Erlangga yang berbunyi membuat Kayra langsung menuju arah nakas untuk mengambil ponsel suaminya tersebut.
* Siapa yang telepon?" tanya Erlangga begitu Kayra mengambil ponselnya.
" Pak Nico." sahut Kayra menyodorkan ponsel kepada suaminya itu.
" Halo, Pak Nico?" Erlangga langsung meraih dan mengangkat panggilan telepon dari kuasa hukumnya tersebut.
" Selamat pagi, Tuan Erlangga. Maaf jika saya mengganggu pagi-pagi begini." sahut Pak Nico dari seberang.
" Tidak apa-apa, ada apa Pak Nico?" Erlangga menanyakan kenapa kuasa hukumnya itu meneleponnya pagi hari ini.
* Saya hanya ingin menyampaikan jika sidang putusan perceraian Anda dan Nyonya Caroline akan digelar lusa, Tuan." Pak Nico memberikan informasi kepada Erlangga seputar proses perceraian Erlangga dengan Caroline yang sudah hampir sampai tahap akhir, dan menunggu hasil putusan hakim yang akan dilaksanakan esok lusa.
" Baiklah, Pak Nico. Apa sudah Anda pastikan hasil keputusannya nanti sesuai dengan harapan saya?" Erlangga tidak sabar ingin segera mengakhiri pernikahannya dengan Caroline.
" Saya sudah mendapat kabar dengan Pak Robin, Pak Robin mengatakan jika Nyonya Caroline tidak akan hadir dalam sidang putusan hakim tersebut, hanya mewakilkan kepada Pak Robin saja, Tuan." Pak Nico menjelaskan.
" Apa itu akan mempengaruhi keputusan di sidang nanti, Pak Nico?"
" Tidak, Tuan. Karena Nyonya Caroline sudah mewakilkan Pak Robin untuk menghadiri sidang nanti, artinya jika hakim sudah meluluskan permohonan gugatan cerai Anda, keputusan bercerai itu sudah sah walaupun Nyonya Caroline tidak hadir dalam sidang tersebut."
" Baiklah, kalau begitu. saya akan datang ke sidang putusan cerai nanti, Pak Nico."
Hati Kayra langsung mencelos saat mendengar perkataan Erlangga yang akan datang pada sidang putusan cerai, Kayra sedari tadi mencuri dengar apa yang diucapkan suaminya saat berbicara dengan Pak Nico, karena dia penasaran dan dia tahu jika perihal yang akan disampaikan oleh Nico adalah soal sidang perceraian Erlangga dan Caroline.
Sejujurnya di dalam hati Kayra dia sangat merasa bersalah dengan perceraian Erlangga dan Caroline. Namun, jika mengingat kata-kata Erlangga soal alasan suaminya itu menceraikan Caroline, Kayra berusaha membesarkan hatinya untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri. Setiap orang memutuskan untuk berumah tangga adalah untuk menggapai kebahagiaan, tapi jika kebahagiaan itu tak juga didapatkan dan justru pertengkaran serta ego yang dikedepankan, untuk apa lagi dipertahankan?
Kayra terkesiap dari ketertegunannya saat Erlangga menyerahkan kembali ponselnya kepada Kayra. Wanita itu pun segera menerima dan meletakkan kembali ponsel Erlangga di atas nakas.
" Kapan sidang putusan cerai dijadwalkan, Mas?" Akhirnya Kayra bertanya soal pelaksanaan sidang perceraian antara suaminya dengan istri pertama suaminya itu seraya mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.
" Menurut Pak Nico, lusa pelaksanaan sidangnya," sahut Erlangga.
" Apa Ibu Caroline akan hadir di sidang itu, Mas?" tanya Kayra kemudian.
" Pengacara Caroline menginformasikan kepada Pak Nico jika Caroline tidak akan datang di sidang itu." Erlangga lalu memakai kaos dalam yang sudah disiapkan Kayra tadi.
Kayra langsung memalingkan wajahnya saat Erlangga melepas handuk yang melilit di pinggangnya karena ingin memakai CD nya.
Erlangga mengulum senyuman menanggapi sikap Kayra yang terlihat malu saat melihat dia melepas handuk yang menutupi bagian di bawah perutnya. Dan bukannya segera memakai CD, Erlangga justru melangkah mendekati Kayra dengan tubuh hanya berbalut kaos singlet saja.
" Sayang, dia masih tertidur, kenapa kamu takut sekali melihat ini," kelakar Erlangga berhenti tepat di depan Kayra duduk, hingga bagian yang dimaksud oleh Erlangga berada di depan wajah Kayra.
