MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Rasa Kagum Erlangga


__ADS_3

Sore ini Erlangga memilih pulang terpisah dengan Kayra, dia memilih pulang sendiri sementara Kayra bersama Koko yang mengantarnya pulang. Dan sebelum pulang ke rumah tinggal Kayra, Erlangga berhenti terlebih dahulu di sebuah toko buku besar yang sangat terkenal karena dia ingin mencari beberapa buku yang dia butuhkan.


Erlangga mencari ke arah rak buku tentang religi. Dia sudah berjanji kepada Kayra jika dia akan mencoba mulai belajar melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yang sudah lama dia tinggalkan.


Erlangga membeli beberapa buku panduan sholat dan juga buku tentang keagamaan lainnya termasuk Alquran yang memakai bahasa latin agar dia bisa lebih mudah menghapal bacaannya. Setelah dia rasa cukup mendapatkan buku yang dia butuhkan Erlangga berjalan ke arah kasir dengan beberapa buku yang ada di keranjangnya. Namun langkahnya tertahan saat dia melihat sebuah buku dengan judul Tips Agar Cepat Hamil. Erlangga pun segera mengambil beberapa buku serupa dengan penulis berbeda ke dalam keranjangnya lalu melanjutkan langkahnya menuju kasir.


" Selamat sore, Kak." Dengan mengatupkan tangan di depan dadanya si kasir memberi salam kepada Erlangga. " Ini saja, Kak?" Kasir itu mengeluarkan beberapa buku yang dipilih oleh Erlangga.


" Iya," sahut Erlangga mengeluarkan dompet dari saku celananya dan menarik kartu debit dari kantongnya.


" Totalnya satu juta tiga ratus dua puluh dua ribu tiga ratus rupiah, Kak." Kasir tadi menyebutkan jumlah yang harus dibayar oleh Erlangga.


Erlangga menyodorkan kartu debit miliknya kepada kasir toko buku. Dan setelah tuntas menyelesaikan pembayarannya, Erlangga segera melanjutkan perjalanannya menuju rumah kediaman Kayra.


***


Kayra menyiapkan menu makan malam karena Erlangga berpesan ingin makan masakan Kayra. Kayra membuatkan nasi goreng ayam dengan telur mata sapi untuk Erlangga. Setelah selesai menyiapkan menu makan malam, Kayra memanggil ibunya terlebih dahulu untuk bergabung makan malam karena kamar Ibu Sari berada di lantai bawah, setelah itu dia menuju kamarnya di lantai atas untuk memanggil suaminya.


Kayra melihat Erlangga yang duduk berselonjor di atas tempat tidur sedang serius dengan buku di tangannya sesampainya dia di kamar, namun Kayra tidak tahu buku apa yang sedang dibaca oleh Erlangga.


" Makan malamnya sudah siap, Pak. Apa Bapak mau makan sekarang?" tanya Kayra kepada suaminya.


" Iya." Buku yang ada di tangannya diletakan Erlangga di atas tempat tidur.


Kayra mengerutkan keningnya saat melirik sampul buku yang tadi dibaca Erlangga.


...'Buku Panduan Sholat'...

__ADS_1


Itulah judul yang dia baca dari cover buku itu, membuat dirinya bertanya-tanya. Dia lalu meraih buku yang terlihat masih baru, sepertinya Erlangga memang baru saja membelinya.


" Bapak beli buku ini?" tanyanya penasaran.


Erlangga yang hendak berjalan ke luar memutar tubuhnya dan menoleh ke arah buku di tangan Kayra.


" Iya, tadi saya mampir sebentar ke toko buku dan mencari buku-buku itu. Saya juga membeli buku ini." Erlangga kemudian mengambil buku tentang tips agar cepat hamil lalu menyerahkannya kepada Kayra.


Kayra membelalakkan matanya saat membaca judul buku yang diserahkan Erlangga kepadanya.


" Kamu bacalah agar kamu bisa cepat hamil," ujar Erlangga kemudian.


Kayra tertegun beberapa saat, dia merasakan jika Erlangga memang begitu merindukan kehadiran seorang anak dari pernikahannya dengan Caroline, sayangnya Caroline tidak bersedia hamil sebelum masa emasnya di dunia model berakhir.


" Lalu bagaimana jika saya hamil, Pak? Saya harus bilang apa kepada karyawan lain sedangkan mereka tahu jika saya ini belum menikah?" Tentu hal itu akan membuat Kayra tidak tenang.


" Saya akan katakan yang sebenarnya jika kamu adalah istri saya dan kita ini sudah menikah," jawab Erlangga tanpa rasa cemas akan omongan orang, berbeda dengan Kayra yang sangat memperdulikan apa yang akan dikatakan orang tentangnya.


