MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Tawaran Menghadiri Pesta Pernikahan


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, weekend ini Erlangga harus menemani Kayra bersenang-senang di mall, dimulai dengan menonton film di bioskop. Erlangga sendiri sudah lupa, kapan terakhir kali pergi menonton film di bioskop. Bahkan, saat berpacaran dengan Caroline pun, mereka tidak pernah pergi untuk menonton film di bioskop seperti yang dia lakukan saat ini bersama Kayra.


Saat ini Kayra dan Erlangga sedang menunggu pesanan makan siang, setelah mereka selesai menonton film di bioskop.


" Film tadi sedih banget ya, Mas? Kasihan sekali Alya, dia seakan dibuang oleh orang tuanya sendiri. Ayahnya tidak mau bertanggung jawab, sedangkan ibunya malah meninggalkannya saat masih bayi. Padahal, salah apa Alya? Kalau Alya bisa memilih, dia juga tidak ingin dilahirkan dari suatu hubungan di luar pernikahan, kan?" Kayra seakan terbawa perasaan dengan film yang ditontonnya tadi. Dia bahkan masih menyeka air matanya karena merasa terhanyut dengan kisah sedih film yang ditontonnya tadi.


" Kita beruntung dilahirkan dari orang tua yang menyayangi kita ya, Mas?" lanjutnya kemudian.


" Benar, Sayang. Tapi kamu jangan terus menangis, Kayra. Itu hanya sekedar cerita fiksi, bukan kenyataan. Kalau kamu terus menangis, orang akan mengira jika aku yang sudah membuat kamu menangis." Erlangga mengusap air mata yang akan menetes kembali di pipi istrinya itu.


" Maaf, Mas. Aku terbawa suasana. Aku tidak bisa membayangkan seandainya aku berada di posisi Alya." Kayra mende sah. Dia bersyukur bukan dia yang berada diposisi Alya, karena pasti akan pilu rasa hatinya jika mengalami hidup seperti Alya, tidak diinginkan keberadaannya di dunia ini oleh orang tuanya sendiri.


" Ya sudahlah jangan dipikirkan terus, aku tidak ingin kamu memikirkan apa yang tidak kamu alami. Ayo, sekarang kita makan." Erlangga tidak ingin Kayra terus mengingat kisah di film tadi, dan menyuruh istrinya itu segera menyantap makanan, karena kini sudah tersaji di depan meja mereka.


Selepas menyantap makan siang, Kayra mengajak Erlangga shopping membeli beberapa pakaian untuk Erlangga dan dress untuknya, karena jika perutnya mulai membuncit, Kayra akan kesulitan memakai rok bawahan atau celana panjang yang biasa dia pakai sehari-hari saat beraktivitas.


Namun, nyatanya rencana belanja hari ini justru Erlangga sendiri lah yang terlihat sibuk shopping, karena Erlangga memasukkan semua pakaian yang sempat disentuh oleh Kayra.


" Mas, kenapa baju ini dibeli?" Setiap kali Erlangga memasukkan pakaian yang tidak diminatinya, Kayra selalu bertanya.


" Bukankah kamu tadi memegang baju ini, Sayang? Berarti kamu tertarik untuk membeli baju ini, hanya saja kamu bingung mau pilih yang mana?! Aku tahu, pasti yang ada dipikiranmu itu terlalu sayang mengeluarkan uang untuk membeli banyak baju. Kayra, kamu ini istri bos, uangku tidak akan habis jika harus membelanjakanmu seperti ini. Lagipula menyenangkan hati istri itu akan membuka pintu rezeki untuk suami." Erlangga akan memberikan jawaban seperti itu setiap kali ditanya, hingga Kayra hanya pasrah saja menerima apa yang dilakukan suaminya.


Kayra memperhatikan tangan Erlangga yang menenteng enam paper bag besar di kedua tangannya setelah mereka membayar semua barang yang dibelinya hingga menghabiskan uang senilai enam belas juta sembian ratus dua puluh empat ribu sembilan ratus rupiah. Enam paper bag itu berisi beberapa pakaian Erlangga dan juga pakaian Kayra, namun lebih banyak didominasi pakaian milik Kayra.


" Mas sudah terbiasa memborong belanjaan seperti ini, ya?" Kayra meledek suaminya yang tidak merasa canggung menenteng banyak paper bag, karena untuk sebagian besar pria, hal itu adalah suatu hal yang paling enggan dilakukan. Berbeda dengan sebagian besar wanita, yang senang sekali menenteng beberapa paper bag hasil berburu barang di mall, walaupun dia tidak termasuk di dalamnya.