" Mas, iiihh ...!!" Langsung menutupi wajah dengan kedua tangannya saat melihat kelakuan sang suami.
Erlangga tertawa bahagia karena berhasil mengerjai Kayra. Dia mengurai tangan Kayra yang menutupi wajah cantik wanita itu.
" Kenapa harus malu dan ditutupi? Bukankah ini yang selalu kamu inginkan jika ingin mendapatkan kenikmatan dariku?" sindir Erlangga masih bersemangat menggoda Kayra.
" Dasar me sum!!" gumam Kayra mengumpat.
" Apa kamu bilang tadi?!" Erlangga langsung menjatuhkan tubuh Kayra di atas tempat tidur, dia pun segera menempatkan tubuhnya di atas tubuh Kayra, mengurung tubuh sang istri dengan badan kekarnya itu tanpa menyentuh bagian perut Kayra. " Berani mengumpat suami sendiri?" Bibir Erlangga mengakhiri ucapannya dengan memberikan ciuman di beberapa bagian wajah Kayra.
" Mas, Mas harus berangkat ke kantor." Kayra berusaha menghentikan aksi suaminya yang terus saja mencumbunya.
" Tidak masalah, aku pemimpin di kantorku, siapa yang berani menegurku jika aku tidak ke kantor?" Erlangga kembali menghujani kecupan di pipi Kayra, bahkan tangan pria itu sedang berusaha melucuti kancing pakaian Kayra.
" Mas, jangan sekarang ...!" Kayra menghentikan tangan Erlangga yang sedang membuka satu persatu kancing bajunya.
" Kenapa? Kamu tidak rindu sentuhanku lagi?" tanya Erlangga, kerena sejak percintaan mereka saat Kayra menginginkannya, mereka belum pernah melakukannya kembali.
" Nanti malam saja, Mas. Jangan pagi hari ..." Kayra menawar waktu untuk mereka bercinta.
" Okelah, nanti malam kita lanjutkan." Erlangga langsung bangkit lalu memakai CD nya.
" Mas tidak marah, kan?" tanya Kayra takut Erlangga akan tersinggung akan penolakannya.
__ADS_1
" Tidak, aku akan melakukan saat kamu memintanya saja," sahut pria itu melanjutkan memakai kemeja.
" Kalau aku tidak meminta bagaimana, Mas?"
" Yakin kamu tidak akan meminta?" Seraya mengulum senyuman Erlangga melirik ke arah Kayra.
Kayra bangkit lalu berjalan ke arah Erlangga, mengambil alih apa yang sedang dilakukan Erlangga, mengancingkan kemeja suaminya itu.
" Aku malu harus meminta lebih dulu, Mas." Kayra tersipu malu di hadapan suaminya sendiri.
" Kenapa harus malu?" rambut Kayra yang terjuntai menutupi sebagian pipi wanita itu disampirkan Erlangga ke belakang telinga Kayra. " Kita ini pasangan suami istri, kamu pun sudah menjadi istri sah aku, tidak perlu malu jika kamu memang menginginkannya," lanjut Erlangga.
" Apa karena aku sedang hamil, Mas tidak suka melakukan hubungan in tim?" Walaupun Kayra tahu alasan Erlangga jarang menyentuh bagian dalam tubuhnya, karena pria itu merasa takut menyakiti janin di perut Kayra, namun Kayra takut, kehamilannya membuat Erlangga kehilangan selera menyentuhnya.
" Kenapa berpikiran seperti itu? Apa kamu tahu? Kepalaku rasanya mau meledak jika menyentuhmu namun tidak bisa tersalurkan ke tempatnya. Tapi aku lebih takut calon anakku kenapa-kenapa, karena itu aku selalu menahan diri untuk tidak terlalu sering melakukan hubungan in tim. Jangan berpikiran buruk kepada calon Papa anakmu ini, Sayang." Erlangga kembali mengecup pipi Kayra, membuat wajah wanita itu langsung merona.
" Sudah ah, Mas. Cepat berpakaian!" Kayra menyelesaikan tugasnya memasang kancing paling bawah kemeja Erlangga. " Apa aku harus ikut ke kantor lagi, Mas?" tanya Kayra kemudian.
" Tidak, sebaiknya kamu di rumah saja." Kini Erlangga memakai celana panjangnya.
" Aku harus melakukan apa di rumah, Mas?" Kayra tidak tahu, apa yang harus dia lakukan seharian di rumah saja.
" Terserah apa saja yang ingin kamu lakukan, asal jangan melakukan hal yang berat-berat."
