
Erlangga memperhatikan Kayra yang sejak tadi tidak juga beranjak dari tempat tidurnya padahal selepas Maghrib dia akan mengajak istrinya itu mengunjungi pameran mobil klasik.
" Kayra, apa kamu tidak ingin bangun? Sudah hampir masuk waktu Maghrib, apa kamu ingin melalui masa bulan madu kita hanya dengan tidur?" Erlangga berusaha membangunkan istrinya yang masih merapatkan matanya.
Namun lama-lama Kayra mulai mengerjapkan matanya, karena Erlangga membangunkannya tidak hanya dengan suara tapi dengan aksi meraba bagian sensitif tubuh Kayra dengan tangannya.
Kayra yang merasa geli dengan sentuhan suaminya segera menyingkirkan tangan suaminya dan bangkit dari tidur.
" Apa saya harus ikut melihat pameran itu, Pak?" tanya Kayra kemudian.
" Memangnya kamu tidak ingin ikut ke sana? Saya ada janji bertemu teman lama saat kuliah di London dulu. Kebetulan dia juga datang ke pameran itu nanti." Erlangga menerangkan jika dia sudah membuat janji dengan teman semasa kuliahnya dulu.
" Apa saya boleh tidak ikut ke sana, Pak? Saya malu datang ke acara itu, apalagi sampai bertemu teman Bapak. Lagipula sepertinya saya butuh istirahat karena perjalanan dari Jakarta benar-benar melelahkan untuk saya." Kayra berharap Erlangga tidak memaksanya untuk datang ke pameran mobil itu karena dia tidak cukup percaya diri mendampingi Erlangga ke acara seperti itu di luar pekerjaan.
" Apa masih merasa pusing?" Erlangga ikut bangkit dan mengusap kepala Kayra.
" Sedikit, mungkin akan sembuh jika saya cukup istirahat, Pak." Kayra berharap Erlangga mengerti kondisinya.
" Memangnya kamu mau saya tinggal sendiri? Bukankah kamu takut ditinggal sendirian?" Erlangga teringat bagaimana paniknya Kayra saat tadi dia mengerjai istrinya itu.
" Tentu saja saya tidak akan meninggalkanmu. Tapi jika kamu tidak ikut, sebaiknya saya batalkan saja janji bertemu dengan teman saya." Erlangga lalu turun dari tempat tidur, dia ingin menghubungi temannya untuk membatalkan rencana pertemuan mereka.
" Jangan, Pak! Sebaiknya Bapak jangan membatalkan rencana pertemuan Bapak teman Bapak. Saya tidak apa-apa ditinggal di sini asalkan Bapak selalu kasih kabar dan kembali lagi ke sini." Kayra melarang Erlangga yang akan membatalkan pertemuan dengan teman kuliah Erlangga dulu. Kayra akan merasa bersalah jika teman Erlangga kecewa karena gagal menemui Erlangga hanya karena Erlangga ingin menemaninya.
" Apa kamu yakin saya tinggal sendiri?" tanya Erlangga merasa ragu jika Kayra akan berani dia tinggal sendiri.
" Iya, Pak." Kayra menjawab penuh keyakinan.
" Ya sudah, jika kamu tidak ingin ikut, sebaiknya kamu istirahat saja supaya nanti malam kamu lebih segar agar kita bisa melakukan pertempuran dengan tenagamu yang prima." Seringai tipis dari sudut bibir Erlangga terlihat. Pria itu lalu berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Kayra yang membulatkan matanya karena ucapan suaminya tadi.
***
Sejak siang tadi Wisnu dan Caroline menunggu Mr. Schiffer yang menurut kabar yang Wisnu dengar akan hadir sebagai tamu di pemeran mobil klasik itu. Namun setelah menunggu beberapa jam, pengusaha berkebangsaan Jerman itu tidak juga muncul di hadapan mereka berdua.
" Sampai kapan kita harus menunggu di sini, Wisnu? Aku capek! Aku ingin kembali ke hotel!" Merasa jenuh karena sejak siang yang ditunggu tidak juga datang, Caroline memutuskan ingin kembali ke hotel dia menginap.
Wisnu kembali menghubungi seseorang melalui ponselnya. Pria itu memang sejak tadi terlihat gelisah karena Mr. Schiffer tidak juga tiba.
__ADS_1
" Kita pulang sekarang. Mr. Schiffer batal datang kemari. Stafnya bilang jika besok siang Mr. Schiffer mengundang kita untuk bertemu di restauran dekat hotel beliau menginap." Setelah mendapat informasi dari staf Mr. Schiffer, Wisnu pun segera membawa Caroline untuk kembali ke hotel.
Sekitar lima belas menit setelah kepergian Caroline, Erlangga terlihat tiba di lokasi. Dia segera menghubungi teman kuliahnya sambil melihat mobil-mobil yang dipamerkan di sana.
" Erlangga ...!" Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Erlangga pun bertemu dengan Chris, teman kuliahnya saat dia kuliah di London. Chris adalah warga Indonesia yang sejak kuliah menetap di Inggris hingga kini dia bekerja di salah satu perusahaan swasta di London.
" Hai, Chris. Bagaimana kabarmu?" Erlangga melakukan fish bump lalu berpelukan karena mereka sudah cukup lama tidak bertemu.
" Seperti yang kamu lihat, semakin berat badanku sekarang." Chris tertawa mencibir dirinya sendiri. " Kamu sendiri bagaimana kabarnya? Tadinya aku ingin mengajak Nick, tapi kemarin siang Nick mendadak harus pergi ke Lyon jadi tidak bisa bertemu denganmu " lanjut Chris kemudian.