" Ini tidak aneh bagiku, Kayra. Dulu aku sering membawakan tas seperti ini jika menemani Caroline belanja di luar negeri," sahut Erlangga.


Senyum di bibir Kayra menghilang saat Erlangga mengatakan jika ini bukanlah pertama kalinya Erlangga lakukan. Karena ternyata sebelumnya pun Erlangga sering menemani mantan istrinya berbelanja dan rela membawakan beberapa paper bag seperti sekarang ini. Awalnya Kayra menduga, ini adalah pertama kalinya Erlangga harus berepot-repot membawakan tas belanjaan. Kayra lupa jika dia bukanlah istri pertama Erlangga, dia bukan satu-satunya wanita yang dicintai Erlangga.


" Hei, kenapa malah melamun?" Melihat Kayra langsung terdiam dan berjalan dengan menundukkan wajahnya, Erlangga menyadari jika ucapannya tadi menyebut nama Caroline telah membuat hati istrinya itu tidak nyaman.


Erlangga memindahkan paper bag ke satu tangannya dengan kerepotan karena dia harus menenangkan sang istri. Dia lalu melingkarkan satu tangannya yang telah kosong ke pundak Kayra.


" Walaupun dulu aku sering menemani Caroline, tapi aku tidak pernah sebahagia seperti sekarang ini, Sayang." Berusaha merayu Kayra agar tidak merajuk, Erlangga pun membenamkan sebuah kecupan di pucuk kepala Kayra.


" Sekarang kamu mau ke mana lagi? Nonton sudah, makan sudah, shopping juga sudah. Apa sekarang kamu mau ke tempat permainan anak? Barangkali kamu mau bermain di sana ..." Erlangga justru meledek Kayra, agar Kayra kembali ceria.


" Mas pikir aku anak kecil?!" protes Kayra.


Erlangga tergelak menanggapi protes yang dilancarkan oleh Kayra. " Siapa tahu adik bayinya kepingin main Bom Bom Car?" ledeknya lagi.


" Jangan ngaco deh, Mas! Naik permainan seperti itu bahaya untuk ibu hamil kalau sampai terkena guncangan!" Kayra mendelik dengan bahi berlipat.


" Aku hanya bercanda, Sayang. Aku juga tahu itu bahaya, dan aku juga tidak mungkin akan mengijinkan kamu menaiki itu." Erlangga mempererat pelukannya dan kembali menghadiahi kecupan di pipi sang istri.


" Mas, jangan cium-cium depan umum, deh!" Dengan mata mengedar ke sekitar mereka, dia menyadari beberapa orang yang melintas sedang memperhatikan tingkah mereka berdua, hingga Kayra meminta suaminya untuk tidak bermesraan di depan publik.


" Kita ini suami istri, kan? Tidak masalah bermesraan juga." Namun, Erlangga menganggap jika apa yang dilakukannya adalah hal wajar.


" Ini bukan di luar negeri, jangan disamakan seperti waktu di Italia dong, Mas!" Kembali Kayra menegur suaminya yang membandel.


" Apakah ini kode jika kamu ingin berlibur ke sana lagi?" Dengan menaik turunkan alisnya, Erlangga menggoda Kayra.


" Tidak juga, Mas!" sanggah Kayra melirik tangan kiri Erlangga yang penuh dengan paper bag. " Aku bantu bawa sebagian belajaannya, Mas." Kayra meminta suaminya untuk memberikan sebagian paper bag berisi pakaian yang tadi mereka beli.


" Tidak usah, Sayang. Tanganmu tidak usah membantu membawakan tas ini, tanganmu cukup membantu memegang lenganku saja."


" Agar Mas tidak jauh dariku, kan?" Kayra melirik dengan tersenyum ke arah suaminya.

__ADS_1


" Tentu saja aku tidak akan jauh darimu, Sayang." Erlangga meyakinkan Kayra jika dia tidak akan mungkin bisa jauh dari istrinya itu.


" Kita pulang sekarang, ya!? Kamu harus istirahat, karena nanti malam kita akan datang ke acara pernikahan orang penting." Erlangga memutuskan untuk mengakhiri acara bersenang-senang mereka, karena malam nanti mereka akan menghadiri resepsi pernikahan anak Pak Ronald.


***


" Papa? Mama?" Rivaldi berlari kecil menuruni anak tangga, saat dia melihat kehadiran orang tuanya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


" Berangkat jam berapa tadi dari Bandung, Pa, Ma?" tanya Rivaldi menghampiri Papa dan Mamanya.


" Tadi selepas Dzuhur, Aldi," sahut Mama Rivaldi.


" Kalau begitu Papa sama Mama istirahat saja dulu, biar nanti malam fresh lagi." Rivaldi menyuruh kedua orang tuanya untuk beristirahat lebih dahulu.