" Aku pasti akan bosan seharian di rumah saja, Mas." Kayra berjalan menjauh dari Erlangga dan duduk kembali di tepi tempat tidur. Dia sendiri sebenarnya bingung, dia ingin tetap beraktivitas di kantor, tapi dia pasti akan berhadapan dengan karyawan-karyawan kantor, meskipun mereka tidak berani berkomentar apa-apa soal status pernihananya dengan Erlangga. Namun, membayangkan harus menghabiskan waktu seharian di rumah, dan kemungkinan akan dia lakukan beberapa hari ke depan, Kayra merasakan akan mengalami kejenuhan.
" Memangnya kamu ingin ikut ke kantor? Sudah tidak malu lagi harus bertemu dengan karyawan kantor?" Erlangga meledek Kayra yang selalu beralasan malu.
" Aku pasti tidak akan Mas bolehkan jauh-jauh dari ruangan Mas, pasti tidak banyak karyawan yang harus aku temui selain Pak Wira dan Gita, kan?" Kayra berpikir sudah saatnya dia harus siap menghadapi publik, apalagi sebentar lagi Erlangga resmi berpisah dengan Caroline dan Erlangga pasti akan memperkenalkan dirinya kepada publik, " Atau, aku bekerja kembali sebagai sekretaris Mas saja? Aku hanya duduk mengatur jadwal Mas selebihnya nanti Mbak Gita yang melakukan pekerjaan, agar Mbak Gita bisa direkomendasikan mengantikan posisi yang aku tinggalkan nanti." Kayra membujuk Erlangga agar suaminya itu mengijinkannya bekerja kembali.
" Lagipula, kalau aku tetap dekat dengan Mas, aku merasa lebih aman ..." lanjutnya kemudian.
Erlangga tersenyum melihat istrinya itu mengatakan merasa aman jika dekat dengannya, karena sejujurnya dia sendiri tidak ingin jauh dari istrinya apalagi saat ini Kayra sedang mengandung darah dagingnya.
" Baiklah, tapi ...."
" Aku janji tidak akan bekerja berat, Mas. Lagipula, banyak wanita pekerja yang sedang hamil muda tetap beraktivitas dengan pekerjaan mereka dan mereka sehat-sehat saja, kok. Berarti aku juga pasti bisa seperti mereka, Mas." Kayra membandingkan dirinya dengan banyak pekerja wanita yang pernah mengalami kehamilan namun tetap beraktivitas normal.
" Iya, Mas. Aku tahu itu. Terima kasih ya, Mas." Kayra kembali bangkit dan berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengganti pakaiannya karena dia akan berangkat ke kantor bersama suaminya setelah mendapatkan ijin dari Erlangga.
***
Mobil yang dikendarai Agnes memasuki pekarangan kantor Mahadika Gautama. Karena dia sudah sering ke kantor Mahadika bersama Helen, membuatnya mudah masuk ke dalam gedung perkantoran Erlangga tersebut.
Agnes melihat beberapa karyawan keluar dari bangunan kantor menuju arah kantin yang beberapa di sisi sebelah kiri gedung perkantoran Mahadika Gautama, karena saat ini sudah memasuki waktunya makan siang. Agnes pun memilih ikut bergabung dengan beberapa karyawan Erlangga di kantin tersebut.
Suasana kantin cukup ramai dengan para karyawan yang ingin mengisi perut mereka siang itu. Agnes hanya memesan segelas kopi dan memilih meja yang banyak dikerumi oleh para karyawan yang sedang makan sambil berbincang santai.
" Apa saya boleh duduk di sini?" tanya Agnes kepada beberapa karyawan yang berkumpul di satu meja yang cukup panjang.
" Silahkan ..." sahut salah seorang karyawan menjawab perkataan Agnes.
" Mbak ini bukan karyawan Mahadika, ya?" tanya karyawan yang duduk di hadapan kursi yang baru saja di duduki Agnes, karena memperhatikan penampilan Agnes yang tidak memakai seragam Mahadika dan tidak memakai ID card kantor mereka bekerja.
" Saya kerabat dekat Tante Helen, Mamanya Erlangga." Dengan bangga Agnes memperkenalkan dirinya kepada karyawan Mahadika sebagai orang dekat pemilik kantor mereka belajar.
" Oh ..." Karyawan yang bertanya kepada Agnes tadi hanya menjawab singkat, sementara beberapa karyawan yang berkumpul di meja itu melirik ke arah Agnes saat Agnes mengaku sebagai kerabat dari keluarga bos mereka.