" Saya sudah katakan, jangan cemaskan apapun." Tangan Erlangga menutup kedua telinga Kayra. " Tutup telingamu dari semua ucapan-ucapan buruk mereka. Nanti saya yang akan menindak tegas, kalau perlu saya akan pecat mereka yang sudah berani menggunjingkan kamu."


Cairan bening mengembun di bola mata Kayra. Semua perkataan Erlangga memang bermaksud menenangkannya, namun dia tetap tidak benar-benar bisa merasa tenang jika status dirinya sampai terkuak.


" Kita makan sekarang ..." Erlangga merangkulkan tangannya di pundak Kayra mengajak Kayra turun ke bawah untuk menyantap makan malam bersama Ibu Sari.


" Nak Erlangga apa akan tinggal di sini?" Melihat Erlangga yang setiap hari menginap di rumah tinggal Kayra membuat Ibu Sari bertanya kepada menantunya itu.


" Ibu ..." Tidak menyangka Ibunya akan bertanya seperti itu, Kayra langsung menegur Ibunya.

__ADS_1


" Saya sedang dalam proses perceraian dengan istri saya, saya tidak mungkin kembali ke rumah kami itu, Bu." Sejak memutuskan untuk bercerai, Erlangga tidak pernah tidur di rumah tinggal dia dengan Caroline. Dia sempat datang ke sana hanya untuk mengambil barang-barang penting miliknya. Erlangga berniat memberikan rumah itu untuk Caroline karena itu adalah hadiah pernikahan dia untuk Caroline.


" Apa Nak Erlangga benar-benar ingin bercerai dengan istri Nak Erlangga?" Ibu Sari merasa penasaran dengan keputusan Erlangga menggugat cerai istri sahnya itu.


" Saya sudah yakin dengan keputusan saya, Bu. Caroline tidak bisa menjalankan kewajibannya. sebagai seorang istri dengan baik. Dia lebih mengutamakan karirnya daripada rumah tangganya." Erlangga menjelaskan kepada Ibu mertuanya.


" Memang menjadi model itu uangnya banyak, ya? Padahal Nak Erlangga ini 'kan sudah kaya raya." Siapapun pasti akan berpikiran seperti Ibu Sari, melihat status ekonomi seorang Erlangga rasanya aneh sekali Caroline masih mempertahankan profesinya.


" Ibu, sebaiknya jangan bicara seperti itu!" bisik Kayra menegur Ibunya. Kayra tidak nyaman harus membicarakan soal perceraian Erlangga dan Caroline, karena dia tidak ingin dianggap berbahagia di atas masalah yang sedang di hadapi oleh orang lain.


" Tidak apa-apa, Kayra. Saya ingin Ibu tahu, inilah alasannya saya menikahi kamu." Erlangga sendiri tidak mempermasalahkan pertanyaan Ibu mertuanya tadi.


" Saya rasa saya bisa memberikan apa saja yang Caroline inginkan, Bu. Tapi ambisi dia untuk menjadi model top dunia lebih besar dari segalanya. Saya berusaha meredam ambisinya namun sepertinya saya tidak kuasa terus melarangnya. Dunia model adalah kebahagiaan sesungguhnya untuk Caroline, dan saya sudah tidak bisa mengikuti keinginannya itu. Memaksakan terus bersama hanya akan menghalangi keinginan Caroline, karena itu saya memutuskan untuk berpisah." Kepada Ibu mertuanya Erlangga menjelaskan panjang lebar soal bagaimana kondisi rumah tangganya dengan Caroline, dia harap Ibu mertuanya bisa mengerti dengan situasi yang dia hadapi.


" Dan hal bertentangan saya dapatkan dari anak Ibu. Kayra begitu memperhatikan saya walaupun status dia hanya sekretaris saya. Itulah yang membuat saya mengangumi anak Ibu." Dengan jujur Erlangga mengakui rasa kagumnya terhadap Kayra seraya menolehkan pandangan kepada Kayra membuat Kayra ikut menolehkan pandangan kepadanya.


" Maaf, Pak. Tapi saya tidak bermaksud membuat Bapak kagum terhadap saya. Saya hanya ingin menjalankan tugas sebaik mungkin." Kayra tidak ingin Erlangga menganggapnya sedang mencari perhatian pria itu karena Erlangga mengakui jika diam-diam mengangumi Kayra.


Erlangga tersenyum mendengar sanggahan Kayra soal perkataannya tadi.


" Ya sudah sebaiknya jika selesaikan makan malamnya," ujar Erlangga meminta agar Ibu Sari dan Kayra tidak lagi membahas hal tersebut.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2