Kedatangan Nugraha Wijaya, Papa dari Rivaldi adalah untuk menghadiri undangan pernikahan anak dari Ketua Ikatan Pengusaha Jawa-Bali. Dia yang masih aktif mengurus perusahaan garmentnya tentu saja ikut diundang oleh Pak Ronald.


" Kamu benar tidak akan ikut hadir di acara resepsi pernikahan anak Pak Ronald, Aldi?" tanya Papa Rivaldi. Sementara dia sendiri mendengar dari putranya jika tidak akan datang dalam acara resepsi pernikahan tersebut.


" Iya, Pa. Nanti aku akan utus Pak Wibowo yang datang ke sana," sahut Rivaldi ikut duduk di sofa bersama orang tuanya.


" Apa tidak sebaiknya kamu sendiri yang datang, Aldi? Perusahaan kamu adalah perusahaan baru, jika kamu hadir di sana, kamu bisa bertemu banyak pengusaha senior, sehingga kamu bisa memperluas pergaulanmu dengan pengusaha-pengusaha lainnya, terutama yang sudah berpengalaman. Siapa tahu nantinya kamu bisa menjadi mitra bisnis mereka." Nugraha menasehati putranya agar mau datang di resepsi pernikahan anak Pak Ronald.


" Kamu bisa berangkat ke sana bareng Papa sama Mama, Aldi." Mama Rivaldi ikut menimpali.


Rivaldi berpikir sejenak, dia memutuskan tidak ingin hadir di sana karena dia tahu keluarga Mahadika termasuk Erlangga akan datang ke acara tersebut, tentu saja dia merasa malas harus bertemu dengan mantan bosnya itu.


" Memangnya apa yang membuat kamu tidak ingin ikut datang, Aldi?" tanya Mama Rivaldi kemudian.


" Pasti dia malu karena belum menggandeng seorang istri untuk dibawa ke pesta pernikahan, Ma." Papa Rivaldi terkekeh seakan meledek putra pertamanya itu.


" Kalau memang seperti itu, kenapa kamu tidak segera berumah tangga, Aldi?" tanya Mamanya kemudian.


" Wanita seperti apa yang kamu inginkan, Nak? Usiamu sudah genap tiga puluh tahun, jangan terlalu banyak memilih jika ingin mendapatkan pasangan hidup." Mama Rivaldi mencoba menasehati Rivaldi karena Rivaldi belum juga memperlihatkan tanda-tanda ingin berumah tangga.


" Aku tidak banyak memilih, Ma. Aku sebenarnya sudah menemukan wanita yang aku inginkan, Ma." sahut Rivaldi.


" Lalu kenapa tidak segera kamu bawa ke kami, Aldi? Jika kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, sebaiknya disegerakan, jangan ditunda! Kenalkan kepada Papa dan Mama, biar nanti Papa akan melamar ke orang tuanya untukmu." Sebagai anak pertama, tentu saja dari Rivaldi, Nugraha menginginkan segera mendapatkan menantu dan juga cucu, mengingat usianya saat ini sudah lebih dari setengah abad.


" Dia sudah diambil orang, Pa." Sudah pasti Kayra lah wanita yang dimaksud oleh Rivaldi.


" Dia sudah ada yang punya?" tanya Mama Rivaldi.


" Ya, begitulah ..." Rivaldi mengedikkan bahunya, agak kesal sebenarnya jika mengingat bagaimana Erlangga menghalanginya mendekati Kayra.


Ddrrtt ddrrtt


Tiba-tiba ponsel di tangan Rivaldi berbunyi, membuatnya langsung mengarahkan pandangannya ke layar ponselnya itu.


Sebuah pesan masuk dari nomer yang tidak dia kenal terlihat di aplikasi media sosial chatting nya.


" Hai, sorry aku baru sempat kasih nomer HP ku. Ini nomer telepon punyaku."


Itulah isi pesan yang dikirim dari seseorang yang Rivaldi duga adalah Rena alias Grace. Dan benar saja, setelah dia cek foto profil pengirim pesan tadi, wajah Grace lah yang terlihat di foto profil tersebut.


" Hmmm, Pa, Ma, sebaiknya Papa sama Mama istirahat saja dulu. Biar nanti malam tidak capek datang ke acaranya Pak Ronald." Rivaldi kembali menyuruh Papa dan Mamanya untuk beristirahat. Karena dia sendiri ingin membalas pesan masuk dari Grace. Rivaldi tidak ingin chattingnya bersama Grace mengganggu obrolan dia dengan orang tuanya.