Agnes memperhatikan seputar ruangan kantin, banyak orang berbincang dan terlihat aman. Dia lalu melihat ke arah pintu masuk kantin, dia melihat seorang pria berdiri dan bertugas seperti seorang security mengawasi bagian dalam kantin. Aneh menurutnya, kantin yang berada dalam lingkungan perkantoran Mahadika dijaga oleh seorang security. Namun, dia tidak ingin mempermasalahkan soal penjaga itu, dia datang ke kantin tujuannya adalah menyebarkan gosip seputar Kayra yang menjadi istri simpanan Erlangga.
" Mbak-mbak ini kenal dengan Kayra, kan?" tanya Agnes kepada beberapa karyawan di dekatnya.
Pandangan mata karyawan di sana langsung mengarah kepada Agnes saat Agnes menyebutkan nama Kayra.
" Kayra sekretarisnya bos kalian itu. Apa kalian sudah tahu gosip soal Kayra?" tanya Agnes meneruskan aksinya menyebarkan berita menghebohkan yang dia duga belum didengar oleh karyawan Erlangga.
" Dia itu ternyata jadi wanita simpanan bos kalian, lho." lanjut Agnes merasa yakin karyawan Erlangga akan syok mendengar gosip yang dia sebarkan itu.
Sebagian besar karyawan yang duduk di depan Agnes saling berpandangan. Bukannya mereka tidak mendengar soal Kayra yang dekat dengan bos mereka. Namun, ancaman Erlangga membuat mereka lebih baik tutup mulut daripada beresiko di PHK dari kantor Mahadika. Dan karyawan-karyawan yang duduk di sekitar meja makan yang sama dengan Agnes memilih mengacuhkan gosip yang disebarkan Agnes.
" Kalian pasti tidak menyangka, kan? Wanita yang terlihat kalem, baik, ternyata wanita ular, tega merebut suami orang sampai menceraikan istri pertamanya demi menikahi wanita kampung yang bermimpi menjadi orang kaya. Menghalalkan segala cara untuk menggapai mimpinya itu!" Agnes menyebarkan fitnah terhadap Kayra dengan bersemangat.
__ADS_1
Jika saja tidak ada ancaman 'mematikan' dari Erlangga soal karir mereka di Mahadika Gautama, para karyawan itu ingin menimpali dan ikut bergabung dengan Agnes memoles gosip yang tidak bisa dipertanggungjwabakan kebenarannya itu. Namun, mereka lebih menyayangi pekerjaan mereka daripada menanggapi ucapan Agnes, apalagi saat ini ada orang yang sengaja diperintah oleh bos mereka untuk memantau aktivitas di kantin selain cctv yang sebelumnya sudah terpasang di sana. Hal tersebut menandakan jika Erlangga begitu melindungi Kayra dari semua orang yang ingin memfitnah Kayra.
Melihat sikap acuh karyawan yang sepertinya tidak tertarik dengan berita yang dia sampaikan membuat Agnes merasa heran.
" Kok, kalian terlihat biasa saja? Kalian tidak terkejut dengan berita soal hubungan bos kalian dengan sekretarisnya itu?" tanya Agnes dengan keheranan.
" Apa sebenarnya kalian sudah tahu soal gosip mereka?" tanya Agnes lagi penasaran.
Namun, tak ada satu pun karyawan yang menjawab pertanyaan Agnes. Merasa diacuhkan oleh para karyawan Mahadika yang duduk di meja yang sama dengannya, Agnes pun merasa kesal, dia lalu bangkit dan berkata dengan volume tinggi.
" Apa kalian tahu soal gosip kalau Kayra, sekretaris Erlangga itu simpanan bos kalian?" Kali ini Agnes seperti memberi pengumuman kepada semua yang berada di kantin tersebut.
Tentu saja ucapan Agnes mengundang semua mata mengarah pandangan kepada Agnes, tapi itu tidak berlangsung lama, karena mereka kembali asik dengan kegiatan mereka menyantap makan siang.
" Kalian tahu tidak? Sekretaris Erlangga itu pasti menggunakan cara licik agar Erlangga mau memperistri wanita kampung itu! Dia itu mimpi ingin hidup enak, mimpi ingin menguasai Erlangga, mimpi ingin menjadi istri bos, sampai rela menyerahkan tubuhnya pada pria yang sudah mempunyai istri! Dia itu tidak lebih baik dari seorang ja lang!" Agnes semakin berbicara kacau.
Melihat gelagat tidak baik yang ditunjukkan Agnes, pria yang bertugas mengawasi kantin segera menghampiri Agnes, bahkan pria itu langsung mencengkram lengan Agnes dengan kuat lalu menyeret Agnes ke luar dari dalam kantin.