" Sayang sekali, melewatkan kesempatan bisa berkumpul," sahut Erlangga menyayangkan gagalnya bertemu dengan Nick.
" Oh ya, Kau dengan siapa kemari, Lang? Tidak membawa istrimu? Apa istrimu itu model wanita yang pernah kamu kejar dulu?" Tidak sulit mengetahui informasi umum tentang Erlangga Mahadika Gautama, karena dia adalah salah satu eksekutif muda yang sangat populer di kalangan pebisnis, sehingga sudah pasti orang pun akan mengetahui status Erlangga jika mencari informasi di mesin pencari informasi.
" Kami sedang mengurus sidang cerai, Chris." ungkap Erlangga.
" Cerai? Bukannya dulu kau sangat memujanya sampai sering bolos kuliah hanya untuk menemui dia di Paris?" Rupanya Chris masih ingat bagaimana sikap Erlangga terhadap wanita yang dicintainya ketika muda dulu.
Dengan mengibas tangannya ke udara Erlangga berucap, " Itu cerita lalu, lupakan saja!"
" Oke, oke ... aku dengar sekarang ini kamu sudah menjadi pengusaha yang sukses, Lang."
" Tetap saja, Lang! Walaupun perusahaan keluarga, kalau kau tidak punya keahlian dalam mengelola sebuah perusahaan, perusahaan itu akan hancur juga." Chris berpendapat.
" Mungkin itu sudah bakat yang diturunkan Papaku, Chris."
" Mungkin juga, karena seingatku saat kuliah dulu, kau lebih banyak memikiran model itu ketimbang kuliahmu." Chris tertawa mengingat bagaimana saat kuliah dulu.
Erlangga dan Chris pun lanjut berbincang setelah mereka melihat-lihat mobil-mobil klasik dari bermacam jenis dan type yang dipamerkan di kota Turin.
Sementara di itu di hotel tempat Erlangga menginap, Kayra berdiri di teras balkon kamar hotel. Dia menikmati suasana malam dengan kisaran suhu lima belas derajat Celcius terasa sejuk hingga dia merapatkan sweaternya.
Kayra tidak pernah menduga bahkan bermimpi pun tidak pernah akan bisa pergi sejauh ini dari tempat tinggalnya. Kalaupun bermimpi pergi berbulan madu, hanya Bali destinasi yang dia anggap paling cocok untuknya.
Kayra menghela nafas panjang, dia tidak tahu aktivitas apa saja yang akan dia dan suaminya lakukan selama di Italia ini. Namun jika mengingat kata bulan madu, dia sudah bisa menduga jika dalam kurun waktu satu Minggu ini pasti banyak aktivitas bercinta yang akan mereka lakukan di negeri itu.
Teett
__ADS_1
Kayra menoleh ke arah dalam kamar saat mendengar suara bel kamar hotelnya berbunyi. Dia langsung berlari untuk membukakan pintu kamar karena dia menduga suaminya itu sudah kembali dari melihat pameran mobil dan juga bertemu temannya di sana.
" Buona Sera, Signora. Mi è stato chiesto dal signor Gautama di consegnarle questo." ( Selamat malam, Nyonya. Saya diminta oleh Tuan Gautama untuk mengantarkan ini kepada Anda ) Seorang pegawai hotel menyerahkan paper bag kepada Kayra.
Kayra mengeryitkan keningnya karena dia tidak memahami bahasa Italia hingga dia tidak tahu apa yang diucapkan oleh pegawai hotel itu.
" Excuise me?" Kayra menyipitkan matanya karena tidak paham.
" This is from Mr Gautama for you ..." ucap pegawai hotel berucap dalam bahasa Inggris dengan aksen Italia yang kental.
" Oh, thank you very much ..." Setelah mengerti maksud dari ucapan pegawai hotel, Kayra pun segera mengambil paper bag dari tangan pegawai hotel.
" You're welcome ..." Pegawai hotel lalu meninggalkan Kayra yang masih menebak isi dari paper bag yang dikirimkan oleh suaminya itu. Dan kenapa Erlangga menitipkan paper bag ini kepada petugas hotel? Hal-hal seperti itu seketika memenuhi benaknya.
Kayra membuka pintu lalu berjalan duduk di tepi tempat tidur Dia mengeluarkan isi dari paper bag tadi ternyata sebuah box. Dia menemukan sebuah kartu di atas box yang ditulis tangan oleh Erlangga.
..." Selamat malam, Nyonya Erlangga. Pakailah pakaian yang saya pilihkan untuk malam ini. Saya ingin melihat kamu tampil berbeda saat saya pulang nanti. Kita akan habiskan malam pertama bulan madu kita di Italia❤️. "...
Kayra mengeryitkan keningnya, dia merasa penasaran dengan isi dari box itu. Kayra membuka box tersebut untuk mengetahui apa sebenarnya yang dikirimkan Erlangga untuknya. Dan mata Kayra membulat sempurna saat dia melihat sebuah lingerie berwarna biru muda berbahan tipis dan minim bahan di dalam box tersebut
" Astagfirullahal adzim ..." Kayra bahkan menutup mulutnya saat mengetahui baju yang diberikan Erlangga untuk dia pakai.
Kayra kembali membaca kartu yang ditulis Erlangga tadi seraya menggelengkan kepalanya.
" Aku harus memakai baju ini? Memalukan sekali ..." gerutu Kayra menanggapi keinginan suaminya yang menurutnya aneh.
Kayra menatap gaun tidur itu, apa mungkin dia berani memakai pakaian itu?
" Ah, tidak ...! Aku tidak mau!" Kayra bergegas menutup kembali box pakaian itu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung
Happy Reading❤️