Setelah orang tuanya beranjak menuruti apa yang dia minta, Rivaldi pun langsung menaiki anak tangga munuju kamarnya untuk membalas chat masuk dari Grace.


" Hai, Ren. Tidak apa-apa, kamu pasti sibuk sekali, ya?" Rivaldi menjawab pesan masuk dari Grace tadi. Setelah pertemuan kedua, Rivaldi memang sempat meminta nomer telpon milik Grace, namun Grace baru sempat mengubunginya sekarang.

__ADS_1


" Iya." Jawaban singkat kembali masuk ke ponselnya membuat Rivaldi tersenyum. Dia pikir, mana ada perempuan yang membalas pesannya sesingkat ini selain Grace.


" Apa saya boleh menelepon? Kamu sedang sibuk?" Rivaldi berinisiatif mengganti percakapannya chatting nya menjadi panggilan telepon.


" Silahkan saja." Setelah mendapatkan jawaban dari Grace, barulah Rivaldi menghubungi nomer ponsel Grace.


" Hai, benar saya tidak mengganggu kamu?" tanya Rivaldi saat panggilan teleponnya diangkat oleh Grace.


" Tidak."


" Oh ya, Rena. Apa Papamu diundang ke acara Pak Ronald nanti malam? Pak Ronald itu ketua ikatan penggusaha wilayah Jawa-Bali, saya yakin Papa kamu diundang ke sana."


" Aku tidak mengurusi hal itu." balasan terkesan acuh dilontarkan oleh Grace.


" Apa kamu tidak berminat datang ke sana? Kamu pasti akan bertemu banyak petinggi perusahaan di sana, jika kamu kelak akan mewarisi perusahaan Papamu, tidak ada salahnya kamu ikut datang ke acara itu agar kamu bisa mengenal mereka." Rivaldi meniru nasehat Nugraha yang tadi disampaikan kepadanya.


" Papa tidak mengajakku datang ke sana, untuk apa aku datang?"


" Kalau saya yang ajak kamu ke sana, apa kamu merasa keberatan? Sekalian saya jadi bisa bertemu dan berbincang-bincang langsung dengan Papa kamu, terutama mengenai bisnis yang kita bicarakan awal Minggu kemarin." Rivaldi sudah pasti berantusias karena dia bisa mendekati Satria sebagai pemilik perusahaan Langgeng Putra Persada secara langsung.


Grace terdiam beberapa saat, tak langsung menjawab tawaran Rivaldi yang ingin mengajaknya ke pesta pernikahan. Jika dia ikut datang ke acara Pak Ronald, bukan tidak mungkin penyamaran dia dan Rizal akan terbongkar.


" Aku tidak berminat datang ke acara-acara para pengusaha seperti itu, bukan acara anak muda. Lagipula nanti Papa akan mengenalkan aku sebagai calon penerusnya, yang ada aku pasti akan banyak dikasih wejangan oleh teman-teman Papa." Grace beralasan kenapa dia keberatan datang ke acara Pak Ronald.


Rivaldi terkekeh mendengar jawaban Grace, dia sudah menduga jika Grace akan menolaknya.


" Kalau begitu kamu datangnya terpisah saja dari Papamu, agar orang tidak ada yang mengenali kamu sebagai anak dari Pak Satria." Rivaldi memberikan usulan, sepertinya dia ingin sekali mengajak Grace untuk datang di acara nanti malam.


" Bagaimana?" tanya Rivaldi kembali.


" Hmmm, okelah ... tapi jangan beritahu teman-teman pengusahamu jika aku anak Papaku." Grace menyetujui permintaan Rivaldi dengan syarat.


" Oke, deal." sahut Rivaldi.


" Kita berangkat jam berapa? Ketemu di mana?"


" Jam tujuh saya akan jemput kamu."


" Oke, aku akan kirim alamat apartemenku."


" Kau tidak tinggal bersama orang tuamu?"


" Sejak satu tahun ini aku tinggal di apartemen, karena aku ingin hidup mandiri, walaupun apartemen itu pemberian dari Papa."


Rivaldi terkekeh mendengar jawaban Grace yang dianggapnya terlalu polos.


" Oke, oke, kamu kasih tahu saja alamatnya di mana?"


" Oke, aku kirim sekarang alamatnya. Sudah dulu, ya! Aku harus cari gaun kalau kamu mau ajak aku pergi. Bye ..." Grace ingin mengakhiri percakapan mereka.


" Oke, bye ..." Setelah panggilan telepon dengan Grace terputus, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Rivaldi. Pesan itu berisi alamat apartemen tempat tinggal Grace. Dan Rivaldi tahu jika apartemen itu adalah salah satu apartemen yang banyak ditempati oleh orang-orang kaya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2