" Hei, kamu ini apa-apaan?! Tidak sopan sama sekali!" geram Agnes, saat pria yang memang ditugaskan Erlangga untuk memantau kondisi di kantin agar tidak ada yang bergosip soal Kayra memaksa Agnes keluar.
" Saya lihat Anda membuat kegaduhan di kantin ini, sebaiknya Anda pergi dari sini!" tegas pria itu mengusir Agnes.
" Berani sekali kamu mengusir saya!" Agnes menepis tangan pria itu yang mencengkram lengannya. " Saya ini calon istri Erlangga, bos perusahaan ini, bos tempat kamu bekerja! Kamu ingin saya laporkan kamu ke Erlangga dan Erlangga akan memecat kamu, hahh?!" Agnes tersulut emosi karena pengusiran tersebut.
" Maaf, Nona. Saya ditugaskan oleh Tuan Erlangga untuk menindak tegas siapapun yang menyebarkan gosip soal Nyonya Kayra di kantor ini, termasuk Anda yang sudah menyebarkan hal tidak benar tentang Nyonya Kayra." Pria yang merupakan salah seorang anak buah Bondan dengan baik menjalankan tugas yang diembannya.
" Nyonya Kayra? Kamu bilang Nyonya Kayra?? Dia itu tidak pantas dengan sebutan itu! Dia itu wanita kampung, tidak pantas dengan sebutan Nyonya!!" Mendengar pria itu menyebut Kayra dengan sebutan Nyonya Kayra membuat Agnes semakin meradang.
" Sebaiknya Anda segera pergi dari sini sebelum saya panggilkan security untuk menyeret Anda ke luar dari kantor Tuan Erlangga ini!" Tak diragukan lagi, setiap anak buah Bondan adalah orang-orang pilihan yang selalu tegas dalam bertindak.
Sementara itu berdebatan antara Agnes dengan pria yang ditugaskan menjaga kantin beberapa hari ini membuat semua yang ada di kantin memperhatikan kedua orang itu namun tak berkomentar apa-apa. Bahkan, untuk mengomentari sikap Agnes yang mengaku sebagai calon istri Erlangga saja tidak berani mereka bahas di kantin itu.
" Silahkan, Anda pergi!" usir pria yang menjaga kantin kepada Agnes.
" Awas saja, kau! Akan kuadukan kau ke Tante Helen!" ancam Agnes dengan bersungut-sungut pergi dari kantin menuju mobilnya.
" Si alan!! Berani sekali dia mengusir aku! Kalau aku menjadi istri Erlangga, akan aku pecat dia!" Agnes masih mengumpat dengan perlakuan pria tadi yang dianggapnya kasar.
Ddrrtt ddrrtt
Agnes segera mengambil ponselnya yang berbunyi di dalam tas saat dia mendengar ponselnya itu berbunyi.
* Ada apa lagi?" Dengan nada ketus, Agnes mengangkat panggilan masuk yang berasal dari Reno.
" Hei, apa kamu marah?" tanya Reno heran karena mendengar nada suara Agnes yang menurutnya tidak bersahabat.
" Katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan?!" Masih dalam nada ketus Agnes bertanya.
" Aku hanya ingin menyampaikan nominal yang temanku minta" sahut Reno.
" Berapa?" tanya Agnes.
" Seratus juta." Reno menyebutkan nominal yang diminta Bobby.
" Apa kau gi la?!" Agnes terkejut mendengar nominal yang disebutkan oleh Reno.
" Aku hanya menyuruh orang itu menyingkirkan Kayra dari kehidupan Erlangga, bukan untuk menyingkirkan nyawa Kayra! Kenapa sampai semahal itu?!" Kemarahan Agnes yang belum padam kembali tersulut dengan jumlah rupiah yang diminta orang yang ingin dia suruh menyingkirkan Kayra dari Erlangga.
" Jika kamu merasa keberatan dengan nominal yang dia minta, kamu bisa mencari orang lain untuk melakukan apa yang kamu rencanakan itu, Agnes." jawab Reno, karena Reno sendiri tidak ingin berurusan dengan hal yang berbau kriminal.
Agnes mendengus kasar, tentu saja nominal yang diminta teman Reno dianggapnya tidaklah wajar. Namun, merasakan hari ini dia diperlakukan buruk oleh orang suruhan Erlangga, rasanya dia tidak sabar untuk segera menyingkirkan Kayra secepatnya, agar dia bisa segera mengambil alih posisi Kayra sebagai istri Erlangga.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading ❤️
__ADS_1